KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Awal Pertemuan


__ADS_3

Herman terperanjat dengan keputusan Maria. Tak sangka rasa yang tersimpan untuknya sangatlah besar.


"Maria, kamu tahu konsekwensinya?"


"Asalkan aku bisa bersamamu, mas Herman."


"Keluargamu bagaimana?"


"Bukankah itu hakku?"


"Pikirkan lagi, jangan terburu-buru ambil keputusan."


"Tidak, keputusan ku sudah final"


Herman terdiam, beberapa kali mengambil nafas panjang. Mengapa disaat dia menginginkan berkumpul bersama, selalu saja ada halangan. Maafkan aku Zulfa ....


"Aku menyerah."


"Malam ini aku tidur di sini."


"Jangan keterlaluan kamu, Maria."


"Tidak, aku tetap di sini." jawabnya tegas.


"Cukup itu kesalahan yang terakhir, Maria. Aku masih menghormatimu."


"Tidak, aku tetap di sini."


"Sesuai dengan permintaanmu, aku akan menikahimu. Tapi bersabarlah untuk tinggal bersama."


"Aku takut kamu lari lagi."


Bukan tanpa alasan Maria bersikap demikian. Beberapa waktu yang lalu, Herman memilih untuk menghilang daripada menuruti kehendak keluarga Maria, untuk menikahinya.


"Aku tak mengerti tentang pemikiranmu." Herman menyerah. Dia membiarkan Maria memasuki rumahnya. Herman sudah kehabisan kata untuk memberikan penjelasan, betapa hal itu sama sekali tak baik. Dia sadar, dia bukanlah laki-laki yang sempurna. Mabuk, berjudi adalah sesuatu yang biasa dilakukannya. Hingga tak sadar akibat dari itu semua, dirinya harus terpisah dari keluarganya. Tapi untuk memulainya menjadi baik ....


Ah .... mengapa semuanya menjadi sulit.


Bukan tak mungkin, dengan adanya Maria akan semakin menjauhkan dirinya pada keluarganya. Tapi dia tak bisa mengutuk dirinya, apabila menghindar dari permasalahan Maria. Haruskah dia menyakiti Zulfa untuk sekian kalinya. Hanya karena kesalahan-kesalahan yang dia perbuat. Jika ingin marah, maka dirinyalah yang harus menerima amarah itu. Ingin dia kembali pada Tuhan, tapi bagaimana caranya. Dia sudah lupa ....


Herman rindu ... teramat rindu ... pada keluarganya, terutama Zulfa.


Bagaimana sekarang keadaan Zulfa, masihkah dia menantikannya.


Lika, bagaimana dia sekarang. Sudah besarkah ...


Lalu bagaimana dengan Irwan, mungkin sekarang sudah kelas 5 sekolah dasar. Masihkah ingat pada dirinya, ayah yang telah menelantarkannya.


Satu persatu wajah mereka melintas dalam angannya. Terbayang akan masa lalunya, yang terasa manis dalam kenangan. Tersapu oleh kepengecutannya dan keegoisannya.


Dia memandang lekat handphone yang ada di sisinya. Nomor mereka masih tersimpan rapi. Lama termenung ....

__ADS_1


Akhirnya ... Maria, mengapa kamu datang. Bisiknya dalam angan.


Sementara Herman masih menenangkan diri di teras rumahnya. Maria sudah sibuk menjelajah setiap kamar. Dia melihat 2 kamar yang cukup lumayan besar, lengkap dengan kamar mandi. 1 kamar kecil tanpa kamar mandi. Dapur yang luas bersambung dengan ruang makan, dan lain-lain. Cukup lumayan untuk tinggal mereka berdua. Memang tak semewah rumah mama papanya. Tapi itu sudah cukup membuktikan bahwa orang yang selama ini diidamkan bisa memberikan dia yang pantas.


Sambil merebahkan diri di kasur yang cukup besar, angannya melayang, membawa pada kenangan .... Entah mengapa dirinya bisa jatuh cinta pada Herman sejak pertemuan pertama di kafe itu.


"Siapa dia?"


"Maksudmu siapa Maria?"


"Itu yang ada di samping kakakmu, Sell."


"Herman .... Ada apa?" jawabnya dengan penuh selidik.


"Tidak apa-apa."


"Benar ... Yakin ... Tak ada apa-apa. Syukurlah. Aku takut temanku ini akan terpesona lalu tersesat,"


"Kamu ada saja. Kata-katamu seperti orang mabuk aja."


"He ... he ... he ..."


Begitulah Selly orangnya. Sahabatku itu sukanya sekali menggoda. Malam itu, Aku dan Selly ingin mengakhiri jalan-jalan, e ... lebih tepatnya shopping, dengan mampir di kafe. Menikmati makanan dan minuman ala kadarnya. Tak sangka kami bertemu dengannya yang sedang makan bersama dengan David, kakak Selly.


Sepertinya kakak Selly belum menyadari, kalau adik tersayangnya sedang berada satu ruang dengannya. Hingga kami selesai melahap apa yang sudah kami pesan.


"Hai, Kak." sapa Selly sewaktu kakaknya melintas di sampingnya. Meninggalkan Herman yang duduk sendirian menikmati makanan yang ada di depannya.


"Biasa, jalan-jalan."


"Sudah selesai."


"Sudah."


"Kita pulang, nanti mama bingung cari kamu."


"Sudah ijin kok, Kak. Tapi emang sebentar lagi Selly juga pulang."


"Sama kakak aja. Ini sudah malam."


"Lha, tadi perginya sama Maria. Masa sekarang mau ninggalin Maria."


"Nggak apa-apa kok, Selly."


"Nach kan, ayo."


"Bener nich, Maria. Aku tinggal ya ...."


"Ya, Selly. Aku juga mau pulang."


Setelah Selly menghilang bersama kakaknya. Rasanya diriku masih enggan untuk berdiri. Kuperhatikan sosok Mas Herman dari kejauhan. Terlihat dari raut mukanya, ada kegelisahan. Dia telah menghabiskan makannya, lalu beranjak dari tempat duduk. Seperti akan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Buru-buru aku pun menyelesaikan minumanku dan meninggalkan tempat itu. Menuju tempat parkiran dan menghidupkan mobilku berlahan. Baru juga keluar, mobilku harus bersentuhan dengan mobil pick up yang juga baru keluar. Aku gugup sekali, Seketika aku injak rem. Menghentikan mobil dengan mendadak.


Ternyata mobil pick up itu juga melakukan hal sama. Seorang pria keluar dan menghampiri mobilku. Aku hanya diam, menunggu apa yang akan dilakukannya.


"Maaf mbak, Jika ada mobil mbak yang lecet. Mbak bisa menghubungi nomor ini." ucapnya sopan sambil menyerahkan kartu namanya.


"Mas Herman." teriakku gembira, begitu mengamati nama yang tertera di sana.


"Ya, ada apa mbak?" tanyanya bingung.


"Aku Maria, senang berkenalan denganmu." sambil aku ulurkan tanganku padanya.


Dia menyambutnya tanpa curiga.


"Oh ya. Sama-sama."


Lalu meninggalkan diriku yang masih terpaku. Sampai-sampai dia harus menegurku untuk segera melajukan mobil, agar jalannya tidak terhalang.


Semenjak itu, kita sering bertemu. Aku tahu kebiasaannya yang suka berjudi. Hingga bertumpuk hutangnya pada bandar judi. Kadang aku tak tega , aku minta pada keluarga untuk melunasinya. Bila kalah, dia menghibur diri dengan mabuk-mabukan. Tak jarang aku menasehatinya, tapi sering tak dipedulikannya. Tapi aku tak lelah.


Entah dari rasa kasihan itu, tumbuhlah cinta. Ya ... cinta yang salah. Karena ia telah beristri dan sudah memiliki anak. Aku tahu itu. Aku coba memendam itu, tapi rasanya tak mampu. Apalagi semenjak peristiwa itu. Dia telah memilikiku dengan paksa. Dan keluargaku menginginkan dia mempertanggung jawabkan. Meski mereka marah dan tidak setuju.


Tapi kenapa Mas Herman malah menghilang. Mengapa ....


Ah .... Sudahlah. Yang penting sekarang, diriku telah menemukannya. Tak ada lagi alasan untuk tidak bersama. Meski saat ini keluargaku belum mengetahuinya.


Tak berapa Maria pun terlelap dalam tidurnya.


💎


Sudah satu bulan ini, mereka tinggal bersama, belum ada kejelasan tentang ikatan. Meski sampai saat ini Herman mampu menjaga dirinya. Tidak tahu apa yang terjadi, bila suasana seperti ini diteruskan.


Pagi itu setelah mereka sarapan bersama, Herman mengajak Maria bicara serius.


"Maria, apa keluargamu tahu, kalau kamu berada di sini?"


"Belum."


"Mengapa?"


"Mereka sudah tak peduli lagi padaku semenjak aku memilih mas."


"Kamu tahu aku di sini dari mana?"


"Ceritanya panjang. Salah satunya atas bantuan Sally."


"Kita tak akan bahas itu?"


"Kamu sudah siap?"


"Maksud Mas Herman?"

__ADS_1


__ADS_2