
Hanya satu yang tersirat dalam benaknya. Segera bermohon daya dan kekuatan pada Yang membolak-balikkan hati. Agar dapat berketetapan untuk segera meminangnya serta melindunginya. Bahkan dari tangan ayahnya sekalipun.
Tapi, bukankah Shaffa 5 hari lagi mau menikah?
Dengan waktu yang sesingkat itu, bisakah?
Aku punya Tuhan. Yang bisa mengubah yang sulit menjadi mudah. Yang mustahil menjadi nyata. Mengapa diriku harus sanksi akan qudrat irodat-Nya. Sebelum diriku mencobanya. Irwan pun mengakhiri munajatnya dengan satu jalan yang sudah sudah menjadi tekadnya.
Saat tarhim subuh mulai terdengar. Ia beranjak dari bersimpuhnya. Teringat amanah Mama Papa. Segera melipat sajadahnya. Meletakkannya di atas pundaknya.
Terdengar gemericik dari kamar Lika, dengan pancaran cahaya yang terang. Bertanda di sana sudah ada kehidupan.
"Lika, Kakak tunggu di Musholla."
"Iya, Kak."
Irwan meninggalkan kamar atas, berjalan tenang menyusuri anak tangga. Hingga sampai di ujungnya.
Memandang kamar Bunda yang kini telah terang. Mungkinkah Jamilah telah bangun.Jika iya, alhamdulillah. Irwan mendekati kamar itu. Belum sampai jemari nya mengetuk pintu. Terlihat gangan pintu telah bergerak.
"Kak Irwan."
"Ya. Kamu dah bangun Jamilah?"
"Sudah, Kak. Nggak bisa tidur. Bunda mana?"
"Pergi sama Papa."
"Ya ... Jamilah ditinggal sendiri dong." Wajahnya terlihat kesal.
"Kamu sudah besar. Masak ditinggal pergi gitu saja sudah sedih."
"Kakak sih dari dulu sudah punya Bunda. Nggak bisa ngerasain apa yang Jamilah rasa. Baru kali ini, Jamilah punya Bunda. Masak harus ditinggal sendirian. Perginya hanya sama Papa lagi.Kesal lah Jamilah."
Rasanya ingin tertawa. Jamilah cemburu sama Papa.Tak tahulah harus ngomong apa. Pusing juga menghadapi adikku satu ini. Sedikit-sedikit merajuk.
Alhamdulillah ...
Ada Lika. Ia sudah datang menyusul. Wajah tampak segar dengan air wudhu. Menuruni tangga dengan memakai mukena.
"Jamilah. Ayo kita ke musholla!" ajaknya.
"Baik, Kak."Bergegas Jamilah mengambil mukenanya. Melangkah mengikuti langkah Lika menuju Musholla.
Bagaimana dengan si kecil?
Sepertinya perlu sentuhan Bunda. Lampu kamarnya masih terlihat gelap. Apa masih tidur?
Irwan segera membuka pintu kamar mereka satu per satu. Untung pintu ini didesain tanpa kunci. Tak perlu ketuk, langsung saja masuk.Pencet dulu saklar lampu, agar terang. Terlihat Tia masih nyenyak dengan memeluk guling. Sungguh dia adalah adik kecil yang manis. Sejenak Irwan duduk di tepi ranjang. Tangannya menepuk-nepuk pipi Tia pelan.
"Tia, bangun. Subuh." Terlihat Tia menggeliat, lalu duduk meski mata belum sempurna terbuka.
__ADS_1
"Iya, Kak." Berlahan Tia turun dari ranjang.Tangan mungil Tia meraba-raba, mencari mukenahnya. Seingatnya diletakkan di pinggir ranjang.
"Hmm ... hmm ... itu rukuhnya." Irwan
menunjuk kain yang tergeletak di pinggir meja belajar.
"Oh, iya." Kini kedua bola mata Tia lebih terbuka. Tapi hanya sesaat. Lalu kembali terkatup.Tertidur sambil berdiri membawa mukena. Sepertinya Tia masih berat untuk membuka mata.
"Tia*!" kata Irwan dengan suara lembut, membuat Tia kembali tersadar. Sesekali memang masih menguap. Tapi tetap melangkah.
Irwan tersenyum simpul menatap adiknya. Yang mengikuti langkahnya dengan mata setengah terpejam.
Tinggal satu yang belum, Aldo. Irwan menuju kamar yang satunya lagi. Bersebelahan dengan kamar Tia.
"Tia ke kamar mandi dulu, sana!" kata Irwan, "Kakak mau bangunkan kak Aldo."
"Iya, Kak."
Kalau ini sudah tak pakai drama. Begitu lampu dinyalakan, Aldo sudah duduk di tepi ranjang dengan mata yang sudah terbuka sempurna.
"Kak Irwan."
"Ayo jamaah."
"Ya, Kak."
Aldo keluar meninggalkan Irwan yang masih menutup pintu kamar. Tanpa diarahkan, ia menuju kamar mandi dan segera berwudhu. Lalu menuju musholla yang terletak di dekatnya.
Tia ... oh Tia.
Irwan segera berjongkok, dan menggendong Tia di punggungnya dalam keadaan tertidur, sampai di tempat wudhu. Segera ia menggambil sedikit air di telapak tangan, mengusapkannya di wajah Tia.
"Kakak." ucapnya gelagapan.
"Sudah sana berwudhu."
Baru setengah jalan berwudhu, sudah ada gangguan.
"Kak aku pingin ...." Tia segera berlari ke dalam kamar kecil.
"Cepetan ya, kakak tunggu."
"Ya."
Irwan menuju ke musholla. Disana telah menunggu Lika dan Jamilah. Keduanya baru saja selesai melaksanakan sholat Sunnah.
"Aku Sunnah dulu," kata Irwan, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Lika mengangguk.
Irwan pun berdiri melakukan shalat sunnah. Setelah selesai, tak melihat adanya Tia. Lha anak ini kok lama sekali. Jangan-jangan ketiduran di kamar mandi.
"Jamilah, tolong kamu tengok Tia!" suruh Irwan.
__ADS_1
Jamilah segera bangkit, menuju ke tempat wudhu. Ia tidak mendapati seorang anak pun di tempat itu. Tapi pintu kamar mandi tertutup rapat.
"Tia ..." panggil Jamilah sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iiiyyaa ... Kak." jawabnya malas. Tak lama terdengar gemericik air. Tak lama kemudian Tia keluar dengan baju dan celana yang disingsingkan. Wah, Mungkin kalau nggak disusul ketiduran kali ya ...
"Cepat wudhu." Jamilah sabar, mesti harus pakai nafas panjang.
Kecipak-kecipik, Tia berwudhu. Sudah lama tapi tak sempurna. Apalagi air menetes kemana-mana, hampir membasahi baju. Jamilah mulai gemas.
"Wudhu yang benar!" dengan suara sedikit keras. Membuat Tia tersentak kaget. Lalu mengulang wudhunya. Tapi tetap sama.
"Ah sudahlah. Ayo." Jamilah memanggil Tia. Lalu berjalan dengan kesal meninggalkan Tia yang masih membasuh kakinya. Buru-buru Tia menyelesaikannya. Lalu setengah berlari mengejar langkah Jamilah yang teramat cepat.
Di mushola, mereka disambut kak Irwan dengan geleng-geleng kepala dan melotot. Gara-gara satu anak, akhirnya sholat menjadi telat dilaksanakan.Tapi yang dipelototi nggak merasa. Ya, namanya juga anak-anak. Sudahlah!
Irwan jadi membayangkan, rasanya dia seperti Tia juga waktu kecilnya. Hehehe ...
"Sudah yok, kita sholat." ajak Irwan.
"Aldo qomat."
Suara merdu Aldo segera memenuhi ruangan sebagai bertanda untuk berdiri melakukan sholat jamaah.
💎
Seusai sholat, Irwan kepikiran dengan dengan Shaffa. Ingin segera melaksanakan niatnya, tapi Papa Mama sedang tak ada di rumah.
"Aldo Tia, yuk jalan-jalan."
"Asyik ...." jawab keduanya. Setengah berlari, mereka mengikuti langkah Irwan yang sudah memegang kunci mobilnya.
"Ke mana, Kak."
"Ke rumah Kak Shaffa."
" Ehem ... ehem ...." Lika batuk-batuk mendengar percakapan Kakak dan adik-adiknya. Dia mencium ada udang di balik rempeyek dengan maksud kakaknya mengunjungi Kak Shaffa pagi-pagi begini. Moga-moga benar dugaannya, kalau Kak Irwan sedang mencarikan kakak ipar untuknya. Maklumlah umurnya sudah matang untuk menikah. Pekerjaan, pendidikan, penghidupan sudah dapat dikatakan layak. Kok nggak nikah-nikah, apalagi yang dicarinya ....
"Kak, nggak minta dia restu sama aku ...."
"Ya. Doa kan Kakak, dech. Bisa bawa kakak ipar ke sini." jawab Irwan terus terang.
"Aku mendukungmu, Kak."
Tiba-tiba Irwan berhenti. Balik ke dalam rumah. Tak berapa lama kembali dengan membawa satu parsel buah-buahan yang masih utuh. Dari hantaran pernikahan Bunda.
"Nggak modal," kata Lika.
Irwan tak peduli. Yang penting bawa oleh-oleh. Pagi-pagi begini, dimana mau cari oleh-oleh. Toh terlalu banyak hantaran yang dibawa keluarga papa Hasan. Mubadzir kalau tak dimanfaatkan.
"Jangan lupa masak yang enak. Aku ajak ke sini di pagi ini."
__ADS_1
Astaghfirullah al adzim ....
"Oke," jawabnya menyembunyikan kegugupannya.