
Saat di mobil, kulihat Ayah Shaffa termenung. Wajahnya muram tak bersemangat, menampakkan kalau sedang sedih. Bahkan sesekali terdengar nafasnya yang panjang. Seakan-akan menahan beban berat sehingga membuatnya sesak.
"Sebenarnya ada apa Bapak? bukankah Shaffa sudah setuju?"
Untuk beberapa saat Bapak Shafa terdiam, dan menundukkan kepala. lalu dia bergumam, "Justru karena setuju, membuat Bapak semakin merasa bersalah. Seandainya saat itu bapak mempercayai Shaffa, tentu Bapak tidak seberat ini menanggung beban." Tampak bulir-bulir bening keluar dari sudut matanya.
"Maksud Bapak apa?"tanyaku hati-hati. Sebenarnya aku senang dengan berita itu karena aku tidak usah bersusah payah lagi untuk mengungkapkan niatku yang ku pendam sejak berangkat. Tapi baiklah, aku dengarkan dulu cerita yang sesungguhnya.
"Bapak tadi ke rumah Heru tapi ternyata kosong. Kemudian Pak Hasan menelepon ke instansinya, ternyata di sana dia tidak masuk. Lalu dia mendapatkan informasi kalau Heru berada di sebuah hotel, kami pun menuju ke sana. Hm ... sebaiknya Nak Irwan tak perlu tahu. Itu tak pantas diceritakan." Ia mengambil nafas panjang, sebelum melanjutkan ceritanya. Meskipun demikian Irwan sudah mengerti apa maksud ayah Shaffa.
"Itu sangat menyakitkan sekali. Mengapa juga aku dulu percaya pada Heru, padahal Shaffa sudah mengatakan semuanya." Ia pun menunduk, raut mukanya semakin muram dan sendu, "Mengapa aku sadar, setelah semua persiapan sudah matang, Undangan juga sudah disebar. Sekarang, aku tak tahu harus bagaimana?"
Kurasa sudah saatnya mengungkapkan perasaanku. Sebelum semuanya terlambat. Bahkan sia-sia kalau tak segera ku katakan, apa yang menjadi tujuanku semula.
"Ngapunten Bapak. Sebenarnya saya ada keinginan untuk menjalin hubungan yang serius dengan putri Bapak?" Entah mendapat keberanian dari mana sampai dirinya bisa mengungkapkan semua. Kata-kata itu terasa ringan , meluncur dari bibir.
Ayah Shaffa terkejut. Ia pun menatap tajam, ingin memastikan kesungguhan dari kata-kata itu. Benarkah ataukah hanya main-main saja. Apalagi saat ini dirinya sedang terpuruk.
"Nak Irwan jangan permainkan Bapak."
"Benar, Pak. Ini tidak bohong." Tak perlu lagi diriku berbasa-basi,"Maafkan Irwan yang memang tak tahu cara mengungkapkannya. Saat ini bahkan tadi pagi, Irwan sudah punya rencana melamar Shaffa bukan karena Shaffa menolak Heru, tetapi sejak lama Irwan menyukainya, tapi Irwan masih ingin menyelesaikan pendidikan Irwan terlebih dahulu. Tak ingin berpacaran nanti terganggu. Alhamdulillah insya Allah 1 bulan lagi Irwan akan wisuda. Jadi saat inilah saat yang paling tepat untuk Irwan mencari pendamping hidup. apakah itu salah, Pak?"
Ayah Shaffa menganggukkan kepala beberapa kali, entah itu menunjukkan setuju, ataukah hanya menunjukkan berpikir, semua itu masih samar. Irwan tak perduli, dia sudah bertekad menginginkan Shaffa secara halal.
"Apakah Bapak masih ragu?"
Tak perlu berpikir terlalu lama Ayah Shaffa pun mengangguk sambil berkata, "Kalau memang menginginkan Shaffa kapan orang tua nak Irwan datang ke tempat Bapak?"
__ADS_1
"Kami sekeluarga sudah melihat, mendengar langsung apa yang menjadi problem Shaffa. Maka izinkan kami terutama saya, untuk menggantikan Heru pada saat pernikahannya."
"Terima kasih nak Heru. Tapi apakah Shaffa setuju?"
Irwan benar-benar bingung, dengan sikap Ayah Shaffa. Ini menjadikan dirinya bingung dengan apa yang akan dikatakannya.
"Bagaimana menurut Bapak?"
Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Ayah Shaffa? aku datang untuk menyelamatkan putrinya, tapi kok dibuat berbelit-belit begini, tak tahulah aku.
"Tak tahu lah nak Irwan. Bapak takut Shaffa akan menolak nak Irwan sebagaimana dulu telah menolak Heru."
"Kurasa semua ini tergantung pada Bapak. Karena ku perhatikan Shaffa termasuk anak yang berbakti, apalagi sama Bapak. Awalnya memang menolak, tapi pada akhirnya Shaffa mengikuti kemauan Bapak meski dia tidak suka.
"Baiklah kalau begitu, nanti bapak akan bicara sama Shaffa."
"Ya, Nak." Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Meski pada awalnya dia mengambil jalan yang salah, setidaknya kali ini dia mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya. Mungkinkah ini pertanda bahwa Allah Maha pengatur masih menyayangi dirinya dan keluarganya.
"Apakah dengan menahan Shaffa di tempat kalian itu termasuk rencana dari kalian?"
Irwan senyum-senyum saja menanggapi pernyataan Ayah Shaffa, karena itu bukanlah rencananya, melainkan semuanya berjalan apa adanya. Biarlah skenario Yang Maha Kuasa saja yang ada, kita hanya menjalani. Semoga saja ini permulaan peristiwa yang paling indah yang diberikan Yang Maha Kasih Sayang untuk bisa kita nikmati dengan bahagia.
Bayang-bayang itu selalu menghiasi angan Irwan sehingga melupakan adanya Ayah Shaffa di sampingnya. Membuat ayo Shaffa bertanya-tanya.
"Nak Irwan?"
"Maaf Bapak." Untung saja dia segera sadar. "Irwan sangat bahagia. Apalagi Bapak telah menyetujui dan menerima lamaran Irwan untuk dik Shaffa."
__ADS_1
"Bapak hanya titip Shaffa, Nak. Semoga kamu bisa membahagiakannya."
"Saya akan selalu mencoba nya Pak dan mohon petunjuknya juga."
Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di tempat tujuan. Di sebuah rumah yang sederhana tapi cukup bersih. yang beberapa saat yang lalu mereka tinggalkan.
"Terima kasih kasih, Nak Irwan," kata Ayah Shaffa, begitu dia keluar dari mobil Irwan.
"Sama-sama Pak. Saya pulang dulu, assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Tolong segera kamu antar Shaffa pulang. Jangan lama-lama di tempat kalian. Bapak juga rindu dan juga ingin menjelaskan padanya sesegera mungkin pada Shaffa."
"Kami mengerti, Pak."
Irwan pun memutar mobilnya kembali, menuju arah yang tadi dilewatinya. Berlahan-lahan dia meninggalkan tempat itu dengan hati yang lebih tenang. Sambil berdoa, " Ya Allah mudahkanlah urusan kami."
💎
Sementara itu Heru yang terpergok Hasan dan calon mertuanya, bersama dengan seorang wanita di sebuah kamar hotel, kini menjadi panik. Alamat pekerjaannya sebagai polisi terancam untuk dicopot. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Begitu sampai di rumah kontrakannya, dia mendapatkan amplop yang terselip di di pintu. Sebuah surat dari instansinya, yang menyatakan bahwa saat itu juga dia dicopot dari kepolisian.
Dirinya teramat marah. Ia segera menuju rumah Shaffa saat itu juga. Di tengah perjalanan dia berpapasan dengan sebuah mobil berwarna putih yang sepertinya sering kali dilihat, saat dia masih sekantor dengan Hasan.
"Bukankah itu mobil Irwan? Apa yang dia lakukan di kampung itu," Dia bergumam sendiri, sambil menjalankan mobilnya.
"Tapi apa peduliku dengan dia." dia pun melanjutkan perjalanannya tanpa memperdulikan lagi mobil Irwan.
Tiba di rumah Shaffa, ia mendapatkan pintu rumah tersebut dalam keadaan terbuka. Tanpa salam tanpa sapa dia pun masuk ke dalam rumah. Duduk seenaknya di kursi tamu. Bersikap seolah-olah dia adalah pemiliknya, tak ada sopan sedikitpun. Dia mengamati keadaan rumah.
__ADS_1
"Kenapa kok sepi sunyi begini?" tanyanya dalam hati. "Kemana perginya penghuni rumah."