KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kalian yang Utama


__ADS_3

Melihat Irwan dan Lika pergi, membuat Zulfa tak ingin berlama-lama di ruangan itu. Tapi sebelum melangkah, Maria telah bersimpuh di depannya. Dengan masih memangku Mutia, putri kecilnya.


"Mbak Zulfa, maafkan aku. Bukan maksud aku merebut suami mbak. Tapi aku memang benar-benar mencintainya." Zulfa hanya diam mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Maria. Kata-katanya yang terdengar sangat konyol. Entah yang berkata mengerti atau tidak, atau memang nggak sadar. Tapi Zulfa mencoba mendengarkan dengan sabar.


"Cinta ...." ucap Zulfa heran. Membuat Maria terdiam seketika.


Apa sebatas kata itu hingga kegilaan ini sampai berlanjut. Atau keegoisan yang mengatasnamakan cinta. Kalau itu yang terjadi, itu memang benar-benar gila. Terlalu banyak yang dikorbankan. Terutama anak-anak.


Zulfa sama sekali tak mau menanggapi kata-kata Maria. Itu akan menyeretnya pada kemarahan yang tak diinginkan. Untuk sementara, diam sepertinya lebih baik. Yang pasti, Zulfa tak ingin terbelenggu pada masalah Herman dan Maria. Apalagi saat ini, waktu yang tidak tepat untuk membicarakannya. Anak-anak belum siap. Herman masih belum sembuh benar. Anak-anak Maria yang perlu segera mendapatkan penanganan. Lepas dengan apa yang diperbuat orang tuanya.


Satu minggu lalu, saat dia mendapat kabar dari Indah, tentang keadaan Herman. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia pasrah dengan keputusan yang akan diambil Ayyas dan Indah. Dia seorang wanita biasa, bisa marah atau kalap. Karena rasa sakit yang Herman dan Maria torehkan.Tak sangka, kalau keduanya akan mengambil keputusan membawa suami dan keluarga kecilnya pulang. Dan sekarang mereka benar-benar di depannya. Apa yang bisa dia lakukan ....


Disampingnya ada Halimah,


"Zulfa, kemarilah Nak." tak perlu dipanggil dua kali, Zulfa segera menghampirinya. Dan meletakkan kepalanya di pangkuan Halimah. Mertua yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.


"Zulfa, apapun yang terjadi jangan tinggalkan mama."


Beban yang harus ditanggungnya semakin berat dengan permintaan mertuanya. Segera dia mengusap air mata yang akan menetes dari sela-sela matanya. Dan memeluk Halimah dengan kuat.


"Mama, Zulfa sayang mama."


"Mama nggak meragukan itu, ndduk."


Zulfa beranjak dari pangkuan Halimah. Sejenak duduk menenangkan diri di samping Halimah.


"Maria, untuk sementara ini kamu tidur di kamar berlakang. Karena sudah tidak ada lagi kamar. Nanti kalau sudah ada kamar, kamu boleh pindah."


"Baik, Ma ..."


Zulfa melanjutkan langkahnya. Tapi sebelumnya, dia menengok ke anak-anak yang dibawa Maria.


"Mereka sudah makan?"


"Belum." jawab Maria.


"Ajak mereka makan."


Kalian ini orang tua macam apa ... sampai-sampai tak lihat kalau anak-anak kalian kelaparan. Gitu kok bisa ngomong cinta dengan lancar. Dia melangkah keluar sejenak menemui Sri, salah satu pegawainya bagian pencatatan. Setelah berbicara sejenak, diapun kembali lagi. Dan masih mendapati Maria bersimpuh.


"Ajak mereka makan, Maria." ucapnya sekali lagi.

__ADS_1


Maria segera bangkit dari bersimpuhnya. Mengajak putra-putrinya ke meja makan. Tak terkira senang keduanya. Mereka melahap setiap suapan yang Maria berikan, hingga nambah beberapa kali.


Herman masih duduk di sana. Diam dan merenung, tak berani mengangkat kepala sedikitpun di hadapan Halimah dan Indah. Halimah melunak, kondisi Herman sedang masih sakit. Rasanya ketegangan yang baru saja terjadi, perlu didinginkan. Tak perlu dibahas sekarang. Tak baik menyelesaikan masalah di tengah amarah.


"Herman, mama sangat kecewa sama kamu. Tapi saat ini istirahatlah dulu. Kita akan bicara kalau kamu sudah sembuh dan sudah siap."


Lalu Halimah meninggalkan Herman yang masih duduk. Wajahnya terlihat sedih, beberapa kali dia mengambil nafas panjang, lalu menghembuskan dengan berat.


Sampai Ayyas datang. Meski lelah tapi terlihat ketenangan di wajahnya. Dia menjatuhkan diri di kursi yang ada di samping Indah, istrinya. Ingin Herman bertanya .... tapi Indah sudah mendahuluinya.


"Bagaimana Irwan, Yah."


"Dia sedang bersama Adam."


"Syukurlah, aku agak tenang. Kasihan mbak Zulfa."


"Aku yakin mbak Zulfa kuat dan bijaksana memutuskan sesuatu."


"Aku berharap begitu."


"Indah, kenapa tidak kamu biarkan kakakmu mati saja."


Indah menatap Herman sambil tersenyum mengejek.


"Dari pada hidup hanya menyakiti orang-orang yang kakak sayangi."


"Ternyata kakakku pengecut," entah mengapa sekarang ini, Indah ingin menunjukkan amarahnya.


"Aku ragu kakak punya rasa sayang."


Setiap kata yang di lontarkan Herman, selalu Indah balas dengan kata-kata yang tajam. Akhirnya dia diam. Dengan tertatih-tatih menuju ke kamarnya dahulu. Kamar ketika dia bersama Zulfa. Tanpa memperdulikan Maria yang masih menyuapi Mutia dan Aldo, anaknya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sama, sebelum dia meninggalkan rumah ini. Ternyata Zulfa tak pernah menggantinya.


💎


"Lika ...." sentuan lembut dari Zulfa, membangunkan Lika yang larut dalam kesedihan. Diapun membalikkan badan dengan mata yang sembab. Terlihat bekas-bekas air mata di sudut-sudut matanya.


"Mengapa Bunda tak pernah cerita, kalau ayah punya istri lagi."


Zulfa mengambil nafas panjang dan melepaskannya dengan berat. Dia merebahkan dia diri di samping putrinya.


"Apa itu perlu?"

__ADS_1


"Lika hanya tak rela bunda diduakan."


"Bagi bunda, kalianlah yang utama. Kalian tumbuh baik dan jadi anak sholeh-sholehah dan berbakti pada orang tua itu sudah cukup. Masalah bunda dan ayah, jangan dipikirkan. Bagi bunda, kalian yang utama."


"Maksud Bunda?"


"Bunda melihat kalian itu lucu. Dulu ketika ada seorang digosipkan mendekati bunda, kalian marah-marah. Bahkan sampai nggak ngebolehin dianya masuk, padahal hanya mau pesan kue yang bunda buat."


"Karena bagi Lika cukuplah bunda dan ayah sebagai orang tua Lika. Tak mau yang lain."


"Meski dalam keadaan bagaimanapun kalian tetap putra-putri Ayah Herman, baik bunda bersama atau berpisah dengan ayah Herman."


"Apa bunda akan berpisah dari ayah."


"Seperti yang bunda katakan, kalian yang utama. Masalan hati, bunda pasrah pada yang di Atas."


"Kalau boleh jujur. Lika tak menginginkan bunda dan ayah berpisah, tapi kalau bunda berat dan tersakiti, bunda boleh ngambil keputusan berpisah. Lika akan ikut bunda."


"Makasih Lika. Bunda jadi tenang. Sekarang tidurlah."


"Tapi Bunda di sini ya ...."


"Oke ..."


Zulfa membelai rambut Lika dengan lembut, hingga tertidur derngan tenang. Sementara Zulfa masih sulit memejamkan mata. Angannya masih khawatir derngan keadaan Irwan. Segera dia mengambil handpone. Dan menghubungi Irwan, tapi melalui wa. Agar tidak mengganggu tidur Lika.


[Nak, kamu dimana?]


[Jangan khawatir, Bun. Irwan ada di rumah baru Irwan. Sama Adam.]


[Ya. Sudah. Nanti pulang nggeh]


[Ada apa tho, Bun]


[Bunda nggak ingin kamu meninggalkan rumah dalam keadaaan marah.]


[Irwan bukan anak kecil lagi Bun....]


[Oke, bunda mengerti. Nanti pulang, apapun alasannya.]


[Insya Allah]

__ADS_1


Zulfa kini lebih tenang. Dia pun ikut tertidur di samping Lika.


.


__ADS_2