
Zulfa mengambil gelas kecil dari dalam keranjangnya. Menuangkan jus jambu merah, ingin meminumnya segera, sambil mengawasi putra-putrinya. Entah mengap bayangan Herman melintas dalam angannya. Hingga tanpa sadar, gelas itu terlepas dari genggaman. Gelas itupun terjatuh dan pecah. Salah satu serpihannya mengenai kakinya. Hingga terluka dan berdarah.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun." ucapnya lirih.
"Ada apa Bunda,"
Irwan menghentikan lari nya, ketika mendengar suara Zulfa yang mengucapkan istirja'.
"Gelas bunda jatuh."
"Kaki bunda berdarah."
Lika ikut mendekat dan terkejut melihat cairan merah keluar dari sela-sela jari kaki.
"Bunda, duduk saja. Biar Lika bereskan. Kak, belikan plester." kalau begini, Likalah yang paling cerewet. Gadis kecil yang kini telah mulai nampak lebih dewasa, tapi masih tetap pada pembawaannya, cerewet. Irwan tanpa lagi berkata, segera berlari menuju toko kelontong yang ada di luar taman. Sedangkan Lika membereskan serpihan kaca, membuangnya di tempat sampah yang terletak agak jauh dari tempat itu.
Zulfa benar-benar bersyukur mendapatkan putra-putrinya yang sangat respect pada dirinya. Diapun tersenyum menatap kepergian Lika dan Irwan. Hingga dia tak ada keinginan mengangakat telpon yang beberapa kali berdering. Tak ingin kebahagiaannya terganggu, meski saat ini kakinya terluka.
Tapi lama-lama terganggu juga. Mungkin ada sesuatu yang penting. Masak harus diabaikan.
"Assalamu'alaikum ..." sapa Zulfa sebagaimana biasanya.
"Hallo ..."
Zulfa menjauhkan handpone dari dirinya. Bingung dengan jawaban yang diberikan oleh suara wanita yang ada di ujung teleponnya. Mengapa salamnya hanya dijawab hallo saja.
Atau mungkin dia ....
Baiklah ....
"Hallo juga, saya bicara dengan siapa ya?"
"Oh ya ... maafkan saya. Kita belum kenalan."
"Maria, kamu telpon siapa?"
"Kak Zulfa."
"Beraninya kamu."
"Sudah Mas sana gech ... Ini pembicaraan antar wanita. Jangan ganggu aku dulu, aku tak bisa bernafas nich .
Zulfa bingung dengan suara-suara yang masuk dalam teleponnya. Oh ... dia Maria.Siapa Maria .... Apakah aku kenal denganya .... Mengapa dia sebut namaku ... Tapi suara laki-laki itu, sepertinya aku kenal. Apakah itu suara mas Herman .... Tapi tak mungkin ....
Waktu yang tidak pada tempatnya, menelepon seseorang tengah berme***an dengan seseorang. Ah mungkin pikiranku yang terlalu bersu'udhon. Tutup apa nggak ya ...
"Maaf menunggu. Tapi benar saya bicara dengan mbak Zulfa?"
__ADS_1
Sepertinya dirinya harus bersabar menghadapi penelepon yang tak dikenalnya ini.
"Ya benar. Anda siapa?"
"Saya Maria, istri mas Herman."
Zulfa terdiam seketika. Wajahnya sangat pias. Jantungnya seakan berhenti berdetak, kalau saja tidak segera mengucap 'astaghfirullah al adzim'. Agar hatinya tertata kembali. Antara percaya dan tidak percaya, tidak mencoba untuk kuat dengan kabar yang baru saja dia dengar.
"Lalu kalau anda istri mas Herman. Ada urusan apa anda menghubungiku, Maria."
Dia mencoba tegas dengan wanita yang ada di ujung teleponnya. Sekaligus menutupi keadahan hatinya yang kini terluka dan rapuh.
"Apa mbak sudah melupakan suami mbak?"
"Kurasa tak ada lagi urusan yang perlu dibicarakan lagi."
"Mbak Zulfa ...."
Zulfa sudah tak peduli teriakan Maria lagi. Dia segera menutup handpone-nya. Meski masih sempat mendengar suara-suara yang tak sengaja masuk dalam handpone-nya.
"Ya ... ditutup."
"Sudah puas teleponnya, Sayang. Sudah sini aku ingin ...."
Dengan gemetar Zulfa meletakkan handpone ke atas meja batu. Tanpa dapat dicegah lagi, air matanya menetes dari matanya yang bening. Rasa sakit ini benar-benar menusuknya. Ingin disembunyikan namun tak mampu. Dia begitu larut dalam kesedihannya, hingga tak menyadari kalau Lika dan Irwan telah kembali.
"Bunda, mengapa menangis. Sakit sekalikah?"
Tak perlu waktu lama, luka itupun terbalut sempurna. Tak nampak lagi darah keluar.
"Terima kasih anak-anakku sayang. Peluk bunda."
Tanpa disuruh dua kali, mereka segera bangkit. Memberi pelukan yang paling hangat.
"Jangan tinggalkan Bunda, Sayang."
"Lika nggak akan tinggalkan Bunda, Lika tadi hanya buang kacanya saja, Bunda?"
"Irwan juga nggak akan tinggalkan Bunda. Irwan hanya beli plester untuk bunda."
Lika dan Irwan pun ikut menangis, meski bingung dengan ucapan bundanya. Membuat Zulfa tersadar.
"Maksud bunda, apapun yang terjadi kedepannya jangan tinggalkan bunda."
"Lika janji nggak akan tinggalkan bunda."
"Irwan janji."
__ADS_1
Dia mengacungkan kelingkingnya dan mengajak Lika mengacungkan kelingkingnya pula. Lalu mengaitkan menjadi satu kesatuan yang utuh. Zulfa tersenyum menyaksikan kepolosan putra-putrinya. Dia pun mengikuti perilaku mereka, menyatukan tangan mereka dalam dekapannya.
"Bunda bangga dan bahagia memiliki kalian. Sudah jangan menangis. Bunda nggak apa-apa kok."
Dengan kedua jempolnya, Zulfa mengusap air mata yang mengalir dari mata keduanya. Tak lupa memberikan sentuhan kasih sayang lainnya. Tanpa ragu Zulfa mengusap kepala keduanya.
"Anak-anak yang bunda banggakan." Seulas senyuman tersungging dari bibir keduanya.
"Sepertinya, picnik kita sampai di sini saja dech. Nggak keberatan kan ... kalau kita pulang sekarang."
"Nggak apa-apa, Bunda. Biar bunda bisa istirahat dan cepat sembuh. Lain kali kita bisa picnik lagi."
"Oke, bunda telpon taxi dulu."
"Ya, Bunda."
"Bekalnya ini gimana, Bunda?"
"Ya ... Iya. ... Gimana baiknya, Irwan. Atau kalian bagi-bagikan ke orang. Dan jangan lupa untuk penjaga Taman."
"Oke, Bunda"
Lika mengambil keranjang bekal mereka. Berjalan beriringan dengan kakaknya. Irwan memberikan pada orang-orang yang mereka temui, sampai tak tersisa lagi. Setelah tak ada lagi yang dibagikan, mereka berlari ke arah Zulfa dengan gembira.
"Sudah, Bunda."
Tak lama, taxi yang mereka tunggu memasuki pintu taman. Berhenti sejenak, lalu mengangkat telepon menghubungi Zulfa.
"Ya, Pak. Kami di sini." Zulfa melambaikan tangan agar terlihat sopir taxi yang baru datang.
Zulfa pun menutup teleponnya seiring sopir itu kembali ke taxinya. Dan berlahan memasuki jalanan, menuju ke arah Zulfa dan anak-anak.
"Bu Zulfa?"
"Ya."
"Mari masuk, Bu."
"Irwan ... Lika, Ayo kita pulang."
Meski kakinya terluka, tapi Zulfa tak menampakkan kesakitannya. Dia mengiringi jalan putra-putrinya biasa-biasa saja. Tak ada yang lebih sakit dari apa yang dia rasakan saat ini, dari pada kata-kata yang dia dengar, dari ucapan wanita yang telah meneleponnya beberapa waktu lalu. " Aku Maria, istrinya mas Herman. "
Dengan lembut dia membelai kepala Lika yang duduk di sampingnya. Lika merasa ada keanehan pada bundanya. Ingin bertanya, tapi takut mengganggunya. Dan akan membuat bundanya makin gelisah dan sedih.
Tak sampai lima belas menit, mereka sudah sampai di rumah. Setelah membayar sejumlah uang yang tertulis di argo, mereka pun turun dari taxi.
"Terima kasih, Pak."
__ADS_1
"Sama-sama."
Taxi itupun berlalu dari pekarangan rumah mereka. Belum sempurna menghilang dari pandangan mereka, Zulfa sudah ingin berlari ke dalam kamarnya ....