
Sudah satu bulan ini pencarian terhadap keberadaan Mutia dan juga Maria, belum menemukan titik terang. Entah kemana perginya mereka. Membuat keluarga Halimah hampir putus asa ....
"Ma, aku mau cari Tia." kata Herman. Yang kini sudah hampir sembuh sempurna dari luka tusukkan yang dilakukan Maria waktu itu.
"Kamu sudah kuat, Herman?"
"Insya Allah, Ma." jawab Herman, membuat Halimah tersenyum. Ada banyak perubahan dalam sikap maupun perkataannya. Dia lebih santun dan tenang. Semakin hari kewajiban sebagai muslim mencoba untuk disempurnakannya. Meski harus dibimbing selalu. Tapi dia tidak patah arang untuk senatiasa belajar.
"Ya sudah, nanti kamu cari sama Ayyas."
"Ya, Ma ...."
"Oh ya, Her .... Nanti adikmu, Ratna sama suaminya mau datang."
"Tumben anak itu pulang, begitu dapat bule, lupa kampung halaman."
"Kamunya yang lupa rumah. Ratna sudah sering pulang. Tapi nggak pernah ketemu kamu." Herman senyum-senyum atas perkataannya sendiri yang konyol. Sadar ....
Hermanpun meninggalkan Halimah menuju ke beranda, menikmati senja sambil menunggu Aldo datang dari TPQ.
Ada ketenangan tersendiri saat bisa menikmati harapan itu ada. Dirinya memang bersalah, dari segi manapun. Kalau bukan wanita yang bernama Zulfa, mungkin tak ada lagi jalan. Bunda doakan aku punya arah jelas, agar harapanmu membuat diriku berubah akan nyata adanya.
Dulu aku meninggalkanmu dengan anak-anak tanpa kabar. Kamu tegar, hingga anak-anak dewasa dan berhasil semua.
Tapi tak pernah kamu membusungkan dada, tetap rendah hati dan peduli. Bahkan Aldo dan Mutia telah jatuh cinta padamu, padahal baru saja mereka mengenalmu. Aku iri pada mereka. Cinta mereka kamu terima. Sedang diriku .... Kurasa kamu hanya kasihan saja padaku .... Sudahlah .... Aku akan belajar menghormati keputusanmu.
Dan satu lagi, urusanku dengan Maria belum selesai. Maria ....
Aku tak bisa memaafkanmu, bila terjadi sesuatu pada Mutia.
"Assalamu'alaikum ..., Ayah." suara merdu si tampan Aldo, membuyarkan lamunanku.
"Wa alaikum salam ..., Anak ayah yang tampan." jawab Herman dengan senyum mengembang.
"Ayah, besok Aldo kan libur. Aldo mau nginap di rumah bunda Zulfa ya ..."
Nach benarkan ... Tak pernah sekalipun kamu mau menghabiskan akhir pekan dengan ayah. Maunya sama bunda Zulfa. Sudah dech ... ayahmu ini kalah sama kamu.
"Lalu ...."
"Pinjam hp-nya, Yah!"
Waduh, pakai hp ayah !! ... Bakal nggak diangkat. Herman senyum-senyum sendiri menanggapi permintaan anaknya.
"Bentar-bentar." jawab Herman sambil mengeluarkan hp dari sakunya.
"Wah ... baterainya habis. Pinjam hp nenek saja."
"Alasan!" ucapnya sambil merajuk, "Ayah pelit."
Meski begitu, dia menurut. Dia segera masuk menjumpai Halimah. Dan menghubungi orang yang dikehendakinya.
__ADS_1
Herman tak berhenti tertawa melihat tingkah putranya. Tapi di sisi lain ada satu rasa yang menyesakkan. Karena putrinya tak bersamanya saat ini.
Terlihat Aldo msuk ke dalam kamarnya. Lalu menenterng tas sekolahnya, entah apa yang dibawanya. Tampak penuh sesak.
"Nanti kak Lika yang jemput Aldo. Sekarang masih di jalan." ucapnya sambil meletakkan tas itu di sampinghku.
Entahlah, bagaimana Zulfa mendidik mereka, sehingga tak ada sedikitpun amarah di antara putra-putriku. Aku amat berhutang padamu, Zulfa .....
Tak berapa lama, sebuah mobil berjalan ke rumah ini. Dan berhenti tepat di pelataran rumah. Dari dalam keluarlah putriku yang kini sudah menjadi gadis. Dia menghampiriku.
"Assalamu'alaikum ...Ayah." tak lupa mencium tangan ini. Lika ini seperti bundanya waktu pertama kali diriku dipertemukan dahulu. Ah, kenapa jadi terkenang .....
"Wa alaikum salam ... Bagaimana keadaan bundamu saat ini?"
"Baik, dan selalu baik ...." jawaban yang manis sekali.
"Syukur Alhamdulillah ...."
"Sudah siap belum?"
"Sudah, Kak."
"Yaudah, Yuk. Tapi kakak mau ketemu nenek bentar." kata Lika sambil membawa sebuah bungkusan plastik ke dalam rumah. Tak lama, sudah balik lagi ke tempatku berada.
"Ayah, kami pergi dulu"
"Bentar ..." Herman merogoh sakunya untuk mendapatkan dompet yang ada di dalamnya. Lika melirik dan menantinya dengan sabar, gerangan lembaran apa yang akan keluar dari dompet ayahnya.
"Makasih, Ayah. Jangan lupa, Yah. Minggu depan aku berangkat ke Surabaya, mau kuliah. Uang sakunya ya ..."
"Ya, doakan ayah dapat rezeki banyak."
"Aamiiin .... " jawab keduanya hampir bersamaan.
"Kami pergi, Yah. Assalamu'alaikum ..."
"Ya, wa alaikum salam ...." jawab Herman bahagia.
Lalu keduanya masuk ke dalam mobil. Dan pergi dari hadapan Herman.
Setelah keduanya menghilang, Herman melanjutkan menikmati senja sambil membaca buku agama dari ustadz Shalihin. Tampak serius, sehingga tak menyadari kalau Ayyas telah berdiri di sampingnya.
"Serius amat."
"Eh kamu, Yas. Kapan datang .... Kok nggak kedengaran mobil kamu?" becanda dikit tak apa kan ...
"Telingamu yang perlu dikorek."
"Ya sudah, ayok. Aku pamit dulu sama mama."
"Aku juga belum ketemu mama."
__ADS_1
Tak berapa lama, keduanya telah keluar menuju mobil Ayyas yang terparkir.
"Ini kita kemana?"
"Ikuti saja arahanku."
"Oke boss." jawab Ayyas.
Ayyas segera menghidupkan mesin mobil, begitu dirinya sudah duduk di belakang kemudi. Dia menjalankan mobil itu dengan tenang, hingga memasuki jalanan perkotaan.
"Yas, sepertinya sudah maghrib, kita sholat dulu yuk."
"Oke, kita cari masjid dulu."
Tak perlu waktu lama, mereka sudah menemukan masjid. Masjid cukup megah, terletak di pinggir jalan. Ayyas segera memarkirkan kendaraannya di tempat yang ada. Keduanya keluar, menuju tempat berwudhu.
Dengan wajah yang masih basah, mereka memasuki masjid. Tak lama, kumandang iqomah diperdengarkan. Mereka memasuki shof-shof yang ada, mengikuti sholat jamaah yang akan didirikan. Setelah selesai merekapun melanjutkan perjalanan.
"Sekarang ke mana ini?"
"Kita ke rumah orang tuanya Maria."
"Kenapa kamu tidak sebut dari dulu tentang rumah Maria."
"Aku baru kepikiran tadi pagi. Soalnya, semenjak menikah denganku, dia tak pernah pulang. Karena Ayah dan kakaknya sudah tak mau mengakui dia."
"Mengapa?"
"Tak tahulah ... Yang jelas saat pernikahan, merek datang. Tapi kemudian pergi tanpa berpamitan. Entah mereka marah sama aku atau sama Maria, aku tak tahu."
"Dan mas nggak mencoba cari tahu."
"Untuk apa?"
"Setidaknya kalau mas tahu alasannya, kan mas bisa memperbaiki hubungan. Mau tak mau, itu orang tua Maria, mertua mas juga. Selama di dunia kewajiban berbakti pada orang tua tertap ada, meski berbeda keyakinan."
"Tak tahulah aku soal itu. Aku baru saja belajar."
"Ya sudah. Ini lanjut kemana, Mas."
"Semoga saja mereka belum pindah. Belok kiri!"
Ayyas membelokkkan mobilnya ke arah yang ditunjuk Herman. Ada kantor satpam yang harus mereka lewati. Setelah memperkenalkan diri sejenak, merekapun diperbolehkan memasuki kawasan itu.
Sebuah kawasan perumahan elit dengan jajaran rumah megah dan halaman luas ....
....
....
Terima kasih readers yang tercinta. Telah berkenan membaca tulisan author ini.
__ADS_1
Votenya, author nanti ...🙎🙎💟