KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kalung Zulfa


__ADS_3

"Kalung ini untuk aku ya, Mas."


"Hem ..."Herman masih sibuk dengan dirinya, hingga tak memperhatikan apa yang Maria katakan.


"Terima kasih, Mas." Maria benar-benar suka sekali dengan kalung itu. Berkali-kali berdecak kagum. Meski Herman tak mengatakan kalau kalung itu untuknya.


Dia menghampiri Herman, ingin minta tolong memakaikan kalung itu di lehernya.


"Mas, bantu dong ..." kata Maria manja. Dia memberikan kalung itu pada Herman.


Herman menatap Maria, dan baru sadar dengan apa yang sedang dipegangnya.


"Ini kalungnya Zulfa ...."


"Tapi dia tak menyukainya. Malah meninggalkannya di sini."


"Maria, ada apa denganmu .... Bukannya dulu mas pernah membelikan untukmu juga."


"Tapi tak seindah ini, Mas. Dan itu juga sudah terjual untuk biaya hidup kita, selama mas sakit."


"Maria, biarlah kalung ini mas simpan. Mas akan berikan ke Zulfa kalau dia kembali."


"Mas, ini tak adil. Kenapa semuanya untuk Zulfa."


Herman diam, ingin dia berkata, bahwa selama ini dirimu, telah menikmati semuanya. Saat dirinya ingin mengirimkan sebagian uangnya pada Zulfa, selalu saja Maria merengek, diapun tak tega. Sehingga semua penghasilan jatuh ke tangan Maria semua.


Dan yang membuat Herman sedih, Maria belum begitu cakap mengatur uang. Hingga gaji yang begitu besar habis tanpa tersisa di tiap bulannya. Tak ada tabungan sedikitpun.


Sebagai akibatnya, begitu dirinya sakit, tak perlu waktu lama, ekonomi keluarga langsung jatuh terpuruk .


"Lagian skarang Zulfa sudah tak punya hak harta suamiku kan. Istrimu satu-satunya ini yang berhak."


Perkataan Maria menyadarkan Herman kalau saat ini dia sudah kehilangan Zulfa dari hidupnya.


"Biarlah ini mas simpan untuk Lika ... Dia tak pernah mendapat sesuatu dari mas."


"Kalau ini mas berikan ke Lika, ke Tia mana?"


"Tia sudah, kan?"


"Sudah aku jual, Mas. Untuk makan kita."


"Lalu yang tersisa dari hasilku bekerja bertahun-tahun apa?"


"Habis mas, rumah juga sudah aku jual. Untunglah sebelum masa tegang yang diberikan pada kita habis, aku ketemu sama Indah dan Ayyas. Aku minta sangat, agar bisa ajak kita pulang. Kita sudah tak punya apa-apa di sana."


"Lalu hasil penjualan rumah?"


"Sebagian masih aku simpan. Tapi sebelum ke sini, bedak dan lipstikku habis. Aku pakai beli."


Astaghfirullah al adziiim ....semoga belum habis.


"Mas sekarang sudah lebih baik. Mungkin besok mas akan mencoba cari kerja. Gunakan itu untuk sementara. Berhematlah, karena belum tentu mas dapat kerja."


"Tapi, mas. Tak bisakah minggu depan, mas ajak aku ke kota. Sudah waktunya diriku melakukan perawatan tubuh."


Herman benar dibuat terheran-heran dengan Maria, istri keduanya ini. Keadaan seperti , masih juga memikirkan perawatan tubuh, yang pasti mengeluarkan uang yang tak sedikit.

__ADS_1


"Maria ...."


"Untuk makan anak-anak kesulitan . Kok kamu mikiran itu?"


Maria terdiam, meski pingin protes. Tapi disimpanya dalam hati.


"Nanti kan bisa mas jual kalung ini untuk modal.."


"Tidak-tidak, jangan kamu jual kalung itu ... baiklah, kalung itu bisa kamu pakai. Tapi jangan sekali-kali kamu jual kalung itu."


Akhirnya Herman mengalah.


"Bener mas. Makasih ... Aku pakai ya ..."


Herman hanya mengangguk lemah.


"Tolongin, Mas."


"Baiklah ..."


Maria segera berbalik. Herman memakaikan kalung itu di leher Maria. Entahlah, mengapa bayangan Zulfa, tiba-tiba memenuhi angannya. Sehingga tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Zulfa, ini untukmu."


Membuat Maria merasa sakit ....


Mas mengapa selalu Zulfa yang engkau sebut. Bahkan saat diriku ada di sampinghmu. Tega kamu Mas .... gumamnya marah. Tapi hanya disimpannya rapat di dalam dada.


"Sudah, aku pingin ketemu anak-anak."


" Ada di bawah."


Herman terbayang, biasanya kalau waktu seperti ini, Zulfa bermin-main dengan anak-anak. Menggoda, dan berlari-lari bersama mereka. Terkadang diapun turut juga. Entahlah dirinya seperti belum rela melepas Zulfa.


Tak berapa lama, terdengar suara adzan berkumandang dari masjid yang ada di dekat rumah Herman segera mengakhiri bermain dengan mareka.


"Tia, Aldo ... Ayo ke masjid."


"Tante Zulfa ke mana ...."


Herman tak sangka kalau putra-putrinya akan menanyakan keberadaan Zulfa. Padahal baru satu bulan mereka bersama.


"Bunda Zulfa kah, Tia ...'"


"Iya, Ayah"


"Bunda Zulfa sudah nggak di rumah ini lagi."


"Kenapa ..."


Mengapa bisa seperti ini. Apa yang kamu perbuat pada mereka, Zulfa. Ini benar-benar membuat Herman semakin merasa kehilangan .... Hingga beberapa saat dia diam, tak tahu harus menjawab apa.


"Ya, kapan-kapan bunda Zulfa kita ajak ke sini."


"Lalu yang ngajari kami mengaji siapa?"


Kehadiranmu yang sesaat telah menorehkan kebaikan yang tak pernah kupikirkan selama ini. Selama bersama, kamu tersia-sia. Setelah dirimu pergi, baru terasa, bahwa kamu sangat berarti bagi kami. Zulfa kembalilah ....

__ADS_1


"Nanti, ayah daftarkan TPQ, ngaji yang bener!"


"Ayah juga." jawab Aldo dan Tia hampir bersamaan.


"Kita tahu kok kalau ayah juga minta diajari sama bunda, ngajinya ...."


Dasar anak-anak. Tahu aja ...


Habis ini ayah mau ngaji di rumah haji Shalihin. Biar nggak ditertawakan dirimu, Tia dan Aldo.


"Yech ... Ayah sekarang sudah pinter. Karena ayah murid yang pandai. Makanya bunda Zulfa melepas ayah." jawabnya mengelak .


"Sudah, ayo cepat jalan. Keburu iqomat nanti."


Keduanya berlomba lari untuk sampai duluan di masjid yang kini sudah banyak warga berkumpul, untuk melakukan sholat berjamaah.


"Hai, Man. Tumben kamu ke masjid."


"Eh, kamu Zal. Ya ... Aku pingin sholat lagi. Kayak kita waktu dulu."


"Yang istiqomah."


"Insya Allah, aku baru belajar. Janganlah ngeledikin melulu. Malu lah Aku."


"Ya sudah, Ayo."


"Mana Zulfa, biasanya dia datang dengan mereka."


Mendapat pertanyaan seperti itui, membuat Herman terdiam seketika. Lambat laun mereka akan tahu kalau Zulfa telah meninggalkannya.


"Ya, ini semua salahku, sehingga di memilih pergi dari pada dimadu."


"Kamu itu nekad banget. Ilmu belum punya , sudah berani poligami."


"Iya, Zal. Aku menyesal."


Rizal, sahabatku dulu.Dari sejak masuk SD sampai SMA kita selalu bersama.


"Hai, entar tolong antarin aku ketemu sama haji Sholikhin."


"Mau apa?"


" Mau belajar agama."


"Nach gitulah bro ... Masak dari dulu judi dan mabuk-mabukan aja."


"Aku sudah insyaf, Zal."


"Aku acungin jempol untukmu."


"Makasih Zal, atas dukungannya. Satu lagi kalau kamu udah kaya jangan lagi balik ke judi lagi."


"Makasih, Zal. Insya Allah."


Tak berapa lama, iqomah dikumandangkan. Aldo dan Tia sudah berdiri di samping Herman.


"Tia ke sana ya, sama mbak Herni."

__ADS_1


"Mi, ajak Tia dulu". Katanya pada seorang wanita yang tak lain adalah istrinya.


" Sini Nak. Ikut tante ....." Dia pun mengukti istrinya Rizal, melangkah ke ruang yang yang dikhususkan untuk para wanita yang ikut jamaah


__ADS_2