KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Shaffa (POV)


__ADS_3

Ku rasa ini adalah perjalanan yang panjang. Mencari keberadaan orang yang tidak ingin aku temui. Tapi demi Bapak aku pun menurut saja. Syukur ada kak Irwan yang selalu menemani kami, setelah meninggalkan ke-2 adiknya di rumah. Sehingga kekesalanku tidak meluap-luap.


Aku tak habis pikir, mengapa Bapak masih saja keras kepala terhadap keputusannya. Padahal Aku jelas-jelas menolaknya. Tuhan, bolehkah diriku meminta agar sesegera mungkin aku terlepas dari jerat yang membuatku sesak. Aku sangat berharap Wahai Tuhanku, tempatku bergantung.


Entah ini cobaan ataukah bertanda, kalau ini tak baik adanya. Kami tidak dapat menemukan keberadaan Pak Hasan. Handphone-nya dimatikan. Tak ada petunjuk tentangnya. Mungkin karena ingin menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru, dengan mematikan handphone miliknya. Sebenarnya itu membuatku senang. Tapi biarlah kuturuti saja apa kata Bapak. Semoga dengan ini Tuhan membukakan jalan yang lain bagiku. Agar lebih mendekatkan diri padaNya.


Ah, hanya karena keinginan bapak yang tidak jelas. Haruskah kami mengganggu pengantin baru. Dan dia bosku. Orang yang tak ada sangkut-pautnya dengan masalah.


Akhirnya kami menuju ke rumah dinasnya. Di sana terlihat sunyi seperti tanpa penghuni. sejenak Mas Irman menunggu. Tapi akhirnya kembali. Apalagi perut kita mulai ingin diisi.


"Bapak, Shaffa, kita cari makan dulu. Gimana?"


"Aku juga lapar Kak." Entahlah, rasanya aku ingin membuang kekesalan ini dengan ngomong apa adanya kepada Kak Irwan. Yang kalau hari-hari biasa, itu sangat sulit aku lakukan. Bawahan-Atasan.


Tapi mereka tak memandangku seperti itu.


"Oke." Kak Irwan pun mengajak kami menyusuri jalanan yang tak pernah sepi, menuju sebuah warung lesehan yang cukup asri. Aku melangkah mengiringi ke Irwan, tak peduli dengan bapak yang kelihatannya putus asa. Karena sampai sekarang beliau belum menemukan Pak Hasan. Tapi dengan keadaan itu membuatku semakin bersorak. Sayang kesenangan ku tak berlangsung lama. Secara tidak sengaja kami bertemu dengan pak Hasan di tempat itu.


"Itu Papa," kata Irwan. Pandangannya mengarah pada dua sejoli yang ada di joglo, di tengah-tengah kolam kecil yang berisikan ikan koi.


Secara bersamaan Bu Zulfa melihat kami.


"Irwan Shaffa, ayo ke sini ini!" ajaknya.


Mau tak mau kami pun melangkah ke arah mereka. Mengganggu kemesraan pasangan yang baru saja menikah, membuat diriku tak enak hati.


"Kak Irwan!" Aku tak berani lagi melangkah. Siapa diriku, tentu aku tahu. Aku hanya seorang pegawai Bu Zulfa di pabriknya.


"Kenapa?" Kak Irwan menghentikan langkahnya dan menanti diriku yang masih ragu. Terus terang ini membuatku semakin malu. Tapi kurasa itu bukan tindakan yang bijak kalau aku mengabaikan ajakan mereka.


Aku pun menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki kak Irwan ke tempat ayah Bundanya kini berada.

__ADS_1


"Silakan Bapak, Shaffa, Irwan. Kita makan." ajak Pak Hasan. Kulihat beliau berbisik-bisik di telinga Irwan. sesekali ekor matanya melirik ke arahku. membuat diriku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


"Nak Shaffa mau menikah?" Suatu pertanyaan yang tidak ingin kudengar. apalagi untuk memberikan sebuah jawaban.


Ku lihat Kak Irwan menganggukkan kepala, seakan memberi isyarat padaku untuk menjawab pertanyaan papanya.


"Entahlah, Pak?"


"Lho, memangnya ada apa?"


Kurasa pertanyaan ini tidak perlu aku jawab. Karena aku benar-benar tidak menginginkan adanya pernikahan itu. Hanya karena kemauan Bapak saja, semua ini terjadi.


Melihat diriku diam Bapak pun berkata,


"Sebenarnya saya ingin bertemu dengan Bapak ingin menanyakan tentang calon dari menantu saya yang bernama Heru"


"Heru siapa, Pak?"


"Oh ya ... ya ... aku mengerti. Ya memang Heru adalah salah satu mantan anak buah saya tapi sekarang sudah dimutasi."


"Sampai sekarang kami belum bisa menghubungi. Padahal pernikahan tinggal 5 hari lagi."


"Oh*." Pak Hasan mengangguk-anggukkan kepalanya. Terlihat beliau berpikir keras. Kembali berbisik-bisik dengan Irwan.


"Ayo, kalau bapak tidak keberatan, kami antar ke kediamannya."


"Ya." jawab Bapak spontan. Ah Bapak, kenapa sih kok selalu merepotkan orang lain hanya urusan itu. Terus terang diriku semakin merasa malu dengan keluarga Kak Irwan.


"Nggak usah, Pak."


"Nggak apa-apa anak Shaffa. Ini juga demi kebaikanmu. Kamu harus tahu tentang calon suamimu. Ayahmu juga harus tahu calon mantunya. Apakah kira-kira bisa bertanggung jawab terhadap anaknya atau tidak. Setidak-tidaknya apakah dia sayang kepada keluarganya atau tidak."

__ADS_1


Aku sudah teramat trauma dengan kejadian malam itu. Jadi ku rasa aku tak perlu tahu tentang keberadaan dia maupun sifat-sifatnya. Karena aku takut nanti yang akan kulihat adalah polesan saja. Untuk menutupi keburukannya padaku, seperti yang dilakukan pada Bapak.


"Ayo kita selesaikan makan dulu. Kita akan sama-sama ke tempatnya."


Ini membuatku semakin malas dan menghilangkan selera makanku seketika.


"Ayo Shaffa, segera dimakan!" Ajakan Bu Zulfa telah menyadarkan diriku dari lamunan.


"Ya, Bu." jawab Syafa sambil melanjutkan suapan demi sesuap nasi, masuk ke dalam mulut. Agar dapat memberikan kenyamanan bagi penghuni-penghuni perutku. Dan yang paling penting. Mereka tak perlu tahu apa yang aku pikirkan.


Akhirnya makan siang pun berakhir, meski diriku tak dapat menikmati kelezatan hidangan itu dengan sempurna.


Ketika semua berdiri, aku hanya bisa berpasrah dengan mengikuti kemana mereka melangkah.


"Kak Irwan." Ingin aku menumpahkan kesedihan ini pada lelaki itu. Yang jelas dia bukan siapa-siapa. Tapi entah kenapa, saat ini aku ingin memperoleh kenyamanan dengan bersamanya.


"Ada apa Shaffa?" Kata-kata itu terdengar lembut dan menyejukkan jiwaku. Ataukah memang angan-anganku yang melayang tiada arah, menyebabkan diriku perlu seseorang untuk bersandar, agar tersadar dari keterpurukan hati yang teramat rapuh.


"Shaffa, kamu di depan bersama Irwan. biarlah ibu di belakang. Nanti ayahmu biarlah bersama mas Hasan." kata Bu Zulfa yang seakan-akan mendengar bisikan hatiku.


"Ayo masuk. Jangan melamun saja." Dia membukakan pintu itu untukku, tentu terlebih dahulu membuka pintu untuk Bu Zulfa.


Kami berjalan mengikuti mobil pak Hasan yang melaju terlebih dahulu. Ini membuat diriku semakin merasa sesak. Aku ingin menangis dan lari. dan rasa ini sudah tak terbendung lagi.


Aku pun berpindah ke belakang , dan menangis sejadi-jadinya di pangkuan bu Zulfa. Ku rasakan belaian lembut tangannya seperti belaian lembut ibuku.


"Ibu, tolong aku Bu. Aku nggak mau menikah dengan Heru. Dia itu jahat ...." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku. Ku dengar nafas berat keluar dari dalam dadanya. Lalu berbisik padaku.


"Apa yang mesti ibu lakukan untukmu." Kata-katanya begitu lembut dan memberikanku kekuatan untuk menggelengkan kepala.


Ya, aku sadar. Tak mungkin kami dapat menghentikan keinginan Bapak. Mungkin hanya doa yang bisa aku panjatkan pada Yang Kuasa agar Bapak bisa melihat suatu kenyataan yang sebenar-benarnya.

__ADS_1


__ADS_2