
Namun yang tak bisa dipungkiri, bahwa diriku selalu dikejar rasa bersalah. Karena telah meninggalkan Zulfa dan anak-anak begitu saja.
Bisakah mereka memafkanku? kurasa tidak ....
Membayangkannya saja, aku tak sanggup. Sakit, itu yang akan Zulfa dan anak-anak rasakan, bila mengetahui keadaan ayahnya sekarang ini. Tapi inilah jalan yang harus kutempuh.
Lama-lama pernikahan ini terasa hampa. Karena aku merasa, cinta Maria memaksa. Tidak bisa membuatku merindu padanya. Entahlah .... Atau mungkin hatiku hanya memikirkan Zulfa seorang. Hem....
Tapi dia tetap istriku, yang mempunyai hak atas diriku. Aku menghikhlaskan untuk itu.
Kurasa diapun merasakan hal yang sama. Tapi dia tak berani mengatakan padaku. Ini nampak dalam pandangannya yang selalu kesal. Peduli amat .... Yang penting kewajiban sudah ku laksanakan meski hampa.
Yang membuatku sedih dan juga dingin padanya, dia sering menumpahkan kekesalannya pada Aldo Ferdiansyah dan Mutiara insani, putra-putri kami.
Sering kali, kulihat kesedihan di wajah mereka. Apakah Maria telah menyakitinya? Aku tak sempat untuk bertanya pada mereka. Akupun benar-benar merana, disebabkan hubungan yang sunyi antara aku dan Maria.
Untuk menenangkan diri, biasalah ... minuman keras sebagai pelarian sesaat. Maria tak berani melarang, asalkan dilakukan di rumah. Agar tak terulang lagi kejadian yang dulu pernah menimpa dirinya.
Kasihan Aldo dan Mutia ....
Tapi, diriku telah mati rasa.
Bukannya aku tak tahu, kalau Maria juga merindukan kelurganya. Sangat ....
Apalagi saat diriku sakit tungkak lambung itu, dia sering berucap.
"Mas, kalau mas pergi, aku dengan siapa?"
Sedih juga mendengarnya. Tapi akupun tak bisa memberikan harapan.
Maka kubiarkan saja apa yang menjadi kemauannya. Dia ingin pulang ... Tapi tak tahu harus bagaimana. Apalagi melihat diriku yang putus asa, tak bisa diharapkannya lagi.
Ada setitik harapan, ketika Rahmi datang. Dan itu dimanfaatkannya dengan baik. Akhirnya kita dapat pulang. Yang sebenarnya aku sangat malu dengan keputusannya. Tapi aku tak tega, bila melihatnya merana dan anak-anak tak terurus.
Tiba di rumah mama, tak kusangka Aldo dan Mutia amat sayang pada Zulfa dari bundanya sendiri. Begitu juga sebaiknya. Aku tak melihat kebencian di matanya. Yang kulihat adalah kelembutan seorang ibu semata.
Kurasa putra-putrinya menemukan oase di tengah keringnya kasih sayang dari kami. Bahkan dia memberi untukku juga, tapi ....
Itu salahku, anak-anakku tak bisa menerimaku. Maka diriku harus bisa memahami, ketika perpisahan yang dipilih Zulfa. Mungkin itu adalah jalan terbaik untuk kami.
Sebentar-sebentar ....
Apakah Maria mengambil surat-surat penting punya mama, ada hubungannya dengan kerinduannya pada keluarga.
Kalau itu ya .... Oh may god.
Mama .... Maafkan putramu sekali lagi.
💎
Flash on
"Yas, sudah selesai makannya?"
"Alhamdulillah, sudah."
"Bisa kita berputar-putar dulu?"
"Ada apa, Mas?"
__ADS_1
"Aku pingin cari lokasi untuk rumah makan. Melanjutkan cita-citaku dulu."
"Bagus itu, Mas."
"Ada sedikit tabungan dari penjualan produk teman-teman dengan on line. Rencananya untuk modal."
Semoga dengan ini, aku bisa mengumpulkan uang, sehingga sewaktu- waktu ada permasalahan dengan rumah mama, diriku sudah punya persiapan.
Ya Allah ... Lindungi keluargaku ....
Ampuni dosa-dosaku. Bisikan lirih kalbu Herman, ketika hendak melangkah meninggalkan rumah makan itu.
Perhatiannya terfokus dengan mobil yang dituju. Sehingga kurang memperhatikan langkahnya. Hampir saja bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf ...." kata Herman dengan tergesa.
Wanita itu mengangguk. Lalu melirik sekilas ke arah Herman yang sudah melanjutkan langkahnya.
Syukurlah, mas Herman sudah tak mengenaliku.
"Nona Martiyas, jadi kita makan."
"Hem .... Kita kembali saja." ucapnya. Lalu mereka melangkah, meninggalkan rumah makan itu dengan arah yang berbeda dari Herman.
💎
Meski malam ini belum bisa menemukan Mutia, setidaknya Herman menemukan tempat yang cocok. Sebagai rumah makan, tempat untuk mengawali usaha.
Namun demikian dia tak bisa menghapus kesedihan dari angannya dan juga hatinya. Apalagi saat Halimah menyambut dirinya dengan penuh harapan.
"Bagaimana, Her. Sudah ketemu?"
"Dimana kamu, Nak. Mutiaraku yang cantik." bisiknya lirih. Membuat Herman semakin merasa bersalah.
"Herman akan terus mencari, Ma."
"Ya, Her. Mama hanya bisa membantu lewat doa."
"Yas, makasih. Sudah mau nemani cari Mutia."
"Sama-sama, Mas."
Ayyas pun berpamitan, kembali ke rumahnya.
💎
Sementara itu, di sebuah bangunan megah, di tengah perkebunan, yang ada di tengah-tengah sawah. Seorang gadis kecil duduk menyendiri di bawah pohon mangga. Tampak wajahnya sangat sendu. Kesedihan telah membalut seluruh rasanya, hingga tak ada gairah untuk mengikuti langkah teman-teman sebayanya, sedang bermain riang.
"Hei, kenapa bersedih." kata seorang anak laki-laki yang berpakaian bersih dan rapi, dan seperti bukan anak panti asuhan. Dia lebih tua darinya.
" Kakak ke sini lagi?"
"Ya, aku selalu merindukan tempat ini. Karena ini rumah bibiku."
"Oh ..."
"Ini aku ada jambu untukmu"
"Makasih, Kak."
__ADS_1
"Sama-sama, kita makan sama-sama, yuk!"
Mutia mengangguk. Dia mengikuti Rohman membelah jambu air itu, dan memakannya berlahan. Angannya masih melayang-layang, melukiskan orang-orang yang dinanti kedatangannya. Bunda Zulfa, ayah, nenek. Kapan kalian datang. Mutia rindu ....
Tak terasa bulir air matanya mengalir, tanpa sadar diapun terisak di tengah mengunyah jambunya
"Hei, kenapa menangis?"
"Kak Rohman, aku rindu bunda, ayah, nenek?" jawabnya lirih lalu menelangkupkan tangan di wajah. Kepalanya menunduk. Membuat Rohman merasa iba. Dia pun membelai rambut Mutia lembut.
"Kamu ingat di mana kamu tinggal?"
Mutia geleng kepala.
"Itu rumah nenek, aku baru tinggal di sana."
"Lalu, ke sini sama siapa?"
Mutia terdiam seketika, tubuhny bergetar hebat. Terlihat sangat, kalau dia ketakutan. Sorot matanya menerawang jauh. Bahkan wajahnya pucat, pias seperti kapas. Rohman yang ad di depannya dibuatnya terkejut. Segera dia memeluk Mutia.
"Tia ... Tia ... Tia, maafkan kak Rohman. Kakak nggak akan tanya lagi." ucapnya ditengah kepanikan dan ketakutannya. Apalagi sesaat kemudian Mutia pingsan.
"Tia bangun ... Tia bangun ... Jangan buat kakak takut."
Beberapa kali Rohman menguncang-guncang tubuhnya, namun Mutia belum meresponnya juga. Akhirnya, dengan sekuat tenaga mengangkat tubuh Mutia, ke rumah bibinya. Yang merupakan pengasuh panti asuhan ini.
"Paman ... Tolong Tia, Paman."
Ridwan segera menghampiri keponakannya itu, mengambil alih mengendong Mutia. Membawa ke dalam rumahnya. Dia membaringkannya di atas dipan miliknya. Memberi sedikit aroma terapi pada hidung Mutia. Terlihat Mutia mulai menggeliat. Namun matanya masih terpejam.
"Ayah ... Ayah ... "
Umi yang baru memasuki kamar itu, langsung mendekati, menggantikan suaminya. Mengusap kepalanya dengan lembut.
"Tia ... bukalah matamu, ini umi dan abi. Jangan takut."
Berlahan-lahan, Mutia membuka matanya.
"Umi ... Tia takut." Lalu dirinya menangis dalam dekapan Umi.
"Sudah .... Itu sudah berlalu. Sekarang Tia sama umi dan abi."
"Rohman, bisa bantu umi. Ambilkan air untuk Tia."
"Bisa ..." Rohman mengambil gelas plastik yang ada di sisi galon, dan mengisinya dengan air yang bibinya minta ....
....
....
....
_________ __________________________
terima kasih readers yang setia membaca tulisan author ini. semoga sehat dan bahagia selalu...
Jangan lupa votenya, meski agak-agak nggak ikhlas...
apalagi kalau ikhlas, author seneng banget 💟💟💟💟🙎🙎🙎
__ADS_1