
Di depan rumah, Irwan sudah disambut adik-adiknya yang sedang bermanja-manja pada Shaffa. Terlihat keceriaan di wajah mereka. Demikian pula dengan Shaffa. Ia terlihat sudah melupakan kesedihannya. Tertawa lepas saat Tia dan Aldo menggodanya. Apalagi sewaktu Tia dan Aldo memperagakan bermacam-macam tingkah binatang di depannya, terlihat tertawa terpingkal-pingkal. Suasana yang menyenangkan. Ingin Irwan bergabung tapi tapi badannya masih bau keringat, malu dong sama wanita ingin dijadikan kekasih halalnya.
Karena asyik bermain, mereka tidak menyadari kedatangan Irwan, bahkan Irwan telah berjarak 5 m, mereka belum juga tahu. Sampai akhirnya Irwan menyapa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab mereka kompak. Spontan menengok ke sumber suara. Namun sesaat, kembali mereka bermain.
Namun tak demikian dengan Shaffa. Meski saat ini masih menyimpan marah dan kesal, karena harus menerima rencana pernikahannya dengan Heru, tapi ada rasa khawatir juga pada ayahnya yang kini tinggal sendiri di kampung.
Ia pun beranjak mendatangi Irwan. Sontak membuat Irwan bingung. Tahu kan maksudnya? Itu loh, sampai saat ini kan dirinya belum mandi. Mau lari nanti menyinggung perasaaan Shaffa, mau diam, ini badan lepek banget. Padahal dulu juga nggak begitu-begitu amat. Apa efek jatuh cinta? maunya semua serba sempurna.
Padahal tak sebegitunya kali!
Shaffa tenang-tenang saja tuch. Tidak memperdulikan hal itu.
"Kak Irwan. Bagaimana keadaan Bapak?"
"Baik," jawabnya singkat. Tak mungkin Irwan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Toh semuanya sudah teratasi. Kalau dia ceritakan, mungkin akan membuat Shaffa lebih khawatir lagi. Sia-sia dong Shaffa menenangkan diri di rumahnya. Segera Irwan memasuki ruang tamu, sebelum Shaffa menyusul. Tapi saat melihat bayangan Tia dan Aldo, kok jadi ingat pesan Bunda Zulfa. Irwan balik badan lagi.
"Tia, Aldo, sudah mau magrib. Siap-siaplah. Tunggu kakak di Musholla!" ucap Irwan dengan wajah setengah garang.
"Ya ... Kakak, selalu gitu deh. Nggak asyik." Tia tak segera menghentikan bermainnya. Wajahnya tampak kesal, cemberut menatap Irwan. Shaffa pun menghampiri.
"Kita ke dalam, yuk. Sudah gelap," ajak Shaffa sambil jari-jarinya menyentuh hidung Tia lembut. Membuat Tia luluh juga. Dia pun tersenyum, mengikuti langkahnya tanpa terpaksa, meraih tangan Shaffa dan memegangnya dengan erat memasuki rumah. Gini ya ... rasanya punya krucil-krucil, lucu-lucu, perlu sedikit sentuhan plus rayuan agar menurut. Menggemaskan sekali. Dan mungkin karena ini juga Bu Zulfa mau mengasuh mereka.
"Makasih, jadi ngerepoti kamu."
"Enggak. Namanya juga anak-anak." Makin menawan saja sikap Shaffa. Membuat hati Irwan makin mantap atas pilihannya. Dia tersenyum simpul sebelum melanjutkan langkahnya, berjalan cepat meninggalkan mereka menuju kamar. Nanti saja untuk dilanjutkan perkenalannya.
Mandi dulu, ini bau menyebar ke mana-mana, kalau tak segera dihilangkan. Nggak perfeck banget, malu ah. Apalagi suara tarhim sudah terdengar.
Setelah bersih diri dia pun menuju musholla kecil miliknya. Di sana sudah menunggu semua penghuni rumah. Ia baru menyadari kalau telah berkurang. Jamilah, adik barunya sudah tidak ada. Bahkan Bunda dan Papa juga.
"Lika, Jamilah ke mana?" Kalau masalah Papa Bunda tak usah ditanya. Irwan cukup dewasa untuk mengerti. Tapi dengan Jamilah agak khawatir juga. Jangan-jangan membuat kehebohan lagi?
__ADS_1
Maklumlah sulit ditebak kemauan anak ini.
"Balik lagi ke pesantren. Diantar Bunda dan Papa," kata Lika sambil tersenyum.
Gimana nggak tersenyum kok bisa Bunda dan Papa. Seharusnya pasangan bunda itu ayah. Pasangan Papa itu mama. Tapi karena Jamilah sudah panggil Papa, mau tak mau kita pun mengikutinya. Tapi untuk mengganti panggilan ke ibu mereka, tak mungkin. Sudah terbiasa memanggil 'Bunda'.
Irwan juga ikut tersenyum mendengar sebutan yang diberikan kepada Ayah baru mereka yaitu Papa hasan. Jadilah kini 'Papa dan Bunda'
"Ya sudah. Ayo kita sholat. Aldo iqomah."suruh Irwan pada Aldo yang duduk manis di barisan depan. Aldo segera berdiri dan mengumandangkan iqamah sebagai tanda sholat akan didirikan.
Kini mereka sudah berjajar rapi dan siap melaksanakan salat magrib secara berjamaah. Selesai salat mereka tak lupa pula meluangkan waktu untuk membaca Alquran walaupun hanya sebentar saja. Karena memang perut mereka sudah tak mau diajak kompromi.
Kini mereka sudah duduk melingkar di sekeliling meja makan. dengan menu yang telah disiapkan oleh Lika Shaffa dan bibi. Tentu dengan mengobrol ringan.
"Bunda balik, kan?"
"Iya balik, enggak lama kok paling nanti jam 8 sudah sampai. Kenapa memang?" Lika tersenyum mendengar pertanyaan kakaknya.
"Baru juga ditinggal sebentar sudah kangen. Makanya segera cari pasangan. Biar enggak manja terus sama bunda. Bunda sekarang sudah punya Papa. Kasihan kan Bunda, masak harus ngurusi kakak terus."
"Halah, kamunya juga malah lebih. Pakai ditemeni tidur sama Bunda. Padahal sudah kuliah juga." sahut Irwan tak mau kalah.
"Iya, Kak Lika kalah sama Tia. Tia saja yang masih kecil, sudah tidur sendiri. Masak Kak Lika masih ditemeni sama Bunda."
Mendengar perkataan Tia, spontan mata Lika melotot.
"Hus. Kamu itu ngerti apa. Kak Lika kan juga kangen sama Bunda. Itu pun jarang, 6 bulan sekali. Masak kalian tega sich. "
"Ya, ya, Tia ngerti kok. Jangan marahi Tia, Kak." jawab Tia dengan sedikit mulut mengerucut. Tapi itu yang membuat mereka semua makin gemas sama Mutiara.
"Sudah kita lanjutkan makannya!" ajak Irwan. Kembali keadaan sunyi. Hanya terkadang terkadang terdengar bunyi sendok dan piring yang saling beradu.
Shaffa yang menyaksikan pertengkaran kecil mereka, dibuatnya senyum-senyum. Keluarga yang hangat, menyenangkan. Rasa persaudaraan yang kuat. Ingin berlama-lama di sini, tapi rasanya tak sopan juga. Andai ini keluarganya ....
"Kak Irwan, boleh aku tidur sama kak Shaffa?" tanya Tia tiba-tiba.
__ADS_1
"Tia, katanya tadi berani tidur sendiri. Sekarang kok minta ditemeni kak Shaffa?" Lika menyela. Tapi Tia tak memperdulikannya. Dia bahkan menatap Shaffa dengan wajah yang memelas memohon.
"Hem ...." Irwan melirik ke arah Shaffa. Biarlah yang bersangkutan yang memutuskan, "Tanyalah sama Kak Shaffa. Kakak sich boleh-boleh saja."
"Mau, mau ya Kak."
"Boleh."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak pa-pa mas. Malah aku senang. Kapan lagi bisa mendapatkan kesempatan ini. Bukankah Kak Irwan juga tahu, sebentar lagi aku menikah."
Irwan mengangguk-anggukkan kepala. Ingin dia mengungkapkan bahwa dirinya telah melamarnya. Tapi, sementara ini rencananya biarlah tersimpan rapi. Tanpa perlu Shaffa tahu.
Mungkin aku agak ragu, apakah akan diterima atau ditolak. Tapi yang pasti ayahnya sudah menyetujui. Semoga Shaffa setuju dan menerima diriku apa adanya. Aku tak bisa membayangkan kalau Shaffa menolak.
Irwan bermonolog sendiri tanpa menyadari bahwa Lika sedang memperhatikannya. Lika bertanya-tanya. Gerangan apa yang sedang dipikirkan kakaknya, sehingga terlihat senyum-senyum sendiri.
"Ayo Kakak bayangin apa?" goda Lika
"Rahasia dong."
"Aku tahu kok. Ini pasti tentang Kak Shaffa."
Ups,
Lika menutup mulutnya. Tapi sudah terlanjur lepas. Teruskan saja.
"Gimana Kak Shaffa, diterima ya?"
Lho kok nanya ke saya apanya yang diterima. Shaffa tampak bingung. Dia menatap Irwan dan Lika secara bergantian. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Dirinya benar-benar tak mengerti.
"Apanya yang diterima?"
"Ya, Kak Shaffa main rahasia-rahasiaan juga."
__ADS_1
"Apa yang dirahasiakan?" Wajah Shaffa terlihat semakin bingung.