KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Assalamualaikum, ada apa Wan?"


Wajah Zulfa terlihat cemas, tapi masih tenang.


"Ya, Wan. Bunda akan segera ke sana kalau sudah kembali."


"Wa Alaikum salam ...."


Hasan yang duduk di belakang kemudi dibuatnya bertanya-tanya.


" Ada apa ...."


" Mama masuk rumah sakit lagi."


"Mama?"


Setahu Hasan Zulfa sejak dulu yatim piatu. Mengapa dia menyebut kata 'mama' ....


"Ibunya mas Herman."


"Hem .... kita langsung pulang atau mampir ke rumah kak Redha.'


Hasan sadar betul bahwa Zuifa belum seratus persen bisa melepas keterikatannya dengan keluarga Herman. Tapi Hasan percaya bahwa Zuifa bisa bijak dalam mengambil keputusan. Jarang sekali dia menggunakan egonya, bahkan yang sering adalah memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri.


"Sudah sampai sini. Nanggung kalau nggak mampir. Di sana sudah ada Rahmi, adiknya mas Herman.


"Ya., baiklah."


Hasan kembali berkonsentrasi melajukan mobilnya, di jalanan yang tak sepi lagi. Tak sampai setengah jam, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Di sana tamu-tamu sudah banyak yang berpamitan. Hanya tinggal 3 orang yang berada di sana, saat mereka datang. Dan itupun sudah berdiri hendak berpamitan pula.


"Assalamualaikum, Kak."


"Wa Alaikum salam .... akhirnya kalian datang." jawab Redha senang.


"Mama Redha ...." Mutia mendekati, lalu mencium tangan dengan takdzim.


"Mama rindu, Tia." Redha memeluk Mutia erat serta mengecup pucuk kepalanya.


"Tia juga rindu. Kak Rahman kemana, Ma?"


"Tia ...." suara Rahman dari depan pintu ruang tengah dengan tangan yang memegang boneka pink yang tertinggal dulu..


"Kak Rahman, bonekaku ..."


Mutia segera melepas pelukan mama Redha. Menghampiri Rahman dengan tersenyum lebar.


Dan mengambil boneka yang berada di tangan Rahman. Tapi mengambilnya tak semudah dia perkirakan. Karena Rohman pakai menggodanya segala. Tidak segera memberikan padanya.


"Kak Rahman. Bonekaku ...." Mutia mulai jengkel. Lalu meninggalkan Rahman begitu saja. Ceritanya merajuk nich ....


"Maafkan kakak, ini ..." terketuk juga hati Rahman, untuk segera memberikan boneka itu pada Mutia.


"Nggak mau, nanti dimain-mainin. Nggak diberikan pada Tia." kali ini Tia benar-benar marah. Tapi matanya melirik pada boneka yang dibawa Rahman. Tanpa Rahman duga, diapun meraih boneka itu dan ....


Hampir saja berhasil, tapi Rahman keburu melihatnya.


"Yei ... tapi ini. Kakak kasih, kakak nggak tega."


"Makasih kak Rahman." kata Mutia. Spontan dia memeluk tubuh Rahman erat.

__ADS_1


"He ... kecil-kecil sudah main peluk sembarangan." ucap Jamilah agak keras.


"Kak Ayu ini apaan sih. Aku hanya peluk kak Rohman kok." protes Tia dengan polosnya.


"Nggak boleh. Kalau nggak boleh ya nggak boleh .... Rohman kamu juga." Ayu memarahi sepupu kecilnya itu.


"Ya, Kak." kata Rohman. Mending di-iyakan saja, dari pada ribut sama kakak yang satu ini. Nggak bakalan menang.


"Sudah. Jangan pada ribut. Ayok kita makan. " ajak Redha. Tak di manapun, kapanpun, yang namanya anak-anak selalu saja ribut.


Karena sudah memperoleh boneka kesayangannya, Tia mengikuti mama Redha menuju meja makan dengan senyum ceria.


Kini mereka bisa melanjutkan makan yang sempat tertunda.


🌟


Pagi itu di rumah Halimah ....


Semenjak turun dari sholat subuh, Hasan sudah berkutat dengan rutinitas yang sudah menjadi kebiasaannya. Pagi benar sudah pergi ke pasar dan kemudian langsung ke tempat usahanya, angkringan yang ada di pinggir kali.


Sedangkan Halimah juga demikian. Selepas sholat subuh, dirinya selalu menyiapkan diri untuk sekedar jalan-jalan sejenak. Dan mampir ke kebun, memetik sayur-mayur sekedarnya. Baru kemudian kembali ke rumahnya.


Setelah bersih-bersih rumah, dia menyiapkan sarapan untuk dirinya. Maklumlah hari ini Aldo tak bersamanya, sehingga dirinya bisa bersantai menikmati paginya. Dan tak perlu tergesa-gesa menyiapkan sarapan.S


Belum sempat menikmati sarapannya, datang 2 orang pria datang ke rumahnya. Tanpa salam, tanpa apa, mereka masuk ke dalam rumah menghampiri dirinya.


"Nek, enak kali kamu makan. Sudah dibilang suruh pergi. Tak pergi-pergi juga."


Tentu kedatangannya yang tak ada sopan sama sekali, membuat Halimah terkejut.


"Kalian mau apa di rumahku."


"Ya ... emang nenek-nenek. Pasti saja sudah lupa mana rumahnya."


"Nggak ngerti juga. Nenek mau keluar sendiri atau kita lempar."


"Kalian ...!"


Halimah segera mengambil piringnya dan melemparkannya begitu saja pada lelaki itu.


Tentu saja dengan mudah mereka menghindar. Bahkan mereka menyeret nenek Halimah dengan kasar ke luar.


Tentu saja Halimah berontak.


"Kenapa aku harus keluar. Ini rumahku. Kalian nggak punya hak dengan rumahku."


Lelaki itu tak peduli dengan teriakan Halimah. Mereka seret tubuh Halimah hingga ke halaman. Lalu keduanya kembali ke dalam, mengeluarkan perabot rumah, seperti meja kursi.


Halimah hanya diam terpaku dengan apa yang mereka perbuat dalam rumah. Ingin beriakpun, dia sudah tak mampu. Dia hanya mampu menyandarkan tubuhnya di tiang depannya rumahnya. Memandang perabotan rumahnya keluar satu per satu. Sambil sekali-kali menghindar dari barang yang kadang dilemparkan begitu saja oleh ke dua orang itu.


Saat mereka melempar asbac, tak sengaja mengenai kepala Halimah. Membuatnya pusing dan tak lama kemudian, tak sadarkan diri.


Mustofa, adik Halimah yang kebetulan lewat, karena ingin ke sawah, dibuatnya terkejut dengan keadaan rumah kakaknya. Dan perabotan rumahnya, mengapa terletak di luar. Apalagi saat melihat Halimah yang tergeletak di emperan rumahnya. Sepertinya tak sadarkan diri.


Tak lama berselang Pak Harun juga lewat. Dia juga terkejut dengan keadaan rumah nenek Halimah.


"Mas Tofa, Ada apa ini."


"Tak tahu, mbak Halimah pingsan. Tolong panggilkan yang lain, istrimu atau siapalah, untuk nolongi mbak Halimah. Aku tak tahu maksud orang-orang itu."

__ADS_1


Sementara Harun pergi mencari bantuan, Mustofa segera masuk, menghentikan keduanya.


"Hai kalian, kalau tak berhenti , pacul ini melayang." kata Mustofa mengancam.


Mereka menghentikan kegiatannya.


"Kenapa memang," jawab mereka tak kalah sengit.


"Kami hanya menjalankan tugas. Karena rumah ini sudah jadi milik majikan kami."


Mustofa segera faham, mungkin mbak Halimah korban penipuan atau apalah. Yang dia tahu rumah ini miliknya Halimah, titik. Tak pernah dia mendengar rumahnya ini dijual.


"Berhenti atau ini melayang." sekali lagi dia mengancam.


Untunglah, Harun datang bersama banyak orang. Sehingga Mustofa tidak harus melemparkan paculnya pada orang itu. Kalau benar-benar melempar dan kena, jadi urusan polisi, tak maulah dia kalau itu terjadi.


Tak ingin berlama-lama dengan masalah ini. Mustofa segera menyuruh keduanya mengembalikan semua barang seperti keadaan semula.


"Kalian kembalikan atau ...."


Melihat banyak orang yang datang. Mereka pun tak mau ambil resiko.


Dia berkenan mengembalikan nya ke tempat semula. Kerja dua kali. Sudah mengeluarkan, Sekarang memasukkannya lagi. Biar tahu rasa...


Dari pada digebukin banyak orang.


Halimah kini juga sudah sadar.


"Mbak, ini ada apa." tanya Bu Harun.


"Kalian siapa. Kok ngusir aku. Ini rumahku." tanya Halimah begitu sadar. Melihat banyak orang berkumpul di rumahnya. Dan juga dua orang itu diantara tetangganya.


"Kami hanya disuruh majikan kami, Bu." jawabnya agak merendah. Dari pada saat dia datang.


"Tunjukkan surat kalian."


Salah seorang menuju mobilnya. Lalu kembali dengan membawa map hijau.


"Ini..."


"Itu surat sudah tak berlaku lagi, Kami juga punya suratnya." kata Halimah yang sudah sempurna kesadarannya.


Halimah pun berdiri, lalu ke kamarnya. Mengambil surat rumahnya.


Setelah melihat surat itu. Kedua orang itu mohon maaf dan undur diri.


"Silahkan ganti rugi, kalau tak kami laporkan ke polisi."


Dengan terpaksa, mereka mengeluarkan isi dompet yang mereka punya. Hingga kosong tak tersisa.


Mereka pergi dengan tangan hampa menemui Bobby, majikannya.


"Benar-benar sial kita hari ini."


"Untung nggak babak belur."


Sedangkan tak lama setelah kedua orang itu pergi, nenek Halimah kembali tak sadarkan diri ....


....

__ADS_1


....


.....


__ADS_2