KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Babak-babak Terakhir (1)


__ADS_3

Di tengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba Hasan menerima telepon dari bawahannya. Semua menghentikan obrolannya. Dan mencoba mendengarkan pembicaraan Hasan dengan bawahannya. Semoga kabar baik.


“Pak,  sepertinya aku melihat mobil yang kita curigai.”


“Ikuti dan hati-hati jangan sampai ketahuan.”


“Baik Pak.”


Hasan  bangkit akan meninggalkan tempat itu untuk menyusul anak buahnya. Baru akan melangkah, tiba-tiba dia sudah berhenti lagi.


“Ada yang tahu ciri-ciri Bobby atau menyimpan fotonya.”


“Sebentar,” Edzel terlihat sibuk membuka galeri yang dia punya.


“Alhamdulillah, aku masih ada.”


“Kirim ke aku biar aku kirim ke anak buah ku.”


“Sudah.”


“Makasih.”


Sebentar kemudian Hasan sibuk dengan handphonenya untuk mengirimkan gambar yang sudah diterimanya dari Edzel kepada bawahannya. Semoga benar mobil itu.


“Ada yang mau ikut?”


“Aku.” Edzel mengajukan diri.


“Aku juga,” kata Herman.


“Boleh juga. Tapi kalau rombongan seperti ini, ya cepet ketahuan.”


 Untunglah telepon Herman  berbunyi. Rupanya Steve sudah ada di bandara Canberra. Sedang siap-siap naik jet pribadi milik kawannya yang kini akan berangkat ke Indonesia. Ceritanya numpang, mumpung ada gratisan.


“Aku nyusul. Tapi tolong kirim lokasinya, Edzel.”


“Beres. Sudah seharusnya kamu ikut. Masak dari dulu diem aja.”


Menanggapi ledekan Edzel, Herman senyum-senyum saja. Usah diambil hati. Kan memang benar adanya. Saatnya sekarang untuk memperbaiki dan menebus kesalahannya.


Mereka semua bangkit dan meninggalkan Alfa seorang diri, menuju ke tempat tujuan masing-masing.


Kini  Alfa hanya bisa berdoa semoga permasalahan ini segera terungkap. Bukannya ingin balas dendam, tetapi sudah seharusnya yang salah mendapatkan hukuman. Demi tegaknya suatu keadilan.


Sementara itu anak buah Hasan yang mengikuti mobil berwarna hitam, perlahan-lahan memarkirkan kendaraannya tak jauh dari mobil itu berhenti. Dengan mengendap-ngendap dia menghampiri mobil itu dan memasang sebuah alat, agar dapat mendeteksi mobil itu ke mana pun perginya.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil Hasan pun sampai ke tempat itu, bertepatan dengan mobil hitam itu pergi.


“Gimana?”


“Sudah saya pasang alat pendeteksi.”


“Baguslah, ayo kita ikuti!”


Ketika mengamati alat tersebut maka tampaklah bahwa mobil  itu berputar-putar lama di dalam kota, Baru kemudian masuk ke jalanan sepi melalui hutan belantara yang akhirnya masuk ke arah pelabuhan yang tersembunyi.


Sebentar-sebentar, sepertinya mereka melewatinya, terus berjalan sampai di sebuah rumah yang cukup megah tak jauh dari pelabuhan itu, namun tersembunyi di balik bukit, dengan pepohonan yang rimbun. Hasan tak menuju jalanan itu tetapi menuju bukit yang ada di belakangnya. Agar mudah mengamati, yang penting aman dan tersembunyi.


Tak lama kemudian terdengar  keributan kecil. Lalu tampaklah seorang pria yang berbadan tegap keluar dari rumah.


“Pak Hasan, dia itu yang namanya Bobby.”


“Sudah ku duga. Dia orangnya.” meskipun hanya memandang sekilas gambar Bobby, Hasan sudah bisa memastikan siapa yang namanya Bobby.


“Pak ada orang minta tolong.” Anak buah Hasan melaporkan.


“Terus selidiki.”


“Kamu tahu pekerjaannya Bobby?”


“Astaghfirullah Al adzim.” Kini Hasan menyadari, seberapa berbahayanya manusia yang bernama Bobby itu. Pasti dia mempunyai anak buah yang mengawalnya.


“Hati-hati lihat sekitarmu jangan sampai tertangkap.” Begitu kata-kata intruksi yang ditujukan kepada anak buahnya. Tapi sayang terlambat.


“Pak, saya tertangkap.”


“Aku di belakangmu. Terus nyalakan komunikasi.”


Samar-samar terdengar bentakan demi bentakan  ditunjukkan pada anak buahnya. Tapi anak buahnya cukup bisa berakting. Seolah-olah dia ingin bergabung dengan mereka. Untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya.


 Ada satu kata yang menarik, anak buahnya menyebutkan sebuah nama dan itu dikatakan berulang-ulang.


“Heru kamu kah itu?”


“Oh kamu mau mengikuti jejak ku juga?”


“Heru-Heru, kamu tahu saja sih maksudku.” Terlihat anak buahnya cukup tenang dalam menghadapi situasi.


“Gaji polisi terlalu kecil. Ini lebih menjanjikan.”


Suara itu sudah sangat dia kenal. Dan apakah Heru yang dimaksud adalah Heru bekas anak buahnya? Kemungkinan besar seperti itu. Sungguh keterlaluan kamu Heru.

__ADS_1


Untuk saat ini yang bisa dilakukan Hasan hanyalah diam menunggu. Sampai bantuan datang. Yaitu dari polsek setempat yang baru saja dihubungi. Untuk jaga-jaga ....


Dia tak berani mendekati rumah tersebut, sebelum semuanya jelas. Agar tidak banyak jatuh korban. Semua kemungkinan harus diperhitungkan. Termasuk dalam penggunaan waktu yang tepat.


Meskipun hari sudah mulai gelap. Tapi masih riskan untuk bergerak. Akan lebih efektif lagi, apabila hari sudah benar-benar gelap. Dan dia akan memulai aksinya. Membebaskan anak buahnya, sekaligus menangkap Bobby, tentu dengan bukti-bukti yang sudah ada. Yang saat ini sedang diusahakan oleh anak buahnya.


“Kita gantian shalat ya ...”


“Baiklah.”


Untuk berwudhu, mereka memakai air mineral yang mereka bawa dengan sehemat mungkin. Untungnya air mineral itu selalu tersedia di mobil. Ya ... buat persediaan dan juga jaga-jaga.


Setelah Hasan pun melakukan shalat Di atas sajadah yang selalu ia bawa, dalam penjagaan Edzel. Baru kemudian Edzel melakukan shalat, Hasan menjaganya.Ya ... Bagaimana pun keadaannya, sholat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.


Ini  sudah benar-benar gelap. Saatnya untuk bergerak, meskipun bantuan belum juga datang. Mau gimana lagi!


Dengan mengendap-ngendap, Hasan dan Edzel mendekati rumah tersebut.  Hingga sampai di tembok belakang rumah.


Pada saat yang sama, dia mendengar suara keributan di dalam rumah. Rupanya penyamaran anak buahnya sudah diketahui oleh mereka. Disusul kemudian suara pukulan-pukulan yang sangat keras. Tak lama kemudian terdengar bunyi tembakan.


Dor ... Dor ....


Sontak membuat Hasan terkejut. “Ya Allah!”


Dia segera keluar dari tempat persembunyiannya. Baru akan melangkah, sudah terdengar kembali bunyi tembakan yang saling bersahutan.


Apakah pasukan yang kuinginkan telah datang? Kenapa tidak memberitahuku? Dan mereka begitu saja yang menyerbu rumah itu? Hasan bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.


Dia pun kembali mengendap-ngendap berjalan menyusuri sisi tembok, untuk mencari jalan masuk. Agar dapat mengetahui keadaan anak buahnya dengan sebenarnya. Mengabaikan bunyi tembakan yang masih berlangsung.


Sepintas dia melihat beberapa orang yang tidak dia kenal, memasuki ruangan, dengan membawa pistol di masing-masing tangannya. Seperti pasukan yang sangat terlatih. Mereka sepertinya bukan orang-orang kepolisian yang sudah dikenalnya.


Lalu nampak melintas Herman yang didampingi oleh seorang bule. Dia berbadan tegap dan kekar.


“Kak, jangan jauh-jauh dariku.”


“Ya, Steve.”


Sebenarnya mereka siapa? Mengapa mereka bersama Herman. Dan orang-orang yang di bawanya itu siapa juga? apa hubungannya dengan Herman? Apakah Herman termasuk dalam sebuah mafia. Dan sekarang ini Apakah sedang memperebutkan sesuatu?Apakah terjadi persaingan di antara mereka?


Hasan terus berjalan menyusuri tembok itu hingga sampai di sebuah ruangan yang diperkirakan tempat anak buahnya berada sambil terus memikirkan tentang keberadaan Herman dan orang-orang yang dibawanya.


Ternyata ruangan itu kosong. Di mana anak buahnya? Dia mendekati sebuah ruangan yang tertutup rapat. Dari dalam terdengar sebuah rintihan kecil. Dia mengetuk pintu itu dengan sangat pelan.


“Siapa di dalam?”

__ADS_1


__ADS_2