KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Pingsan


__ADS_3

Sementara itu di ruang tamu, terlihat Hasan Dan Ridwan masih nampak berbincang-bincang. Sekedar melepas rindu dan yang lainnya.


"Apa kamu serius." tanya Ridwan.


"Tapi semua kembali sama Jamilah." jawab Hasan agak sendu.


"Kalau kamu nya sudah mantap, pasti ada jalan."


"Semoga saja." jawab Hasan lemah.


"Dia ibunya Tia?"


"Ibu tiri ... apa kakak keberatan?"


"Kakak hanya bisa mendoakan, semoga kalian berjodoh."


"Makasih Kak."


💎


Sementara itu umi Ridwan yang melihat Jamilah dan Zulfa sudah rapi, segera menghampirinya.


"Menyenangkan sekali di sini." kata Zulfa saat berjalan beriringan dengan umi Ridwan menuju rumahnya.


"Sampai berbasah-basah yaa,.Bu."


Zulfa tersenyum.


"Iya, gara-gara itu." matanya melirik ke arah anak-anak yang berjalan di depan mereka.


"Maksud saya, nyaman sekali di sini. Banyak pohon buah-buahan."


''Itu abbah sama anak-anak yang tanam."


"Kurasa anak-anak yang punya hobby berkebun tersalurkan, selain itu mereka juga bisa menikmati buahnya."


Zulfa manggut-manggut, mendengarkan penjelasan umi Ridwan.


Tak terasa, perjalanan mereka telah sampai ke rumah abbah dan umi Ridwan sendiri. Berada paling depan diantara bangunan lainnya.


'"Rupanya Bu Zuifa sudah dibuat repot sama ponakan saya, maaf Bu."


"Nggak apa-apa Umi, anak-anak."


"Kita makan dulu, sudah siang." ajak Umi


"Wah, kebetulan sekali. Habis berenang, bikin perut ini keroncongan."


"Ayo, kalian juga."ajak Umi Ridwan pada Tia dan Jamilah.


"Temui papa ya ......" kata Jamilah tak peduli. Melangkah meninggalkan umi dan Zulfa


"Apa kamu nggak kangen sama papamu."


"Aku sudah tergantikan. Papa bawa wanita, kan?"


"Jamilah ... Jamilah."


Sampai saat ini Jamilah masih enggan bertemu papanya. Kesal dan jengkel masih tersimpan dalam dadanya. Ada-ada saja ...

__ADS_1


Bikin Zuifa senyum-senyum sendiri. Sepertinya menyindir dirinya. Tapi masak iya. Dirinya merasa tak demikian. Dia bukan wanita papanya.


"Maksud Jamilah apa ya ...."


"Ah Bunda, mau tahu aja ...." jawab Jamilah cemberut.


"Cemburu?"


"Pastilah, Bun. Nanti kalau papa nikah lagi, pasti aku dilupakan."


"Kulihat papamu nggak seperti itu."


"Bunda tahu aja."


"Ya sudah kalau nggak mau ketemu sama papamu. Biar Umi suruh balik lagi."


Jamilah berhenti berjalan. Dia memandang Umi Ridwan berfikir. Ada kebimbangan dalam keputusannya kali ini.


"Baiklah." jawab Jamilah.


Apa salahnya jika dia menemui papanya.


Sambil lihat reaksi wanita itu, dan menikmatinya. Hehehe......


Bisikan setan mulai mempengaruhi pikirannya.


Sayang rencana Jamilah sudah diketahui Umi Ridwan. Dia juga tak kalah dalam menyusun rencana. Pelajaran dimulai ....


"Bu Zulfa, bisa saya minta tolong." bisiknya pelan di telinga Zulfa.


"Minta tolong apa, Umi?"


"Rencana apa ini, Umi?"


"Please ...."kata Umi Ridwan memohon.


"Baiklah."


Mereka melangkah tenang sambil berbincang ringan. Sedangkan Jamilah melangkah sambil cemberut, tampak sekali kalau dia sedang kesal. Meski Tia dan Aldo menggodanya, tetap saja dia tak bergeming. Bahkan timbul ide untuk menambah rencana, agar makin seru.


"Tia, temani kak Ayu ambil sesuatu untuk papa."


"Tia nggak mau dijadikan kambing hitam lagi kalau ada apa-apa sama temen om Hasan, Lho."


"Hus ... tenang aja."


Mereka berjalan mendahului Umi dan Zulfa menuju ke kamar Jamilah. Sedangkan Umi dan Zulfa tetap melanjutkan jalannya menuju ruang perjamuan untuk tamu, sambil menggandeng tangan Aldo.


Saat sampai di ruang tersebut, Hasan dan abbah Ridwan baru saja memasuki ruangan itu. juga. Baru juga Hasan akan duduk, umi mencegahnya.


"Kamu pindah geh, jangan di situ. Biar itu di duduki Zulfa."


"Kakak ipar ini ada-ada saja."


Umi Ridwan melotot, melihat tingkah Hasan yang setengah protes itu.


Tapi dia menuruti juga. Dia berpindah di tempat duduk sebelah. Persis di samping Zulfa.


Umi sudah mengatur segala jamuannya dengan rapi sekali. Bahkan tempat duduknya pun sudah di atur. Entah apa yang direncanakan olehnya.

__ADS_1


"Setyawati kemana, Kak?"


"Tak tahu, mungkin sebentar lagi datang."


"Sudah kita makan saja." ajaknya.


"Ya sudah, mari Bu Zulfa," kata pak Ridwan mempersilahkan.


Zulfa menarik kursinya, demikian juga Aldo yang selalu berada di sisinya. Ridwan segera mengambil makanan yang terhidang. Demikian pula dengan Umi Ridwan. Zulfa juga demikian. Setelah mengisi piring Aldo dengan nasi dan lauk-pauk, dia pun mengambil nasi dan lauk lele 'sareh' yang terhidang di depannya. sepertinya mengundang selera.


Dua tiga sendok nasi masuk ke dalam mulutnya. Meski dirinya masih kepikiranTia. Anak ini dibawa kemana oleh Jamilah. Sampai saat ini kok belum datang juga.


Akhirnya yang ditunggunya datang juga. Dengan tertawa lebar mereka masuk ke ruang makan. Zulfa meliriknya saja, dan tersenyum. Anak-anak selalu punya dunia sendiri.


Entah apa yang sedang mereka bisikkan hingga mereka berdua bisa tertawa lebar seperti itu.


Tak sopan ....


Umi sudah melotot melihat tingkah keponakannya itu.


Tapi ketika sampai di tengah-tengah pintu, Jamilah berhenti. Baik langkah maupun tawanya. Dia melihat sekeliling, mana wanita yang papa bawa. Mengapa hanya ada bunda Zulfa, mamanya Tia ....


Jangan-jangan ....


Jamilah berdiri diam, bingung dan mematung.


Hasan yang memang sudah sangat merindukan putrinya segera menghampirinya.


"Setyawati, Papa kangen. Kemana saja kamu nak, Putri papa ...." kata Hasan. Dia masih menganggap putrinya layaknya anak kecil. Dia meninggalkan makannya, menghampiri putrinya yang masih berdiri mematung. Memeluk dan mencium pucuk kepalanya.


Jamilah masih tak percaya dengan penglihatan. Menyambut pelukan papa Hasan dengan bingung. Sehingga tanpa sadar mengeluarkan mainan ular yang dia sembunyikan di tangannya dari balik tubuhnya.


Dia mengalungkan mainan itu pada ayahnya. Spontan tangan Hasan mengibaskan mainan itu. Dia terlempar tepat mengenai kaki Zulfa.


Merasa ada sesuatu yang menyentuhnya kakinya. Zulfa segera menghentikan makannya dan menengok gerangan apa yang menyentuh kakinya.


Demi dilihatnya seekor ular yang menggeliat di samping membuatnya panik dan wajah pucat seketika. Itu adalah benda yang paling dia takuti dan membuatnya trauma semenjak dia SMP. Dan seketika ....


bruggk...


"Papa, Bunda Zulfa ...."


Semua terkejut melihat Zulfa yang tiba-tiba jatuh dari tempat duduknya. Tak terkecuali Hasan yang sedang memeluk Jamilah. Dia segera mengecup dengan cepat putrinya dan menghampiri Zulfa.


"Zulfa ...." Dia menyebut nama itu dengan panik. Apalagi saat tahu ada mainan ular di bawah meja. Karena dia tahu, benda itu sangat ditakuti oleh Zulfa. Dia segera mengangkat tubuh Zulfa ke ruang kesehatan. Diikuti Jamilah, Aldo dan Tia dengan panik juga.


Jamilah semakin bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa bunda Zulfa yang ada di sana. Kenapa juga makanan itu yang dimakan olehnya. Tapi bukankah ....


Yang dicampurkan dalam makanan itu hanya serbuk pembersih perut saja. Mengapa bunda Zulfa pingsan ....


Terlihat tetesan bening di sudut matanya. Seandainya dia tahu yang akan datang adalah bunda Zuifa, yang sering Tia ceritakan. Dan yang tadi menolongnya. Tak mungkin dirinya akan melakukan hal itu. Apalagi membahayakan bunda Zulfa.


"Jamilah. Apa yang kamu lakukan, Sayang."kata Hasan. Dalam suasana hangat atau perlu penekanan, memang namanya akan kembali pada sebutan yang asli, Jamilah tetap Jamilah. Segera dia memeluk papa Hasan menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Maafkan Jamilah, Papa. Jamilah tak tahu kalau dia bunda Zulfa.'


"Papa nggak akan pernak bisa marahi kamu, Sayang."


Hasan tahu kalau putrinya merencanakan sesuatu. Tapi bukan pada mainan itu. Karena dia yang mengibaskan. Tak sengaja jatuh ke kaki Zulfa.

__ADS_1


Sedangkan Umi Ridwan juga dibuatnya bingung. Tidak begini skenario-nya. Dan masakan itu juga sudah aku buang, mengapa Zulfa pingsan .....


__ADS_2