
Irwan terus mengikuti wanita itu. Dia ditemani oleh seorang lelaki, entah pengawal atau kah kekasih, Irwan tak ambil pusing. Yang ingin dia ketahui adalah tentang keberadaan Mutia, apakah sekarang masih di tangan Maria atau tidak.
Urusan Maria gimana-gimana, itu nomor dua.
Ternyata mereka menuju ke sebuah restoran, yang ada di sekitar bandara, dan tak begitu ramai. Mereka duduk di pojokan. Agak menyendiri dari yang lainnya. Irwan mencoba mencari tempat duduk, tak jauh dari wanita itu berada. Agar bisa mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Maria ..."
"Jangan panggil Maria. Itu hanya mengingatkan pada kebodohanku."
"Oke, Martiyas .... Tapi aku lebih suka panggil kamu 'beb', bagaimana?"
"Terserah kamu Bob."
" Apa rencanamu saat ini?"
"Tak tahulah, Bob. Aku ingin kembali ke papa. Tapi aku takut, papa nggak mau menerimaku."
"Kita coba. Biar kutemeni kamu."
"Kamu sudah pegang suratnya."
"Sudah."
"Sudah saatnya si Herman itu hancur, sehancur-hancurnya. Kalau perlu bini dan anak-anaknya juga. Karena sudah berani mengambil kamu dari aku."
Seketika Irwan dibuatnya terkejut, dengan ancaman laki-laki itu untuk keluarganya. Yang tak ada hubungannya dengan dendam mereka. Tapi kok bisa mereka menumpahkan dendam itu pada mereka.
Sebenarnya Maria itu siapa sich, sampai bisa merayu seorang pria untuk menghancurkan keluargaku, guman Irwan.
Nggak bisa dibiarkan, aku harus hubungi teman-teman.
"Tapi, jangan kau sakiti Tia Aldo. Bagaimanapun mereka darah dagingku."
"Ku kira kamu sudah melupakan mereka." tampak wajah laki-laki itu sedikit kecewa.
"Kumohon untuk urusan Aldo dan Tia jangan kau libatkan, kalau kamu sayang ke aku."
"Oke, akan aku turuti kemauanmu. Tapi jangan sekali-kali kamu lari dari aku lagi."
"Ku rasa tak mungkin. Dan terima kasih atas bantuanmu selama ini."
"Kita lanjutkan rencana kita. Baru kita laksanakan apa yang jadi keinginan kita."
"Aku terserah kamu saja."
Irwan yang mendengar itu, agak bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi yang pasti, Tia sudah tak berada di tangan Maria. Lalu di manakah dia ....
__ADS_1
Dia tak mengira, ayahnya menikahi wanita seperti ini. Bahkan tidak hanya itu, mereka sepertinya merencakan sesuatu. Gerangan kesalahan apa, hingga mereka begitu marah pada keluarganya. Ingin saat itu juga, dia langsung melabrak yang namanya Maria. Tapi diurungkannya, saat Maria kembali bicara ...
"Bob, aku ingin ketemu Tia ...."
"Aku ngerti. Kapan-kapan aja. Kita sekarang ke rumah papa Alfa dulu." jawab Boby dengan wajah yang menampakkan kekecewaan.
"Baiklah."
Mereka diam, saat pesanan mereka datang. Dan tidak lagi berkata-kata, hanya sesekali terdengar sendok garbu yang berdenting, menyentuh piring.
"Keterlaluan sekali kalian. Tak kan kubiarkan kalian menyakiti keluargaku." bisiknya lirih.
Irwan masih menunggu mereka hingga selesai. Sambil menikmati pesanannya juga. Beberapa panggilan dari Lika, dia rejeck, dia membalas wa-nya saja. Dia minta untuk ditinggal saja. Nanti akan kembali ke hotel sendiri. Tapi tetap Lika tidak mau. Dia merasa khawatir. Dia menginginkan Irwan segera kembali.
Untunglah tak lama kemudian, Maria dan laki-laki itu keluar dari restoran, tanpa menyadari ada Irwan di samping mereka. Setelah memastikan aman, dia pun beranjak dari tempat duduknya. Segera kembali ke parkiran. Tempat rombongan berkumpul, menunggunya.
Sebagian menikmati makanan kecil yang mereka beli. Namun terrnyata masih ada satu dua orang yang tak tampak, paling-paling memenuhi panggilan alam. Irwan berjalan ke arah mereka dengan tenang. Bikin Lika gemes saja.
Lika segera melambaikan tangan, "Lama banget, sich."
"Maaf. Ini tadi sakit banget. Tapi sekarang sudah nggak lagi. Lega rasanya ..." kata Irwan sambil memegang perutnya. Halah, bikin Irwan ketawa sendiri.
"Ditunggu rombongan tahu."
"Ya ... ya, maaf."
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya berangkat juga bis mereka ke tempat tujuan.
Tapi demi Zulfa, Lika dan Mutia. Dia harus bisa menyingkirkan egonya. Untuk mencegah sesutu terjadi pada orang-orang yang dia sayangi. Andai saat kejadian, dirinya ada di sana. Mungkin kejadian itu dapat dicegahnya. Astaghfirullah al adzim, maafkan diriku Tuhan ....
Dia pun meminjam hp Lika. Karena hanya Lika-lah yang menyimpan nomor ayahnya.
"Kakak pinjam hp-mu, Dik."
"Hp kakak sendiri, napa?"
"Sudah, mana hp-mu. Nanti aku kasih bonus." kata Irwan sedikit merayu.
"Ya, dech. Nich." sambil memberikan hp-nya.
"Makasih."
Irwan menerimanya. Tanpa berfikir panjang lagi, dirinya segera mencari dan menghubungi orang yang dicarinya.
"Assalamu'alaikum ..., ada apa Lika. Kok pagi-pagi hubungi ayah." Rupanya Herman menyangka Lika yang menghubunginya.
"Wa alaikum salam ..., maaf Yah. Aku Irwan."
__ADS_1
"Alhamdulillah .... Kamu Wan. Ayah kangen sekali. Bagaimana kabar semua?"
"Alhamdulillah, baik Yah." jawab Irwan singkat.
"Ada apa?"
"Irwan bisa ketemu ayah."
"Sangat bisa, Nak."
"Terima kasih, Yah. Tapi kalau bisa jangan di rumah nenek."
"Oke, di angkringan ayah. Gimana?"
"Baik. Nanti Irwan hubungi lagi. Assalamu'alaikum wr. wb."
"Wa alaikum salam ..."
Tak terkira bahagianya hati Herman, dihubungi anak laki-laki nya. Sejak kejadian itu, tak pernah sekalipun Herman berjumpa dengan Irwan. Apalagi bisa berbincang-bincang. Meski dia masih bertanya-tanya. Ada apa gerangan, sampai-sampai sepagi ini menghubunginya.
Setelah selesai dengan urusannya, Irwan mengembalikan hp Itu pada adiknya.
"Nich, makasih."
"Hubungi ayah, ya ...."
"Ya ..." jawab Irwan tanpa ragu.
"Sudah damai nich." kata Lika menggoda.
"Tak tahu lah. Urusan pria, cewek nggak boleh tahu." jawab Irwan cuwek.
Obrolan mereka berakhir, manakala bis sudah berhenti di sebuah hotel. Tempat pemberhentian sementara, sebelum pulang ke daerah masing-masing.
💎
Sekarang, semua sudah selesai bersih diri dan menikmati serapan pagi. Saatnya berpisah dari rombongan yang akan menuju ke Ngawi. Dan seperti biasa, acara ibu-ibu, cipika-cipiki terlebih dahulu. Tak terkecuali bunda Redha dan bunda Zulfa. Entah apa yang mereka omongkan kelihatan serius banget.
"Jangan lupa datang lho, Bun. Siapa tahu kita nanti jadi keluarga." ucapnya tanpa malu-malu.
"Bunda Redha ini ada-ada saja. Saya belum kepikiran masalah itu. Fokus sama anak-anak."
"Anak-anak sudah pada gedhe kan?"
Zulfa hanya tersenyum simpul, mendapat ledekan dari teman umrohnya ini. Supel dan teman yang menyenangkan, tapi ada-ada saja idenya. Yang bikin Zulfa agak gimana gitu lho ....
Gemes ....
__ADS_1
Setelah cukup acara perpisahannya, mereka kembali ke bis, menuju ke daerah masing-masing. Tapi ada juga yang langsung ke kendaraan pribadi. Yang sudah menunggu mereka di parkiran hotel.
Demikian juga Irwan, dia memesan taxi on line saja, kembali rumahnya. Agar bisa segera sampai. Karena ada suatu urusan yang harus dia selesaikan. Dari pada harus mampir-mampir lagi. Dan juga harus perputar menuju rumahnya.