
Irwan menunggu Shaffa di ruang tengah sambil membaca koran dan menikmati kopi susu kesukaannya. Bosan menunggu, ia keluar sebentar, melihat pemandangan malam yang mempesona. Langit penuh bintang dan juga rembulan yang bersinar sempurna, tentu akan semakin hangat bila dapat berbincang-bincang dalam suasana demikian. Yeah ... sok romantis. Angan Irwan pun melayang. Seiring bisik kalbunya pada penguasa Arsy di atas sana.
Tuhan beri diri ini kekuatan untuk menceritakan yang sebenarnya. Tentang rasa, keinginan dan impian bersama. Agar semua menjadi terang. Ridhoi kami dalam pelukan kasih sayangmu
Tapi ada sesuatu yang membuatnya agak bingung. Entahlah kalau mau ngomong dengan Shaffa kok jadi hilang semua kata-kata. Sampai-sampai harus cari inspirasi segala, macam orang yang benar-benar jatuh cinta. Astaghfirullah al adzim .....
Lama dirinya menunggu di beranda, tapi Shaffa tak datang-datang juga. Jangan-jangan ikut tertidur? Ya sudah, mungkin belum saatnya untuk ngomong ke dia. Tapi ketika akan melangkah ke dalam, ternyata Shaffa sudah berdiri di tengah pintu.
"Kukira kamu sudah tidur."
"Maafkan aku, Mas. Tia minta didongengi segala. Akhirnya aku terbawa."
"Tak apa. Gimana kalau kita di luar saja, sambil menunggu Bunda dan Papa pulang," ajaknya. Sebenarnya Irwan agak khawatir dengan keusilan Lika. Sepertinya dia belum tidur. Terlihat lampu kamarnya masih menyala. Yang paling penting, mudah cari inspirasi mau ngomong apa.
"Baiklah." Shaffa menghampiri Irwan yang kembali duduk. Shaffa pun duduk di kursi yang terpisahkan oleh sebuah meja.
Untuk sesaat, mereka terlena dengan pikiran masing-masing. Tanpa mampu mengungkapkan lewat kata.
"Mas Irwan mau ngomong apa?" Suara lembut Shaffa memecah kesunyian di antara mereka.
"Hmmmm ...."Hanya gumaman kecil yang mampu keluar dari bibirnya.
Ternyata oh ternyata, suasana yang romantis, tak membuat Irwan bisa mengungkapkan apa yang tersimpan dalam dadanya. Kelu lidah dibuatnya, gemetar bibir mengucapkannya.
Ya Tuhan, kok susah banget ngomongnya sich!
Ayo bisa-bisa, Irwan.
Bismillah!
"Kamu nggak tersinggung kan, kalau aku bertanya sesuatu?"
"Tergantung," jawab Shaffa santai yang tentu saja membuat Irwan harus mencari kata-kata lagi supaya pas dan tak merusak suasana.
Setelah diam sesaat, dia menatap Shaffa dengan pandangan penuh dan juga senyuman.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin tanya tentang perasaan kamu sama Heru." Belum juga Irwan melanjutkan pertanyaannya sudah terlihat Shaffa murung dan sedih.
"Ah maaf kalau itu menyinggung." Irwan mengalihkan pandangan pada taman di depan mereka. Tak ingin melihat kesedihan Shaffa.
Sesaat Shaffa mengalihkan pandangan ke arah langit, seakan ingin berbicara pada bulan yang tampak tenang menyinari mereka. Membisikkan sesuatu yang menjadi bebannya saat ini.
"Nggak pa-pa Mas. Aku justru senang, ada yang peduli padaku. Tapi, apa pentingnya itu bagi Mas."
"Itu sangat penting bagiku. Karena saat mengantar, aku melihat Bapak Ishak sedih dengan keputusan saat ini."
"Semua sudah terlambat Mas. Bapak sudah menyebarkan undangan."
"Selama belum ada janur kuning melengkung, tentu masih ada harapan, bukan?"
"Aku nggak bisa nolak keinginan Ayah bagaimanapun aku beralasan."
"Seandainya Bapak Ishak berubah pikiran, apakah Kamu menerimanya?"
"Kurasa nggak mungkin. Itu bukan tipe Bapak."
"Apapun bisa terjadi."
"Maafkan aku, aku nggak bermaksud membuatmu semakin sedih."
"Tentu aku sangat senang Mas, kalau Bapak membatalkan pernikahan kami. Memang aku nggak tahu benar tentang Heru. Tapi dengan apa yang terjadi, aku tak yakin bisa bermakmum sama dia. Aku takut dia akan menjerumuskan lebih dalam lagi. Dan membuatku semakin terhina."
"Seumpama ada orang yang suka sama kamu. Apa kamu mau menerimanya?"
Terdengar tawa kecil dari bibir Shaffa. Dia memandang aneh dengan pemikiran Irwan. Siapa juga yang mau melamar gadis seperti dia, anak desa yang tak tahu apa-apa.
Apalagi beberapa lagi hari lagi akan manikah. Sesuatu yang tak baik bila menerima laki-laki lain. Hanya karena ingin lari dari calon suaminya.
Shaffa hanya mampu berdoa. Kalau memang Heru adalah jodohnya, semoga Allah memberikan petunjuk agar dia menjadi manusia yang lebih baik dan menjadi imam yang baik pula bagi dia dan anak-anaknya kelak. Tentu itu harapan yang wajar untuk manusia yang lemah seperti kita.
"Mas jangan memberikanku mimpi yang aneh deh. Siapa juga yang mau sama aku?"
__ADS_1
"Dia telah lama memperhatikanmu. Tapi tak pernah bisa mengatakan perasaannya. Dia terlambat. Ia datang saat kamu sudah mau menikah. Andai kamu mau membatalkan pernikahan itu, dia pasti bahagia."
"Seandainya dia benar-benar punya perasaan sama Shaffa, kenapa dia tidak menemui Shaffa langsung. Harus melalui mas Irwan?"
"Kamu benar-benar mau tahu siapa dia?"
"Aku tak tahu."
Apa pentingnya itu bagiku.
"Shaffa, Maafkan Kak Irwan. Yang selama ini menyembunyikan perasaan terhadapmu. Sebenarnya telah lama kak Irwan kagum sama kamu. cuma kak Irwan menunggu waktu yang tepat. Tapi saat yang tepat itu ternyata terlambat. kamu sudah dilamar seseorang. Saat kudengar kamu tidak menginginkan pernikahan itu, kakak senang. Ini memberikan jalan bagi kakak. Tapi apa kamu menerimanya."
Shaffa menatap penuh pada Irwan. Apakah benar dengan apa yang di dengarnya. Sebuah ungkapan yang manis keluar dari seorang Irwan yang notabenenya adalah seorang direktur perusahaan, anak dari atasannya. bisa memiliki perasaan padanya. Ini impossible. Shaffa pun tersenyum tipis, mentertawakan dirinya yang sedang bermimpi.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Kak Irwan ini bisa aja, kalau mau membuat Syafa bahagia janganlah kasih gambaran yang seolah-olah mimpi bagi Shaffa."
"Ini bukan mimpi. Kakak sungguh-sungguh. Bunda sama papa juga sudah tahu dan setuju. Tinggal nunggu kamu."
"Kak, jangan hibur Shaffa dengan hal-hal yang nggak mungkin. Hanya karena Shaffa tak menginginkan Heru.!" Shaffa berkata dengan tetesan air mata yang kian mengalir. Setelah mengusapnya, ia berkata lagi, "Baiklah, kalau memang Kakak sungguh-sungguh, Mas bilang ke Bapak. Kalau Bapak setuju, Shaffa akan ikut." Pandangannya masih lekat menatap Irwan.
"Kakak sudah ungkapkan ke Bapak. Kalau kamu nggak percaya, besok kita ke rumah Bapak."
"Baiklah, terima kasih Kakak sudah menghiburku." Shaffa pun tertunduk.
Mengapa satu masalah belum selesai timbul masalah lainnya?
"Apa kamu nggak percaya sama kakak?"
"Shaffa mencoba percaya. Meski itu tak mungkin."
"Kakak harus mengatakan apa, agar kamu percaya?"
"Tak ada kak. Aku sudah cukup bahagia bila Kakak benar-benar telah mengungkapkan itu pada Bapak."
__ADS_1
"Apa ini berarti Kakak kamu terima?"
"Beri aku waktu Kak. Mungkin ini salah satu solusi buat aku. Tapi ini soal pernikahan, itu bukan hal main-main."