KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Menangislah, Bila Membuatmu Lega


__ADS_3

Selesai belanja, Hasan mampir dulu ke tempat jasa menghias hantaran. Memberikannya semua bahan yang akan dihias.


Hasan kembali ke mobilnya terlebih dahulu. Dia menghempaskan badannya di belakang kemudi.


"Lega rasanya, satu urusan dah selesai." kata Hasan sambil mengusap wajah. Sekarang ... ini yang tersulit.


Baru kemudian Zulfa menyusul, karena harus berpamitan kepada mbak yang mengurus hantaran Hasan. Tapi untuk siapa, sampai saat ini Zulfa tak berani bertanya.


Sepintas Zulfa melihat Hasan yang mengusap wajahnya. Sepertinya berfikir keras. Tapi tak tahulah ...


Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu.


"Ada apa, Mas."


"Tidak apa-apa."


Sebenarnya Zulfa masih penasaran dengan wanita yang akan dipersunting oleh Hasan.


Dulu, dia sempat berpikir Hasan akan menjalin hubungan serius dengannya.


Tapi dia tak mau berharap banyak, karena antara dirinya dan dia, belum secara nyata mengungkapkannya. Bila itu telpon-telponan, itupun membicarakan yang umum dibicarakan. Boleh dikatakan semua biasa-biasa saja. Dan dia menjadi terbiasa dengan sikap yang biasa-biasanya Hasan, tanpa berharap lebih.


Kalau kebetulan antara Hasan, Herman, dan dirinya bersama. Dan terjadi saling meledek, yang kurasakan itu bentuk pertemanan atau persahabatan karena dulu kita sama-sama satu SMA.


"Mas, kok senyum-senyum. Hayo ... membayangkan apa?"


Sebenarnya, aku ingin dirimu cemburu dengan tak mengatakan pada siapa aku tujukan semua barang ini. Atau memang kamu pura-pura tak tahu. Agar membuat diriku makin penasaran.


Dulu pernah aku nyatakan secara nyata, tapi kamu biasa-biasa saja. Dengan alasan akan mempertimbangkannya. Karena masih memikirkan Irwan dan Lika.


Setelah kembali aku mendesakmu, akhirnya kamu bersedia. Tapi tetap biasa-biasa saja. Aku sulit mengartikan itu.


Apakah dirimu masih memikirkan Herman, dan berharap dia akan kembali?


ataukah dirimu sudah sulit untuk jatuh cinta. Bagaimana aku akan menghidupkannya?


Karena yang ku tahu, aku menyukaimu sejak dulu, dan berharap dirimu mau menerimaku.


"Mas, ada apa?"


"Zulfa, seumpama besok aku ke rumahmu, kamu keberatan?"


"Sebentar-sebentar, sekarang mas sudah mempersiapkan semua untuk lamaran. Tidakkah salah alamat kalau mas datangnya ke rumahku. Aku takut dianya akan cemburu, gimana?"


"Jangan mas suruh untuk menemani melamar dianya, lho. Tak mau aku."


"Kamu cemburu."


"Kalau aku cemburu, mana mungkin aku mau menemani mas untuk belanja keperluannya.


Aku itu siapa mas, sampai-sampai harus menemani melamar dan pakai cemburu segala."


Ups, begini yang bikin pusing. Hasan geleng-geleng kepala dengan jawaban Zulfa


Langsung katakan apa nggak ya ...

__ADS_1


Kok aku jadi gemetaran.


"Zulfa, kamu tahu ... aku akan melamar siapa?" kata Hasan dengan penuh keseriusan tapi tetap fokus mengemudikan mobil.


Zulfa sesaat berfikir. Apa perlu dia mengungkapkan yang dia pikirkan saat ini.


"Seandainya aku boleh berharap, maka itu adalah aku. Tapi itu impossible ..."


"Mengapa?"


"Aku seorang janda, dengan 2 anak. Bisakah aku berharap."


"Apa kamu tak menginginkan berumah tangga lagi."


"Mas, kalau boleh jujur ... aku masih menginginkannya. Dengan itu, ada tempat untukku berbagi. Tertawa menangis bersama, hingga menua, indah bukan. Tapi aku sangat takut untuk terluka. Aku lelah ... aku benar-benar lelah."


Bulir-bulir air mata Zulfa pun mengalir titis di pipinya. Hasan menjadi bingung harus bagaimana. Diapun menepi, menghentikan mobilnya.


"Menangislah, kalau itu membuatmu lega."


Entahlah, rasa sesak yang selama ini dia simpan rapat. Ingin dia tumpahkan saat ini juga. Di hadapan Hasan.


Untuk beberapa saat Hasan tak tahu apa yang dilakukan. Dia memberikan sapu tangan yang selalu disimpannya dalam saku celana.


"Ini."


"Tidak Mas, Makasih." Dia mengambil sapu tangannya sendiri, yang terletak dalam tas kecilnya.


"Maaf, mengganggu konsentrasi mas."


Zulfa menggelengkan kepala.


"Lalu ..."


"Aku hanya ingin tenang dan bahagia. Tapi rasanya aku tak sanggup dengan beban ini."


"Zulfa, lihat aku baik-baik."


Zulfa menghentikan tangisnya, dan menatap Hasan dengan mata sembab dan sedikit berair.


"Semua ini aku siapkan untuk melamarmu. Aku menyukaimu sejak kamu belum bersama Herman, si brengsek itu ... maaf kalau aku katakan itu padamu. Dia tak patut kamu cintai."


"Aku bersyukur kalau kamu lepas dari dia. Dia tak pernah tulus menyukaimu, dia hanya memanfaatkan kelemahanmu."


"Apa yang pernah kamu ceritakan dulu, itu benar adanya. Dan aku juga menyaksikan bahwa ada Maria di hatinya ... maafkan aku harus mengungkapkan ini padamu."


"Aku menyadari soal itu, Mas. Makanya aku memilih berpisah. Aku tak mau bertanding menang atau kalah dengan Maria. Aku hanya ingin tenang. Cukup bagiku dengan menunda perpisahan itu hingga anak-anak besar dan mengerti."


"Dan kamu masih cantik, apalagi hatimu ... Bukalah hatimu untukku."


"Terima kasih, Mas.


"Sekarang bolehkah keluargaku besok datang ke rumahmu, melamarmu. Aku benar-benar serius dengan hubungan kita."


Zulfa mengangguk. Membuat hati Hasan lega seketika.

__ADS_1


"Terima kasih, Zulfa. Sekarang hatiku jadi plong." ucapnya dengan canda. Pakai tangannya ditepukkan ke dada segala, lalu dilepasnya ke atas. Sungguh lucu. Membuat dirinya tertawa.


"Mas, ada-ada saja."


"Habis kamu itu susah banget. Berulangkali aku beri tanda, nggak respons-respons juga."


"Aku memang bodoh soal ini. Maafkan aku."


"Sudah, aku antar kalian ke rumah. Anak 2 itu tenang kali tidurnya. Nggak bangun-bangun."


"Ya, kalau sudah gini malamnya nggak tidur-tidur."


"Aku bangga padamu. Bisa menerima dengan tulus tanpa melihat siapa mereka."


"Hiburan hidup dan membahagiakan hanya anak-anak. Apalagi kalau masih kecil. Merepotkan memang tapi menyenangkan. Anak-anakku sudah besar semua. Dan mereka nggak keberatan kalau jadi kakak bagi keduanya."


"Makanya, Jamilah langsung memilih dirimu jadi pengganti mamanya. Padahal baru mengenalmu."


"Putrimu itu hanya cari perhatian saja. Tapi sebenarnya dia anak yang baik dan sangat-sangat cerdas."


"Iya, mas Ridwan dan istrinya kewalahan menghadapinya. Ini aku juga dapat surat lagi dari pondoknya."


"Masalah apa?"


"Dia daftar ke sekolah umum sendiri."


"Lalu?."


"Sering keluar pondok. Nggak diijinkan kabur. Kegiatan pondoknya sering ditinggalkan."


Sungguh, membayangkannya saja cukup membuat Zulfa tersenyum.


"Ijin Mas?"


"Nach itu masalahnya. Dia itu ijin kalau sudah melakukan. Macam pemberitahuan gitu saja. Pusing aku ... "


Ingin rasanya Zulfa tertawa, tapi tak tega lihat wajah kusut Hasan.


"Sebenarnya dia sudah ijin ke aku. Ku jawab nanti aja. Tahu-tahu sudah daftar duluan. Bu nyainya kan jadi bingung. Anak ini kok sering ngilang. Usut punya usut dia belajar ngrangkap. Pondok iya, umumnya iya juga."


"Alasannya apa?"


"Pa, kita kan selalu diajarkan doa dunia khasanah, akhirat khasanah. Kalau di pondok saja akhirat saja. Dunianya aku cari di luar lah, katanya gitu."


"Kalau dia bisa mengatasi keduanya, apa salahnya?"


"Nggak ada yang salah. Cuma ya ... tak tahulah aku. Kamu ada saran. Aku benar-benar pusing nich ... Yang jelas kalau aku nasehati, didebat pula. Kalah aku"


"Mungkin kalau kamu yang ngomong, nurut dia."


"Ya, nanti aku bantu ngomong."


Siippp ....


Tak salah pilihanku ...

__ADS_1


__ADS_2