KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Satu Persatu pergi


__ADS_3

Bagaimanapun Zulfa mencoba bersabar, tapi menerima kehadiran Herman lagi dalam kehidupannya adalah hal yang mustahil. Apalagi saat dia kembali, membawa wanita lain. Rasanya itu diluar kemampuan untuk menerima.


Irwan, dia benar-benar nggak bisa menerima. Ini terbukti dia tak mau kembali lagi ke rumah itu. Hanya sekali saja dia kembali, pada saat Zulfa memintanya datang dengan sangat.


"Assalamu'alaikum ..., Bunda." sapa Irwan begitu memasuki kamarnya.


Irwan masih marah, bahkan sangat marah pada Herman. Makanya dia mau datang jika Zulfa mau menemuinya di kamar. Agar dapat menghindar dari laki-laki yang dia benci.


"Wa alaikum salam ..., akhirnya kamu datang, Nak."


"Asalkan jangan suruh Irwan menemui lelaki itu, Irwan akan datang."


"Baiklah, bunda menghargai apa yang jadi ketetapanmu. Duduklah, Nak."


Tak perlu disuruh dua kali, Irwan duduk di samping bundanya. Tak hanya duduk, bahkan dia akan meletakkan kepalanya di pangkuan bundanya. Entahlah, rasanya nggak afdol kalau tak bermanja. Ya seperti anak kecil.


"Ada apa Bun ....?"


"Bunda minta mendapatkanmu. Menghadapi ayahmu?"


"Jangan sebut dia ayah, Bunda. Dan dia tidak cocok disebut suami bagi Bunda. Kumohon bunda, kita keluar dari rumah ini. Irwan nggak sanggup kalau bunda tersakiti. Irwan sudah besar, ijinkan Irwan untuk berbakti. Kita pergi, Bun ...."


"Bagaimana dengan orang-orang yang sudah bekerja pada Bunda. Haruskah bunda tinggal begitu saja."


"Kenapa Bunda selalu memikirkan orang lain. Sudah cukup, Bunda. Saatnya Bunda meraih kebahagiaan Bunda sendiri."


"Tapi kasihan mereka yang sudah menggantungkan hidupnya pada bunda."


"Kalau itu yang jadi pikiran Bunda, Irwan akan bangunkan pabrik untuk Bunda. Tapi tidak di sini."


"Lalu tempat ini?"


"Di jual saja."


"Baik. Kalau gitu bunda tunggu kabar darimu, lokasi barunya."


"Ini bundaku yang sesungguhnya. Segera Bun ..."


Puas sudah bermanja dengan bunda Zulfa, Irwan segera bangkit dan ingin membereskan barang-barang miliknya.


"Kamu membiarkan bunda di sini,"


"Kalau Bunda ikut Irwan sekarang, Irwan pasti senang, Bun."


"Ayahmu masih sakit."


"Bun, untuk apa bunda memikirkan orang yang selama ini nggak pernah memikirkan kita."


"Bukan begitu, Irwan. Lihat Mutia sama Aldo, ingatan bunda kembali ke masa kecil kalian."


"Alasan..., sebenarnya Bunda masih ada hati sama lelaki itu kan?"


"Tidak. Bunda sudah berniat pergi."

__ADS_1


"Irwan mendukung Bunda. Atau maksudnya nich, maunya Irwan segera menikah gitu tho, Bun."


"Lha kamu mau sekolah dulu, kan."


"Dan bunda sudah ijinin kan?"


"Iya, Bunda malah bangga kalau kamu bisa menyelesaikan dengan baik."


"Baiklah, Bun. Irwan kasih waktu maksimal satu bulan untuk merawat lelaki itu. Itu urusan hati bunda. Tapi Irwan harap, Bunda tidak goyah lagi untuk berpisah dari laki-laki itu."


"Wah, anak bunda sudah mulai ikut campur masalah hati bunda."


"Andai Irwan dapat istri yang sifat yang kayak Bunda. Bersyukur sekali Irwan, nggak akan Irwan sia-siakan."


"Sudah, Bun. Ijinkan Irwan pergi. Irwan akan kabari Bunda, kalau tempatnya sudah dapat."


"Ini sudah mau maghrib, kita sholat jamaah dulu."


"Baik, Bun. Hitung-hitung kenangan terakhir."


Seperti biasa Lika dan Irwan akan bermanja-manja pada Zulfa. Begitu selesai sholat dan juga berdoa, mereka akan saling berebut meletakkan kepala di kaki Zulfa. Tanpa peduli nenek maupun putra-putri Maria yang kebetulan ikut jamaah bersama mereka.


"Kalian nggak malu apa, dilihat adik-adik kalian."


Meski marah pada Maria dan Herman, sampai ubun-ubun. Tapi dengan dua bocah itu ... tak tega juga. Masak harus benci, mereka nggak salah. Yang salah hanyalah orang tuanya.


"Sini Tia, Aldo." panggil Zulfa dengan mengulurkan tangannya. Yang disambut dengan senang. Mereka menghampiri dan menciumnya takdzim. Ingin duduk, tapi Irwan mengusirnya.


"Dik dik, pergi dulu ya .... Ini bundaku." kata Irwan menggoda.


"Tega kali kamu, Wan."


"Besok sudah nggak Bun." jawabnya tak peduli. Sudah jadi direktor tapi manjanya nggak bisa hilang juga.


Lama mereka terdiam, menikmati belaian lembut tangan bunda Zulfa. Biasanya saat-saat seperti ini, mereka akan bicara apa saja ...


"Bun, aku nggak mau di sini. Kita ke rumah kakak, ya Bun." rayu Lika.


"Kamu mau ikut kakak, sekarang?" tanya Irwan senang


"Jangan dulu, temenin bunda di sini. Nanti sambil tunggu pengumumanmu, belajar masak, biar nanti kau kuliah, sudah terbiasa. Nggak sedikit-sedikit beli. Bisa sedikit berhemat."


"Tuch, temenin Bunda."


"Enakkan kakak."


Bukannya Zulfa tak merasakan kegelisahn Lika. Tapi Zulfa masih belum tega dengan Halimah. Meninggalkannya begitu saja, pasti akan terpukul. Bagaimanapun mereka yang selama ini yang menemani neneknya kalau ada apa-apa.


"Sudah, bunda capek. Nggak pijitin. Malah bobok di bunda."


Lika dan Irwan tertawa, bangkit dengan malas,


"Ya sudah, Bun. Irwan berangkat dulu. Janji satu bulan .... Irwan jemput."

__ADS_1


Zulfa tersenyum saja mendengar pernyataan Irwan. Tapi memang tekadnya sudah bulat, pergi dari kehidupan Herman. Bukan karena benci. Melainkan putra-putrinya tak bisa menerima Herman lagi.


"Bunda bangga padamu, Nak. Ijin nenek nggeh."


"Siap, laksanakan."


Irwan mengambil kopernya terlebih dahulu dari kamarnya, membawanya ke mobil. Lalu, kembali lagi mencari Halimah, berpamitan.


"Nek, aku pergi dulu. Aku pingin tinggal di rumahku sendiri."


"Sekali-kali ajak nenek ke sana."


"Pasti, tapi tidak sekarang, Nek. Nanti kalau sudah selesai diperbaiki."


"Ya, sudah. Sering-sering datang ke sini, Irwan." tampak wajah Halimah sedih, tapi dia tak bisa berbuat banyak. Bagaimanapun dia mengerti apa yang kini dirasakkan oleh cucunya. Apapun yang diputuskan cucu-cucunya, dia tak bisa menghalangi. Mereka sudah dewasa. Dari pada kalau bersama akan semakin melukai mereka, berpisah mungkin lebih baik.


"Assalamu'alaikum Nek, Bun."


"Wa alaikum salam. ...."


Mereka mengantarkan Irwan sampai menghilang dari pandangan.


💎


Beberapa hari di rumah ini, membuat kesehatan Herman berangsur-angsur membaik.


"Ayah, ayah sudah sembuh?" tanya Tia dengan manja begitu memasuki kamar Zulfa. Dia mengambil tempat duduk di samping Herman.


"Sudah, berkat bunda Zulfa." jawab Herman sambil menyentuh hidung Mutia.


"Tante Zulfa?"


"Dia bunda Zulfa, Sayang."


"Berarti, bunda Tia ada dua dong, Yah." ucapnya dengan senyum yang ceria.


Herman mengangguk.


"Asyik ... Tia punya bunda dua. Bunda Zulfa juga baik kok sama Tia."


"Iya, bunda Zulfa." Herman menegaskanny.Lalu membelai kepala mereka berdua lembut.


"Ayah, mengapa sekarang tak pernah ke kamar kami. Apa kamar kami terlalu sempit?"


Herman menatap Zulfa dengan senyum. Untuk memastikan , apakah ada cemburu di wajah Zulfa.


Sebagai orang dewasa, dia mengerti benar maksud dari kata-kata Mutia. Terlepas, dia mendapatkan kata-kata seperti itu dari mana.


Zulfa sepertinya tak peduli atau pura-pura tak tahu.


"Nanti kalau ayah sudah sembuh benar. Ayah akan ke sana. Sekarang kalian main geeh ...ayah nyusul kalian."


Dengan patuh keduanya keluar dari kamar Zulfa. Bermain seperti biasanya.

__ADS_1


Mungkin saat ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan kalau dirinya akan pergi dari rumah ini gumam Zulfa.


__ADS_2