KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Irwan dan Lika


__ADS_3

"Habis ini mau lanjutkan ke mana?"


"Aku kemarin coba-coba daftar ke polihtehnik komunikasi. Sudah tes, tapi belum keluar pengumuman diterima tidak nya. Doakan di terima ya kak."


"Di mana?"


"Surabaya."


"Moga-moga diterima."


"Aamiiin ..."


Meski diburu waktu, tapi Irwan tak bisa melajukan mobilnya dengan cepat. Jalanan pada jam-jam sekian, sedang sibuk-sibuknya. Mau tak mau harus menabung kesabaran yang sangat untuk menghadapinya. Oke .... Sekarang jalan . Bisiknya pada saat lampu jalanan telah berubah warna.


"Bun, aku pingin beli rumah. Boleh?"


"Sudah nggak kerasan sama ibu ...."


"Nggak Bun. Buat tabungan saja."


Beginilah bunda, selalu daja curiga . Padahal anaknya inikan sudah dewasa, sudah saatnya mandiri. Kalau ada acara teman nggak enak selalu ganggu nenek. Mana teman-teman tak bisa diam, end lain-lain. Dan lagi, kalau aku pingin married, masak harus tinggal sama nenek, bunda dan Lika. Ya ... kalau mau. Kalau tak .... hehehe ....


Pikirkan ku kok ngelantur kemana-mana. Kekasih aja ogah cari .... Kasihan Lika kalau aku duluan. Nggak ada orang yang bisa diajak bermanja-manja. Nunggu dia duluan. Aku Sekolah dulu aja dech ...


"Boleh saja, Irwan. Cuma jangan dibuat macam-macam. Beri satu kamar yang istimewa untuk musholla."


"Bener, boleh Bun. Makasih ...."


"Nanti Bunda lihat rumah yang sudah jadi incaran Irwan sejak lama. Tapi habis acara Lika."


"Boleh ...."


Belum juga masuk halaman sekolah Lika, bunyi sound system sudah nyaring terdengar. Membuat Irwan geleng-geleng kepala. Karena dia tidak begitu suka dengan kebisingan. Untung Lika pengertian.


"Sudah, Kak. Aku turun di sini saja."


"Bener .... "


"Nggak apa-apa, Kak. Nanti kakak telat."


"Tumben, adek kakak pengertian. Kalau gini, kakak mesti siap-siap. Pasti ada udang di balik rempeyek."


"Hehehe .... Kakakku ini paling tahu dech."


"Sudah katakan." ucap Irwan sambil menekan remot untuk membuka pintu mobil secara otomatis.


"Minggu depan teman-teman mau ngajain rekreasi ..."

__ADS_1


"Nach kan. Ya ... ya ... Kakak ngert. Uang saku kan?"


Senyum menawan sebagai jawaban ....


"Lika ... Lika." Zulfa mengusap-usap kepala Lika, begitu mereka berada di luar.


"Bunda, aku pergi dulu .... Assalamu'alaikum ...."


"Wa alaikum salam wr. wb."


Setelah mobil Irwan menghilang, Zulfa dan Lika menuju gedung pertemuan yang ada dalam kompleks sekolah itu. Sudah banyak yang berdatangan, mengantarkan putra-putri mereka dalam acara purna siswa ini. Bahkan ada yang datang dengan oran tua lengkap. Ini yng selalu bikin Lika merasa iri. Seumur-umur belum pernah ayahnya mendampinginya.


"Bunda, kapan ayah kembali. Masak hanya bunda saja yang selalu nemeni aku, saat acara-acara kayak ini. Aku ingin orang tuaku hadir lengkap."


Zulfa tersenyum kecut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Lika.


"Jangan kolokan ah. Sudah besar gini masih juga manja."


Sebenarnya dia ingin memberi tahu keadaan ayah mereka yang sebenarnya. Tapi dia sendiri masih ragu dengan berita yang diterimanya kemarin. Indah, adik iparnya yang sedang ikut suaminya dinas keluar kota, secara tak sengaja bertemu dengan mereka.


Jadi benar, kata-kata wanita yang bernama Maria itu. Bahwa dia adalah istrinya Herman. Selama ini dia memilih diam tak menyelidiki berita yang dia ketahui sudah sangat lama. Saat itu Lika masih duduk di sekolah dasar.


Dapat melihat Lika dan Irwan tumbuh dengan baik, memberikan kebahagian tersendiri baginya. Dari pada harus peduli dengan berita tentang suaminya. Rasa rindu yang pernah ada, dia coba buang jauh-jauh. Agar dapat menikmati hidupnya dengan bahagia. Meski terkadang kerinduan itu kembali hadir, manakala Lika atau Irwan menanyakan tetang ayah mereka


Kini mereka sudah dewasa. Kuharap mereka bijak bila tahu ayah mereka sebenarnya. Ya ... Ayah yang tak mau tahu ataupun menanyakan kabar mereka selama ini.


Acara demi acara berlangsung dalam kehampaaan. Pikiran Zulfa masih berkutat dengan pertanyaaan Lika tentang ayahnya. Entahlah ... Mau tak mau bayangan Herman menari-nari dalam angannya. Tapi bukan kerinduan, melainkan ribuan pertanyaan akan sikap suaminya. Dia benar-benar melupaka putra-putrinya.


"Bunda amat terpesona dengan kamu, saat membawakan puisi tadi." jawab Zulfa menghindar. Menutupi segala angannya, tentang Herman. Benar-benar membuat pikirannya kacau.


"Sudahlah, Bunda. Nggak usak mengelak. Bunda kangen ayah kan?"


Zulfa membuang nafas berat, mengusir beban yang ada dalam pikirannya. Huaaahhhh ..... anak sekarang.


"Yang dikangenin nggak merasa. Mending dilupain aja."


Alis mata Lika terangkat. Dia tak percaya.


"Bunda sudah tak cinta sama ayah?"


Zulfa berdiri, lalu berjalan. pura-pura nggak dengar.


"Sudah, kita tunggu kakakmu di luar yuk!"


Dasar anak manja, diajak jalan tambah berhenti. Terpaksa Zuilfa kembali. Terlihat kesedihan menghias wajah ayunya. Rasanya tak tega. Jangan-jangan sikapnya membuat hati Lika terluka. Zulfa, memeluk Lika hangat.


"Lika, seandainya bunda tidak sayang sama ayah, tentu bunda sudah lama cari pengganti ayah. Tapi, seperti yang kamu lihat. Sampai sekarang bunda masih tetap sendiri."

__ADS_1


"Kalaulah bunda tak memikirkan ayah Herman, karena pikiran bunda penuh dengan kalian. Kalianlah kebahagiaan bunda. Ada atau tak ada ayah Herman, bagi bunda tak jadi masalah. Karena di matamu selalu kulihat ayahmu."{maaf, kalimat terakhir, ingin ku buang. Tapi terlanjur keluar. Anggap saja sebagai penghias bibir saja.)


"Kata-kata Bunda menyejukkan sekali." Lika tertawa.


Padahal Zufa setengah mati menahan sakit hati yang semakin terasa perih. Diabaikan, diakhinati, tak tahulah ....)


Sambil jalan, sambil bercanda. Hingga sampai pintu gerbang. Dilihatnya mobil yang berjejer, tapi tak ditemukannya mobil Irwan. Alamat dech, menunggu....


Untunglah tak lama kemudian mobil Irwan datang.


"Maaf, Bun. Irwan telat." sapa Irwan begitu keluar dari mobil. Membukakan pintu untuk mereka.


"Ayo masuk. ....e ... e ..., bunda duluan." kata Irwan menggoda Lika. Saat adiknya sudah akan masuk ke dalam mobilnya.


"Ya ... ya ...." jawab Lika tak mau kalah. Zulfa sangat menikmati keakuran anak-anaknya.


Setelah yakin Zulfa duduk dengan nyaman, dia menuju ke belakang kemudi.


"Bunda, kita ke sana sekarang ya ...."


"Terserah kamu. Bunda ikut aja."


Ternyata Irwan membwa mereka ke perumahan yang benar-benar elit. Dengan halaman yang luas dan cukup asri.


"Wan, bener itu rumah yang kamu mau?" tanya Zulfa turun dari mobil. Irwan mengangguk. Mereka melihat -lihat bagian dalam rumah. Semuanya sudah lengkap dan lux.


"Berapa itu rumah ....?"


"Murah, Bun. Nggak sampai 1 m. Punya teman . Dia sekarang di Australia. Sudah tak memerlukan rumah ini lagi."


"Bunda bersyukur, kamu sudah bisa mandiri."


"Ini semua berkat doa bunda juga."


"Ya sudah, Bunda setuju-setuju aja. Kapan akan kamu tinggali."


"Mungkin bulan depan, Bun. Sambil menunggu rehab dikit-dikit. Itu kalau bunda mengijinkan. "


"Bunda tak masalah. Tapi tetap jaga sholat dan mengajimu."


"Insya Allah, Bunda ..."


Kebahagian Zulfa benar-benar lengkap kali ini. Lika lulus dengan memuaskan. Irwan cukup berhasil menata masa depannya. Terima kasih ya Allah ...


"Bunda capek, bisa pulang sekarang, Wan."


"Inggih, Bunda."

__ADS_1


Matahari yang sudah mulai bergeser, membuat Zulfa ingin sekali pulang. Khawatir melewatkan waktu utama untuk sholat dhuhur. Beruntung Irwan menghentikan mobilnya di masjid yang mereka termukan saat azan dhuhur berkumandang.


.


__ADS_2