KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Maria Tertangkap


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ...." ucap Irwan yang baru tiba. Dia begitu terkejut dengan keberadaan 2 orang polisi dan seorang pria yang sudah  beruban ada di rumahnya.


"Ada keperluan apa kalian di sini?"


Keadaan ini benar-benar membuatnya bingung. Tentu saja orang asing yang ada di rumahnya tak mau menjawab. Mereka bukan berurusan dengan Irwan melainkan Zulfa.


"Ada apa, Bun?"


Belum juga Zulfa menjawab,  2 polisi itu sudah mendekatinya.


"Mari, Bu. Ikut kami."


 


"Maaf, Pak. Memangnya bunda salah apa?" tanya Irwan bingung.


 


Zulfa memberikan kertas itu pada Irwan. Belum juga selesai membaca, raut wajah Irwan sudah memerah, menahan amarah.


 


"Kalian salah orang." kata Irwan dengan keras. Tapi tak membuat polisi itu mengurungkan niat untuk mebawa Zulfa. Sedangkan Mutia yang bepegang erat pada bajunya, tampak ketakutan. Apalagi Alfa mencoba meraihnya.


 


"Maaf, anda siapa?"  Zulfa menatap tajam pada Alfa.


 


"Kamu mempertanyakan tentang saya?" jawab Alfa dengan senyum mengajaknya. "Tapi baiklah, kalau kamu ingin berkenalan dengan saya. Aku kakeknya anak yang saat ini kamu bawa."


 


Dahi Zulfa sampai berkerut, mendengar jawaban Alfa.


 


"Bagaimana mungkin kakeknya tak tahu kalau cucunya tergeletak di depan pintu panti Asuhan." jawab Zulfa setengah bergumam dan juga kesal. Tapi cukup terdengar  Alfa. Sejenak dia berfikir, namun itu tak mengurungkan niatnya untuk membawa Mutia ikut bersamanya.


 


"Bunda, jangan tinggalkan Tia. Tia takut. " Dia menatap Zulfa dengan air mata yang mulai keluar.


 


"Pergi kamu!" ucap Mutia dengan keras. Dia mengibaskan tangannya hendak mengusir Alfa yang semakin dekat dengannya.


 


"Kalau anda adalah kakeknya, tentu tahu apa yang diinginkan cucumu."


"Jangan ajari saya soal itu. Ibunya adalah putriku, tentu aku tahu yang diinginkan cucuku."


"Seandainya aku bisa mempercayaimu. Akan kuserahkan dia dengan senang hati." Bukan maksud hati untuk mempertahankan sesuatu yang bukan miliknya. Tapi naluri seorang ibu yang membimbinginya untuk melindungi Mutia. Zulfa pun meraih Mutia dalam gendongannya.


 


"Jangan takut, Sayang." hiburnya. Diapun membawa Mutia duduk, mencoba meredakan tangis Mutia.


 


"Aku nggak mau bunda yang lain. Aku mau bunda Zulfa. Bunda jangan tinggalkan Tia lagi."


 


"Tenanglah Sayang, kita akan hadapi bersama. Oke ..."  Tak ada kegelisahan di wajah Zulfa. Sesekali dia memberikan senyumnya pada Mutia, agar tidak takut lagi.


 


"Maaf, boleh saya menenangkan anak ini sebentar,." kata Zulfa pada pak polisi dan  juga Alfa.


 


Beruntung, mereka masih punya hati, hingga membiarkan Zulfa duduk dan menenangkan Mutia.


 


Semua sibuk dengan Mutia dan juga Zulfa hingga tak menyadari kalau Irwan tak lagi bersama mereka. Begitu membaca surat perintah penangkapan bundanya, dia segera keluar dan menelepon Herman. Dia sangat berharap, ayahnya segera datang.


 


Saat menelepon, ada sebuah mobil yang terparkir di depan, cukup menyita perhatiannya. Sepertinya ada seseorang di dalamnya. Apakah itu Maria ? ....


Kalau memang benar dia, mengapa bukan dia yang meminta pada bunda. Bukankah dia mamanya. Mengapa laki-laki itu yang meminta. Dasar licik sekali ....

__ADS_1


Diapun melaporkan itu pada Herman.


 


Irwan sangat berharap dugaannya benar. Diapun mendekati mobil itu.  Terlihat wanita yang ada di dalam mobil itu ketakutan.  Tapi dia tak peduli.


 


"Buka!"


 


Wanita itu semakin ketakutan dan mengacuhkan perintahnya. Berkali-kali dia meminta, tapi tak kunjung dibukanya. Irwan hanya bisa berdiri di samping mobil itu. Sambil menunggu Herman datang. Ingin sekali dia mendobraknya. Kesal sekali ....


 


Belum sampai dia melakukan niatnya,  ada sebuah mobil datang. Tetapi mengapa mobil polisi yang kini memasuki rumahnya. Irwanpun berhenti., tak lagi ingin meneruskan niatnya. Haruskah sebanyak ini untuk menangkap bunda. Membuatnya semakin geram.


 


Untungnya, tak lama kemudian mobil Herman datang. Keluarlah Herman dan juga Ayyas dari mobil itu. Moga-moga mereka membawa  sesuatu yang diharapkannya. Keduanya tergesa-gesa menghampiri Irwan.


 


"Mana Bunda, Irwan?"


"Di dalam."


"Ayo ke dalam!"


 


Irwan k beranjak, bahkan berbalik ke arah mobil yang ada di belakangnya.


"Dia, Yah?"


"Siapa?"


 


Irwan menunjuk orang yang ada di mobil itu. Herrman langsung mengenali siapa dia. Sudah dia duga, kalau Maria ikut bersama. Kebetulan sekali ....


 


"Tunggu di sini. Aku ke dalam sebentar."


 


 


Tak lama Herman telah kembali, dengan diiringi 2 polisi yang datang belakangan.  Segera saja Irwan minggir, memberi jalan pada pak polisi untuk melakukan tugas.


 


Salah seorang mengetuk kaca mobil,


 


"Bisa anda keluar!"


 


Mau tak mau, Maria keluar meski terlihat kecemasan dan ketakutan di wajahnya.


 


"Dialah Maria, Pak." kata Herman. 


Tak banyak cakap, salah seorang polisi segera mengeluarkan borgolnya dan memasangkan di kedua pergelangan tangannya.


 


"Mari ikut saya!" perintahnya pada Maria yang tak lagi berkutik. Dia hanya dapat menundukkan kepalanya semakin dalam. Mencoba menyembunyikan diri dari tatapan Irwan dan Herman yang sudah dipenuhi kemarahan.


 


Sementara itu di dalam rumah, Alfa sudah mulai tak sabar dengan Zulfa. Dia berbisik pada seorang polisi yang ada di sampingnya. 


 


"Maaf Ibu. Segera ikut kami. Atau nanti ibu akan mendapat dakwaan berlapis. Karena menghalang-halangi tugas kepolisian.


 


Dengan nafas berat,berdiri masih dengan menggendong Mutia.

__ADS_1


 


" Sayang, sabar ya. Kalau Allah menghendaki, kita pasti bersama lagi." bisiknya di telinga Mutia, yang bergelayut manja di pundaknya.


 


Alfa sudah tak sabar menyaksikan itu. Dengan paksa, dia menarik  Mutia dari gendongan Zulfa.  Sehingga menyebabkan tangis Mutia pecah seketika, begitu lepas dari tangannya.


 


"Mari, Bu Zulfa."


 


Dengan terpaksa, dia balik badan, menyembunyikan kesedihannya. Mengikuti ke dua polisi yang berjalan meninggalkan ruangan itu. Mutia yang masih menangis keras dalam dekapan Alfa, berusaha melepaskan diri.  Dia pun kuwalahan menghadapinya, akhirnya Tia terlepas juga.


 


"Bunda ...." panggilnya sambil berlari mengejarnya. Dan berhasil mencapai Zulfa yang berjalan belum begitu jauh.


 


Alfa berjalan cepat untuk mengejarnya. Sampai di depan rumah, dia terkejut dengan keadaan Maria yang sudah terborgol dan akan digelandang ke  mobil polisi, oleh 2 orang polisi yang datang terlambat, menurutnya.


 


Irwan segera mendekatinya dan berbisik dengan keras di telinganya. Bukan berbisik deh, tapi lebih lebih tepatnya berteriak.


 


"Lihat, itu putrimu!"


 


"Mengapa bisa jadi begini .... Apa yang dilakukan putriku." terlihat sekali, kalau dirinya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apalagi dengan keadaan tangan putrinya terborgol. Tak ada yang diperlakukan seperti kalau bukan orang yang berbahaya.


Dia menghampiri kedua polisi.


 


"Apa  salah putriku?"


 


"Dia DPO sudah lama." jawabnya singkat.


 


Mutia sudah mulai tenang di tangan Zulfa. Apalagi pada saat yang sama, ada ayahnya pula.


 


"Ayah, jangan boleh bunda dibawa orang ini." tangisnya sambil menunjuk ke arah orang yang berseragam di depannya.


 


"Ya, Nak. Ayah tidak akan mengijinnya." jawabnya, meski agak jauh dari Zulfa berdiri.


 


Tapi saat ini, Zulfa hanya bisa melangkah mengikuti langkah polisi menuju mobilnya. Mau tak mau dengan membawa Tia juga.


 


Sekilas Mutia melihat ke arah mobil yang satunya, tangannya menjadi ....


....


....


....


Maaf readers yang selalu author suka...


karena tak bisa sering up. Karena perhatian lagi terbagi. Lagi UAS dan juga daring sama anak-anak.🙏🙏🥰🥰🥰


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2