
Aku berharap ini hari yang baru bagiku. Betapa diriku terpenjara dalam raga dan rasa rindu. Rindu akan keluargaku. Mereka terluka olehku.
Ini mengingatkanku akan goresan luka yang telah begitu mendalam, yang telah aku torehkan padanya sehingga sulit untuk hilang.
"Ibu Maria, sudah waktunya."
Maria segera berdiri, mengikuti sipir wanita itu melangkah. Meninggalkan ruangan-ruangan deruji besi yang selam ini menjadi tempat tinggalnya.
"Selamat, hari ini ibu sudah diperbolehkan untuk menghirup udara kebebasan." ucapnya sambil bersalaman
"Terima kasih Bu, atas bimbingannya selama ini."
"Sama-sama, Kami berharap ibu tak kembali ke sini lagi."
"Aamiiin ..." ucap Maria bersyukur. Karena hari ini bisa menghirup kembali udara di luar penjara. Setelah sekian lama mendekam di dalamnya.
Maria terus melangkah hingga tampak cahaya terang di luar sana.
Alhamdulillah, Wahai Tuhanku.
Engkau beri diriku kesempatan lagi.
Bimbing diriku yang tak tahu apa-apa ini.
Agar tak salah lagi dalam melangkah.
Dia tersenyum, saat melihat seorang pria yang sebagian rambutnya sudah tampak memutih. Yang berbeda dari biasanya adalah adanya peci putih yang melingkar di kepalanya.
"Papa," sebut Maria saat sudah berada di depannya. Lalu memeluknya hangat. Hingga tak terasa air mata Maria menetes pula.
"Maafkan aku, Papa."
"Sudah, sudah papa maafkan. Tapi papa harap kamu tidak mengulanginya lagi. Papa sudah tua. Papa kesepian tanpa dirimu."
"Insya Allah. Terima kasih, Papa."
Sebelum mereka masuk ke dalam mobil yang dibawa Alfa, terlihat seorang laki-laki yang selama ini selalu menjenguknya, baru turun dari motor metic-nya.
Maria menoleh, menanti dengan senyuman.
"Mas ... Mas datang juga."
"Iya, selamat kamu sudah bebas."
"Makasih, Mas."
Lama mereka saling diam. Sampai akhirnya Alfa membuka suara.
"Herman, kamu sekarang bisa jenguk Maria di rumahku."
"Bolehkah, Pa?"
"Bagaimana Maria?"
"Yang punya rumah papa. Ya terserah Papa."
"Sudah, ayo!" ajak Alfa.
"Mas, aku pulang dulu." kata Maria, lalu mengikuti Alfa yang sudah memasuki mobil terlebih dahulu.
"Ya."
"Assalamualaikum ..."
__ADS_1
"Wa alaikum salam."
Herman pun berlalu dari tempat itu, menuju motor metic-nya kembali. Menghidupkan mesinnya, berjalan mengikuti mobil Alfa keluar dari pelataran Lembaga Pemasyarakatan.
"Pa, Bagaimana keadaan Mutia sama Aldo?"
Sebenarnya Maria sangat merindukan anak-anaknya. Apalagi sejak masuk penjara tak pernah sekalipun mereka mau menjenguk. Maria harus merasa puas dengan cerita dari Herman maupun Alfa tentang keadaan mereka.
"Mereka baik, seminggu atau dua minggu sekali mereka jenguk papa. Tentu dengan diantar Irwan sama bundanya juga."
"Papa, bundanya itu aku."
"Papa mengerti Maria. Dari kamulah mereka ada. Mereka cucu Papa."
Alfa tak tega meneruskan ceritanya. Karena masih jelas dalam ingatannya, bagaimana Mutia pias wajahnya, hampir-hampir tak sadarkan diri saat berjumpa dengan Maria.
"Maafkan Maria, Pa. Maria bukan bunda yang baik buat mereka."
Alfa ikut sedih juga saat melihat Maria berwajah muram.
"Nanti lama-lama mereka akan memaafkan mu. Sudah, janganlah kamu bersedih." hiburnya.
"Aku ingin lihat mereka."
"Baiklah. Kita akan lewat dekat sekolahnya. Semoga saat ini mereka sedang istirahat."
"Terima kasih, Pa."
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah kompleks sekolahan. Alfa menghentikan mobilnya. Dari jendela, Maria mengarahkan pandangannya ke arah halaman sekolah. Alhamdulillah, mereka terlihat bermain riang, membuat hatinya bahagia.
Ingin Maria turun, menjumpai mereka, agar bisa memeluk putra-putrinya,dengan erat. Tapi dirinya masih takut.
Terakhir bertemu di rumah sakit, baik Tia maupun Aldo selalu memegang erat baju Zulfa. Seakan mohon perlindungan, dari orang yang ingin melukainya.
"Aku ingin sekali, Pa. Tapi ... Dalam keadaan sekarang ini, aku ragu."
"Semoga Minggu besok, mereka mau ke rumah papa. Atau kita ke rumah Zulfa?"
"Entahlah, Pa. Aku telah melukai jiwa mereka. Aku pun tak bisa membayangkan seandainya itu terjadi padaku. Membayangkan bahwa bundaku seorang pembunuh." tak terasa air mata Maria menetes.
"Sudahlah, berdoalah dan berubahlah. Bagaimanapun kamu adalah bundanya. Mereka pasti kembali padamu."
"Makasih atas semangatnya, Papa."
Setelah bel berbunyi, Alfa pun menghidupkan mobilnya, melanjutkan perjalanan ke rumah.
"Papa, sekarang telah berubah."
"Sejak kamu menikah, papa selalu berfikir dan mencari tahu tentang keyakinan yang kamu anut. Papa baca buku-buku, tapi papa masih ragu. Akhirnya papa benar-benar yakin saat cucu-cucu Papa selalu jenguk Papa. Mereka selalu bertanya ini, itu. Papa jadi malu, akhirnya papa memantapkan diri untuk menjadi muslim."
"Pa, aku juga masih belajar."
"Tenanglah Maria, Papa sudah mengundang ustadz agar kita bisa belajar bersama."
"Makasih, Pa."
Tak terasa, perjalan mereka sudah sampai pada tujuan. Dengan rasa syukur Maria maupun Alfa memasuki rumahnya kembali.
💎
Sesuai rencana, hari ini Hasan akan mengajak Zulfa belanja setelah menjemput anak-anak sekolah.
Begitu turun dari sholat dhuhur, dirinya sudah bersiap.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Sudah siap?"
"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh. Lho, habis jemput anak-anak kan?"
"Kalau jemput sama-sama, Gimana?"
"Heem ... baiklah. Aku kasih tahu mbak Dinda dulu, supirku."
"Sudah punya mobil sendiri nich, hebat."
"Irwan yang ngatur. Dia terlalu sibuk, makanya aku dikasih hadiah mobil sekaligus sopirnya."
"Bahagianya punya putra begitu."
"Aku hanya mendoakan saja."
"Ya sudah bersiaplah, aku jemput sekarang."
"Mas, sudah makan siang?"
"Justru itu, aku mau ajak kamu makan siang sekalian. Sama anak-anak juga nggak apa. Sudah, aku siap meluncur. Assalamualaikum ..."
"Wa alaikum salam ...."
Mas Hasan ini ada-ada saja. Sebetulnya ada apa ... tiba-tiba sok romantis seperti ini.
Tapi Hasan tak memberikan waktu untuk berfikir lama. Tak kurang dari seperempat jam, handphone-nya berbunyi.
Zulfa dibuatnya senyum-senyum, saat membaca nama yang tertera di layarnya. Bukannya apa, hanya merasa lucu saja.
"Assalamualaikum ... ada apa lagi, Mas?"
"Wa alaikum salam ... aku sudah di bawah."
Zulfa segera mendekati jendela ruangannya. Terlihat dari sana, Hasan sudah berdiri di samping mobilnya sambil melambaikan tangan.
"Baiklah. Aku turun. Assalamualaikum ..."
"Wa alaikum salam ..."
Zulfa segera membereskan mejanya. Lalu menyambar tas kecilnya.
" Shaffa. Aku keluar dulu."
"Baik, Bu ..."
Zulfa melangkah, menuju ke tempat Hasan yang menunggu dengan setia di samping mobilnya.
"Mas, sebenarnya ada apa, sich. Kelihatannya penting banget."
"Sangat penting untuk kita."
Jawaban yang bikin tawa Zulfa meledak. Tapi ditahannya. Takut menyinggung perasaan. Yang dilakukannya hanya senyum-senyum setelah mengangkat alisnya.
"Sudah yuk!" ajak Hasan.
"Kita jemput anak-anak dulu ya ..."
"Baiklah, Bu bos."
"Ada-ada saja." ucap Zulfa sambil tertawa.
Teruslah tertawa, agar aku semakin jatuh cinta. Agar ada alasan bagiku untuk melamarmu. Tapi maaf-maaf belum halal. Jaga pandangan ....
__ADS_1
"Kapan kita berangkat. Anak-anak keburu pulang. Kasihan kalau harus menunggu." tegur Zulfa