KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Aku Benci Kamu


__ADS_3

Setelah merebahkan tubuh sejenak, Zulfa terbangun oleh suara seperti gelas jatuh dari kamar miliknya. Tanpa prasangka apapun, dia menuju ke sana. Memastikan apa yang terjadi. Tak sangka lelaki yang menorehkan luka kini berada di kamarnya


"Mas ..."


Dia menatap Herman yang ingin mengambil tutup gelas yang jatuh di bawah meja kecil, yang ada di samping ranjang. . Ingin membantu, tapi rasa marah dan kecewa masih menguasai jiwanya. Akhirnya Herman turun, mengambil penutup gelas itu sendiri.


"Zulfa, maafkan aku. Menggunakan kamarmu untuk beristirahat."


Zulfa diam membisu, tak ada keinginan dirinya untuk berkata-kata pada orang yang sekarang ada di depannya. Namun ketika melihat tubuh lemah, dari orang yang kini masih berstatus sebagai suaminya, hatinya luluh juga. Diapun menghampiri Herman, membantu mengambil penutup gelas itu serta membantunya berdiri.


"Istirahatlah ...."


"Terima kasih, Zulfa."


"Mas, sudah minum obat?"


"Ini, mau minum obat."


"Sudah makan?"


"Belum ...."


"Aku ambilkan."


Tanpa menunggu jawaban, Zulfa pergi dari hadapan Herman, menuju meja makan. Mengambilkan nasi dan juga sayur bening dan rangkaiannya. Membawanya ke hadapan suaminya. Dan menyuapinya berlahan-lahan.


"Zulfa, mas minta maaf ya ...."


Zulfa tetap diam membisu. Tapi tangannya tidak berhenti untuk menyuapi Herman. Namun sesekali terlihat kalau dia mengambil nafas panjang. Tanda bahwa dirinya menyimpan beban. Sampai nasi yang ada dalam piring itu habis, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.


"Nambah, Mas?"


"Tidak, terima kasih."


Dia mengambil obat, diam sejenak untuk membaca petunjuk aturan minumnya. Masih dengan sikap diamnya, dirinya membuka tablet-tablen yang harus Herman minum.


"Ini Mas. Baca bismillah dulu."


Satu persatu, Herman mengambil tablet itu dari telapak tangan Zulfa.


"Bismillahi rohmani rohim ...."


Herman meneguknya berlahan-lahan, sampai semua tablet yang ada di tangan habis. Selesai meminum obatnya, Herman merebahkan diri kembali dengan Zulfa masih di sisinya.


"Zulfa, kamu nggak keberatan kalau mas tidur sini."


Tak ada sepatahpun kata yang keluar. Membuat Herman semakin merasa bersalah.

__ADS_1


"Tolong, kalau marah ... marahlah. Jika itu membuat hatimu lega. Engkau diamkan Mas seperti ini, semakin mas putus asa. Dan mas nggak kan pernah mengerti kamu."


Tapi memang pada dasarnya Zulfa termasuk wanita yang kuat menahan penderitaan dalam diamnya. Bukan orang yang biasa mengungkapkan emosinya, baik senang dan sedihnya secara nyata. Dia tetap diam, tapi tampak kesedihan di wajahnya.


Sebenarnya Zulfa ingin sekali marah. Tapi tiap kali keinginan untuk marah itu hadir, selalu terbayang wajah Lika dan Irwan dan juga Halimah.


"Katakanlah ... Jangan hanya diam." dengan menatap mata Zulfa lembut.


Mungkin benar kata orang. Jangan sepelekan orang yang diam. Kamu akan menyesal bila menyakitinya.


Bertahun-tahun Zulfa diam dalam penderitaannya, hingga beban itu sudah tak bisa lagi dirinya menahan. Dia akan menumpahkan semuanya ... semuanya ... tanpa sisa.


"Aku benci kamu, mas. Kenapa mas nggak mati saja. Biar kita tak melihatmu.Kamu tahu mas bagaimana Lika dan Irwan selalu nanyain kamu, aku harus jawab apa. Apa aku harus jawab


Ayahmu sudah nggak ingat kita lagi, Nak. Tegakah kata-kata itu aku ucapkan pada mereka. Aku selalu jaga imagemu pada mereka. Agar mereka tak kegilangan sosok ayah, meskipun tak bersama. Tapi hari ini, kamu sudah menghancurkannya. Sehancur-hancurnya .... Kehadiranmu dengan wanita lain di hadapan mereka, benar-benar telah mengubur sosok ayah yang baik bagi mereka."


"Tujuh tahun setelah kepergianmu, aku masih berharap kamu mengingat kami. Tapi apa yang kuterima. Melalui telepon seorang wanita memperkenalkan dirinya sebagai istri mas. Kamu dengan sengaja sudah menyakitiku, mas."


"Aku selalu ceritakan pada Irwan, " Nak, ayahmu itu seorang pembisnis yang hebat, pekerja keras, bla bla bla. Terbukti sekarang dia berhasil. Karena dia rindu sosok ayah yang sebenarnya. Bukan ayah pengecut. Hanya lari lalu lari lagi. Meninggalkan keluarganya. "


"Untuk itu Mas, ijinkan aku pergi darimu bersama anak-anak, setelah dirimu sembuh. Agar tugasku sebagai istri selesai dengan baik."


Tak terkira tetes demi tertes air mata Zulfa mengalir dengan deras, membasahi wajahnya. Dan tak mampu lagi Zulfa menahan kepalanya. Diapun menyandarkannya di bahu Herman yang terlihat tenang dari biasanya.


"Tidurlah. Maafkan Mas."


"Aku sudah memaafkan mas, tapi ijinkan aku pergi."


"Aku tak tahu."


Andai maaf bisa menghapus luka, tak kan kurasa lara yang tersisa.


Aku memaafkanmu, tapi rasa sakit ini sangat menyiksaku jika harus bersama.


Mungkin dengan aku pergi, aku bisa lepas dari rasa, bahwa aku pernah mencintai.


Dan cerita kita hanya cerita lalu, yang nggak mungkin bisa kita kenang.


Zulfa merebahkan tubuhnya di sisi Herman. Menumpahkan beban berat yang selama ini tersimpan rapat. Tangannya lembut membelai rambut wanita yang selalu sabar menghadapi dirinya.


Zulfa ....


Mengapa kamu bisa bersikap baik pada orang yang menyakitimu. Dan kamu seolah tak pernah lelah memaafkan diriku yang tak pernah peduli padamu.


Herman masih duduk termangu dengan kata-kata Zulfa. Dia kenal betul istrinya penyabar, penyayang dan mudah memaaafkan. Tapi dia telah menyia-nyiakan. Menelantarkannya bertahun-tahun. Tapi dia masih bertahan demi anak-anaknya. Kini dia telah kembali, ingin menatapnya kembali. Tetapi waktu yang diberikan Zulfa begitu singkat untuk bisa menebus kesalahannya.


Meski dalam pengaruh obat, mata Herman tak bisa terpejam. Dia bangkit dari duduknya. Namun tak sengaja, membangunkan Zulfa.

__ADS_1


"Mas nggak tidur. Istirahatlah. Aku sedih kalau mas sakit.'


" Itu yang aku suka darimu. Selalu memperhatikan orang lain."


"Mas, perlu apa."


"Aku minta tolong, ambilkan kotak kecil di koper itu."


"Oh ya ... Aku lupa. Belum menatanya di lemari."


"Itu bisa nanti. Tolong ambilkan kotak kecilnya saja."


Setelah mengusap mukanya, dan merapikan rambutnya yang berantakan, Zulfa turun dari termpat tidur, mengambil apa yang Herman minta. Yaitu sebuah kotak mungil dari kayu cendana yang harum baunya..


"Apa ini, Mas?"


"Benar."


Zulfa kembali ke tempat Herman, menyerahkan benda itu padanya.


"Berbaliklah."


"Ada apa, Mas." Zulfa menatap Herman dengan penuh tanya.


"Percaya dech sama mas."


Dia segera berbalik. Sepertinya Herman memasangkan sesuatu di lehernya.


"Apa ini, Mas."


Zulfa mendapati sebuah kalung cantik, yang berhiaskan permata yang sangat indah melingkar di lehernya.


"Zulfa, ini untukmu. Yang mas simpan sebelum Maria hadir dalam kehidupan Mas."


Zulfa berbalik menatap Herman.


"Terima kasih, Mas."


Zulfa diam menatap Herman dengan tertunduk.


"Ada apa?"


"Jangan sebut nama itu saat kita bersama."


"Maafkan, Mas." Herman memeluk Zulfa dengan erat. Lalu memberikan ciuman ke pucuk kepalanya. Zulfa mencoba menghindar, tapi tak ada gunanya. Karena Herman tak mau melepaskannya.


Dia baru mau melepaskan, saat ada seseorang yang mengetuk pintunya.

__ADS_1


"Mas Herman, Tia mencarimu."


Zulfa segera turun dari ranjang menuju pintu. D i depan pintu tengah berdiri Maria dan juga putrinya ....


__ADS_2