KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Ingin Bertemu


__ADS_3

Rasa sakit yang di kepalanya kini kembali lagi. Membuatnya pening dan ...


"Mbak Halimah ... mbak Halimahl" Bu Harun mencoba menyadarkan Halimah yang tiba-tiba kepalanya jatuh dalam pangkuannya.


"Mustofa, ini gimana .... mbak Halimah pingsan lagi."


"Kita bawa ke dokter saja."


"Baiklah, mas Harun bisa pinjam mobil."


"Ya, sebentar aku ambil."


Harun melangkah cepat meninggalkan mereka. Kemudian tak berapa lama dia sudah kembali dengan membawa mobilnya.


Bersamaan dengan itu Herman juga datang, karena dihubungi salah seorang tetangganya.


"Bagaimana mama."


"Belum sadarkan diri."


"Ayo Man, Kamu yang nyupir. Biar cepat."


Herman segera mengangkat tubuh Halimah. Meminta Bu Harun untuk memangkunya dalam mobil. Sedangkan dia duduk di belakang kemudi.


Begitu telah meletakkan tubuh Halimah di pangkuan Bu Harun, di tempat duduk tengah. Dia segera menuju kemudi. Melajukan mobil itu meninggalkan rumahnyaĜŒ menuju rumah sakit yang dulu yang pernah menangani Halimah.


Herman amat khawatir keadaan Halimah. Apalagi terakhir riwayat kesehatannya amat buruk. Ini mengenai kepala Halimah. Namun tak banyak orang yang tahu.


Semoga ....


Itu harapan yang senantiasa aku harapkan padaMu, wahai Tuhanku.


Tuhan, Ampuni diriku


Belum sempurna diri ini berbakti


Haruskah saat ini. Orang yang kuberharap ridhonya, akan engkau panggil.


Getar yang tersembunyi di dadanya, tak mengurangi konsentrasi dalam mengemudi mobil yang dia bawa, di jalanan yang sudah sangat sibuk. Hingga tak perlu waktu lama untuk sampai di tempat yang di tuju.


Begitu tiba di depan ruang UGD, Herman segera mengangkat tubuh Halimah dari pangkuan istrinya Harun.


Beberapa perawat yang melihatnya segera mengambil tempat tidur beroda untuk menolongnya.


"Pak, aku tinggal dulu."


"Ya ...."


Harun segera membawa mobilnya ke tempat parkiran, sebelum menyusul Herman yang menemani Halimah dalam ruang pemeriksaan.


"Sebaiknya bapak keluar, agar kami bisa menangani dengan cepat."


Herman menatap Halimah sejenak, sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


"Bagaimana?" tanya Harun begitu melihat Herman yang sedang duduk gelisah di depan ruang pemeriksaan.


"Masih diperiksa."


"Semoga tak apa-apa."


"Aamiiin." jawab Herman dengan sendu. Rasanya tak sanggup dia membayang sesuatu terburuk terjadi pada mamanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, untuk menutupi bulir-bulir air matanya yang hadir bersamaan dengan kesedihan yang kini dia rasakan.


Setelah menunggu beberapa saat, tak jua ada kabar. Harun pun berpamitan.


"Herman, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa, kabari kami."

__ADS_1


"Makasih, Pak Lik."


"Assalamualaikum ...."


"Wa Alaikum salam ...."


Kini Herman sendirian menunggu di ruang pemeriksaan. Beberapa saat yang lalu dia sempat menghubungi Rahmi, namun karena dia di luar kota, tidak bisa langsung datang.


Baru ba'da dhuhur, Rahmi datang bersama dengan Adam, putranya.


"Bagaimana, Kak. Keadaan mama?"


"Masih dalam pemeriksaan intensif."


"Sebenarnya kakak juga nggak tahu. Kata pak Lik, mama pingsan saat barang-barang dikeluarkan sama 2 yang tak dikenal."


"Bukankah Maria ada di penjara. Siapa yang melakukan ini pada mama."


"Sudah jangan dipikirkan. Kurasa bukan Maria atau papanya. Ada orang lain dibalik ini semua. Tapi saat ini, kita pikirkan soal mama."


"Ya, Kak."


Lebih dari separuh hari Halimah di ruang pemeriksaan intensif. Baru menjelang asyar, Halimah dibawa oleh beberapa perawat keluar menuju ruang perawatan.


"Keluarga ibu Halimah?"


"Ya, saya." Herman segera.


"Silahkan ikut kami."


Herman mengikuti langkah perawat itu menuju sebuah ruang, tempat dokter yang menangani Halimah.


"Silahkan!" kata lelaki yang berpakaian putih sambil meneruskan pekerjaannya. Menuliskan sesuatu pada dokumen-dokumen yang ada di hadapannya.


Herman meletakkan tubuhnya di kursi yang ada di hadapan dokter tersebut. Tak berani dirinya mengganggu aktifitas dokter Fadly, begitu nama yang terpampang di atas saku baju kebesarannya.


"Benar." Mengapa dia mengenalku, ah ... mungkin karena aku pernah dirawat di sini. Jadi dia mengenalku.


"Lupa ya ...."


Setelah memandangnya sekali lagi, baru menyadari siapa laki-laki yang kini duduk di hadapannya.


"Fadly .... tak sangka kita bisa bertemu di sini. Maafkan aku dulu suka jahilin kamu."


"Ah lupakan. Aku juga sudah lupa."


"Bagaimana keadaan mama."


"Ini rekam medisnya. Sepertinya dia mendapatkan benturan lagi."


"Apakah ini mengkhawatirkan."


"Umur mempengaruhi daya tahan tubuhnya."


"Maksudnya?"


"Kita berusaha, Hanya Allah penentu segalanya."


"Separah itukah."


"Nanti kalau ada perkembangan, aku sampaikan lagi padamu. Mungkin sekarang ibumu telah menunggumu. Kalau bisa jangan ditinggal sendirian."


"Makasih, Fadly."


"Aku selalu berdoa yang terbaik bagi pasien-pasienku."

__ADS_1


"Aku pergi dulu."


"Ya."


Herman melangkah pergi meninggalkan Fadly yang meneruskan aktifitasnya. Menuju ruang Halimah dirawat.


Selama Herman menemui dokter yang memeriksa Halimah, Rahmi dan Adam mengikuti tempat tidur Halimah di bawa. Ke sebuah ruangan perawatan khusus di rumah sakit itu.


Tak lama kemudian, Irwan datang menemui mereka.


"Bagaimana keadaan nenek, Tante?"


"Tante sendiri juga nggak tahu, sampai saat ini belum sadar."


"Ayah di mana?"


"Masih menemui dokter yang merawatnya."


Bagaimana Irwan tak gelisah, ketika dia mendengar cerita cak Joko, pegawai angkringan yang ayahnya punya.


Kebetulan dia mampir ke angkringan ayahnya. Jadi tahu kabar yang menimpa neneknya. Segera diapun menyusul ke rumah sakit untuk memastikan kebenaran berita itu.


Nenek Halimah sudah tua. Makanya dia sangat khawatir apabila sesuatu terjadi menimpa neneknya. Apalagi saat ini mendapati neneknya tak sadarkan diri, semenjak kejadian.


Dari jauh dia melihat ayahnya, sedang berjalan dengan kesedihan yang sangat. Membuatnya semakin khawatir.


Begitu Herman tiba, Irwan sudah tak tahan lagi untuk bertanya, tentang keadaan Halimah sebenarnya.


"Ayah, bagaimana keadaan nenek?"


"Irwan, kamu di sini, Nak." jawab Herman mencoba mengalihkan perhatian.


"Iya, Yah. Aku tadi mampir ke tempat ayah. Dapat kabar ini. Bagaimana keadaan nenek, Ayah?" sekali lagi dia bertanya.


"Ayah mau lihat nenek dulu. Semenjak pemeriksaan ayah belum lihat nenekmu."


Herman melangkah ke dalam ruangan Halimah, tak mau menjawab pertanyaan putranya. Diapun duduk di samping tempat tidurnya. Mengusap sejenak kepala Halimah. Lalu memegang tangannya.


"Mama, maafkan Herman. Nggak bisa menjaga mama."


Tak terasa air matanya menetes, membuat Irwan makin khawatir. Diapun menghubungi bunda Zulfa, mengabarkan keadaan Halimah.


Tak berselang lama terdengar suara adzan ashar berkumandang.


"Irwan ... Adam, ayo kita sholat ashar dulu. Biar Tante Rahmi yang jaga nenek. Kita bergantian."


"Ya, Ayah."


"Ya, Om."


Bertiga mereka meninggalkan Rahmi menuju masjid yang ada di lingkungan rumah sakit itu.


Setelah selesai sholat dan berdoa, mereka segera kembali ke ruangan perawatan Halimah.


Alhamdulillah terlihat Halimah telah sadar. Dia tak mengatakan apapun. Hanya sorot matanya yang seakan-akan mencari seseorang.


"Mama, ini aku Rahmi."


Tak ada jawaban. Secara samar, dia mengangguk. Tapi bola matanya masih mencari seseorang.


"Mama, ini aku Herman." kata Herman sambil memegang tangan Halimah.


"Herman ...."


"Ya, Ma."

__ADS_1


"Haus .... mana Zulfa?"


__ADS_2