KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Ta'ziah


__ADS_3

Entah, semenjak di rumah sakit, ada sedikit kekhawatiran dalam diri Hasan kalau-kalau Zulfa berubah pikiran. Ini adalah H-2 dari rencana pernikahan mereka. Tapi Zulfa tenang-tenang saja. Daripada menduga yang tidak-tidak, lebih baik katakan saja. Yang penting kepercayaan tetap terjaga.


[Bunda, terlalu banyak kejadian akhir-akhir ini. Tapi aku harap Bunda tak melupakan rencana kita.]


Zulfa senyum-senyum membaca wa Hasan. Bisa-bisanya dia mengirim ini saat kita sedang ta'ziah. Apalagi saat proses pemakaman Maria.


[Mas, aku tak pernah lupa. Justru yang aku khawatirkan, dirimu tak datang di hari H]


[Yang benar saja Bunda. Tak mungkin aku tak datang. Karena hari itulah yang selalu aku nantikan.]


Hadech .. ..


Macam orang muda lagi kasmaran. Tak peduli situasi dan kondisi. Zulfa geleng-geleng kepala. Tapi, ternyata dia terbawa juga.


[Maaf Mas, kita sedang Ta'ziah. Nanti dilanjut]


[Ok]


Hasan menutup handphone-nya dengan perasaan lega. Apalagi ada ada kepastian Zulfa kalau tak pernah memutuskan harapannya.


Hai ... bukankah itu mas Herman.


Bersama siapakah dia, kok akrab banget. Tapi mengapa dia menyimpan tangis. Hasan mendekati keduanya. Kepo gitu lho ....


"Mas Herman."


"Oh, Pak Hasan. Terima kasih, sudah memberi tahuku. Aku tak menyangka kalau Maria akan pergi secepat ini."


"Iya, padahal rencana keluargaku besok akan datang melamarnya," sahut lelaki yang ada di samping Herman.


"Saya ikut bersedih."


"Mungkin kami belum berjodoh."


Jadi dia calonnya Maria?...


Berarti, bukan hanya mas Herman saja yang ngejomblo dong, pikir Hasan.


"Pak Hasan, bolehkah saya tahu siapa yang menabrak Maria."


"Kejadiannya sangat cepat. Tak banyak orang tahu. Sepertinya tabrak lari. Kami masih menelusuri," jawab Hasan. "Mas Herman mencurigai seseorang?"


"Entahlah, aku tak tahu pasti. Apakah yang menabrak Maria sama dengan yang membuat mama meninggal. Aku tak tahu."


Hmmm ....


Kelihatannya perlu dicurigai, pikir Hasan.


"Mas Herman, apa nanti kita bisa ngobrol, siapa tahu ada ada hubungannya dengan masalah ini."


"Oke, kapan?"


"Habis ini, kalau mas Herman tak keberatan."

__ADS_1


"Ya, bisa."


Prosesi pemakaman Maria sudah selesai. Banyak para pelayat yang sudah meninggalkan tempat. Kini tinggal beberapa orang saja yang ada di rumah Alfa. Termasuk Zulfa dan anak-anak.


"Bunda Zulfa. Tia dan Aldo biarkan tidur di sini dulu, gimana. Rumah ini benar-benar sepi. Apalagi sudah tak ada Maria," kata Alfa. Wajahnya terlihat sedih. Membuat Zulfa tak tega.


"Kakek tanya mereka saja. Aku rasa, mereka tak keberatan." jawab Zulfa.


"Tia, Aldo temenin kakek ya?" pintanya memohon. "Kakek kesepian."


Ado dan Mutiara yang sedang duduk di samping Zulfa, diam. Mereka menengok pada Zulfa. Tak tahu harus menjawab apa.


"Dua atau tiga hari saja. Ya?"


"Tapi Kek, nanti sekolahku dimana?"


"Nanti kakek antar."


" Kakek kan sedang sakit. Bagaimana mengantar kami?" Bukan tanpa alasan mereka bertanya begitu. Melihat kain perban yang membalut tangan dan kepala kakeknya, membuat mereka berfikir. Jangan-jangan akan menambah repot Kakek.


" Nanti, sakit Kakek Alfa tidak sembuh-sembuh." kata Mutiara.


Alfa dibuatnya terenyuh dengan jawaban Mutia yang polos itu.


"Sini!" panggil Alfa.


Mutiara menengok Zulfa, meminta persetujuan. Dia segera menganggukkan kepala dan tersenyum.


Ya Tuhan, betapa sulit menghilangkan trauma pada mereka. Hingga mereka selalu ragu untuk berdekatan dengan seseorang. Padahal itu keluarganya.


"Ya dech. Mutia menginap di sini. Sama kak Aldo juga kan?" ucap Tia dengan menampakkan jejeran gigi putih bersihnya. Sehingga wajah sedih yang sesaat lalu tampak, kini berlahan tersapu oleh senyumnya.


"So pasti. Ya Aldo?" kata Alfa sambil menyentuh hidung Tia yang mungil dan tersenyum. "Dan yang pasti kakek akan cepat sehat kalau kalian di sini."


"Herman kamu tinggal sini dulu ya, nemenin Tia sama Aldo. Juga antar ke sekolahnya."


Ini sesuatu yang dia rindukan. Bersama anak-anak ... Terutama dengan Tia. Sejak ditemukan tak pernah sekali pun dirinya bisa berkumpul dengan putrinya itu. Dan kini Alfa menawarinya.


"Dengan senang hati, Pa."jawabnya cepat.


"Nach, sudah selesaikan masalah sekolahnya. Ayah Herman yang akan mengantar kalian."


"Oke, Kek. Aku pamit dulu sama Bunda."


"Boleh."


Mutiara menghampiri Zulfa yang sudah bersiap-siap akan meninggalkan tempat itu juga.


"Bunda aku nginap sini."


"Boleh. Jangan nakal, ingat Kakek Alfa sedang sakit."


"Baik, Bunda." Tia pun berlari kecil ke arah Alfa dan juga Herman, diikuti Aldo juga.

__ADS_1


Zulfa ditemani Hasan berpamitan pada semuanya. Termasuk pada Herman yang sedang memangku Tia dan menemani Aldi duduk.


"Aku titip anak-anak, Mas."


"Jangan khawatir, mereka putra-putriku."


"Dua hari lagi aku jemput mereka."


"Tak usah dijemput. Nanti aku antar. Tak mungkin aku menghalangi kebahagian bundanya dengan menyandera mereka. Yang sudah kamu anggap sebagai putra-putrimu sendiri " jawab Herman dengan membelai rambut Tia dan Aldo yang nyaman di pangkuannya. "Doaku untuk kalian."


"Makasih, Mas."


"Aku yang makasih."


Cukuplah anak-anak bersamaku, aku sudah bahagia. Meski saat ini kalian meninggalkanku.


Aduh, kok lama banget, bikin perasaanku was-was, bisik hati Hasan yang tergelitik cemburu.


"Kami pergi dulu, Mas Herman."


"Oh ya, Pak Hasan. Aku titip juga Zulfa."


Apa-apaan Mas Herman ini. Memangnya Zulfa siapa. Bukan siapa-siapa nya juga. Tapi tak begitu kalau sudah di bibir. Dalamnya rasa di hati tak usahlah orang tahu.


"Jangan khawatir. Pasti akan ku jaga. Jangan lupa datang."


"Insya Allah."


Hasan dan Zulfa pun berlalu dari hadapan mereka. Tinggal kini mereka berlima. Rumah tampak lenggang. Meski tetap terbuka. Memberi kesempatan pada teman-teman dan tetangga untuk mengungkapkan bela sungkawa. Dua tiga sepuluh yang datang tak bersamaan.


Demikian keadaan rumah Alfa hingga menjelang malam. Sampai berakhirnya tahlil yang dipimpin Faqih. Dihadiri tetangga-tetangga kanan kiri dan juga teman dekat Alfa.


Setelah selesai tahlilan, rumah kembali sepi. Aldo dan Tia sudah sangat lelah. Mereka pun menuju kamar yang sudah disiapkan.


Alfa masih berdiam di ruang keluarga bersama Herman. Masih enggan untuk beristirahat. Terkenang akan masa dimana Edzel dan Maria ada bersamanya, dirinya bahagia.


Lalu Maria pergi mengikuti Herman, Dan dia tak pernah kembali sejak saat itu. Dia bisa memakluminya. Karena itu pilihannya untuk menghukum Maria. Meski dia merindukannya.


Lalu disusul dengan hilangnya Edzel yang sampai kini tak ada kabar beritanya. Dia benar-benar merasa kesepian.


Alhamdulillah, tak lama kemudian Maria datang. Alfa merasa bahagia. Ada yang menemaninya di masa tuanya ini. Tapi kini ....


"Herman, maafkan Papa."


"Herman sudah melupakan, Pa."


Ada keinginan yang tersimpan di benaknya. Saat melihat cucu-cucunya dan juga Herman di sampingnya.


"Herman, daripada kamu sendiri di rumahmu. Kamu bisa tinggal sini. Temani papa."


Herman tersenyum menanggapi keinginan Alfa. Bukannya nggak peduli, tapi ada hal yang lain yang saat ini dipikirkannya. Tapi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan itu saat ini.


Alfa menangkap penolakan dari diamnya Herman. Dia pun mengambil nafas panjang. Ah sudahlah, mungkin sudah garis nasibnya. Sendiri di masa Tua. Tapi siapa itu ...

__ADS_1


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Suara seseorang yang tak asing lagi di telinga Alfa.


__ADS_2