
"Ada apa Maria?"
Dia menatapku bingung, sesekali matanya melirik ke dalam kamar. Dan terlihat kalau cemas dan resah menyelimuti dirinya. Mungkin kali ini dia terbakar cemburu. Aku tak peduli, karena ini kamarku.
"Tia pingin ketemu papanya?" kata Maria dengan mata yang masih mencari-cari keberadaan mas Herman.
"Tia pingin ketemu ayah, Sayang?" tanyaku pada gadis kecil yang menatapkapku dengan senyum mungilnya. Geemmeees....
Meski diriku belum bisa melepas rasa kecewa dan marah pada bundanya.
"Tidak, Tante. Bukankah ayah masih sakit. Harus banyak istirahat." jawabnya polos.
Aku melirik pada perempuan yang berdiri di samping gadis ini. Lalu tersenyum padanya. Kurasa aku harus membiasakan diri untuk menerima rasa sakit ini, dan sedikit menikmati dari sisi yang berbeda.
"Mutia anak baik, sholeh ... " kuberjongkok meraih dirinya yang memiliki pipi tembem. Lama tak ada anak kecil, membuat diriku merindukannya.
"Makasih, Tante." jawabnya dengan tersenyum senang.
"Mas Herman baru saja istirahat, kalau kamu ingin melihatnya, silahkan ...." sambil kubukakan pintu untuknya. Kebetulan mas Herman sedang rebahan di kasur. Kulihat matanya terbuka, wajahny masih nampak lelah.
"Ada apa, Maria?" dengan nafas agak sedikit berat. "Jangan ganggu aku dulu, aku pingin istirahat."
Wajah Maria seketika pias. Tak menyangka, kehadirannya akan mendapat penolakan dari Herman.
"Tidak, maaf kalau mengganggu." dengan rasa kecewa dia pergi, menarik tangan putrinya meninggalkanku. Terlihat dia sangat kesal.
Seharusnya diriku yang kesal atau marah. Tapi ....
Ah ... peduli amat. Karena tinggal menunggu waktu, aku akan pergi dari kehidupan mereka.
Tak berapa lama, terdengar suara adzan berkumandang. Saatnya melepas penat ini pada yang terkasih, pada tempatku bergantung. Segera aku kembali, menuju kamar mandi yang ada di kamarku. Biasanya kita jamaah di masjid. Tapi sepertinya kali ini, aku akan sholat di kamar.
Selesai melaksanakan sholat, kulihat mas Herman memperhatikan diriku. Seperti ada yang mau dikatakannya.
"Ada apa, Mas?"
Dia diam, matanya menerawang.
"Lama aku nggak sholat. Rasanya aku pingin sholat kembali."
Terus terang, Zulfa tersentak sekaligus senang mendengar perkataannya. Zulfa masih ingat, saat Herman meninggalkan dirinya dan anak-anak, hampir-hampir kewajiban itu tak pernah dilaksanakan. Sesekali memang melaksanakan, itupun harus dibumbui perang kecil baik dengan Halimah atau dirinya. Sekarang dia mengungkapkan keinginan itu ....
Semoga jadi bertanda baik, bukan hanya sekedar pemanis bibir saja.
"Zulfa senang mendengarnya, Mas."
"Tapi, aku nggak kuat berdiri."
__ADS_1
"Boleh duduk atau tidur, Mas."
Dengan sedikit bantuan, akhirnya Herman bisa melaksanan sholat.
"Terima kasih, sudah mau bantu aku."
"Zulfa harap mas Herman tetap sholat, meski nanti Zulfa sudah tak ada di sisi Mas."
"Meski Mas belum mengizinkannya. Hem ... belum mentalakmu. Dan tak ada keinginan mas mentalakmu."
"Tapi aku punya alasan sendiri untuk mengajukan khuluk."
"Tak ada lagi ruang di hatimu untuk Mas?"
"Sudahlah, Mas. Hatiku sudah terbagi habis untuk Irwan dan Lika. Sama sekali tak tersisa. Karena takdir, kita bersama. Kita berpisah, itu adalah pilihan. Semoga Allah mengampuni kita."
"Karena Maria kah?"
"Seandainya karena dia, apa mas akan menceraikannya. Kuharap mas tidak berfikir ke sana. Sesakit apapun aku nggak bisa menghukum orang yang mungkin bernasib sama denganku."
"Kamu lihat mata Mutia, putrimu. Cahaya matanya berbinar-binar saat menyebutmu ayah. Tak inginkah mas memiliki cahaya mata itu. Yang mungkin sudah tak mas dapati dari Lika atau Irwan. Karena masa itu, bagi mereka sudah lewat."
"Atau mungkin mau memadamkannya. Seperti mas lakukan pada Lika dan Irwan. Hanya mengikuti keegoisan mas. Itu ...." ingin Zulfa ucapkan tapi rasanya berat.
"Pengecut, itukan maksudmu ...."
Herman memejamkan matanya. Dari sudut-sudut matanya, terlihat ada tetesan air mata yang mengalir tipis di pipinya. Benar yang dikatakan istrinya, bahwa banyak hal indah yang seharusnya bisa dia nikmati bersama Zulfa, seandainya dia menyadari sejak dulu.
"Mas, aku siapkan air mandi dulu."
"Ya ...."
Zulfa meninggalkan Herman yang masih berselonjor di tempat tidur, menuju kamar mandi. Menyiapkan air hangat untuk Herman. Lalu menyiapkan keperluannya, termasuk handuk dan baju ganti.
"Sudah siap, Mas. Maaf kalau Zulfa nggak bisa bantu. Mas bisa sendiri kan ...."
"Ya, terima kasih."
Sementara Herman menuju kamar mandi, Zulfa membereskan tempat tidurnya dan juga membersihkan kamarnya. Semua sudah selesai, tetapi Herman belum keluar dari kamar mandi. Zulfa pun keluar dari kamarnya, ingin menyiapkan makan sore, sebagaimana biasanya.
Melewati ruang tengah, dia melihat bungkusan tas kresek hitam di atas meja. Diapun membukanya, Zulfa baru ingat kalau tadi dia menyuruh mbak Sri untuk membelikan sesuatu untuk Mutia dan Aldo, putri Maria. Kebetulan ke duanya sedang bermain di ruang tengah.
"Mutia, Aldo ... tante ada hadiah untuk kalian."
Mutia yang mendengar namanya disebut, segera menghampiri Zulfa. Senyumnya mengembang ketika melihat Zulfa menyodorkan satu kresek padanya.
"Untuk Tia, Tante."
__ADS_1
"Ho oh ..." jawab Zulfa dengan mengganggukkan kepala.
"Terima kasih, Tante ...." matanya berbinar indah dengan lesung pipit di pipinya.
"Gitu saja?" goda Zulfa sambil menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya dan berjongkok.
"Makasih, Tante." dengan mencium kedua pipi Zulfa.
Sedangkan Aldo tampak diam di belakang Mutia.
"Ini untukmu, Nak." dengan malu-malu menghampiri Zulfa, dan meraih tas kresek dari tangan Zulfa.
"Terima kasih, Tante."
"Sama-sama." peluknya hangat. Aldo seketika tersenyum ceria.
"Sudah mandi belum."
"Belum."
"Iddiih bau ..., mandi sana geh ...."
"Nanti ini Tia pakai ya Tante."
Zulfa langsung mengacungkan dua jempolnya. Lalu mengibaskan tangannya, agar mereka pergi.
"Mandi ... mandi."
Keduanya segera berlari menuju kamarnya. Sebentar kemudian keluar. Mereka lomba lari menuju kamar mandi yang ada di belakang. Zulfa tersenyum menyaksikannya, lalu dia melanjutkan menyiapkan masakan untuk makan sore keluarganya.
Tanpa dia sadari Herman menyaksikan semua itu dari arah kamarnya. Ada kebahagiaan di wajahnya. Benar apa yang Zulfa katakan, binar mata putra-putrinya adalah alasan untuk hidup lebih berwarna. Kini ada alasan bagi dirinya untuk segera sembuh, agar bisa memeluk putra-putrinya sehangat yang Zulfa lakukan.
Herman balik lagi ke kamarnya, mengambil sebuah buku yang ada di rak kecil yang ada disalah satu sudut kamar. Membacanya sambil rebahan di atas tempat tidur. Dengan bersandar pada bantal-bantal yang tersusun rapi. Siapa lagi yang menyiapkan, kalau bukan Zulfa.
Apa ya maksudnya ini, aku nggak ngerti. Sudah nanti aku tanya Zulfa, gumam Herman. Dia tampak bersungguh-sungguh membaca buku yang dipegangnya. Hingga tak menyadari, ada 2 bocil yang harum segar mewangi menghampiri dirinya. Bersama bunda Zulfa ....
"Assalamu'alaikum, Ayah ..." teriaknya.
Sesaat Herman tertegun dengan salam yang terucap dari bibir putra-putrinya. Seumur-umur dia tak pernah mengucapkann ketika bersama Maria. Bahkan ketika bersama Zulfa kata-kata itu hampir-hampir terlupa dari bibirnya.
Ada rasa bahagia mendengarnya, "Wa alaikum salam ...."
___________________________________
Talak : pemutusan ikatan pernikahan yang dilakukan suami pada istri...
Khuluk : permohonan cerai yang dilakukan istri kepada suami.
__ADS_1