
Matahari tetap sama, masih bersinar ketika diriku pulang dari pasar. Memberi kehangatan dayaku untuk mengukir asa.
Mungkin sudah saatnya aku menerima tawaran adikku Ratna dan Steve yang ada di Australia membuka cabang di sana. Atau mungkin memulai hidup baru di sana.
Sampai di angkringan, Joko sudah selesai bersih-bersih, siap untuk membantunya di dapur. Menyiapkan yang di ambil pagi ini.
"Joko, mungkin sebentar lagi aku mau ke Australia. Kamu bisa kan urus angkringan ini."
"Bisa sih bisa, Gan. Tapi agak kewalahan juga. Kita berdua saja sudah sering kewalahan. Apalagi kalau Agan tinggal."
"Kamu cari temanlah. Kalau bisa Minggu ini. Dan bisa 2 sekalian. Kamu koki, 1 keuangan, 1 asisten kamu sekaligus pramusaji."
"Memangnya Agan lama di Australia?"
"Aku tidak tahu. Mungkin lama. Aku percayakan usaha ini ke kamu saja."
"Gan, aku masih perlu banyak belajar."
"Kamu sudah punya bakat dari Sononya. Dan kurasa kamu bisa kembangkan menunya."
"Agan bisa saja."
Mereka kini berkutat dengan masakan. Kebetulan hari ini sudah banyak pesanan, bekerja sama go food untuk pemesanan maupun pengantaran. Membuat usaha ini semakin berkembang.
"Gan, ada pesanan dari Irwan."
"Tumben nggak datang ke sini."
"Siang baru bisa datang. Pagi ini minta di antar ke kantornya."
"Ya. Sudah segera saja siapkan. mungkin ada meeting pagi ini. Cuma tak biasanya, pagi-pagi sudah pesan."
Apa gara-gara acara semalam, hingga Zulfa tak sempat membuat sarapan ...
Kok su'udhon sich ...
💎
Sementara itu di rumah Zulfa.
Jamilah baru saja bangun. Meraba di sampingnya tak ada lagi orang. Kemana bunda Zulfa. Dia turun dari tempat tidur menuju musholla kecil yang ada di ruangan tengah. Dilihatnya bunda selesai melaksanakan sholat malam. Dia pun mendekatinya.
"Bunda." dengan manja Jamilah meletakkan kepalanya di pangkuan Zulfa.
"Ada apa, kok manja banget sama bunda. Ada yang perlu diomongkan." ucapnya menyahuti. Sambil membelai lembut kepala putrinya Hasan.
"Papa itu malu-maluin. Masak Jamilah lagi latihan, Papa ikut campur. Jelas saja guru tekwondo Jamilah terkapar. Mana gitu, pakai marah-marah, dan akhirnya Jamilah dikeluarkan sama guru tekwondo dari kejuaraan. Padahal Jamilah pingin kali ikut."
"Waktu ikut sudah ijin belum?"
"Halla ... kalau ijin, pasti nggak diijinin. Padahal Jamilah kan pingin banget."
"Benarkah?"
Jamilah diam. Sebenarnya, kadang di ijinkan meski sering tidak.
"Mungkin papa punya alasan sendiri tak mengijinkan kamu. Seperti kamu nggak bisa mengikuti kegiatan pondok atau lainnya."
__ADS_1
"Kurasa bukan itu, Bunda. Lho setoran beres."
"Kok bisa nyimpulkan seperti itu."
"Nanti juga bunda tahu sendiri."
Bisa saja buat pr bundamu ini ....
"Sebenarnya Jamilah nggak bikin masalah di pondok. Hanya saja sering nggak ada. Tapi kegiatan pondok 70% ikut. Cuma sama kakak pendamping Jamilah, suka lapor yang nggak-nggak tentang Jamilah pada Bu Nyai. Padahal Jamilah sudah ijin ke dia. Kalau gini aku mau pindah sekolah aja."
Ini anak, suka kali merajuk. Padahal sudah kelas 7-8 (akselarasi). Senyum bunda Zulfa mengembang
"Mungkin juga bukan karena itu ... atau mungkin papa takut kamu kenapa-napa."
"Itulah yang bikin Jamilah bete. Bingung, kesel sama papa."
"Sudah. Nanti bunda coba ngomong sama papa. Tapi Jamilah bisa janji nggak, untuk baik sama papa."
"Bener Bunda. Oke ... Jamilah janji dech."
"Jamilah nggak pingin sholat malam."
"Ya, Bunda." Diapun beranjak dari pangkuan bunda Zulfa. berjalan cepat ke kamar mandi yang dekat. Segera melaksanakan sholat malam, hingga sholat subuh menjelang.
Setelah adzan subuh terdengar, Semuanya datang dan sholat jamaah dalam musholla kecil itu
Seperti biasa, setelah turun dari sholat subuh, Zulfa berkutat di dapur di bantu bibi untuk menyiapkan sarapan untuk semua dan bekal makan siang Irwan.
Sedangkan yang lainnya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Bunda, bikin apa?" tanya Jamilah yang muncul tiba-tiba.
Sarapan seperti ini. Enak sich enak, tapi kok ....
"Bunda, boleh Jamilah yang bikin sarapan?"
"Boleh."
"Tapi jangan diprotes ya, Bun."
"Ya ... ya ...."
"Bi, ambil berasnya. Masak ajak di magic com."
"Ya, Bu."
"Jangan masak nasi, Bunda."
"Lalu makan apa?" tanya Zulfa.
"Serahkan sama Jamilah, Bunda. Beres beres ...." jawabnya mantap.
"Oke. Bunda tinggal. Bunda ada perlu sebentar."
"Oke." dengan telunjuk dan jempol terhubung di matanya.
"Bunda ada sayuran?"
__ADS_1
"Ada di kulkas. Baru saja beli." jawabnya sambil berlalu meninggalkan Jamilah yang mulai beraksi untuk menghidangkan sarapan yang terbaik bagi saudara-saudaranya.
Jamilah segera mengambil sayuran hijau dari dalam kulkas. Wortel, mentimun, kemangi, beluntas, kacang panjang, petai cina, dan banyak lagi, yang kesemuanya termasuk dalan daun yang berwarna hijau. Semuanya di cuci bersih. Meletakkannya di atas beberapa piring dan juga wadah untuk kakak Irwan-nya.
Tapi ada beberapa sayuran yang dimasak, seperti; wortel, buncis, sawi yang ditanak hingga agak masak. Begitu juga tempe, tidaklah digoreng, melainkan ditanak juga.
Tak lupa, Jamilah membuat jus sayur dan buah. Susu segar yang saja datang juga memasaknya hingga mendidih. Lalu dituangkan ke dalam gelas.
"Bi, tolong bikinkan telur mata sapi 2 buah."
"Iya Mbak."
Tak lama, semuanya sudah siap. Jamilah menatanya di atas meja makan. Untuk bunda sayuran mentah dengan tempe tanpa digoreng dan juga jus sayurnya. Demikian juga kak Lika. Untuk Tia dan Aldo roti dengan isi telur mata sapi, selada dan sedikit mayones. Untuk kak Irwan-nya, sama dengan bunda dan Kaka Lika, hanya minumannya jus jeruk lemon.
Untuk bekalnya hampir sama. Hanya Tia dan Aldo yang agak berbeda. Mereka mendapatkan sayuran setengah matang dan telur Arab yang sudah dikupas. Hari ini tanpa nasi.
Setelah selesai dia meninggalkannya untuk bersih diri. Hari ini juga dia akan kembali ke pondok. Kan sekolah umumnya nggak libur. Apalagi dirinya mengambil kelas akselarasi. Tentu jadwalnya berbeda dengan kelas reguler.
Masalah tadi malam sudah kelar, semua sudah dikomunikasikan bunda Zuifa pada papa Hasan. Sehingga pagi ini juga, Jamilah akan kembali ke pondok nya dan kembali ke sekolah umumnya. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang sudah disepakati antara dia dan papa Hasan.
Setelah siap, Jamilah menemui bunda Zulfa.
"Bunda, semua sudah Jamilah siapkan di atas meja. Kapan sarapannya?"
Terlihat semua sudah rapi, keluar dari kamar masing-masing.
Irwan yang sudah lebih dulu tiba segera menuju meja makan. Agak kaget juga ... ah bukan lagi agak, tapi benar-benar kaget dengan apa yang terhidang di atas meja.
Sedangkan Jamilah, calon adik tirinya senyum-senyum, mata berbinar tanpa dosa, berdiri di samping meja.
"Kak Irwan, Jamilah buatkan menu khusus. Silahkan duduk di sana." Jamilah menunjuk kursi yang dihadapannya ada piring yang berisi rumput hijau (dalam pandangan Irwan). Meski demikian diturutinya juga. Irwan duduk pelan sekali, karena penglihatan, otak dan semua indranya tertuju pada piring yang penuh rerumputan hijau itu.
Dirinya jadi ragu mengartikan dirinya sendiri saat ini. Diriku manusia atau 'mbeeek' ya ....
Demikian juga dengan Zulfa dan Lika. Mereka sempat terbengong-bengong menatap menu sarapan mereka. Tapi apa boleh dikata, waktu sudah mepet. Dimakan saja ...
Yang selamat hanya Aldo dan Tia. Menunya wajar, meski tak pakai nasi.
"Ayo semua, kita sarapan." ajak Zulfa meski dirinya mati-matian menahan senyum.
"Ini menyehatkan kok." imbuhnya.
"Iya Kak. Aku lihat kak Irwan sudah agak gemuk dan wajahnya ada jerawatnya. Nanti nggak laku-laku. Makanya Jamilah buatkan menu seperti itu."
Penjelasannya nggak mengenakkan juga. Pusing-pusing ...
Irwan geleng-geleng kepala. Tapi diam dan tersenyum.
"Kak Lika dan juga Bunda, biar tambah cantik."
Tapi habis ini semua bunyi, " embeeek", gerutu Irwan sambil memasukkan satu persatu sayuran mentah yang ada di hadapannya ke dalam mulutnya.
"Oh ya Kak. Jamilah juga sudah siapkan bekal makan siangnya. Itu ...."
Irwan melirik kotak makan yang biasa dia pakai. Terlihat warna hijau juga.
Subhanallah....
__ADS_1
Benarkah diriku 'embeek' wahai adik baruku tersayang ....