
Kembali Halimah diam membisu, malas berbincang-bincang lagi. Tapi Herman masih setia menemani mama yang belum mau masuk rumah.
"Baimanapun ini kenyataannya. Lambat laun Zulfa akan pergi. Dicegah pun percuma. Hati wanita mana yang tak teriris. Melihat suaminya membawa wanita ke rumah. Itu kamu lakukan. "
"Dulu, dia ... ah mama nggak bisa cerita .... Herman, kamu pasti menyesal mendengarnya. " ada sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Membuat Herman penasaran.
"Jangan katakan, kalau Zulfa ada yang mendekati, Mama."
"Menurutmu, apa dia termasuk wanita yang gampang didekai, Herman. Dia selalu menjaga kesetiannya padamu. Meski dia tahu kamu menghianatinya."
"Mama, jangan katakan itu lagi. Hatiku sedih."
"Syukur, kalau kamu masih punya rasa."
"Mama, ayo masuk."
Halimah masih malas, bahkan dia melanjutkan ceritanya.
"Kamu tahu Habibi?"
"Teman SD Herman dulu."
"Benar. Dia menginginkan Zulfa sudah lama.Bahkan gigih ingin merebut Zulfa darimu."
"Bukankah, dia sudah menikah?"
"Istrinya meninggal saat melahirkan."
"Lagian, apa hak kamu. Toh dia sudah kamu abaikan. Apalagi sekarang, Zulfa benar-benar telah lepas dari kamu."
"Tidak, Ma. Herman masih selalu memikirkan."
"Memikirkan saja.Tanpa berbuat sesuatu. Kabar tak ada, apalagi kirim uang. Meskipun Zulfa bisa mencukupi dirinya sendiri, itu tak menggugurkan kewajibanmu sebagai seorang suami. Tapi kamu tak peduli, kan. Bahkan kamu berani datang dengan Maria dengan tanpa dosa."
Herman diam seketika.
Kini tergambar jelas dalam ingatannya, kisah-kisah perjalanan pernikahannya dengan Zulfa. Dari sejak awal hingga berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan. Semua berawal dari kebiasaannya yang tak bisa lagi diperbaiki, hingga dirinya harus pergi.
Mama, Zulfa ... semua ingin dirinya kembali dengan membawa diri yang baru. Menghilangkan kebiasaan buruknya, dan menyayangi diri serta keluarga. Tapi apa ... Dia kembali dengan membawa tubuh yang sakit, beserta sesuatu yang tak pernah keluarga besarnya harapkan.
__ADS_1
Beruntung mereka masih mau menerima, hingga dirinya berlahan-lahan sembuh. Apa yang tidak terlalu berlebih, bila sekarang dirinya menginginkan Zulfa dan anak-anaknya. Yang selama ini dikhianatinya. Mungkin untuk kata maaf bisa diberikan. Tapi sakit yang tertoreh mendalam, perlu waktu untuk sembuh. Entah kapan luka itu benar-benar tertutup ....
"Mama, bisakah Herman ...."
Rasanya, kata-kata itu sulit terucap. Manakala dada telah penuh sesak dengan penyesalan.
"Mama sendiri juga tak tahu ... Hanya saja, sampai saat ini mama juga masih berharap Zulfa kembali ke rumah ini lagi."
"Berarti tak salah kalau Herman juga menginginkan kembali ..."
"Stop .... Kamu tak pantas untuk sekedar berkhayal tentang Zulfa. Apalagi berharap bersamanya lagi. Ini hanya untuk mama ...."
"Maksud Mama?"
Halimah diam. Untuk mengungkap sepertinya berat. Beberapa kali mengmbil nafas pnjang, lalu membuangnya berlahan. Yang terkadang diselingi dengan mata terpejam. Sesuatu yang telah disimpannya semenjak Herman datang, tapi berat dia ungkapkan.
Tapi ... mungking saat ini adalah waktu yang tepat. Herman sudah sembuh, anak-anaknya juga sehat, menyenangkan. Tak ada lagi alasan untuk mengatakannya. Sesaat dia mernatap Herman. Ada rasa kasihan, tapi mau bagaimana lagi ....
"Kamu sekarang sudah sehat, carilah rumah untuk keluarga kecilmu saat ini."
"Apa mama mau mengusirku dan cucu-cucu mama juga."
Herman tertawa mendengar alasan yang diungkapkan mamanya. Terdengar aneh memang, tapi mungkin bisa jadi itu benar. Jadi tak ada salahnya kalau tak dituruti.
"Baiklah, Ma. Herman akan pergi."
"Makasih, Man. Kamu mau ngertiin mama."
"Asalkan mama bisa maaafkan Herman, Herman akan lakukan apapun permintaan mama. Cukup Zulfa yang pergi dari kehidupan Herman, tak mau aku kalau mama juga pergi. Ini juga rumah mama. Herman tak berhak memilikinya."
"Syukurlah, kalau kamu mengerti."
"Tapi Herman harap, mama jug bisa menerima Meria sebagi mantu mama. Demikian juga Aldo dan Mutia."
"Kamu meragukan mama? .... Justru seharusnya, ini sudah mama katakan sejak kamu datang bersama Maria. Zulfa tersakiti memang, tapi tak serparah bila harus hidup bersama dengan Maria satu atap .... Ach, udahlah ...." kembali kesedian itu menyelimutinya.
"Nggak apa-apa, Ma. Herman yang nggak peka. Besok Herman akan cari rumah untuk keluarga Herman. Mungkin dengan itu juga Maria juga lebih bisa belajar."
"Amin ..."
__ADS_1
"Sekarang, ayo kita masuk." ajak Halimah yang sekarang lebih terlihat bahagia, dibanding saat dia datang."
Halimah beranjak dari duduknya. Melangkah dengan ringan, ke dalam rumah. Yang dikuti oleh Herman. Entah mengapa ingatan Halimah belum bisa lepas darti bayang-bayang Zulfa. Sambil berjalan dia bercerita tentang banyak hal terntang Zulfa.
"Papamu itu memang pintar memilih istri untukmu, meski dari keluarga sederthana, tapi dia memiliki sofat-sifat yang luar biasa. Tapi keserhanaanya itu yang membuatmu tergila-gila. Akhirnya justru kamu yang menyuruh papa mama, segera melamar. Aneh ya, Man."
"Ah mama, Herman jadi malu."
"Tak pernah sedikitpun mengeluh. Meski sering tidak kamu kasih uang belanja. Dia selalu mencukup-cukupkan, malah kadang dia dapat menabung juga."
"Jangan gitulah, Ma. Gini buat Herman berdosa dan tersiksa."
"Mungkin sholat ibadah, memang dia agak cerewet, itu juga demi kamu. Mama bisa merasakan kalau dia marah, melihat kamu pulang dari judi, mabuk. Tapi dia tetap tersenyum di hadapan Lika dan Irwan. Hebat dia ...."
"Iya Ma. Herman salah telah menyia-nyiakannya."
"Ah sudahlah. Belum juga sehari Zulfa pergi. Tapi kerinduan telah mengusiknya. Hingga tanpa sadar Halimah terus saja bercerita sampai di ruang tengah. Tanpa dia sadari ada sepasang telinga yang mendengar. Hingga membuatnya terbakar api cemburu.
Tanpa lagi memperdulikan Aldo dan juga mutia, setengah berlari menuju ke kamarnya. Lalu sesugukkan di atas bantal.
Wanita mana yang tak cemburu, mendengar suaminya menyebut wanita lain di depannya. Apalagi dengan wajah senang dan bahagia, tak pernah berhenti tersenyum.
" Maria ada apa?" tanya Herman yang menyusulnya, begitu melihat istrinya berlari ke dalam kamar.
"Mas, kenapa Zulfa selalu saja kamu sebut. Padahal dia telah pergi meninggalkanmu."
Herman tersenyum menderngar kata-kata itu. Rupanya dia cemburu. Baguslah ....
Tapi Herman tak begitu peduli. Membuat dada Maria semakin bergemuruh. Mengapa semua orang tak mau memperdulikan dirinya ....
"Anak-anak dan mama tunggu kau. Kita makan yuk!"
Maria segera mengusap air matanya. Mengikuti langkah Herman menuju meja makan. Disana telah menunggu mertuanya dan juga anak-anaknya. Dengan piring yang kosong, menunggu dirinya.
Baru setelah dia datang, merekapun mengambil nasi dan lauk pauknya. Keadaan masih tetap sunyi hingga acara makan malam ini selesai.
"Mama, ada pandangan rumah?"
"Cobalah cari sendiri. Atau bersama istrimu, itu lebih baik ..."
__ADS_1
"Sebentar. Apa mama mengusir saya? ....