KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Terpuruk


__ADS_3

Memang agak ribet untuk mengatasi semua ini. Suami di rumah sakit. Sedang anak-anak masih kecil. Kalau menunggu suami, anak-anak sama siapa di rumah. Dititipkan tetangga, tak mungkin. Rata-rata, semua kerja. Pulang hanya menjelang malam. Bila dibawa ke rumah sakit, tak dibolehkan. Kalau mas Herman yang dirawat di rumah, nggak dapat tunjangan dari perusahaan. Tapi bagaimana lagi. Sepertinya opsi itu yang paling mungkin dilaksanakan.


"Maria, mengapa kita masih di sini?"


"Bersabarlah, Mas. Tunggu mas sembuh."


"Tapi, rasanya sudah tidak kerasan saja aku di sini. Nggak ada kamu, nggak ada anak-anak."


"Iya, Mas. Besok akan ku usahakan."


Tiga hari bolak-balik rumah sakit dan rumah. Hari ini, Maria memberani diri untuk membawanya pulang, meski Herman belum sembuh benar. Pulang paksa, mau gimana lagi.


Setelah mengantarkan anak-anak ke sekolahnya. Seperti biasanya, Maria menuju ke rumah sakit. Tekadnya sudah bulat. Membawa Herman kembali ke rumah. Karena dua hari kemarin, dia belum berhasil membujuk petugas kesehatan, untuk bisa membawa Herman pulang.


"Ibu, bukankah masalah keuangan sudah ditanggung perusahaan. Mengapa di bawa pulang."


"Iya, dok. Mas Herman mintanya seperti itu."


"Ibu, kami tak bertanggung jawab lagi, kalau ada apa-apa dengan pak Herman."


"Tak apa, Dokter."


"Ya Sudah, kalau ibu bersikeras untuk membawa pak Herman pulang. Ini saya beri resep. Tolong diambil dulu obatnya di apotik."


Setelah mengurusai administrasi dan juga menebus obat-obat, dia kembali ke kamar Herman. Membereskan semua barang-barang Herman, memasukkan ke dalam tas yang sudah dia persiapan.


"Mas, aku ambil kursi roda dulu. Ya..."


"Ya ..." Herman mengangguk lemah. Dia menunggu dengan sabar.


Tak berapa lama, Maria telah kembali dengan sebuah kursi roda. Dengan sedikit bantuan, Herman duduk di kursi roda itu. Lalu Maria mendorong hingga ke tempat parkir, tempat mobil itu berada.


Berlahan-lahan Maria memindahkan Herman ke kursi depan. Sebelum mengembalikan kursi roda ke tempatnya.


Kali ini Maria mengemudikan mobil mereka menuju rumah. Sedangkan Herman duduk di sebelahnya. Dia menyandar kepala dan memejamkan mata. Sesekali terdengar nafasnya yang teramat lembut dan panjang. Bertanda kesehatannya masih mengkhawatirkan.


"Akhirnya sampai juga kita di rumah." kata Herman begitu mobil mereka memasuki gerbang rumah.


Kini Maria bisa merawat Herman dan juga mengawasi Mutia dan Aldo. Tetapi sayang, semakin hari kesehatan Herman tidak juga membaik, tetapi semakin menurun. Sedangkan keuangan Maria juga mulai sulit. Memang ada sedikit tunjangan dari perusahaan dulu. Tapi itu jauh dari cukup.


"Mas, aku jual saja mobilnya. Kita sudah tak punya uang lagi untuk satu minggu ke dapan."


"Untuk ngantar anak-anak sekolah gimana?"


Maria terdiam. Tapi dia sudah tak punya uang lagi untuk makan buat besok dan besoknya. Apalagi ini sudah lebih dari tiga bulan Herman sakit. Tak mungkin perusahaan akan memberikan tunjangan terus menerus.

__ADS_1


"Biar naik angkot saja mas."


"Kalau itu menurutmu lebih baik, nggak apa-apa."


"Terima kasih, Mas."


"Maafkan aku. Nggak bisa memenuhi kebutuhan kalian lagi."


Pernah, ada kepikiran untuk meminta bantuan papa dan kakaknya, tapi nomornya sudah benar-benar di blokir oleh mereka. Akhirnya dia hanya mampu berpasrah. Apalagi terkadang Herman sering mengucapkan kata-kata keputus-asaan. Itu semua membuatnya semakin kalut.


"Maria, kalau aku mati. Jangan beri tahu keluargaku. Entahlah mau kamu kubur dimana badan ini."


"Mas, jangan berkata seperti itu. Mungkin sebaiknya mas meminta maaf sekarang. Siapa tahu keluarga mas memafkan."


"Tidak. Lebih baik mereka tidak tahu sama sekali. Kamu buang saja tubuh ini."


"Mas, kok ngomong seperti itu. "


Maria menghentikan menyuapi Herman, tampak memikirkan sesuatu. Dia tahu betul bahwa selama ini Herman tak pernah sekalipun melakukan sembahyang. Tapi untuk mengingatkannya, dia tidak punya keberanian. Karena dirinya juga nggak pernah melakukan. Karena memang tidak tahu.


"Mengapa berhenti Maria?"


"Tidak."


"Katakan saja. Atau kamu berpisah dari aku?"


Dia melanjutkan untuk menyuapi Herman kembali.


"Bukan itu ... Maaf Mas .... Mengapa mas nggak pernah sembahyang?"


Seketika Herman menghentikan sendok yang berisi nasi yang hampir sampai ke mulutnya. Dia diam dan merenung. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa istrinya yang notabene dari non muslim akan mengingatkan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu sholat.


"Ya, mas akan melakukannya. Tapi baimana caranya, sekarang mas lagi sakit. Nanti saja kalau sembuh."


"Setidaknya mas berdoa, dari pada tidak sama sekali."


Maksud hati memberi saran, tapi tanggapan Herman berbeda.


"Sekarang sudah pinter ya ...." dengan intonasi yang bikin Maria diam seketika. Tak sangka kata-katanya akan membuatnya marah. Keduanya diam hingga Maria selesai menyuapinya.


Satu yang masih dalam pikiran Maria. Tak mungkin dia akan membiarkan suaminya putus asa seperti ini. Dia akan mencoba menghubungi kelurga Herman, meminta maaf terutama Zulfa. Siapa tahu dapat membantu meningkatkan keinginannya untuk sembuh.


Apalagi saat ini, ekonominya benar-benar terguncang. Siapa lagi yang bisa dihubungi kecuali keluarga mas Herman. Yang dia tahu, adik-adik mas Herman cukup berada juga. Untuk bekerja, dia tak punya ketrampilan apa-apa. Apalagi hanya lulusan SMA.


💎

__ADS_1


"Mama, aku pergi dulu."


"Mau kemana kamu Zulfa?"


"Sekolah Lika."


"Pergilah ...."


Terlihat Lika keluar dari kamarnya, dengan busana yang tak seperti biasanya dan juga polesan make up yang membuat wajahnya makin bersinar.


"Lha cucu nenek, kok cantik kali. Mau acara apa?"


"Acara perpisahan sekaligus wisuda Nek."


"Ya sudah, pergilah. Hati-hati di jalan."


Tak lama terdengar bunyi klakson.


"Kak Irwan ini mesti tak sabaran."


"Kamunya lama kalau dandan."


"Assalamu'alaikum Ma/ Nek ...." kata Zulfa dan Lika hampir bersamaan.


"Wa alaikum salam ...."


Mereka keluar dengan segera, menghampiri Irwan yang sedang duduk di berlakang kemudi.


"Ayo, cepat. Kakak ada rapat pagi ini."


"Haaalllaaah ... sok sibuk. Mentang-mentang jadi direktur."


Irwan tersenyum simpul menanggapi lederkan adiknya. Gimana nggak jadi derektur, lha memang perusahaanya sendiri, yang dia rintis sejak lulus dari SMA. Bakat bisnis yang diturunkan dari ayah dan bundanya, sangat kuat. Sehingga usaha yang mulanya hanya sekedar hobby dan mengisi waktu luang, kini sudah bisa eksport ke beberapa di Asia. Ini juga berkan bimbingan dari ayah sahabatnya.


"Kalau tak disiplin, mana bisa maju."


"Ya ... ya .... Kalau gitu ...." Lika mengulurkan telapak tangannya yang terbuka.


"Apa ...."


"Ya ... kakak."


Dia mengeluarkan kertas biru dari dalam dompetnya. Dan memberikannya pada Lika.


"Jangan manjakan adikmu." tegur Zulfa.

__ADS_1


"Ya Bunda, nggak setiap hari juga." protes Lika. Maklumlah di tiap harinya, Zulfa selalu memberinya dua puluh ribu untuk uang saku. Mau tak mau, Lika harus benar-benar berhemat. Nach ... kalau kakaknya ada, bisa nich dimintai tambahan ....


__ADS_2