KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Aldo


__ADS_3

Ayyas membelokkkan mobilnya ke arah yang ditunjuk Herman. Ada kantor satpam yang harus mereka lewati. Setelah memperkenalkan diri sejenak, merekapun diperbolehkan memasuki kawasan itu.


Sebuah kawasan perumahan elit dengan jajaran rumah megah dan halaman luas. Untuk sesaat Herman termangu di depan rumah orang tua Maria. Setelah sekian lama hidup bersama dengan lama, baru kali ini datang ke rumahnya. Enth mengap tibul keraguan untuk memencet tombol bel yang ada di depannya.


Hubungan yang buruk sejak mengenal Maria, menyebabkan dirinya ragu untuk melanjutkan niatnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Ayyas.


"Baiklah, semoga ada titik terang." akhirnya dipencetny juga tombol itu. Tak berapa lama, keluarlah seorang wanita paruh baya menuju gerbang, tempat mereka menunggu.


"Maaf benarkah ini rumahnya bapak Alfa atau bapak Edzel?"


"Benar, anda siapa dan ada keperluan apa?"


"Saya Herman. Bisakah saya bertemu beliau?"


"Sebentar ...." Diapun berlalu meninggalkan mereka berdua menuju ke dalam rumah. Tak lama diapun kembali.


"Maaf, bapak sedang nggak enak badan. Nggak bisa diganggu."


Herman terdiam, tapi bisa memakluminya. Karena memang hubungan mereka selama ini kurang baik.


"Terima kasih .... Tapi bolehkah saya tahu,nona Maria apakah ada di sini?"


"Nona Maria?" tampak wanita itu terkejut,"Maaf, saya tak mengenalnya."


Ah, mungkin dia orang baru di rumah ini. Jadi tidak mengenalnya.


"Maaf, telah mengganggu. Permisi ...."


"Ya, silahkan."


Hermanpun undur diri dengan tangan hampa, tanpa hasil apa-apa. Tia ... Dimana kamu Nak?...


Sementara itu tanpa Herman ketahui, ada sepasang mata yang memandang dari cendela dengan sorot mata penuh kemarahan.


💎


Akhir-akhir ini Zulfa terlihat murung di depan anak-anaknya. Membuat Irwan bertanya-tanya.


"Bunda, ada apa kok diam."


"Tidak, bunda hanya capek."


"Tidak, Bunda bohong."


Setelah mengambil nafas panjang beberapa kali, akhirnya Zulfa pun mengangkat suara.


"Wan, bunda pingin umroh."


"Mengapa Bunda tak bilang sejak kemarin. Itu baik sekali. Irwan senang. Irwan akan temani Bunda. " kata Irwan senang.


"Baik Bun, sekarang Irwan daftarkan."


Irwan segera membuka Handpone nya. Maklumlah sekarang semua sistem on line. Jadi kapanpun bisa.

__ADS_1


"Selasa berangkat, Bun."


"Cepat sekali, Wan. Alhamdulillah."


Aldo tersenyum. Dia memperhatikan bundnya sambil termenung


"Bunda sebetulnya ingin menghindari Aldo, kan?"


Terhadap anak laki-lakinya ini, Zulfa tidak bisa berbohong. Dia mengambil nafas panjang, seakan menyimpan beban berat yang menyesakkan dadanya.


Memang benar yang dikatakan Irwan. Dia ingin menghindari anak-anak Maria, tapi tak tega. Dia paling nggak bisa melihat anak-anak yang merana seperti itu.


Sungguh Maria keterlaluan meninggalkan mereka begitu saja. Sedangkan Herman, tak bisa diharapkan juga. Rahmi, Ayyas sibuk dengan dinas luar kotanya.


Bagaimanapun anak-anak tidak bersalah. Tapi haruskah mereka menanggung akibatnya. Sungguh dirinya benar-benar tak tega.Sebenarnya tak apa, bila mereka bukan anak Maria dan Herman.


Tapi mereka .... Ini menyebabkan dirinya terbelenggu dalam rasa sakit yang mendalam. Rasanya belum sanggup mengatakan, apabila ada yang bertanya,


"Wah, mbak Zulfa anak siapa ini?".


Haruskah dia katakan, ini anak mantan suamiku dan istrinya. Bah....


Kalian keterlaluan ....


Astaghfirullah al adzim ....


" Bunda ...." panggil Irwan. Seketika mengembalikan kesadaran Zulfa.


"Entahlah, Wan."


"Bunda ..., kalau bunda tak sanggup. Tinggalkanlah. Jangan paksakan sekiranya bunda tak kuat. Ingat, Bunda masih punya Irwan dan Lika. Apakah Lika suka menjemput Aldo. Kurasa di juga berat. Tapi dia tak mungkin menolak kalau itu kemauan Bunda."


"Tak apa, Bunda. Irwan mengerti, sudah saat bunda lepas dari mereka semua."


"Tapi dengan adik-adik tirimu."


"Masalah itu jangan dipikirkan. Insya Allah ada jalan. Tapi tidak sekarang ini."


"Dalam hal ini Bundamu tak tahu apa-apa."


"Irwan mengerti kok, Bun. Sebenarnya kalau ditanya, apakah suka bunda dan ayah berpisah. Jawabnya hanya satu, TIDAK. Tapi Irwan tak suka Bunda diduakan dengan wanita macam Maria. Irwan nggak mau Bunda direndahkan seperti itu .... Maafkan Irwan. Irwan benar-benar nggak bisa memaafkan mereka."


"Ya, Nak."


"Irwan juga sayang sama Aldo dan Tia. Tetap mereka Irwan anggap adik Irwan. Tapi ...."


"Sudah jangan diteruskan. Yang penting Bunda besok bisa berangkat umroh. Untuk langkah selanjutnya, kita pikirkan nanti."


"Itulah Bunda yang kutunggu-tunggu.."


Perbincangan mereka usai, saat mobil Irwan yang dikendarai Lika, memasuki halaman rumah. Tentu dengan Aldo, si pria kecil yang selalu tampak ceria. Apalagi kalau sudah bertemu bunda Zulfa nya.


"Assalamu'alaikum ... Bunda."


"Wa alaikum salam, Nak." Aldo sangat manis, begitu datang sudah berhambur ke arah Zulfa, mencium tangannya juga. Biasanya, Zulfa menghadiahi kecupan kecil. Namun tidak kali ini, dia hanya mengacak-acak rambut Aldo yang mulai panjang.

__ADS_1


Dengan tenang, dia bersandar pada Zulfa, minta dimanja.


"Hai pria kecil, itu bundaku!" kata Irwan menggoda.


"Bundaku juga." jawab Aldo tak mau kalah. Membuat tersenyum, demikian pula Lika dan Irwan.


"Ginama sekolahmu hari ini ...."


Panjang lebar, Aldo bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya, ayah dan neneknya. Kelucuan-kelucuan teman-temannya, membuat mereka semua tertawa. Terakhir, kerinduannya pada Mutia. Ini yang membuat mereka bersedih ....


"Bunda, kapan kita bisa ketemu Mutia?"


Zulfa membisu, tak tahu harus menjawab apa.


"Ya, nanti kita cari sama-sama. Semoga cepat ketemu."


"Kita makan dulu, yuk!" ajak Zulfa, "Bunda masak ayam goreng."


"Asyiiik ..." jawab Aldo ceria. Dia segera berlari ke arah meja makan. Duduk dengan manis bersiap-siap akan membuka tudung saji yang terletak di depannya. Tapi entah kenapa Irwan selalu ingin menggodanya.


"Ye ... Itu untuk kak Irwan lho ..."


Aldo merajuk, "Bunda, benarkah ayam gorengnya untuk kak Irwan."


"Iya ..." Entah kenapa Zulfa juga kepingin menggoda pria kecil ini.


Seketika dia diam, tak berani meneruskan niatnya. Gagal sudah, untuk mendapatkan ayam goreng dari bunda Zulfa. Membuat Zulfa tak tega juga ...


"Sudah, bunda bikin banyak. Untuk kak Irwan ada, untuk kak Lika ada, untuk kamu ada, bunda juga ada. Kita makan bersama." kata Zulfa sambil membuka tudung saji.


"Alhamdulillah, akhirnya dapat." kata Aldo penuh keceriaan.


Mereka bersama-sama menikmati makan sore dengan gembira. Hingga ayam goreng itupun tak tersisa.


"Aldo, minggu depan bunda pergi, kak Lika kuliah dan kaka Irwan sibuk. Aldo baik-baik di rumah nenek ya ..."


"Bunda pergi kemana?"


"Insya Allah, bunda pergi umroh. Dan masih ada urusan yang harus bunda selesaikan."


"Aldo pasti kangen Bunda."


"Halah ... kolokan amat." Tak habis-habisnya Irwan menggoda. Lika hanya senyum-senyum saja mendengar perkataan kakaknya yang konyol itu.


"Bunda juga pasti kangen sama Aldo .... Sekarang siap-siap sholat maghrib. Habis itu bunda mau mendengar bacaan Al Qur'an Aldo."


"Oke Bunda ..." Dia segera berlari menuju kamar mandi. Bersiap-siap, dan menuju musholla kecil di rumah Irwan.


....


....


....


terima kasih readers yang setia membaca tulisan author ini. semoga sehat dan bahagia selalu...

__ADS_1


Jangan lupa votenya, meski agak-agak nggak ikhlas...


apalagi kalau ikhlas, author seneng banget 💟💟💟💟🙎🙎🙎


__ADS_2