
"Wa alaikum salam. Edzel, kamu kah?"
Seorang lelaki yang cukup berkharisma menghampiri Alfa. Tanpa ragu-ragu mencium tangan kakek tua itu dengan ta'dzim. Ada kerinduan di wajahnya. Yang tak mampu di ungkap lewat kata. Hanya bulir air mata yang tiba-tiba menggenang di antara bening matanya. Lalu berlahan, mengurainya di jari-jari yang saling bertautan erat.
"Maafkan Edzel, Pa." Mungkin hanya kata itu yang bisa mewakili perasaannya kini.
Rasanya tak puas jika dirinya hanya mendapatkan ciuman tangan dari anak laki-laki yang selama ini menghilang entah kemana. Begitu badannya tegak, Alfa memeluknya erat. Meski dengan tangan yang masih berbalut perban.
"Ini siapa?" tanya Alfa. Ketika Melihat seorang wanita bercadar yang ada di belakang Edzel dengan seorang anak kecil yang sepantaran Aldo tidur dalam pelukannya.
"Dia istriku, Pa."
Sejenak Alfa terpaku dengan penampilan wanita yang diakui Edzel sebagai istrinya. Tak sangka putranya yang menghilang begitu lama, kini kembali dengan membawa seorang gadis yang jauh dari perkiraannya selama ini.
"Ummik ...." tegur Edzel pada wanita yang menggendong putranya. Tanpa diminta, Edzel mengambil alih menggendong putranya yang kini tertidur pulas di pelukan sang istri.
"Assalamualaikum, Papa." Dia menggapai tangan Alfa untuk dapat bersalaman sebagai ungkapan rasa hormat pada orang tua yang kini menjadi mertuanya.
"Wa alaikum salam ...." jawab Alfa masih dengan keterkejutannya. Sampai dirinya tak menyadari kalau tautan tangan istri Edzel telah terlepas.
"Dik?" sapa Edzel pada Herman yang tak kalah terkejut, dengan kedatangan seorang yang dulu menjadi saksi atas pernikahannya dengan Maria. Dia memeluk erat.
"Bang Edzel. Apakah kakak pulang karena Maria." Herman mencoba membuka pembicaraan setelah sekian lama dalam suasana haru, bertemu keluarga yang lama tak ada kabar beritanya.
"Herman, biarkan Edzel istirahat." sela Alfa yang melihat putranya itu datang dengan wajah yang lelah. Apalagi melihat istri dan cucunya.
Dengan berat hati, Herman melepas pelukan dari saudara kandung Maria.
"Makasih, Papa. Sebentar aku antarkan mereka ke kamar dulu. Habis ini, kita cerita. Aku juga masih kangen sama papa " ucapnya sambil membawa anak dan istrinya menuju salah satu kamar yang berada di atas. Kamar yang sama sebelum dia menghilang.
"Ya sudah, Papa tunggu."
Ada kebahagiaan yang tergambar di wajah Alfa. Memang benar saat ini dirinya telah kehilangan putrinya. Tapi di saat yang sama putranya datang menghibur.
Bukan tanpa alasan Edzel pulang. Tapi ada suatu yang tak perlu papa atau yang lainnya ketahui. Bagaimana pun ini sudah jatuh korban. Apalagi yang menjadi korban adalah adik perempuan satu-satunya yang sangat dia sayangi. Meski dirinya tak dapat mengungkapkan rasa itu semenjak menikah dengan Herman. Dia hanya bisa berdoa, agar semua baik-baik saja. Tapi semua tak sesuai dengan yang dia harapkan. Hingga pada akhirnya dirinya harus kehilangan orang yang selama ini tak pernah dirinya menyakiti.
Tak berapa lama, terlihat Edzel turun dari lantai atas, disertai wanita bercadar itu dalam keadaaan yang lebih segar. Bergabung dengan mereka berdua.
"Papa masih menjaganya. Keadaannya masih tetap sama seperti saat aku tinggalkan dulu."
"Karena Papa berharap kalian akan kembali."
__ADS_1
"Gini nich, yang membuat aku sangat berdosa sama Papa."Edzel berkata sambil menggandeng wanita bercadar yang masih malu-malu mengikuti langkahnya. Hingga sampai di depan Papa Alfa yang duduk berselonjor kaki dengan punggung bersandar di dinding.
"Selama ini kamu kemana?" kata Alfa lemah ketika keduanya sudah duduk bersama-sama di sekelilingnya.
"Aku sangat dekat dengan Papa, tapi Papa tak menyadarinya." jawab Edzel dengan senyuman yang sama.
"Kukira kamu ikut si gembong Mafia itu. Ternyata kamu berpetualang mencari jati diri, dan ... tentunya istri juga." Sambil melirik pada wanita yang duduk tertunduk di samping Edzel.
"Maafkan aku, Papa. Aku kenalkan dia yang membuatku lari dari Papa. Dia Fatimah, istriku. Tapi yakinlah Pa. Kalau Papa tak pernah tergantikan."
"Pandai juga kamu merayu. Apa dia juga yang mengajarimu?" sindir Alfa yang cukup membuat wanita itu tersipu. Andai semua bisa melihat, pasti sudah mendapati wajah yang merah merona.
"Kurasa iya." jawabnya tanpa dosa.
"Abi." teriaknya lirih dengan cubitan kecil di lengannya.
"Au ... sakit."
Justru itu yang memang Edzel ingin perlihatkan pada Papa Alfa, bahwa kehidupan keluarganya ini hangat dan baik-baik saja. Agar papanya dapat tersenyum.
Tapi sayang dirinya lupa, kalau disampingnya ada adik iparnya yang kini sudah benar-benar sendiri. Dan tak pelak membuat jiwanya meronta-ronta.
Kalau gini lebih baik aku kembali ke kamar dan tidur, gumamnya dalam hati.
"Pa, Bang, aku ke kamar dulu. Ngantuk. Besok aku masih harus kerja" Sambil beranjak dari duduknya. Meninggalkan mereka berbincang-bincang hangat.
"Ya, Her." jawab Alfa.
"Abi, aku juga mau ke kamar. Khawatir Amar bangun."
Sejenak dia menatap wanita itu dengan senyum. Ada-ada saja ....
Tapi baiklah.
"Ya sudah, Ummik temenin Amar. Aku masih mau ngobrol sama Papa."
"Da, Bi. Aku ngantuk."
"Ya ... ya ... sana." Edzel melirik sesaat wanita yang kini beranjak dari duduknya. Meninggalkan dirinya juga.
💎
__ADS_1
Sementara itu ....
Zulfa sedikit syok dengan keadaan Maria, saat ini sudah berpulang ke ribaan Yang Kuasa secara tiba-tiba Dia duduk termenung, diam tak bersuara di sepanjang jalan sepulang dari melayat Maria. Untuk sekian lama Hasan membiarkannya dalam kesedian. Tak ingin mengusiknya. Hanya saja lama-lama tak tega juga, saat air mata Zulfa menetes.
"Bunda,ada apa?"
"Dia yang berusaha mendapat cinta putra-putrinya, kini sudah berpulang. Aku benar-benar sedih," ucap Zulfa sambil mengusap satu dua tetes air mata yang keluar tak bisa dicegah.
"Tapi saat terakhir Tia Aldo sudah mendampinginya. Itu sudah sesuatu banget.Hanya sayang, tak bisa peluk mereka."
"Iya." jawab Hasan singkat. "Umur tak ikut punya. Kalau Yang Kuasa sudah menentukan waktunya, siapa yang bisa menolaknya."
Melihat Zulfa seperti ini Hasan larut juga. Dia menjalankan mobilnya dengan pelan.
"Sekarang Tia sama Aldo benar-benar kehilangan bundanya."
"Bukankah mereka sudah menemukan sosok bunda. Bunda bagi mereka adalah dirimu."
"Tapi bukan yang sesungguhnya. Tentu beda."
"Sudahlah Bunda, jangan memikirkan terlalu dalam. Aku jadi nggak enak. Sampai-sampai kepikiran kalau Bunda mau kembali sama mas Hasan."
Ingin rasanya tertawa mendengar perkataan mas Hasan seperti itu. Sampai sekarang kok masih ragu ....
Ah, biarkan saja. Belum ada kata sah, tak perlu ditanggapi.
"Ada apa kok senyum-senyum?"
"Lucu aja. Mas cemburu?" jawab Zulfa tanpa beban.
Zulfa ... Zulfa ....
"Kalau iya. Apa tak boleh?"
"Tapi apa yang perlu dicemburui?"
"Kedekatan kamu sama mantan. Itu sama saja membukakan jalan untuk kalian bersama. Apalagi di sana ada Tia, Aldo, Irwan, Lika."
Seketika senyum Zulfa memudar. Dia menunduk sedih.
"Maafkan aku Mas. Aku nggak ada maksud seperti itu."
__ADS_1