KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Menyesal


__ADS_3

Beberapa waktu, Zulfa masih belum sadarkan diri. Hingga membuat Tia panik.


"Ini pasti gara-gara kak Ayu. Kak Ayu ya ... yang meracuni bunda Tia. Kak Ayu Jahat. Tia nggak akan maafkan kak Ayu ... hik hik hik." Tangis Tia, tangannya yang kecil pun memukul-mukul tubuh Jamilah.


Jamilah membiarkannya, Lalu diapun berjongkok dan memeluk tubuh Tia.


"Maafkan kak Ayu, Tia."


"Nggak, Tia nggak akan maafkan kak Ayu ... hik ... hik ... hik,"


"Om, Bunda kenapa? " tanya Aldo sedih. Dia mendekati Hasan yang duduk di samping Zulfa, sambil memberikan bau-bauan menyengat, agar kesadaran Zulfa segera kembali.


"Tak apa-apa, Aldo. Sebentar lagi bunda Zulfa pasti bangun."


Diapun memijin jari tangan Zulfa. Tak berapa lama mata Zulfa berlahan terbuka.


"Mas ...."


"Alhamdulillah akhirnya kamu bangun. Anak-anak sudah khawatir."


Zulfa pun tersenyum, memandang satu persatu mereka. Lalu duduk bersandar di dinding.


Tanpa di suruh, Jamilah segera mengambil teh hangat yang ada di atas nakas, yang baru dikirim Umi. Dia memberikannya pada Zulfa. Zulfa pun menerimanya sambil tersenyum. Benarkah dirinya jadi korban keusilan putri yang sangat manis ini. Yang sekarang matanya sangat sembab. Mungkinkah dia menyesal ....


"Bunda, maafkan Jamilah." ucapnya sendu, lalu membenamkan kepalanya di pangkuan Zulfa. Senyum Zulfa merekah, dan membelai kepala Jamilah lembut.


"Aku kira papa membawa wanita lain. Ternyata teman papa, bunda Zulfa. Maafkan Jamilah, Bunda. Tahu gitu, aku nggak akan naruh obat itu ke dalam makanan bunda. Aku nggak ngira bunda akan pingsan makan itu. Dan kalau yang datang bunda Zulfa, Jamilah pasti akan menerima sebagai mama Jamilah."


Seketika Zulfa terkejut, bahkan teh yang sedang diminumnya akan tersembur. Kalau dirinya tak menahan dengan sangat teh dalam mulutnya. Dengan dibantu Hasan, Zulfa meletakkan teh itu ke atas nakas.


Hasan pun tak kalah kaget namun bahagia mendengar ucapan putrinya. Dia tak bisa menutupi kebahagiaannya. Dia pun memeluk putrinya dan mengecupnya.


Terima kasih putriku, meski sudah ada mama untukmu, kamulah masih yang pertama, bisiknya bahagia.


Adapun Tia yang belum hilang air matanya, semakin cemberut.


"Nggak boleh. Jangan mau jadi mamanya kak Ayu, Bunda. Dia jahat, suka bikin orang sakit perut. Bahkan tadi bikin bunda pingsan."


Tak hanya berkata, diapun menarik Jamilah menjauh dari bunda Zulfa.


"Jangan ambil bundaku." Tia mendorongnya keluar.


"Tia, maafkan kak Ayu. Kak Ayu nggak akan lagi nglakuin itu. Suwer." Dia angkat jarinya hingga sejajar dengan kepalanya.


"Tia nggak percaya."


Hasan dan Zulfa tertawa kecil melihat tingkah putri-putri mereka.


"Sudah-sudah, semua putra-putri bunda." Meski lemah dia membentangkan tangannya, membuat Tia dan Jamilah menghentikan pertengkarannya. Mereka berebut untuk mendapatkan pelukan Zulfa. Tentu saja yang dapat pelukan pertama Aldo. Karena dia tak ikut bertengkar.


"Yei ... aku duluan." dengan menempelkan telunjuk di hidungnya. Membuat keduanya terhenti.


"Tia, Jamilah. Ayo sini." panggilnya lemah dengan senyum lesung Pipit yang masih tetap manis, meski sudah berumur. Setelah puas, Zulfa pun melepaskannya.


"Kita lanjutkan makan yok. Bunda laper." Zulfa bangkit dari tempat tidurnya. Yang dibantu Jamilah dan juga Hasan.


"Tapi jangan makan di sini. Sudah dikasih racun semua sama kak Ayu." kata Tia bersungut-sungut.

__ADS_1


Jamilah langsung menyembunyikan wajahnya.


"Tia, maafkan kakak. Kakak benar-benar nyesel. Kakak Ayu tak akan nglakuin lagi bahkan pada siapapun."


"Kalau gitu harus dihukum dulu, biar kapok. Gitu ya Om."


Dengan terpaksa Hasan mengangguk-anggukkan kepala.


"Ya. Dan kali ini Tia boleh tentukan hukumannya."


"Benar Om."


Hasan mengangguk.


"Asyiiiik .... Hukumannya adalah gendong Tia sampai mobil." kata Tia tertawa ceria.


Aku kira apa, kalau hanya gendong, okelah. Tapi diriku lagi malas. Tapi sewaktu melihat sorot mata yang marah, dengan terpaksa dia menurutinya juga.


"Baiklah." Jamilah berjongkok. Dengan sekali lompat Tia sudah ada di punggungnya.


"Pa, aku duluan."kata Jamilah yang menggendong Tia, berjalan meninggalkan Papa, Zulfa dan Aldo. Menuju mobil papanya yang terparkir di depan Panti.


Sementara itu, Zulfa masih harus mengatur debat jantungnya, karena penampakan mainan ular-ularan yang masih bercokol di pikirannya. Hingga saat berjalan, agak sedikit limbung. Sehingga harus berpegangan dulu di tempat tidur untuk memulai berjalan.


Hasan mencoba membantunya. Namun segera ditepis Zulfa.


"Sudah aku tak apa-apa." Diapun berdiri dan melangkah pelan di samping Hasan.


"Maafkan putriku."


"Nggak apa-apa. Semoga ini yang terakhir. "


"Dia manis. Mungkin dia perlu sosok ibu, agar tidak terlalu ... liar ... maaf."


"Benar, dan sepertinya Jamilah sudah menemukan sosok itu."


"Syukur Alhamdulillah. Dengan begitu ada yang bisa memberi dirinya kasih sayang seorang ibu. Boleh aku tahu, Siapa?"


"Dirimu."


Zulfa tertawa kecil. Lalu memandang Hasan sesaat. Hendak menerka kesungguhan atas kata-katanya.


"Ada-ada saja. Apa dirimu bersungguh-sungguh."


"Ya. Aku sungguh-sungguh."


"Entahlah, aku ...."


Semenjak pernikahannya berantakan, sampai saat ini belum ingin sekalipun untuk membuka hatinya kembali.


"Kita sudah sama dewasa. Sudah juga pernah menikah. Diriku sudah mengenalmu sejak dulu. Ku rasa berpacaran sudah tak perlu. Jika tak keberatan dan setuju, aku ingin segera melamarmu."


Zulfa benar-benar tak siap dengan tembakan Hasan yang tiba-tiba. Tapi dicobanya untuk realistis.


"Aku mengerti. Haruskah aku jawab sekarang."


"Apa yang kamu pikirkan."

__ADS_1


Begini rasanya berurusan dengan pak polisi. Semuanya pakai ilmu pasti. Tak ada yang ditutupi, dan diungkapkan apa adanya.


"Irwan dan Lika."


"Aku mengerti. Aku tunggu kabar darimu soal itu. Semoga mengerti tentang keinginan kita."


"Benarkah kita?"


"Oh maaf. Aku begitu berharap."


"Tak apa. Kalau mas bersungguh-sungguh, Hem ... tak ada yang salah dengan itu."


"Terima kasih, Zulfa."


Entahlah, apakah ini hal yang benar atau salah. Karena nyeri itu masih terasa, haruskah dirinya berpindah hati untuk menghapusnya. Atau menunggu mengering dalam kesendirian.


💗 Diri ini masih bimbang 💗


Tak terasa mereka sampai juga di mobil Hasan. Di sana mereka sudah ditunggu Tia dan Jamilah yang bercanda ria dengan tertawa terpingkal-pingkal. Serta Umi dan abbah Ridwan.


"Papa, lama banget."


"Bunda Zulfa masih lemas." jawabnya beralasan. Ini juga untuk mendapatkan mama untukmu, putriku ....


" Kak, aku pamit dulu. Assalamualaikum ..." kata Hasan dan Zulfa beriringan.


Hasan membuka pintu mobilnya. Mereka semua segera berebut ingin memasuki mobil papa Hasan.


"Bunda yang di depan." kata Jamilah mempersilahkan.


"Makasih, manis sekali." puji Zulfa membuat Jamilah tersipu.


"Bunda pandai memuji."


"Memang manis, apalagi kalau berhenti ngerjain orang."


"Jamilah kapok, Bunda."


"Sudah!"


"Siap, Pa."


"Aku telpon kak Redha, Kalau sudah habis, kita makan di luar. Kalau belum, kita langsung ke sana."


"Bolehlah."


Setelah menghubungi Redha melalui handphone-nya. Hasan pun tersenyum ceria.


"Yok ke sana. Sudah ditunggu sama kak Redha."


Hasan pun segera melajukan mobilnya menuju rumah kak Ridho dan istrinya, Redha.


Baru beberapa saat Hasan melajukan mobilnya, Handphone Zulfa berbunyi.


"Assalamualaikum ... ada apa, Wan."


....

__ADS_1


....


....


__ADS_2