KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Tuhan, Ijinkan Aku Melupakannya


__ADS_3

"Irwan Lika. Jangan ganggu bunda dulu. Bunda mau istirahat."


"Ya, Bunda ...."


"Kalau mau main, mainlah. Tapi jangan jauh-jauh. Ingat waktu sholat."


"Asyiiiii ... baik Bunda. Bunda istirahat saja. Biar cepat sembuh."


Dengan setengah berlari, Zulfa menuju ke kamarnya. Untunglah Halimah tak ada di rumah, dia berada di rumah Rahmi Indah Sulistyawati, adik Mas Herman yang kedua. Sehingga tak ada orang yang mengetahui kepedihan yang kini dia rasakan.


Setelah sampai di dalam kamarnya, ditutuplah pintu itu dengan berlahan. Dengan masih berpegangan pada ganggan pintu kamar, di kembali menumpahkan kepedihannya yang menyesakkkan dada, dalam tangisan tanpa suara.


Haruskah aku selidiki dulu, siapa itu Maria. Dan dimanakah mas Herman. Agar semua menjadi jelas. Belum tentu juga, Maria benar istrinya mas Herman. Mungkin saja dia hanya wanita penggoda, yang ingin merusak keluargaku. Dan belum juga suara itu suaranya mas Herman ....


Pikiran Zulfa melayang-layang. Terbayang akan peristiwa-peristiwa masa lalu. Yang menimpa keluarganya, manisnya awal pernikahan, kebiasaan Herman sampai harus pergi dari rumah. Hingga akhirnya dia pergi mengambil air wudhu.


Aku senantiasa berdoa, dengan kepergiannya akan mengembalikan diri mas Herman yang baik. Dan dapat mengobati kesedihan putra-putriku akan sosok ayah yang bisa dijadikan panutan dan pengayom keluarga. Bukan ayah yang sibuk dengan dirinya sendiri.


Tapi jika itu benar ... Aku tak mengira akan sesakit ini. Sakit sekali ya Allah .... Aku hanya bisa bersandar pada-Mu akan hal itu. Engkau mengangkat derajat seseorang atau merendahkan derajat seseorang, adalah sebaik-baik ketentuan yang Engkau gariskan pada hamba yang percaya akan-Mu. Ijinkan diriku untuk bisa melupakannya ... hingga kebaikan itu datang ....


Zulfa tengkurap dalam tangisnya, mengungkap semua beban yang dirasanya hingga tak sadar membawanya ke alam mimpi. di atas sajadah kini dia berada, dengan masih menggunakan mukena. Sejenak terlupa apa yang kini dirasa, angannya melayang dalam indahnya mimpi kenangan, hingga pulas. Mengistirahatkan pikir dan raganya dengan sempurna. Itulah tidur yang berkwalitas meski hanya sejenak.


Zulfa baru terbangun, manakala adzan dhuhur berkumandang dengan nyaring, dari masjid yang tak jauh dari rumahnya. Dan mendapati Lika dan Irwan berdiri di tengah pintu dengan wajah yang belum kering dari air wudhu. Dan juga telah berpakaian rapi seperti akan pergi ke masjid.


"Lika Irwan, kalian sudah siap."


"Sejak tadi, Bunda. Lama bunda nggak keluar-keluar akhirnya kami masuk."


"Ya ... Nggak apa-apa." Zulfa bangkit dari duduknya, segera menuju kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama kemudian diapun sudah kembali menjumpai putra-putrinya, yang menunggunya dengan sabar.


"Nenek dimana?"


"Belum pulang."


"Ya sudah, ayo berangkat."

__ADS_1


Dengan patuh, mereka mengikuti langkah bundanya menuju ke masjid untuk berjamaah.


Dalam langkahnya, Zulfa mencoba merenung, tentang yang menimpanya saat ini. Biarlah ini menjadi rahasianya dengan pemilik catatan segala amal. Tak perlu orang lain tahu, baik mama Halimah maupun Irwan dan Lika. Biarlah kerinduan mereka terpatri sebagai kerinduan semata. Janganlah terkotori oleh sesuatu yang pasti membuat mereka terluka, andai itu nyata adanya.


Tuhan, terlepas berita itu benar atau salah. Demi mereka, ijinkan aku untuk melupakannya. Sekali lagi ungkapan itu dia nyatakan dengan penuh keyakinan agar tertpatri dalam dada.


Kini Zulfa sadar, untuk tidak terlalu berharap Herman kembali, karena itulah yang terbaik. Beruntung dia sudah memiliki usaha yang bisa dibilang cukup berhasil, meski tidak besar. Hingga dapat memberikan pendidikan yang terbaik untuk putra-putrinya. Sampai ke tingkat yang mereka kehendaki. Lika sudah kuliah, sedangkan Irwan sudah menjadi pengusaha tanpa mengabaikan cita-citanya. Ya ... sambil menempuh S2. Kalau bisa S3, gitu kata Irwan.


💎


Maria ... Oh Maria. Dimana nasibmu sekarang.


Bayangan pernikahan penuh keindahan, harus dia kubur dalam-dalam. Kedatangan papa dan kakaknya di hadapan penghulu adalah akhir dari hubungan mereka sebagai keluarga. Dia tak menyadari, dengan keputusan untuk berpindah keyakinan akan sedalam itu akibatnya.


Kalau tak salah, hari itu hari jum'at. Hari dimana mas Herman akan mempersunting dirinya untuk dijadikan pasangan halalnya. Pagi-pagi buta mereka berdua mempersiapkan diri. Apalagi perias juga sudah datang. Dengan kebahagiaan yang senantiasa terpancar dari wajahnya, Maria duduk manis di depan meja rias. Mempersiapkan diri secantik mungkin di hari bahagianya, yang selama ini dia nantikan.


Herman yang menyaksikan Maria yang begitu heboh sejak bangun tidur, dibuat senyum-senyum sendiri. Sesekali dia berdiri di pintu kamar Maria, melihatnya merias diri. Aura kencantikannya semakin sempurna terlihat, apalagi saat memakai baju pengantin yang sudah mereka pesan beberapa waktu lalu. Dia semakin terlihat mempesona.


"Mas ... Kenapa masih berdiri di situ. Mas nggak siap-siap?"


"Sebentar, aku belum puas memandangmu Sayang." kata-kata yang membuat angan Maria melambung.


"Baiklah ...." jawabnya. Tapi langkahnya menuju ke arah Maria. Yang berdiri mengenakan baju pengantinnya. Lalu memeluknya dari belakang.


"Mas, bau ....mandi dulu."


"Ya, setelah ...." satu ciuman di pipi dia daratkan sebelum berlalu pergi.


"Ich ... jorok, belum mandi." Dia tertawa senang, bisa menggoda maria sepagi ini.


"Mas, jangan lama-lama."


"Kamu sudah tak sabar ya ...."


"Itu, sepertinya papa sudah datang." teriak Maria.

__ADS_1


Kemarin, kak Edzel dan papa memastikan untuk hadir. Dan tadi malam mereka sudah telpon, kalau kini mereka sudah di hotel, terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka. Syukurlah .... dia amat takut kalau-kalau papanya tak datang. Siapa yang akan diminta restu untuk pernikahannya. Bukankah pernikahan itu sekali seumur hidup, itu yang dia tahu.


Tak mau ketahuan kalau dia belum siap. Buru-buru Herman menyelesaikan mandinya. Lalu balik ke kamarnya, memakai stelan jas yang sudah dia persiapkan. Lalu menuju ke ruang tamu, menyambut calon mertuanya.


"Mana?" celinguan Herman mencari mereka.


"Bukan ya ...." jawab Maria enteng.


Rupany Maria salah sangka. Ternyata bunyi yang baru saja melintas, itu adalah mobil tetangga. Bukan milik papanya yang sudah dinanti-nanti. Hampir semua tetangga memiliki mobil. Maklum kawasan elit. Jadi kalau salah menebak, bolehlah ....


Untunglah, tak lama kemudian mobil yang sebenarnya tiba.


"Papa ...." sambut Herman.


"Jangan sebut aku papamu." Herman diam seketika.


"Mana putriku?"


"Masih siap-siap, Pa."


Alfa, papanya Maria melotot. Mengapa calon menantunya begitu berani dengan tetap memanggilnya papa. Tak lama kemudian Maria keluar, dengan riasan yang sempurna dan senyum ng senantiasa menghias bibirnya.


"Papa, makasih. Akhirnya keinginan Maria terwujud."


"Kamu yakin dengan pilihanmu, putriku. Tak akan menyesal apapun yang terrjadi?"


"Aku mencintainya, Pa. Rasanya aku tak bisa hidup tanpanya."


"Ya sudah. Papa percaya kamu."


"Terima kasih, Pa."


"Siap berangkat."


Maria mengangguk. Lalu Alfa menggandeng putrinya menuju mobilnya. Meninggalkan Herman yang masih berdiri terpaku.

__ADS_1


"Kamu, naik mobilmu sendiri." bisik Alfa saat melintasi Herman.


Segera Herman mengambil kunci dari kamarnya. Dia berlari menuju garasi, tempat mobilnya berada. Tak lama kemudian, dia sudah bisa mengikuti mobil Alfa yang melaju tenang menuju kantor catatan sipil.


__ADS_2