KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kecelakaan


__ADS_3

Seperti kemarin-kemarin, Maria menunggu di balik gerbang sekolah. Untuk sekedar bisa melihat putra-putrinya. Ada kebahagiaan sendiri, ketika bisa menyaksikan putra-putrinya bermain riang. Aldo yang selalu bersemangat meski terlihat sangat tertutup. Demikian juga dengan Tia, yang lebih terbuka dan ceria. Tak ada kesedihan di wajah mereka.


Tapi hari ini, ada perasaan rindu yang amat sangat mendera jiwanya. Ingin memeluk kedua putra-putrinya. Ingin sekali dirinya dipanggil bunda. Kata-kata yang sudah sangat lama tak pernah didengarnya lagi.


Dia segera menuju pos satpam, untuk dipanggilkan putranya yang terlihat sesaat yang lalu.


"Pak, bisakah bapak panggilkan Aldo?"


"Maaf ibu siapa?"


Ingin mengatakan kalau dia adalah bundanya. Tapi lidah terasa kelu. Maria diam seketika. Bagaimana mungkin akan mengatakan bunda kalau dirinya mantan narapidana. Membuat dirinya mengurungkan niatnya.


"Tak usah, Pak. Makasih."


"Oh ya, Bu. Sama-sama."


Maria pun meninggalkan tempat tersebut. Kembali keluar, menuju balik gerbang. Dia harus puas dengan keadaan itu. Wanita yang aneh, pikir pak Satpam.


Sebenarnya Aldo tahu, setiap hari bunda ada di balik gerbang. Tapi Aldo masih mengingat dengan jelas, saat bunda Maria menusuk ayahnya dan neneknya. Sehingga dia masih takut menemuinya. Dia hanya bisa menatapnya dari jauh dan sambil berucap bunda ....


Kalau Tia, lokasinya jauh dari gerbang. Meski demikian, kadang dia melihat secara sekilas keberadaan bundanya. Membuatnya sangat bersedih. Sama seperti dulu, dirinya masih takut bertemu dengan bunda Maria.


Hal itu menarik perhatian Bu Guru.


"Ada apa, Tia."


"Tidak ada apa-apa, Bu Guru."


"Kamu kenal dengan wanita itu?"


"Dia bunda Maria," jawab Tia menundukkan kepala.


Bu guru melihat kesedihan di wajah Tia, membuatnya tak tega.


"Sudah, jangan kau pikirkan. Bermainlah."


Tia segera berlalu dari hadapan Bu Guru. Dia menuju teman-teman, bermain bersama hingga bel masuk berbunyi.


Demikian juga dengan Maria. Dia beranjak meninggalkan gerbang saat bel masuk sudah berbunyi. Dia melangkah menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Dimana Alfa menunggunya dengan sabar.


Jalanan di depan sekolah itu amat lenggang. Dirinya menyeberang dengan tenang. Tapi tak disangka, ada sebuah mobil hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya.


Alfa yang melihat itu, segera keluar dari mobilnya. Ingin meraih Maria.


Tapi sayang ....


Braaakkkk ... Alfa dan Maria terpelanting seketika.


Mobil itu menabrak mereka. Dia tidak berhenti, terus melaju meninggalkan mereka begitu saja.

__ADS_1


Kejadian itu, sangatlah cepat. Sehingga tak ada yang bisa menghalangi mobil itu melarikan diri. Apalagi mencatat nomornya.


Dia meninggalkan Alfa dan Maria yang terkapar dengan luka yang amat serius. Darah keluar dari hidungnya dan bagian-bagian lain dari tubuhnya.


Beberapa orang di sekitar tempat itu, dibuat terkejut. Segera mereka berkerumun. Pak satpam sekolah keluar. Demikian juga dengan Aldo mengikuti di belakangnya. Kebetulan dia belum masuk kelas.


Innalilahi wa Inna illaihi roojiuun.


"Kamu kenal, Aldo."


Aldo mengangguk dan menangis tanpa suara.


"Kakek Alfa dan Bunda Maria."


"Panggilkan ambulance," seru salah seorang diantara mereka.


Pak Satpam segera mengangkat handphone-nya. Menghubungi rumah sakit terdekat. Sehingga tak berapa lama, mobil ambulance datang beserta mobil polisi, untuk mengamankan kejadian tersebut.


Beberapa petugas kesehatan mengangkat tubuh Alfa dan Maria ke dalam ambulance.


"Pak, bolehkah Aldo ikut mereka." kata Aldo, ketika ambulance itu akan meninggalkan tempat itu.


Pak satpam sedih mendengar permintaan Aldo. Tapi bukan haknya, mengijinkan Aldo keluar sekolah. Dia menarik nafas panjang.


"Ayo masuk, kamu ketinggalan pelajaran nanti," kata pak Satpam. Dia mengajak kembali ke kelas. Dengan langkah berat, Aldo mengikutinya. Tapi lama-lama terdengar isak tangis dari bibir Aldo, membuat pak Satpam tak tega.


Pak Satpam mengerutkan dahi.


"Lalu, yang mengantarkan Aldo tiap hari itu siapa?"


"Itu bunda Zulfa. Bundanya Kak Irwan ."


Meski masih bingung, tapi Pak Satpam tak berani bertanya lebih. Apalagi Aldo semakin terisak-isak.


"Baiklah, tapi harus ijin dulu."


Pak satpam mengajak Aldo ke ruang guru.


"Ada apa dengan Aldo, Pak," tanya kepala sekolah, kebetulan berada di tempat itu.


Secara singkat, Pak Satpam menceritakan kecelakaan yang baru saja terjadi di depan sekolah. Sementara itu Aldo masih dengan isak tangisnya. Bu guru mencoba memahami, lalu mengangguk.


"Baiklah, Aldo. Ibu akan telpon bunda kamu. Tunggu sebentar."


💎


Sementara itu di pabrik, Zulfa sangat terkejut saat handphone-nya berbunyi. Terlihat di layar dari Bu Guru anak-anak tirinya. Tak biasanya pihak sekolah menelpon dirinya. Ada apa dengan Aldo dan Tia.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, benarkah ini ibu Zulfa."

__ADS_1


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh. Ya, saya sendiri. Ada apa nggeh?"


"Baru saja terjadi kecelakaan di depan sekolah. Sepertinya, mas Aldo mengenal orang tersebut. Sampai sekarang dia menangis. Tapi dia baik-baik saja. Bisakah ibu datang ke sekolah. Dia menunggu ibu," kata seorang wanita di ujung telpon.


Wajah Zulfa seketika menegang. Jangan-jangan, yang kecelakaan itu Maria. Entahlah firasatnya mengatakan itu. Bukankah selama ini yang dia ketahui, Maria diam-diam selalu berkunjung ke sekolah anaknya. Selain itu Aldo mengenalnya. Besar kemungkinan itu adalah Maria.


Ya Allah, aku mohon padamu


Kuatkan anak-anak


"Baik. Segera saya ke sana. Terimakasih atas informasinya. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh."


Begitu menutup handphone-nya, Zulfa segera menghubungi mbak Dinda. Untunglah mbak Dinda selalu standby di tempatnya. Begitu dihubungi dia sudah siap. Zulfa bergegas ke tempat parkir. Di sana mbak Dinda sudah ada di belakang kemudi.


"Ke mana, Bu."


"Ke sekolah, Aldo."


Tak biasanya, majikannya ke sekolah di jam-jam seperti ini. Ingin bertanya untuk memenuhi rasa keingintahuannya dan juga mengusir kesunyian yang terjadi. Tapi diurungkan. Karena wajah Dinda yang sangat gelisah. Bahkan berulang kali dia memandang handphone, tapi sepertinya masih ragu menghubungi seseorang. Mbak Dinda pun tak berani mengganggu. Dia lebih memilih untuk berkonsentrasi mengemudi. Agar bisa segera sampai ke sekolah Aldo.


Tak perlu waktu lama, Zulfa dan Dinda sudah sampai di pintu gerbang sekolah. Di sana Zulfa sudah disambut satpam sekolah.


"Bundanya mas Aldo?"


"Iya, di mana anakku saat ini."


"Mari saya antar. Dia ada di kantor."


"Terima kasih. Tapi bisakah dipanggilkan Mutiara sekalian."


"Ya, Bu Zulfa." Pak Satpam menuju kelas Mutia. Sedangkan Zulfa segera menuju kantor kepala sekolah, menemui Aldo yang sejak lama menunggu. Masih dengan tangisnya, hingga matanya sembab.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh," ucap Zulfa, ketika memasuki ruangan kepala sekolah.


Saat melihat bunda Zulfa datang, Aldo segera menghampirinya. Zulfa segera merangkul dalam dekapannya.


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh," jawab kepala sekolah.


"Maaf, Bu Zulfa. Mengganggu."


"Tak apa-apa, Bu. Saya malah senang., segera diberi tahu."


"Jadi benar, mereka bukan putra-putri Bu Zulfa."


"Benar, dia yang setiap hari ke sinilah Bundanya."


Tak banyak pembicaraan di antara mereka, sampai Tia datang.

__ADS_1


__ADS_2