KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Tia, Maafkan Bunda


__ADS_3

"Mbak Rahmi, keponakanmu ..."


Rahmi segera turun dari mobil menuju ke dalam rumah.


"Mbak Harni, aku bawa dulu Aldo. Dan aku titip rumah." Dia segera meraih Aldo dari gendongan mbak Harni. Masih terlihat ketakutan di wajahnya. Sesekali tangannya mengusap matanya yang sembab.


Rahmi memeluk dan menggendong Aldo yang sudah mulai tenang.


"Sudah Sayang. Jangan takut, tante ada di sini."


"Mutia, Tante ..."


Baru Rahmi menyadari bahwa tidak ada Mutia bersama mereka sejak dia datang.


"Ya ...." jawab Rahmi, tanpa mengerti maksudnya, "Ada apa dengan Tia?"


"Di bawa bunda." Rahmi semakin tak mengerti dengan kata-kata Aldo.


"Sudah tenang, Sayang. Tia pasti baik-baik saja."


"Tidak, Tante. Aldo takut Tia seperti ayah dan nenek. Bunda Maria jahat."


Rahmi semakin bingung dengan keterangan Aldo. Dia menatap Harni yangh berdiri di samping mereka.


"Ini semua ulah Maria. Mamamu pingsan dan Herman terluka parah. Sekarang mereka di rumah sakit."


"Benarkah?" ucap Rahmi lirih. Dia coba sembunyikan, agar tak mempengaruhi Aldo yang mulai tenang.


"Kenapa kamu datangnya lama sekali."


"Ya, Mbak. Tadi ada undangan luar kota. Untunglah saat itu aku sudah dalam perjalanan pulang. Tapi masih juga telat. Maaf aku ke rumah sakit dulu. Aku khawatir keadaan mama, semoga nggak terjadi apa-apa."


"Ya sudah, pergilah. Semoga Nyonya Halimah baik-baik saja. Insya Allah semua sudah di tangani polisi."


"Makasih, mbak Harni. Aku nitip rumah dulu."


"Ya."


Rahmi dan suaminya meninggalkan mereka semua dengan membawa Aldo bersamanya. Melaju dengan cepat ke arah kota meninggalkan rumah dalam penjagaan pak RT dan tetangga di sekitarnya.


💎


Sementara itu Maria melajukan motornya dengan cepat menjauh dari tempat kejadian. Melewati jalanan gelap dan sepi, membelah persawahan. Hampir 2 jam dia berjalan tanpa henti. Baru berhenti ketika melewati sebuah bangunan kosong.

__ADS_1


Untuk sejenak, Maria mengamati keadaan tempat itu. Berlahan-lahan dia meletakkan Mutia yang masih pingsan, di sebuah bangku yang ada di depan rumah itu.


Setelah itu, Maria mengganti bajunya yang terkena percikan darah. Membungkusnya jadi satu, dengan pisau yang dia gunakan untuk menusuk Herman. Lalu kembali lagi ke motor, memasukkan ke dalam jok. Menjalankannya, meninggalkan Mutia seorang diri dan masih dalam keadaan belum sadarkan diri.


"Maafkan bunda, Nak. Bunda nggak bisa membawamu. Dan jangan salahkan bunda kalau berbuat begini padamu. Ini semua gara-gara ayahmu dan Zulfa ...."


Setelah menjalankan motornya cukup jauh, didengarnya gemiricik air sungai dari bawah jembatan yang dilewatinya. Dia berhenti, mengambil baju-baju yang tersimpan di dalam joknya. Melemparkannya ke dalam aliran suangai yang mengalir.


Untuk sejenak, dia termenung tentang apa saja yang baru dilakukannya. Bayangan putra-putrinya menghantuinya. Apalagi dirinya dengan sadar telah meninggalkannya sendiri di bangunan kosong itu. Ada perasaan berat dan bersalah. Diapun kembali, dan mendapati Mutia masih dalam keadaan sama, seperti saat dia meninggalkannya.


"Nak," bisiknya lirih sambil mencium keningnya. Lalu membawanya kembali bersamanya.


Setelah sekian lama berjalan, dia menemukan sebuah panti asuhan yang bangunannya jauh dari perkampungan. Cukup besar bangunan itu dan megah. Diapun menghentikan motornya, dari jarak yang cukup jauh.


Dengan berjalan kaki, Maria mendekati bangunan itu. Beruntung ada sebuah ruang yang paling depan lampunya masih menyala. Bertanda masih ada orang yang berjaga di dalamnya.


Dengan hati-hati, Maria meletakkan tubuh Mutia di depan pintu ruang tersebut. Lalu, berlahan-lahan meninggalkan tempat tersebut. Bersembunyi di balik pohon yang dikelilingi semak rimbun. Dia mengambil satu batu kecil, melemparknnya ke arah cendela ruangan itu.


"Siapa itu?" terdengar suara seseorang dari dalam.Tak lama, tampak seorang pria keluar.


"Astaghfirullah al adzim ..." rupanya dia sangat terkejut, saat melihat tubuh anak kecil yang berbaring di depan pintunya. Diapun berjongkok memeriksa keadaannya.


"Siapa, Bi." terdengar suara seorang wanit paruh baya.


"Kelihatannya dia pingsan, Mi."


"Astaghfirullah al adzim. Benarkah, Bi?"


"Ya..." laki-laki itu segera membawanya ke dalam rumah itu, diikuti wanita tersebut, yang dipanggilnya dengan sebutan umi. Sepertinya mereka suami istri. Semoga mereka pengasuh di panti asuhan ini.


Lalu keduanya membawanya ke dalam. Tak berapa lama, terdengar suara anak kecil kecil menangis.


"Nenek ... Ayah ... Tia takut."


"Buka matamu, Sayang."


Berlahan-lahan Mutia membuka mata. Dia bingung dengan keadaan sekitarnya.


"Siapa kalian. Aku nggak kenal kalian. Jangan sakiti aku." Mutia merancau ketakutan dengan air mata yang tiba-tiba keluar.


"Jangan takut, Nak. Kami nggak akan menyakitimu."


"Bunda jahat, bunda membuat ayah berdarah...." Entah mengapa Mutia terus saja meracau, dengan kata-kata yang tak tentu arah. Membuat pasangan itu saling berpandangan.

__ADS_1


"Minumlah, Nak." kata wanita itu sambil menyodorkan sebuah gelas berisi susu hangat.


"Bunda Zulfa, aku mau bunda Zulfa." isaknya lalu memeluk wanita yang ada di depannya.


"Ya, Nak. Nanti kami akan mempertemukanmu dengan bunda Zulfa. Sekarang habiskan susumu dan tidur. Besok kita ke tempat bunda Zulfa."


Mutia pun menurut. Dia menghabiskan susu itu, lalu mencoba tidur dengan belaian tangan dari wanita itu.


Dari jauh, Maria mendengar itu semua, ada tetesan embun di sudut matanya. Mengusapnya berlahan.


"Maafkan bunda, Tia."


Setelah memastikan Mutia sadar dan sudah mendapat pertolongan, diapun beranjak, meninggalkan tempat persembunyiaanya. Dengan langkah cepat, dia berjalan menuju ke motor yang ada di ujung jalan.


Untuk sementara dia tak berani menghidupkan mesin motor tersebut, khawatir terdengar oleh orang-orang yang ada di panti asuhan. Maka dia menuntutnya hingga cukup jauh. Setelah dirasa tak mungkin terdengar, baru Maria menghidupkan motor. Dia melanjutkan perjalanan dengan tanpa tujuan.


Hampir semalaman di mengendarai motor. Menjelang pagi, diapun berhenti dan meninggalkan motor itu begitu saja di tepi jalan. Berjalan kaki cukup lama hingga menemukan sebuah halte.


Maria mengeluarkan handpone yang dibawangnya. Memesan taxi on line. Tak berapa lama, taxi itupun datang.


"Benarkah anda nona Martiyas."


"Benar."


"Silahkan masuk."


"Makasih." jawab Maria. Dengan tenang dia duduk di belakang sopir taxi.


"Ke bandara?"


"Iya ...."


Untuk beberapa saat suasana sunyi. Pak sopir hanya menjalankan taxi menyusuri jalanan yang tampak lenggang. Ada terlintas niat jahat dalam kepala pria itu. Melihat Maria pergi seorang diri.


Untunglah Maria melihatnya.


"Jangan macam-macam denganku. Aku habis membunuh orang." ucap Maria tegas, membuat laki-laki itu bergidik, membayangkannya. Hilang sudah niatan jahat yang sempat melintas dalam pikirannya.


"Maafkan saya, Nona Martiyas."


"Cepat jalan. Atau anda mau menjadi yang selanjutnya."


Dengan ketakutan, dia melajukan taxinya dengan cepat. Hingga tak sampai setengah jam, mereka sudah sampai di bandara.

__ADS_1


Tiba di bandara, dia menghentikan taxinya. Lalu Maria memberikan satu lembaran merah, untuk diberikan pada pada sopir taxi itu. Sopir itu menerimanya tanpa berani berkata apa-apa. Dia sudah ketakutan sendiri, melihat sorot mata Maria yang dingin. Bisa jadi dia akan menjadi korban berikutnya.


__ADS_2