KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kepedihan Shaffa


__ADS_3

Shaffa keluar menemui ayahnya. Dia sedang termenung sendiri di kursi tamu. Tampak wajahnya sangat sedih. Sehingga tidak menyadari kalau Shaffa sudah ada di dekatnya.


"Bapak, maafkan Shaffa bapak"


"Kamu itu sudah dilamar orang berhati-hatilah dalam bergaul. Untung nak Heru bisa menerima kamu apa adanya."


"Tapi bapak, Mas Heru itu bukan laki-laki yang baik."


"Kurasa penilaianmu salah. Buktinya dia mau menerima kamu apa adanya."


"Itu semua bohong, Bapak."


"Dia itu sudah mapan dan cocok untuk kamu. apa kamu pengen dengan pacarmu yang nggak bertanggung jawab itu."


"Pacar yang mana, Bapak."


"Sudah. Bapak tidak ingin mendengar penolakan."


"Apa kamu mau menjadi perawan tua. beri kesempatan ayah melaksanakan amanah ibumu yang terakhir."


Shaffa pun kembali ke kamar dengan menyimpan tangis dalam dada.


Semenjak kejadian itu Shaffa agak murung, tapi tak berani menceritakannya pada ayahnya. Dia hanya menyimpannya seorang diri dan sering mengurung dirinya dalam kamar.


Perubahan itu tentu saja mengusik ketenangan Ayah Shaffa. Tapi dia hanya bisa menyalahkan putrinya. Hal itu sangat-sangat mempengaruhi emosinya. Dan membuat dirinya bertindak kasar pada Shaffa.


Apalagi saat ini tak lagi terdengar kabar Heru. Padahal tinggal menghitung hari pernikahan mereka. Apakah Heru membatalkannya?


Orang tua mana yang sanggup. membayangkan pernikahan putrinya akan gagal. Dan itu semua karena Shaffa yang tak bisa menjaga diri.


Hingga di malam saat Irwan mengantarkannya pulang. Itulah puncak-puncaknya dalam kemarahan.


Ayahnya menyangka, kalau Irwan adalah pacar Shaffa yang tak bertanggungjawab. Mau merusak masa depan putri satu-satunya. Seperti yang dituduhkan oleh calon mantunya.


💎


flash on.


"Kenapa menangis?" kata Irwan saat melihat tetesan embun yang bening keluar dari sudut mata Shaffa yang membasahi pipinya.


"Nggak apa-apa."jawab Shaffa sambil mengusap tetesan embun itu. Kembali dirinya berbohong.


Irwan tahu kalau Shaffa menyembunyikan cerita yang begitu menyesakkan dalam dadanya. Tapi entah kenapa sampai sekarang dia tidak mau berbagi. Padahal dia ingin sekali sedikit membantu meringankan bebannya.

__ADS_1


"Bolehkah aku ke rumahmu. Aku ingin minta maaf sama Bapakmu."


"Jangan!"


"Lah kenapa."


"Nanti bapak marah. Apalagi sekarang nggak ada kabar dari Mas Heru. Padahal Bapak sudah pesan ke sana kemari buat pernikahan kami."


"Oh*." gumam Irwan.


"Apa kamu sudah mencari tahu keberadaan dia?"


"Aku sudah mencoba menghubungi tapi ndak pernah diangkat. Mungkin sedang sibuk kerja."


"Kerja apa?"


"Dia seorang polisi."


"Polisi?!"


"Benar."


"Papa Hasan kepala polisi. Mungkin bisa bantu."


Tak ada keceriaan di wajah Syafa. Meskipun Irwan telah memberi tahu bahwa Heru mungkin salah satu anak buah Hasan. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya sekarang.


Irwan mencari Tia dan Aldo. Ternyata keduanya masih asyik dalam sungai kecil, dengan membungkukkan tubuhnya. Mungkin sedang cari baby fish.


"Masya Allah, kalian ini ...." ucap Irwan yang melihat Tia dan Aldo berbasah-basah ria. Meski dimarahi mereka tetap senyum-senyum penuh dengan keceriaan. Melihat hal itu, siapa pun tertawa. Sungguh lucu keadaan keduanya. Tak terkecuali Syafa. Diapun tertawa lepas.


"Bentar Kak, ini loh..."Tia memperlihatkan ikan kecil yang ada di telangkupan telapak tangannya.


"Sudah-sudah buang sana."


"Yaaa, Kakak." ucap mereka berbarengan. Tapi di kembalikan ya ikan itu ke dalam aliran sungai.


"Sudah, sini sama Kakak." ajak Shaffa. Ia meraih tangan keduanya dan menyiramkan sedikit air pada kakinya, agar bersih sebelum mereka masuk ke dalam mobil Irwan.


"Sekarang kita ke rumah Kak Shaffa." ucap Shaffa meski dengan senyuman yang tak bisa diartikan.


"Oke." jawab Irwan senang. Baru dia dapat melihat tawa Shaffa yang sejak berjumpa, tak nampak menghiasi bibirnya. dia pun segera menjalankan mobilnya.


Tiba di rumah, mereka sudah ditunggu Ayah Shaffa. Begitu melihat Shaffa bersama Irwan, wajahnya memerah. Untunglah, kali ini Shaffa lebih tenang. Dia turun lebih dulu dengan mengajak Tia dan Aldo untuk menjumpai ayahnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bapak." sapa Tia dengan wajah penuh keceriaan. Benar saja, Ayah Shaffa seperti tak berkutik. Bagaimana bisa dia menampakan kemarahannya pada anak kecil yang lucu itu. Mau tak mau Ayah Shafa tersenyum. Meski Terpaksa tapi tak apalah daripada marah ....


"Wa alaikum salam." jawabnya, lalu meraih Tia dan Aldo dalam pelukannya. mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Irwan masih sibuk untuk memarkir kendaraannya. Setelah dirasa mobil itu di tempat yang tepat, Irwan pun turun, dan mengambil parcel buah-buahan yang sudah disiapkan dari rumah.


"Assalamualaikum ...." ucap Irwan sebelum memasuki rumah Shaffa.


Kali ini ayah Safa menjawabnya. Mungkin amarahnya hilang karena kehadiran kedua krucil itu. Tak rugi juga aku mengajak keduanya.


"Wa Alaikum salam ...." ucapnya.


Tanpa mempersilahkan duduk terlebih dulu, Ayah Shaffa pun sudah menghujani Irwan dengan berbagai pernyataan yang bikin pusing kepala Irwan.


"Siapa kamu berani-beraninya mengganggu anak gadisku yang akan menikah. Gara-gara kamu, calonnya kini menghilang tanpa kabar. Apalagi kamu tidak menghormati anakku. Kalau terjadi sesuatu dengan anakku kamu yang akan bertanggung jawab. kamu itu sudah punya anak dua kenapa masih mencari gadis lain. Mau merusaknya pula."


Subhanallah wal hamdulillah wa la ilahi ILLALLAH hu Akbar. Lengkap dach, kalimat thoyyibah meluncur dalam dadanya.


Irwan benar-benar dibuat bingung dengan kata-kata yang keluar dari bibir ayahnya Shafa. Tapi tak apalah mungkin sudah nasib.


Tapi mempertanggungjawabkan apa?


Dirinya tidak melakukan apa pun terhadap Shaffa. Apa maksudnya?


Apakah Shaffa sudah ....


"Ngapunten Bapak. Sebenarnya ada apa. Saya ini hanyalah putranya ibu Zulfa, majikan Shaffa. Dan itu adalah adik adik saya.


Saya ke sini hanya ingin membantu adik Shaffa menemukan calon suaminya, yang katanya hilang tanpa kabar. Itupun kalau bapak berkenan."


"Jadi kamu bukan pacar Shaffa?"


"Bapak saya itu nggak pernah berpacaran dengan anak bapak. Jika saya berkeinginan maka saya lamar. Saya tak mau mempermainkannya."jawab Irwan. Kok kata-kataku jadi lancar. Malu aku ....


"Benarkah?"


"Kalau boleh saya tahu, sebenarnya ada persoalan apa Bapak?"


"Ini semua gara-gara putri bapak sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa berkhianat, padahal pernikahan hanya menghitung hari."


Tak mengira kalau ayahnya akan bercerita hal itu pada Irwan yang notabenenya adalah orang lain, membuatnya geram, marah, kesal, terhina, malu .... semua campur aduk jadi satu. Wajahnya menegang dan memerah, menahan amarah.


"Bapak, tak begitu ceritanya. Justru mas Heru yang mau merusak Shaffa saat itu. Pertama dia akan menjual Shaffa. Kedua, dia akan menodai Shaffa." ujar Shaffa lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya pun mengalir deras membasahi pipinya.

__ADS_1


Shaffa sudah benar-benar hilang kendali dan mengatakan begitu saja, tanpa ada yang ditutupinya lagi. Dirinya benar-benar sudah muak ... sangat-sangat muak, ayahnya menyalahkannya terus tanpa memberi kesempatan padanya untuk membela diri.


__ADS_2