KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Lamaran


__ADS_3

"Aku harap kamu tak ragu lagi denganku dan keputusanmu." ucap Hasan saat menghentikan mobilnya di depan rumah Irwan.


"Insyaallah, Mas." jawab Zulfa. Agar dirinya juga kuat sebelum melangkah lebih jauh lagi.


"Bunda, sudah sampai rumah kah?"


Terlihat keduanya menggeliat, mencoba menata raganya agar siap dan bangun.


'Ya. Ayo bangun, kita turun. Om Hasan mau balik lagi ke kantor polisi."


"Tadi itu enak kali, Om. Kapan-kapan lagi ya ..." tanpa malu Tia mengatakan keinginannya. Mungkin sudah kenal sejak lama, sehingga sangat manja dan terbuka pada Hasan. Yang kadang ini membuat Zulfa malu. Tapi Hasan tak mempersalahkan hal itu.


"Beres, baik-baik sama bunda ya ... nanti om ajak lagi."


"Itu pasti, Om."


Setelah mengusap kedua matanya yang masih agak memerah, Tia merapikan seragamnya dan juga mengambil tasnya. Aldo membuka pintu mobil dan keluar, diikuti Tia. Bersamaan dengan Zulfa keluar pula.


"Siap besok ya?" sekali lagi Hasan ingin meyakinkan dirinya akan kepastian dari Zulfa.


"Insyaallah, Mas. Kutunggu juga kedatangan keluarga Mas."


"Oke, aku pergi dulu. Assalamualaikum ..."


"Wa alaikum salam ...." jawab Zulfa.


Sementara anak-anak sudah berlari memasuki rumah. Zulfa masih berdiri di halaman, hingga mobil Hasan menghilang. Baru setelah benar-benar tak nampak, Zulfa pun mengikuti anak-anak ke dalam rumah sambil menundukkan kepalanya.


Banyak yang dipikirkannya sekarang. Apakah Lika perlu diberitahu, atau nanti saja. Dan bagaimana reaksi anak-anak, dia tak bisa mastikan, apakah semua akan bisa menerima atau sebaliknya. Zulfa hanya bisa berharap semua baik-baik saja.


💎


Baru saat makan malam, Zulfa bisa membicarakan hal itu dengan Irwan, putranya.


"Wan, menurutmu bagaimana kalau pak Hasan tiba-tiba melamar Bunda."


Irwan hanya senyum-senyum dan tertawa kecil, menggoda bundanya.


"Wan, kamu ini ditanya bunda, kok malah senyum-senyum. Ini bunda tanya serius."


"Irwan nggak mau jawab, habisnya ... hanya 'kalau'. takut bunda tersakiti lagi."


"Pak Hasan sungguh-sungguh sama bunda. Besok keluarga pak Hasan akan datang."


Irwan diam. Berat rasanya menyerahkan bundanya pada siapapun, takut terulang lagi. Tapi dia tak boleh egois, kalau memang bundanya menginginkan.


"Kalau bunda sudah yakin, Irwan setuju-setuju saja. Dan selalu mendoakan semoga bunda mendapatkan kebahagiaan bersama beliau."


"Adikmu perlukah bunda kasih tahu."

__ADS_1


"Nanti biar Irwan yang ngomong. Kalau bunda yang ngomong takutnya Lika tak siap."


"Makasih, Wan. Kamu selalu kasih bunda support. Bunda benar-benar bahagia."


"Sama-sama, Bunda."


Zulfa membereskan piring-piring kotor yang baru saja mereka gunakan. membawanya ke dapur. Lalu mencucinya, dibantu oleh bibi.


💎


Tak terkira bahagianya Zulfa, saat mengetahui Lika datang di sore itu. Karena sejak dia meneleponnya, Lika belum memastikan apakah dia setuju atau tidak.


"Assalamualaikum, Bunda."


"Wa alaikum salam, Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga. Bunda khawatir kalau kamu tak setuju."


"Maafkan aku, Bunda. Kemarin aku ikut seminar sekalian panitia pula. Nggak kepikiran masalah ini. Jangan khawatir, apapun yang bunda putuskan, Lika pasti setuju. Kalau bunda bahagia, Lika ikut bahagia."


"Jam berapa, Om Hasan akan datang?"


"Bakda isya."


"Semua sudah beres kan ... tidak diperlukan bantuan Lika tho." kata Lika saat melihat segala hidangan yang sudah siap tertata rapi di meja makan.


"Alhamdulillah tak banyak yang datang, tak lebih dari 10 orang. Itu yang dikatakan mas Hasan pada bunda.


"Cie ... cie ... yang panggi 'mas'." goda Lika pada bundanya, yang bikin Zulfa geleng-geleng kepala. Punya anak 2 sudah besar-besar, sukanya malah menggoda bunda, macam temannya saja. Salah sendiri dia menerapkan pendidikan teramat demokratis pada putra-putrinya. Gini nich hasilnya ....


Lika berlalu meninggalkan Zulfa yang masih menyempurnakan hidangan.


"Kak Lika, mana oleh-olehnya?"


Nach itu krucil-krucil kok tahu aja kalau aku datang.


"Beres, ngajinya sudah sampai mana dulu. Baru kakak kasih hadiah."


"Juz 24" jawab Aldo


"Juz 6"jawab Tia


"Bagus, Tunggu Kaka habis mandi ya ..."


"Ya, kakak ...."


Hehehe ...


Dengan senyum mengembang, Lika meninggalkan mereka berdua yang berwajah kecewa.


Ada kok hadiah yang dia sediakan untuk kedua adiknya ini. Hanya sekarang masih capek dan lengket. Mandi dulu, urusan hadiah nanti saja.

__ADS_1


💎


Tepat setelah mereka melaksanakan sholat isya, rombongan keluarga Hasan datang. Mereka adalah keluarga Ridho, keluarga Ridwan, Hasan dan Jamilah.


Mereka menyambutnya dengan hangat. Karena kedua keluarga sudah saling kenal, mereka berbincang-bincang akrab. Bersama Lika dan Irwan.


Tia yang melihat mama Redha datang dan bermanja-manja padanya. Aldo menemani kak Irwan-nya berbincang-bincang dengan sesama pria. Ternyata di sana ada Rahmat. Dia pun mengambil mainannya, mengambil tempat di pojokan, bermain bersama, tanpa peduli dengan acara orang dewasa.


Sepertinya satu orang yang tak bisa menikmati acara malam ini. Ketika semua sudah masuk ke dalam, dia masih juga di luar, berdiri menatap jalanan dengan wajah cemberut.


"Setyawati, kamu tak setuju papa dengan bunda Zulfa, Nak."


"Setuju, cuma sekarang aku benci papa."


"Kenapa?"


"Pokoknya aku benci papa."


Sejak dia menjemput Jamilah di pondoknya sore ini. Belum sekalipun dia mendapatkan pelukan dari putri satu-satunya itu. Hasan benar-benar dibuatnya bingung. Apalagi wajah Jamilah selalu cemberut.


Kalau ditanya, jawabnya hanya 'aku benci papa'. Entah apa yang membuatnya marah. Sekilas dia Hasan memergokinya tersenyum, tapi saat berhadapan dengannya kembali lagi cemberut. Entah apa yang diinginkannya. Sehingga dia seperti ini.


Zulfa yang melihat tidak semua tamunya masuk, dia menyusul ke luar. Zulfa mendapati Hasan dan Jamilah sedang ada masalah.


Sesaat dia tersenyum, melihat Jamilah merajuk. Sampai-sampai papa Hasan dibuatnya bingung.


"Jamilah."


"Bunda," teriak Jamilah senang, berlari memeluk Zulfa, tanpa menoleh sedikitpun pada papanya. Papa Hasan dianggapnya angin lalu, tak ada. Bikin Hasan ngelus dada.


"Yuk Bunda, kita masuk." ajaknya sambil menarik tangan bunda Zulfa ke dalam. Tanpa memberi kesempatan pada Zulfa untuk menyapa Hasan.


"Biarkan dia di luar, Bunda. Aku lagi benci sama dia." celotehnya.


Zulfa hanya bisa melirik pada Hasan untuk masuk. Sedangkan dirinya tak bisa lagi lepas dari tangan Jamilah. Mau tak mau ikut masuk juga.


Hasan mengikuti mereka masuk meski dengan wajah kusut dan pusing memikirkan tingkah Jamilah yang nggak ada sopannya.


Untunglah Zulfa sudah mengenalnya, macam apa si Jamilah itu. Jadi Hasan agak tenang.


Selama prosesi lamaran, Jamilah selalu duduk di dekat bunda Zulfa, kadang dia tersenyum ceria bersama Tia atau yang lainnya. Tapi begitu lihat papa Hasan, buang muka.


Hasan yang di wakili oleh Ridwan mengutarakan niat Hasan untuk mempersunting Zulfa menjadi istrinya. Yang diterima Zulfa dengan pernyataan terbuka.


Giliran penyematan cincin. Orang yang ditunjuk menyematkan adalah Jamilah. Dengan wajah cemberut, dirinya menghampiri papa Hasan dan mengambil cincin itu. Lalu kembali ke hadapan bunda Zulfa. Dan menyematkannya dengan senyum terbaiknya.


Tapi saat papa Hasan mau berfoto bersama. Jamilah mengibaskan tangannya, membuat langkah papa Hasan terhenti seketika.


Jadilah papa berdiri mojok sendirian, menyaksikan semuanya berfoto bersama.

__ADS_1


__ADS_2