KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Baik Hasan maupun Herman keduanya terlihat berpikir keras, hingga tak sadar kalau sedang memutar-mutar kursi yang mereka duduki.


“Tapi itu masih dugaan. Belum tentu juga benar. Siapa tahu orang lain.”


“Setidaknya itu petunjuk awal untuk penyelidikan.”


“Aku tidak tahu banyak tentang Boby, tapi insya Allah Papa Alfa ayahnya Maria, dia tahu benar siapa Bobby itu.”


“Kalau begitu, kita ke sana. Kamu nggak keberatan, kan?”


“Baiklah. Tapi ....”


“Tapi apa?”


“Kalau kamu perbolehkan aku jenguk Irwan.”


Sorot mata Hasan seketika berubah. Yang semula tenang kini  agak lebih tajam. Seolah-olah ingin menghujamkan sebuah pisau ke dalam dada Herman.


Pak polisi kenapa kamu begitu posesif sama istri kamu. Sebegitu besarkah cintamu padanya sehingga untuk menemui dia saja, aku harus bersusah payah begini, guman Herman dalam hati.


Ah ... peduli amat dengan pikiran dia, bisiknya kemudian.


“Apa kamu tega? Aku hanya ingin bertemu dengan anakku saja, tak lain dan tak bukan.”


Mendengar permintaan Herman yang begitu memohon.  membuat Hasan berpikir ulang. Dia pun tertawa kecil.


“Boleh ... boleh. Aku juga mau ke sana. Ayo!”


Keduanya bangkit, meninggalkan ruangan. Jalan beriringan menuju rumah sakit, dengan memakai mobil masing-masing.


Keduanya menyusuri lorong rumah sakit dengan pikiran masing-masing, tanpa sempat berbincang-bincang sepatah kata pun. Sampai mereka tiba di ruang perawatan Irwan.


 “Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Wan?”


“Berkat doa Bunda dan Papa ... Eh ayah Herman juga.” Maksud hati mencandai Ayah Herman. Biar tidak kusut gitu loh wajahnya.


“Kamu itu ada-ada saja, Wan,” sahut Herman dengan senyum mengembang.


“Hehehe ...” jajaran gigi putihnya yang rapi kini tampak manis seiring dengan tawanya yang ringan.


“Tumben Ayah dan Papa barengan? Jangan katakan kalau kalian sedang memperebutkan hati Bunda ya .... Ayah harus ngerti kalau Bunda saat ini sudah milik Papa.”


“Wan-Wan ....” Ingin dirinya mengacak-acak rambut Irwan, tapi sayang rambutnya tertutup oleh perban putih.


Sementara Hasan dan Herman berbincang-bincang dengan Irwan, Zulfa menemui Shaffa yang tengah beristirahat di sebuah ruangan, persis di samping ruangan Irwan.


“Bagaimana keadaan calon mantu Ayah,”


“Aku tak tahu persis. Kata Bunda dia hanya luka ringan saja. Yang paling parah justru Ayah Ishak. Tulang tangannya ada yang retak.”


“Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun ,”ucap Herman dan Hasan hampir bersamaan. Kini mereka sudah tak  khawatir lagi akan keadaan keduanya.

__ADS_1


“Kalau gitu rencana pernikahan kamu, lancar dong.”


“Doanya, Yah.”


“Pastilah." kata Herman tanpa memperdulikan keberadaan Hasan di sampingnya.


Lebay kali si Herman ini, Hasan menggerutu seorang diri, menyaksikan rivalnya yang sedang mengungkapkan rasa bahagianya bersama putranya. Biarkan sajalah, aku mau menyusul Bunda Zulfa saja. Lihat keadaan Shaffa dan juga ayahnya, gumamnya kecil dalam hati.


Berlahan-lahan Hasan meninggalkan ruangan itu tanpa disadari oleh Irwan dan Herman.


“Bunda siapa dia,” tanya Shaffa saat melihat Hasan masuk ke ruangannya.


“Suami Bunda, Nak.”


“Bukankah Ayah telah lama meninggal, Bunda?” Shaffa terus menatap Hasan dengan penuh keheranan. Tiba-tiba  meringis, seperti menahan rasa sakit di kepala. “Bunda kepalaku sakit.”


“Istirahatlah. Jangan banyak berpikir.”


Shafa pun menurut. Dia memejamkan mata dengan tubuh membelakangi mereka.


“Bunda, apa yang terjadi?” Hasan tertegun saat menyaksikan shaffa yang tidak mengenali dirinya.


Zulfa diam saja, sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh Shaffa.


“Istirahatlah. Bunda keluar sebentar .”


Tak ada jawaban dari Shaffa. Sepertinya rasa sakit di kepalanya belum juga reda. Untuk sesaat menunda keluar. Dia mengusap-usap kepala Shaffa dengan lembut. Terlihat kemudian matanya terpejam. Meski tidak tidur. Baru kemudian Zulfa meninggalkannya.


“ Shaffa, Om keluar.”


“Ya, Pa.”


Hasan terkejut tapi juga senang. Calon mantunya sudah menyebutnya Papa, tanpa harus diminta, meski itu dilakukan mungkin tanpa sadar. Mungkinkah ini akibat benturan di kepalanya.


“Bunda, ada apa dengan Shaffa?” tanya Hasan ketika mereka sudah di luar.


“Kata dokter, dia mengalami Amnesia. Tapi aku nggak tahu permanen atau tidaknya.”


“Biasanya sih hanya sementara saja. Bunda nggak usah khawatir.”


“Semoga saja.”


“Aamiiin ... Oh ya, bagaimana pernikahan Irwan?”


Untuk sesaat terlihat Zulfa bersedih. Dia hanya menundukkan kepala tanpa bisa menjawab pertanyaan suaminya.


“Bagaimana ya, Pa? Apa perlu ditunda. Melihat kondisi Shaffa dan juga ayahnya seperti ini.”


Hasan terkejut, mendengar penuturan Zulfa.


“Maksud bunda Pak Ishak juga amnesia?”

__ADS_1


“Tidak.  Hanya lukanya itu loh ... Apa mungkin bisa sembuh dalam waktu dekat? Aku nggak tega."


“Kukira soal apa, kalau itu bisa dikondisikan Bunda ... Kalau nggak bisa ke KUA, ijabnya di rumah sakit saja, agar perawatan Pak Ishak tidak terganggu demikian juga dengan Shaffa maupun Irwan. Untuk resepsinya kita tunggu waktu yang tepat.”


“Aku rasa itu ide yang bagus, Pa. Aku nurut saja."


Keduanya menuju kamar Irwan, dan mendapati Herman masih bercanda dengan anaknya.


Entah kenapa ya ... Herman kok tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Saat Hasan dan mantan istrinya masuk keruangan,  dia agak membuang muka.  Ada-ada saja ....


Apalagi saat Hasan mendekati Bunda Zulfa. Lalu memeluk pundaknya juga. Seakan-akan ingin memperlihatkan kemesraan mereka sebagai pasangan yang baru menikah.


Pemandangan yang mengasyikkan buat Irwan. Rasanya Irwan ingin tertawa terbahak-bahak. Untunglah dia masih sadar, bisa-bisa kalau kelepasan membuat Ayah Herman makin malu.


Untungnya hal itu tidak menjadi perhatian Hasan dan Zulfa. Peduli amat kan mereka sudah sah sebagai suami istri. Ini baru jalan bareng sudah dicemburui. Hadech ...


Sepintas Hasan melihatnya. Ingin dirinya menepuk jidatnya sendiri, bingung dengan tingkah Herman yang masih menyimpan rasa pada Zulfa. Tapi biarlah, moga saja dia segera dapat pasangan sendiri, biar nggak cemburu padanya terus-menerus.


“Herman, kita ke rumah Pak Alfa, yuk!” Dia mencoba membuyarkan rasa yang kini membuat Herman sedih.


“Baiklah.”


“Ke rumah kakeknya Tia, Pa? Ada urusan apa? kalau Irwan boleh tahu.”


Herman akan buka suara, tapi dengan cepat dicegah oleh Hasan. Dia khawatir kalau itu ditanyakan pada Irwan saat ini akan menyebabkan luka di kepalanya bertambah parah. Bisa-bisa seperti Shaffa yang mengalami gejala amnesia.


“Tak ada apa-apa, Wan. Tak usah kau pikirkan. Sekarang cepatlah kamu sembuh. Shaffa menunggumu.”


“Kenapa juga Irwan diperlakukan kayak anak kecil. Maksud Irwan berkata seperti itu, mungkin Irwan bisa bantu Papa.”


“Baiklah. Tapi nanti saja, nunggu kamu benar-benar sembuh.”


“Kalau jadi pertimbangan Papa, Irwan mengerti kok.”


“Ya sudah, Papa pergi dulu.” Hasan berpamitan. Untuk Zulfa, tanpa ragu dia mencium pucuk kepalanya. Bikin Herman salah tingkah.


Ya Tuhan. Mengapa rasa ini selalu menggodaku. Bila aku selalu ada di dekatnya, tak bisa kupungkiri bahwa aku masih menyimpan rasa itu. Dan mengharapkannya untuk bersama. Setelah terungkap siapa yang telah mencelakai keluargaku aku rasa rencana untuk pergi ke Australia adalah jalan yang terbaik. Bukankah Papa sudah ada  Edzel yang menemaninya. Hanya satu harapanku Semoga anak-anak bisa aku bawa. Rasanya sepi tanpa mereka.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2