
Hasan yang menyaksikan itu dibuatnya iri. Andaikan dia yang berada di posisi itu. Huaalaah .... halu ....
Kali ini dia hanya mampu memandang dengan senyuman dan melanjutkan makan, sambil menahan tawa. Hampir- hampi saja tersedak dech.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." segera saja Hasan mengambil gelasnya. Untuk menghentikan batuk yang datang tiba-tiba.
Gini yang bikin Zulfa malu. Dia berusaha menyembunyikan dengan makan sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa mesti malu, Zulfa. Aku suka sikap kamu sama anak-anak. Hangat ...." pujian yang tulus tapi bikin Zulfa tambah malu. Untungnya segera bisa menguasai diri.
"Terima kasih. Sekarang boleh aku makan dengan tenang."
"Silahkan." sambil menahan tawa.
Mereka menikmati makan masing-masing dengan diam. Hanya sekali-kali Tia berbicara, bermanja-manja pada Zulfa. Zulfa kadang menghiraukan, kadang membiarkan untuk mengatasinya sendiri.
Kini semua telah menghabiskan apa yang tersaji. Perut kenyang, kantuk pun datang (khusus untuk Irwan, maklum dia masih lelah) Sebentar, belum sholat isya.
"Terima kasih, makan malamnya, Hasan."
Hasan pun mengangguk. Bersama mereka beranjak dari joglo itu menuju parkiran.
"Langsung pulang?"
"Iya, kasihan Irwan. Biar segera istirahat."
"Ya sudah, aku juga mau balik ke kantor."
"Kalian tinggal di mana?"
"Mension firdaus." jawab Irwan sambil menyerahkan kartu namanya.
Sekilas Hasan membaca kartu yang diberikan Irwan. Dia tersenyum bangga.
"Hebat kamu, Irwan. Jangan lupakan bundamu dan yang di atas."
"Insyaallah, Pak."
"Silahkan mampir, Pak. Saya senang kalau bapak bisa datang."
"Boleh, kapan-kapan. Oh ya kita bisa panjat gunung lagi kan .... Gimana?"
"Boleh, Pak. Lama Irwan nggak petualang."
"Oke ...."
"Assalamualaikum ...."
"Wa Alaikum salam ...." jawab Hasan sebelum dirinya memasuki mobilnya.
Setelah Irwan meninggalkan tempat itu, diapun mengikutinya menuju jalanan, untuk kembali ke kantor.
π
Esok paginya, Herman kembali ke kantor kepolisian. Menanda tangani berita acara penuntutan atas Maria, istri keduanya. Yang kini sudah ditalaknya juga.
Nyesek juga rasanya, harus menuntut pada orang yang harusnya bisa dia lindungani. Tapi itu tak adil buat mamanya dan juga ke dua anaknya. Dan mungkin untuk dirinya juga.
Tapi akhirnya ditandatanganinya juga berkas itu. Meski dengan tuntutan yang berbeda. Agar tak terlalu lama dalam penjara. Cukuplah hukuman itu membuatnya jera.
Dan kasihan papa Alfa juga. Harus hidup sendiri di masa tuanya
Sebelum pulang, dia menjenguk Maria terlebih dahulu.
"Maria, sejak kapan kamu berhubungan sama Bobby."
Lama Maria terdiam. Yang membuat Herman berulang kali mengambil nafas panjang.
"Apa karena Bobby juga, kamu membawa pergi surat-surat penting mama."
Maria diam membisu, tertunduk. Tak lama terdengar isak tangisnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas. Aku pingin kembali pada papa. Tapi aku tahu, kalau papa nggak suka Mas."
"Kamu menyesal menikah denganku."
"Pikirkan ku gelap Mas."
"Tapi tak harus berhubungan dengan Bobby, kan?!"
"Aku tak tahu harus bagaimana."
"Sudahlah, ini ada beberapa buku yang bisa kamu pelajari. Nanti kalau nggak faham. Bisa tanya ke orang sini. Insya Allah sedikit banyak mereka mengerti."
"Terima kasih, Mas. Bagaimana anak-anak."
"Anak-anak sehat. Aldo sama aku. Tia nggak mau pulang. Dia ikut Zulfa."
"Aku bunda yang buruk buat mereka."
"Aku harap dengan ini kami akan berubah."
"Bolehkah aku titip salam untuk mereka."
"Boleh. Moga-moga aku nggak lupa menyampaikannya."
"Terima kasih, Mas."
"Alhamdulillah, aku sama papa sekarang baikan."
"Aku menyesal, melakukan ini sama mas."
"Apa mas akan menungguku?"
"Apakah surat itu belum kamu terima?"
" Sudah."
"Apa yang kamu pingin tanyakan lagi?"
"Aku manusia biasa. Mas coba memaafkan dirimu. Karena ada anak-anak di antara kita. Tapi aku punya keterbatasan juga."
"Baiklah, terima kasih mas telah menerimaku selama ini."
"Apakah kamu bisa memaafkan mas juga."
"Aku yang salah, Mas."
"Sudah. Aku pulang dulu."
"Terima kasih, mau jenguk aku."
"Assalamualaikum ...."
"Wa Alaikum salam ...."
Herman beranjak dari hadapan Maria. Meninggalkan ruangan itu dengan dada yang makin sesak.
Bagaimana tidak, ternyata selama iniΨ Maria diperdaya oleh Bobby. Itu yang dikatakan Alfa padanya kemarin.
Semula dia menyangka kalau hanya berurusan dengan Maria saja. Yang sekarang sudah tertangkap. Tapi dibalik itu semua ternyata ada Bobby, yang diketahui orang yang sangat kejam.
Tak tahu dirinya harus menghadapinya bagaimana. Kalau seandainya Bobby mengusik kehidupannya. Atau kehidupan orang-orang yang disayanginya.
Herman hanya berharap, semoga itu tidak akan pernah terjadi.
Di halaman, dia berpapasan dengan Hasan.
"Hai , suntuk amat?"
"Habis jenguk."
"Maria?"
__ADS_1
"Iya."
"Aku pergi dulu."
"Ya."
Herman pun berjalan berlainan arah dengan Hasan, menuju parkiran dan menjalankan motornya meninggalkan kompleks kantor kepolisian.
Herman, Herman .... istri dua. Tapi tak seorangpun dapat dipertahankan. Ironi bukan? ...
Meski keluar dari kepolisian dengan wajah lesu, tapi tak demikian sewaktu tiba di angkringannya. Dia sambut dengan senyuman para pelanggan yang berdatangan.
Alhasil, bisa kirim uang untuk Lika dan menyekolahkan Aldo. Serta biaya hidup bersama mama dan juga putranya. Sedikit nabung, untuk beli rumah. Agar Tia bisa diajak tinggal bersamanya.
π
"Ayah, aku kangen sama adik dan juga bunda Zulfa. Antarkan aku ke sana, Yah." kata Aldo dengan manjanya, sepulang dari mengaji di sore itu.
"Baiklah, siap-siaplah dulu. Nanti ayah antar."
Tak perlu waktu lama, Aldo sudah kembali dengan menenteng tas ranselnya yang penuh berisi.
"Sudah, Yah."
"Sudah pamit nenek?"
"Sudah."
"Ma, aku berangkat dulu."
"Ya, pergilah. Salam untuk Zuifa, ya ...."
"Insyaallah, Ma. Assalamualaikum ...."
"Wa Alaikum salam ...."
Herman segera memakai helm. Demikian juga dengan Aldo. Lalu menaiki motornya berboncengan, meninggalkan kediamannya menuju ....
Ah mengapa setiap mengingatnya. Rasa bersalah ini selalu mengikatku. Karena dirimu belum memaafkan ku. Ataukah tidak akan pernah memaafkanku.
Biarlah rindu ini
Aku alunkan pada Sang Pemberi
Hingga harapan ini
Dapat terwujud suatu hari nanti
Angan melayang. Untuk nya tak salah jalan. Akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.
Tak sangka di sana sudah ada mobil hitam. Itu bukan mobil Irwan. Peduli amat, tapi hati was-was juga. Jangan-jangan ...
"Om Hasan, Makasih pewarnanya." terdengar celoteh Mutia.
Ternyata oh ternyata, kamu ... lagi. Touch orang, kok ada aja sih .... Herman menggerutu.
Mikiran Zulfa, tapi lupa Mutia. Kemarin kalah dari Alfa. Sekarang kalah lagi dari Hasan. Sudah terlanjur, masuk aja ....
Untunglah dia ingat sesuatu. Kemarin waktu belikan Aldo peralatan sekolah, ada membelikan bando untuk Mutia. Dia balik lagi motornya.
Dia buka jok motornya. Alhamdulillah .... benda itu masih di sana. Sebuah bando kecil, berhiaskan kupu-kupu, berwarna pink. Masih rapi tersimpan.
Tenang ... meski di depan, ada ... ich, saingan.
"Eh. Ayo masuk."ajak Zulfa.
"Nggak usah, aku mau nikmati sore di luar saja." jawab Hasan
"Ya sudah. Aku tinggal bentar."
Kenapa juga diriku tak terlihat oleh Zulfa ....
__ADS_1