
Esok harinya, sepulang dari pabrik Shaffa diantar Irwan kembali ke rumahnya. Tiba di sana, Mereka mendapati Ishak dalam keadaan berbaring di kamar.
"Alhamdulillah Kamu sudah kembali, Shaffa." Ishak bangkit dari tidurnya, menyambut keduanya dengan penuh senyuman. Ingin memeluknya tapi Irwan mencegahnya.
"Istirahat saja Bapak!" Keduanya pun menghampiri Ishak, bersalaman dan mencium tangannya. Lalu Irwan mengambil kursi duduk di samping ranjang. Sedangkan Shaffa duduk di tepi ranjang.
"Bapak ini kenapa?" Tanya Shaffa. Tampak jelas bahwa tangan dan pipi Ishak terlihat agak lebam-lebam. Seperti habis dipukul seseorang.
"Apakah dia datang lagi, Pak." Irwan pun tanpa miris melihatnya, meski tak terlihat sedikitpun kalau Ishak mengeluh.
"Bapak tak tahu hanya tadi malam ada dua orang yang menyatroni rumah bapak. Salah satunya sepertinya dia." Mau tak mau Ishak harus mengatakan semuanya itu pada Irwan Yang sudah beberapakali menolongnya.
Mendengar penuturan dari Ishak, Irwan merasa geram. Tak sangka Heru akan berbuat yang sedemikian rupa. Ini sudah sangat keterlaluan. Sampai-sampai berani menganiaya orang tua.
Apalagi Shaffa, siapa yang rela orang tua nya dianiaya. Hati rasanya sangat sedih menyaksikan bekas-bekas penganiayaan pada tubuh ayahnya.
"Siapa yang mas Irwan maksud?" Wajah Shaffa terlihat bingung sampai-sampai wajahnya menegang.
"Heru," Jawabnya singkat.
"Mas Heru?" Shaffa tidak mengira kalau calon suaminya akan berbuat kasar terhadap ayahnya.
"Benarkah?" Shaffa menatap Ishaq, seakan-akan tidak mempercayai apa yang didengarnya.
Ishak diam, tidak dapat menjawab pertanyaan Shaffa. Karena dia pun sedih, semua yang diyakininya selama ini tentang Heru, ternyata salah.
"Maafkan Bapak, Shaffa. Karena ambisi Bapak, tidak melihat kebenaran dari kamu."
Ishak hanya menundukkan kepala. Terlihat kesedihan di wajahnya. Berlahan Ia pun membelai rambut Shaffa dengan lembut. Yang membuat Shaffa pun tertunduk sedih.
"Shaffa sudah maafkan kok, Bapak."
Lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Irwan yang duduk di kursi di samping ranjangnya.
"Kini Bapak sadar, bagaimana sebenarnya Heru. Bapak tidak lagi memaksamu untuk menikah dengannya. Jika kamu tidak menginginkan, Bapak pun setuju untuk membatalkan pernikahanmu dengannya."
Ada kebahagiaan yang terpancar di wajah Shaffa. Akhirnya Ishak memahaminya keinginan. Meski itu terlambat. Tapi tak mengapa, daripada dia harus menikah. Padahal ia yakin bahwa pernikahan itu tidak akan membuatnya bahagia.
"Terima kasih, Bapak." Spontan Shaffa memeluknya dengan erat. Ada tetes air mata kebahagiaan di matanya.
__ADS_1
"Bapak yang salah, Nak," kata Ishak. Untuk sesaat ia membiarkan Shaffa menangis di pelukannya. Perlahan-lahan dia pun melepas pelukan Shaffa.
"Sudah. Hapus air matamu, Shaffa." Ishak menunggu beberapa saat sampai tangis Shaffa reda.
Ada sesuatu yang ingin Ia sampaikan menyampaikan pada Shaffa. Tentang lamaran Irwan kemarin. Semoga ini dapat menjadi obat bagi putri satu-satunya.
"Nak Irwan, kita ke ruang tamu yuk!" Ishak pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan dengan dipapah oleh Shaffa dan Irwan. Rasanya lega saat bisa menghempaskan tubuhnya yang di kursi yang terbuat dari rotan. Demikian juga juga dengan Irwan.
Terlihat Ishak ingin mengatakan sesuatu.
"Mumpung nak Irwan ada di sini. Jadi bisa mendengarkan langsung jawaban dari Shaffa."
"Maksud Bapak?" Saat ini Shaffa hanya menduga-duga arah pembicaraan ayahnya dengan Irwan. Apakah ini berhubungan dengan apa yang dikatakan Mas Irwan tadi malam? Lebih baik aku dengarkan dulu apa yang dimaksud mereka.
"Ndduk, kemarin naik Irwan melamarmu. Bagaimana menurutmu?" Sambil mengusap rambut putrinya, "Bapak serahkan semuanya padanu. Bapak tak ingin kejadian itu terulang kembali. Cukuplah yang kemarin, jadi pelajaran."
Jadi memang benar Kak Irwan sudah menyatakan itu pada bapak ....
Saat dirinya diajak belanja oleh Bunda Zulfa dan juga Irwan, dia berharap sangat, seandainya yang menjadi suaminya adalah Irwan tentu dia akan menerimanya.
Sekarang semua itu bukan hanya sekedar mimpi. Irwan sudah menyatakan langsung kepada ada ayahnya bahkan kepada dirinya. Ia memandang Irwan dan Ishak secara bergantian. Seakan belum mempercayai dengan apa yang terjadi di hadapannya..
Ia mengumpulkan keberanian untuk menatap Irwan secara langsung. Tapi ternyata itu sulit dilakukannya saat ini. Dengan tertunduk malu ia pun berkata, "Kalau memang Bapak merestui, Syafa manut mawon, Bapak."
Irwan tak dapat menutupi kebahagiaannya. Terlihat senyumnya mengembang sempurna.
"Terima kasih Shaffa. Hatiku jadi lega."
Demikian juga dengan Ishak. Berulang kali dia mengucapkan syukur. Kini tak ada lagi beban yang perlu dipikirkan.
Sementara itu Shaffa meninggalkan mereka menuju ke dapur. Untuk menyiapkan minuman dan juga makanan kecil. Tak lama kemudian sudah kembali dengan membawa teh hangat dan juga pisang Ulin yang siap untuk disantap.
"Maafkanlah Nak Irwan. Hanya ini yang bisa Bapak suguhkan."
Pisang itu memang kecil-kecil. Warnanya yang kuning bersih, menandakan kalau buah masak di pohon. Benar-benar mengundang selera.
Sambil tersenyum kecil Irwan mengambil buah pisang itu.
"Ini benar-benar lezat," serunya. Kembali ia mengambil pisang itu sebuah. Makan sambil menikmati .Tanpa sadar Irwan pun berucap, "Mungkin karena yang menghidangkan hatinya sedang berbunga-bunga dan juga hatiku sedang bahagia maka pisang ini semakin terasa lezat," ucapnya.
__ADS_1
"Ternyata Nak Irwan pandai juga merayu."
Hehehe ....
Oh iya ya, baru Irwan sadar kalau dirinya masih berada di hadapan Ayah Shaffa. Membuat Irwan maupun Shaffa tersipu.
"Kini terserah padamu, Nak Irwan. Bapak hanya titip putri Bapak satu-satunya."
"Mohon bimbingannya, Pak."
Ishak pun mengangguk. Dan melepas senyum dari bibirnya.
"Jika Nak Irwan tidak keberatan, hari pernikahan kalian ya besok itu. Bagaimana?"
"Maksudnya, besok hari Jum'at?"
"Ya."
"Tak mengapa, Bapak. Saya rasa itu hari yang baik."
"Ya sudah kalau gitu. Berarti tidak mubazir apa-apa yang sudah Bapak pesan," ujarnya. Yang langsung disambut senyum Irwan. Bisa saja ....
Tapi ada satu yang mengganjal, soal Heru. Irwan masih khawatir, kalau-kalau akan merusak kebahagiaan di hari pernikahan nya.
"Bapak tak usah repot-repot. Yang penting Bapak dan Shaffa selamat dan acara lancar. Irwan sudah bersyukur."
Ishak pun senang.
"Tapi, kalau boleh. Bapak dan Shaffa tinggal di rumah Irwan dulu bagaimana? Irwan benar-benar khawatir kalau Heru datang lagi."
Kembali Ishak tertunduk sedih. Memang itu juga yang menjadi pikirannya. Tapi bagaimana. ....
Kalau dia dan Shaffa ikut Irwan. Lalu yang di rumah?
Dan rasanya sungkan juga kalau ikut Irwan.
"Tak usah, Nak. Nanti merepotkan."
"Tak apa, Bapak. Ini semua untuk kita bersama."
__ADS_1
Setelah berfikir sejenak, Ishak pun mengangguk. "Baiklah kalau gitu, Semoga setelah ini Heru tak mengganggu lagi. Bapak bisa balik lagi ke sini. Meninggalkan tempat ini rasanya berat meski hanya sesaat."