KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Sah (end)


__ADS_3

"Bunda, mungkin besok aku tak bisa menghubungimu. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sebelum pindah tugas ke Surabaya." ucap Hasan saat mereka hampir sampai di kediaman Zulfa.


"Ya, Mas." sahut Zulfa. Dia mengambil nafas panjang. Ada satu beban yang hendak diurai kini. "Sulit rasanya mempersiapkan semuanya dalam keadaan seperti ini." jawab Zulfa sambil mengusap wajah dengan tissue. Menghilangkan sisa-sisa air mata yang sesaat lalu keluar tanpa permisi.


"Maksud bunda, pernikahan kita tunda?"


"Aku takut mas makin cemburu kalau ditunda. Dan lagian apa alasannya untuk menunda."


"Ya Bunda. Aku memang saat cemburu saat kamu sangat dekat dengan Herman. Takut kamu balik sama dia." jawab Hasan apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Kemarin sudah pesan ini itu. Masak mau dibatalkan. Rugi dong." jawab Zulfa bersungut-sungut.


"Benarkah. Bahagia rasa hatiku. Ternyata Bunda sudah mempersiapkan semuanya." Hasan menatap Zulfa dengan senyum mengembang. Bahkan tampak jajaran gigi putihnya yang bersih, meski sudah berumur.


"Tapi harus ganti. Sekarang!"


"Wah, pemerasan ini."


"Lha, ini juga untuk Mas."


"Oke, ini. Karena Bunda sudah membuatku yakin kalau rencana itu benar adanya." Hasan menyodorkan sebuah kartu pada Zulfa. "Gunakan yang bijak."


Zulfa ingin tertawa, ketika Hasan menyodorkan kartu ATM. Padahal dia hanya ingin menggodanya saja. Lagian tak banyak keperluan untuk rencana besok malam. Hanya sekedar ijab qobul, tak lebih. Tapi baiklah, tak ada salahnya kalau diterima.


"Oke aku terima."


Dahi Hasan berkerut, ketika menerima kenyataan kartu ATM itu telah berpindah tangan. Wou ... mata duitan juga Bunda Zulfa.


"Tapi Bunda sungguh-sungguh, kan?"


"Apa-apaan sich. Kalau untuk menikah ya ... pasti sungguh-sungguh lah. Beda kalau pacaran. Aku tolak mentah-mentah. Nggak jamannya, nanti dikira saingan sama anak." jawab Zulfa ketus. Mata menyipit dan wajah yang melengos. Sungguh dirinya tak mengira, kalau Hasan meragukannya.


"Ya ... ya, aku percaya."


Ternyata oh ternyata,


ketus juga. Sisi lain yang mulai kelihatan, cerewet plus manja, ketus plus menyenangkan. Mungkinkah diriku saat ini sedang membayangkan mamanya Jamilah yang dulu, hingga muncul sifat yang sama pada dirinya.


Ah bukan, dia tetaplah Zulfa yang ku kenal dulu.


"Hehehe ..." spontan Hasan tertawa memandang wajah Zulfa yang sedang marah. Tampak lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


"Kenapa tertawa." Mata melotot siap menerkam.


"Lucu saja!"jawab Hasan dengan cueknya.


Ingin Zulfa memarahinya, tapi mobil sudah berhenti di depan rumah. Tak mungkin dia melanjutkan amarahnya yang baru separuh jalan. Meski masih menyimpan rasa dongkol.


"Makasih, sudah diantar pulang."Zulfa segera turun tanpa berucap salam.


"Sama-sama, Assalamualaikum." Terpaksa dirinya yang mengucap salam.


"Wa alaikum salam, sudah sana pergi!" jawab Zulfa cepat. Kembali mencoba membangkitkan amarahnya. Zulfa berjalan ke rumah tak lagi menoleh pada Hasan yang meninggalkan rumahnya dengan senyum lebar. Mentertawakan sikap Zulfa yang marah-marah tak jelas.


💎


Tak selamanya duka senantiasa menyelimuti kehidupan. Tapi tentu saja ada waktunya untuk tertawa, senang dan bahagia. Dan itu akan semakin terasa bila datang setelah sekian lama kepedihan dan derita menghimpit sangat. Dan kadang membuat diri ini sesak tak lagi mampu bernafas. Sampai terlupa bagaimana harus hidup.


Sadar diri akan cintamu yang tak lagi membuat hati tenang. Biarlah rasa ini sempurna melihat buah cinta tumbuh sehat dan menyenangkan, seperti yang kupinta di setiap waktu. Menjadikan cinta ini terpancar dalam keinginan akan Qurrota a'yun, penyejuk jiwa di setiap nafas dari harapanku pada Yang Maha Bergantung.


Namun bila hati telah siap dan berpasrah sempurna akan qudrat irodat. Semua itu telah nyata tertulis pada lembaran-lembaran di lahful Mahfud. Rasa hampa itu tiada berisi, tapi bukan berarti tak bernyawa. Dia diam dan menunggu akan saatnya bersemi dan berkembang bersama cinta yang murni pemberian dari pemilik cinta Yang Maha Cinta.


Bila nurani mawas, akan bisa tersentuh meski dalam gelap tanpa cahaya sekalipun. Ini hanyalah setitik kuasa yang mampu ku cerna, hingga diriku benar-benar terpuaskan akan rasa rela dan ridho akan semua yang menimpa diriku. Baik suka atau duka, itu adalah sama.


Bila hati percaya penuh akan cinta. Tak akan pernah terhempas bila cinta akan terambil paksa darinya. Karena cinta hanyalah sesuatu yang mempunyai kekekalan massa (rumus Einstein). Tak akan hilang apalagi sirna. Tapi hanya berubah wajah dan rupa.


"Aku terima nikah dan kawinnya Zulfa binti Ahmad dengan mas kawin perhiasan lengkap dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah." jawab mereka serentak.


Zulfa pun membiarkan Hasan mencium pucuk kepalanya sangat lama, setelah dia bersalaman dan mencium tangan Hasan yang kini sudah sah menjadi suaminya.


"Mas ...." tegur Zulfa tertunduk malu.


Pelan-pelan Zulfa menarik diri. Bagaimanapun mempertontonkan hal ini di hadapan Aldo dan Tia, rasanya kok .... hehehe.


Bukannya Hasan tak tahu, ada banyak pasang mata melihatnya. Tapi apakah urusannya, tho mereka sudah sah.


"Bunda, kamu sudah jadi istriku. Perlukah diriku malu bila ingin lebih lama dari ini." bisik Hasan di telinga Zulfa.


"Tapi tunggu bila semua telah pulang," lanjutnya.

__ADS_1


Membuat bulu kuduk Zulfa meremang.


Hanya sayang, kemesraan dan kesyahduan yang tercipta diantara mereka, harus benar-benar buyar gara-gara si Ayu Jamilah datang, sebagai tamu yang tak diundang


"Selamat Papa Mama." kata Jamilah yang menyeruak masuk di antara tamu undangan. Menyalami keduanya dengan senyum nyengir kuda.


"Setyawati, kamu sama siapa ke sini?"


"Papa ini jahat banget, masak Setyawati ditinggal. Egois sekali. Maunya bahagia sendiri. Benar-benar sudah melupakan diriku." Tak peduli masih ada penghulu dan banyak tamu, dia mengatakan semua itu. Untunglah Zulfa pengertian, dan tak mempersalahkan sikap anak tirinya itu. Apalagi datang dengan bawa piala.


"Lho, katanya kamu lomba. Papa nggak berani ganggu kamu. Nanti Papa kamu marahi lagi."


"Tapi setidaknya nunggu Setyawati lah, waktu mengucap ijab qobulnya."


"Apa perlu Papa ulang." jawaban yang bikin Zulfa tertawa. Ini orang takut amat sama putrinya.


"Nggak seru. Lagian Setyawati udah capek. Sekali lagi selamat menempuh hidup baru Mama Papa." Dia mencium pipi Papa dan mama barunya. " Pa, aku ambil kotak untuk pak guru ya...."


"Boleh. Mana dia, nggak kamu ajak masuk?"


"Itu*."


Jamilah menunjuk seseorang yang sudah Hasan kenal sebelumnya. Orang yang sama yang dia jatuhkan dulu. Dan kini telah mengantarkan putrinya menjadi juara di tingkat propinsi.


Dengan malu Hasan mendekatinya, berbincang-bincang sejenak tanpa ditemani Zulfa.


"Selamat pak Hasan. Maafkan saya yang tak menduga kalau ada acara di sini. Saya undur diri dulu."


"Lho kok."


"Saya hanya mengantarkan putri bapak. Dari pada nekat pulang sendiri."


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama. Assalamualaikum..."


"Wa alaikum salam."


Herman mengantarkannya hingga ke depan rumah. Biarlah untuk sementara para tamu jadi urusan Zulfa.


Sayangnya Jamilah amat manja pada Zulfa. Bercerita panjang lebar tentang dirinya. Yang membuat Zulfa kadang tertawa. Setelah sekian lama baru Jamilah berpamitan.

__ADS_1


"Bunda, aku capek. Aku mau tidur di kamar Bunda ya ...." Zulfa menganggukkan kepala.


Dan ini membuat Hasan harus kecewa saat mendengar permintaan putrinya pada Zulfa.


__ADS_2