KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
di Angkringan


__ADS_3

Sementara itu, laki-laki yang datang ke rumah Halimah, kini sudah berada di hadapan Bobby.


Tak terkira marahnya Bobby melihat anak buahnya kembali tanpa hasil. Dia merasa ditipu habis-habisan, oleh wanita yang bernama Maria. Bahkan mereka harus keluar uang juga, untuk ganti rugi dari apa yang mereka perbuat.


"Maafkan kami bos. Surat itu palsu. Mereka punya yang asli. Jadi kami nggak bisa mengambil rumah itu."


"Sudah, sana pergi. Aku nggak mau lihat pecundang macam kalian."


Beringsut - ingsut mereka mengundurkan diri. Menjauh dari bosnya. Bisa - bisa mereka akan jadi sasaran kemarahan nya. Apes benar nasib mereka kali ini. Di sana hampir saja digebukin masa, di sini dimarahi sama bos.


"Awas kau Maria. Tak ada seorang pun yang boleh merendahkan ku" teriaknya sambil membanting gelas yang ada di tangannya.


💎


Sudah seminggu, sejak kematian Halimah, Herman masih belum kembali beraktifitas seperti dulu. Beruntung dia punya asisten yang sudah handal. Hingga bisa menghandle semua yang biasa dia tangani.


Karena kerabat atau teman-teman Halimah masih juga berdatangan ke rumahnya, ingin mengungkapan bela sungkawa, sebagai penghormatan terakhir yang bisa mereka lakukan.


Meski demikian, Herman tak hendak berlama-lama bersedih, dan sudah rindu dengan aktifitas seperti biasanya. Karena lama ditinggalkan, bisa jadi pelanggannya akan menurun. Beda tangan beda rasa. itu sudah umum terjadi.


Tepatnya di hari ke delapan, dia kembali ke angkringan. Beraktifitas seperti biasa.


Siang itu, sehabis sholat dhuhur, dia dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu. Yang mungkin selama ini dinantinya. Zulfa dan anak-anak, lengkap. Irwan, Tia, Lika, Aldo. Sayang disayang, dia datang bersama Hasan.


Wajah yang semenit yang lalu cerah ceria, bak matahari bersinar, redup seketika tertutup mendung.


Mungkin sudah saatnya dia melupakan Zulfa. Dan harus menerima seutuhnya Maria. Untuk kebahagiaan putra-putrinya. Benar kata Zulfa. Sedikit demi sedikit, anak-anak pasti bisa menerimanya kembali. Terlepas diriku masih ada rasa atau tidak.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Ayah."


"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh, Aldo Tia Irwan, Lika. Tumben mampir?"


"Ya, Ayah. Lika kangen masakan ayah. Kebetulan Lika mau balik, mau bawain oleh-oleh masakan buat teman-teman. sekalian promosi. Siapa tahu kalau mereka lewat sini bisa mampir."


"Boleh. Bagus juga ide mu."


'Siapa dulu ... Lika." jawab Lika bangga.


"Aldo, Tia, ayah kangen. Kapan kalian sama ayah lagi."


"Aldo mau pulang, tapi nenek nggak ada. Sepi. Aldo ikut bunda saja kayak Tia."


Herman tersenyum kecut, mendengar jawaban putra-putrinya. Habis dong, nggak ada siapa-siapa di rumah. Diriku makin kesepian..


"Ayah ...."


"Ya, Wan. Kalian semua ikut bunda. Sepi dong hidup ayah."


Salah sendiri dulu ayah tinggalkan kami. Jadi jangan salahkah kalau kami memilih ikut bunda.

__ADS_1


"Kan ada bunda Maria. Ditunggu lah, Yah." goda Irwan.


"Kalian ...."


"Mertua ayah kan sudah nerima ayah jadi mantunya. Kenapa nggak balikan saja sama bunda Maria."


Mau marah gimana. Memang begitu adanya. Tapi masak mereka sudah melupakanku ...


"Kalian benar-benar nggak bisa nerima ayah lagi."


"Bunda nggak mengajarkan itu pada kami. Hanya kami menghormati keputusan bunda."


Herman tersenyum kecut, dan harus mengakui keterpurukan hatinya saat ini. Istri yang setia sudah dia tinggalkan begitu saja. Maka sudah sepantasnya kalau menginginkan berpisah, apalagi sudah ada Maria di sampingnya.


"Ya, ayah salah ... tapi bukan karena bunda kalian ingin menikah lagi kan?"


Irwan senyum-senyum. Ayah!!


Pantas dia cemburu. Karena saat itu, Zulfa sedang berbincang-bincang serius dengan Hasan. Kenapa juga dua orang itu meski berpacaran di depanku.


Padahal tidaklah demikian adanya. Hasan ke sini hanya ingin memberitahukan Herman, kalau Maria akan menjadi tahanan kota, karena ada jaminan dari Alfa, papanya. Tapi kalau Herman setuju.


Tentu itu berita yang menggembirakan. Apalagi bagi Zulfa. Karena dia orang yang menginginkan Maria bebas sejak awal. Dia segera menyampaikan berita itu pada Zulfa yang secara kebetulan, mereka berjumpa di angkringan milik Herman.


Bukannya Hasan tak tahu kalau Herman bakalan cemburu. Tapi bagaimana lagi, tak sengaja bertemu. Tak ada niat kencan, macam anak muda. Kita sudah sama-sama mengerti dan sudah dewasa, Tak perlu acara macam itu juga.


Tapi ada baiknya juga. Bukankah dia serius, ingin menjalin hubungan dengan Zulfa. Jadi buat latihan Herman, agar tidak terkena serangan jantung kalau saatnya tiba.


Kabar baik apa?!.


Mengambil Zulfa dari aku, begitu kan?!.


"Ya, kabar apa?" jawab Hasan pura-pura bahagia. Mau tak mau dia mendekati keduanya.


"Mungkin besok Maria sudah keluar."


"Kok bisa?"


"Mas Herman nggak senang?"


"Bukankah, masih tiga tahun lagi."


"Ya, tapi nggak di penjara. Dia wajib lapor tiap minggunya."


"Tahanan kota?"


"Dan mas tak perlu lagi jenguk di LP. Jenguk aja di rumah mertua." goda Hasan.


Kenapa Hasan menyampaikan itu di depan Zulfa. Semakin jatuh diriku di matanya.

__ADS_1


"Aku bersyukur banget, akhirnya Maria dapat bebas." kata Zulfa tanpa basa-basi.


"Apa itu artinya kamu menginginkan Aku kembali pada Maria."


"Demi anak-anak dan Maria. Dan tentunya untuk mas sendiri.


"Tak ada tempat lagi kah mas di hatimu?"


Huk ... huk ... huk. Tiba-tiba Zulfa ingin batuk.


Hasan yang di depannya juga tertawa kecil, mendengar kata-kata Herman.


"Sepertinya ada maslah serius di antara kalian. Silahkan diselesaikan dulu." kata Hasan sambil meminum tetes kopi terakhir di cangkirnya.


"Sebentar aku tinggal."


Hasan meninggalkan mereka karena ingin menjawab telpon yang berdering tiba-tiba. Dari kak Redha ....


"Assalamualaikum .... Kak, ada apa?"


"Bisakah kamu pulang sekarang. Anaknya sudah ada di sini. Dan mumpung lagi nginap sini."


"Maksud kak Redha apa?"


"Yang mau aku kenalkan ke kamu."


"Lho??"


"Sudah, nanti aku tunggu makan malam. Assalamualaikum ...."


"Wa alaikum salam ....."


Hasan heran dengan pembicaraan telpon dari kakak iparnya itu. Maksudnya apa ....


Anaknya sudah datang.


Jangan-jangan aku salah orang. Bukan Zulfa ini, yang kak Redha jodoh kan ke aku. Aduh kak Redha ini ....


Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta. Apalagi lagi ini seolah mengulang kisah cintaku dulu. Cinta lama bersemi kembali ...


Tapi baiklah, aku turuti saja permintaan kak Redha. Sekedar berkenalan, apa salahnya. Sudah tak usah dipikirkan dulu. Di suruh ... pulang. Makan malam .... makan malam. Kok repot.


"Sudah selesai pembicaraan nya?" goda Hasan pada Herman dan juga Zulfa.


"Oh ya, aku juga mau pamit, mas Herman. Ini baru saja dapat telpon kak Redha. Suruh pulang."


"Ada apa?" tanya Zulfa penasaran. Jangan-jangan, terjadi sesuatu dengan keluarga Jeng Redha.


"Bukan apa-apa. Biasalah kak Redha, kalau ada maunya selalu saja minta segera."

__ADS_1


"Oh gitu. Salam untuk jeng Redha, Mas."


"Ya nanti aku sampaikan."


__ADS_2