
Ini nanti akan jadi sekedar ekstra part atau lanjut ke season 2. Author tak tahu. Yang pasti author akan berusaha supaya cerita ini benar-benar tuntas.
Selamat membaca dengan bahagia ...,, 💖💖💖💖💖
__________________________________
Hasan dongkol sekali saat melihat putri semata wayangnya melenggang dengan gembira menuju kamar isterinya. Dia melirik dengan penuh kekesalan sambil menggigit bibir. Kacau, kacau ....
Putrinya yang sudah beranjak remaja bisa-bisanya merusak acara dirinya. Keinginan untuk mendekati istri yang baru dinikahinya, kini pupus sudah. Pusing dach ....
Hati boleh dongkol, tapi senyum tak boleh hilang. Dikira patah hati, padahal baru menikah. Hehehe ...
Setelah beramah-tamah sejenak, satu persatu para tamu undangan berpamitan. Meninggalkan pengantin baru yang tengah 'bahagia'.
Mereka nggak perlu tahu kalau ada masalah kan?!
Kini yang tersisa adalah beberapa karyawan Zulfa. Mereka sibuk membereskan sisa pesta, Dengan dibantu bibi. Tak ada satu pun yang meninggalkan tempat, sampai semua benar-benar beres. Maklumlah, yang punya hajat Bu Boss.
Begitu Zulfa berkata, harus sami'na wa atho'na, mau dipotong gajinya? (benarkah Bu Boss seperti itu, yang benar saja). Tapi tenang saja, habis ini dapat bonus yang lebih besar. Pengganti kado yang mereka berikan. Hehehe ....
Mereka membantunya menyiapkan acara ini secara sempurna. Dari sejak penyusunan acara, pernak-perniknya. Serta saat penyelenggaraannya, hingga acara usai. Termasuk juga beres-beres sampai benar-benar beres. Sudah sepantasnya dapat bonus dan uang lembur, kan?
Demikian juga dengan Shaffa, sekretaris Zulfa. Dia yang memandu acara ini, sehingga dapat terselenggara dengan baik. Tentu saja ditemani oleh Irwan. Setelah memastikan semua dalam keadaan beres, dia pun berpamitan pada Zulfa yang saat itu bercengkrama dengan Hasan, Irwan dan Lika.
"Bu, saya pamit dulu."
"Oh ya. Terima kasih, Shaffa."
Dia pun berjalan meninggalkan mereka dengan langkah lelah. Tanpa lagi menoleh ke belakang. Maklumlah, pekerjaan yang dibebankan padanya saat ini, sangat banyak. Begitu selesai, satu yang dipikirkan, cepat pulang dan istirahat.
"Irwan, tolong antar Shaffa."Zulfa merasa tak tega sama karyawan yang sangat setia padanya itu. Malam-malam pulang sendiri apalagi dia seorang wanita.
"Tak usah, Bu."
"Benar kata Bunda, Shaffa. Aku antar ya ...." Irwan bangkit dengan wajah cerah mengambil kunci mobilnya di atas buffett.
"Makasih, Mas. Nanti ngerepoti ... biar Shaffa pulang sendiri. Saya bawa matic kok, Mas."
"Sama sekali tidak. Niat Bunda itu baik. Kamu wanita ... sudah aku antar saja. Kamu tinggal motormu di sini. Besok kamu ambil." Dengan santai Irwan menuju ke arah Shaffa.
Sebenarnya Shaffa juga takut pulang sendiri. Ini sudah melewati waktu teloransi dengan ayahnya, saat dia berpamitan. Apalagi harus melewati jalanan yang amat sepi di tengah sawah, sebelum masuk ke kampungnya.
"Baiklah, Mas,"jawab Shaffa.
Yesss ....
__ADS_1
Betapa hati Irwan bersorak mendengar jawaban dari Shaffa, gadis yang selama ini dikagumi diam-diam. Apalagi saat ini kuliah S3-nya sudah hampir selesai. Sesuai rencana, menikah setelah selesai study S3.
"Ayo," ajak Irwan. Shaffa mengikuti begitu saja langkah Irwan hingga sampai ke mobil Irwan.
"Rumahmu mana?" Dia bertanya pada Shaffa. Wanita yang kini duduk di sebelahnya. Menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
"Ini."jawab Shaffa dengan memberikan GSP pada Herman.
"Baiklah. Kamu boleh tidur. Nanti kalau sudah sampai, aku bangunin."
"Makasih."
Irwan menghidupkankan mesin melaju berlahan meninggalkan rumah. Menyusuri jalanan kompleks yang sangat lenggang. Sebelum memasuki jalanan perkotaan yang tak kenal kata sepi, meski malam hari. Tak sampai sepuluh menit, dirinya sudah harus membelokkan mobilnya ke jalanan yang sangat gelap dan senyap. Jalan satu-satunya menuju rumah Shaffa. Hanya diterangi cahaya bulan. Yang kadang terang, kadang remang-remang karena tertutup awan.
Kini mobilnya telah memasuki perkampungan kecil di tengah sawah. Tak banyak rumah yang berdiri di sana. Mungkin hanya sekitar 10 buah. Tak mungkin dalam keremangan malam, dirinya mampu menemukan dan memastikan rumah Shaffa. Dia hanya bisa berhenti sejenak, serta menghidupkan lampu dalam.
Tapi untuk membangunkan Shaffa, tak tega.
Karena pengaruh pencahayaan itu, Shaffa terbangun. Untuk sejenak dia mengejap-kejapkan mata, menyesuaikan cahaya yang diterimanya. Dan baru menyadari kalau mobil sudah berhenti.
"Sudah sampai, Mas?"
"Aku nggak tahu rumahmu yang mana?"
"Kenapa Mas nggak bangunkan aku?"
"Mas nggak enak. Pasti kamu capek bantu Bunda," kata Irwan. " Mana rumahmu?"
"Itu, rumah nomor 3 dari sini. Tembok bercat putih, pintunya warna biru."
Kembali Irwan menghidupkan menjalankan mobilnya menuju arah yang ditunjuk Shaffa. Rumah bercat putih dengan pintu berwarna biru. Irwan pun mematikan mesinnya.
Bersamaan dengan itu, pintu rumah Shaffa terbuka. Terlihat Bapak yang cukup berumur berdiri di depan pintu. Dari raut mukanya, terlihat kalau sedang marah.
Melihat hal itu, Shaffa membuka pintu dan melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Untuk sejenak Irwan terpaku, dirinya bertanya-tanya. Wah, pasti masalah nich ....
Apalagi melihat wajah Bapaknya, serammm ...
"Shaffa!!"panggilnya dengan keras. Shaffa segera berlari menghampiri.
Mencium bau kesalahfahaman, Irwan segera keluar, menghampiri keduanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh,"ucap Irwan. Dia mengulurkan tangannya, ingin bersalaman. Tapi tak mendapatkan sambutan. Irwan pun menarik tangannya kembali dengan malu-malu.
Dia memandang Irwan dengan tajam. Melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hanya memandangnya saja, tanpa mau menjawab salam.
__ADS_1
Bahkan dia balik bertanya pada Shaffa.
"Siapa dia?" tanyanya menghunus. "Kamu itu seminggu lagi mau menikah. Kok sekarang malam-malam bawa pulang laki-laki. Apa kata calon suamimu nanti."
Allahu Akbar ....
Irwan benar-benar kaget, mendengar perkataan Bapak Shaffa. Benarkah wanita ini sudah akan menikah. Tapi sebelum janur kuning melengkung, tak bolehkah dirinya berharap.
"Bapak. Aku tak mau. Bapak nggak mengenal siapa dia."
"Apa kamu mengabaikan orang tuamu."
"Tapi Bapak!"
"Masuk!"
Shaffa pun setengah berlari masuk ke dalam rumah. Ingin mengucapkan terima kasih pada Irwan pun, tak sempat.
Irwan merasa, dirinya bukan berada di waktu dan tempat yang tepat, segera mohon diri.
"Saya ke sini hanya mengantarkan Shaffa. Maafkan saya, kalau itu membuat Bapak tak nyaman. Sekali lagi saya minta maaf."
Bapak itu melengos, lalu masuk menyusul Shaffa. Serta membanting pintu dengan sangat keras. Beruntung sebelum itu, Irwan sempat mengucapkan salam. Meski tak mengharap jawaban.
Lah, yang pertama saja tak dijawab, apalagi yang kedua. Mungkin kalau dia wanita sudah ngelus dada. Irwan segera beranjak dari tempat itu.
Sebelum membuka pintu mobil, sempat terdengar olehnya, teriakan Shaffa.
"Kenapa Bapak kekeh banget ingin menikahkan aku dengan polisi itu. Ia itu bajingan, Bapak."
"Jangan berkata seperti itu. Dia calon suamimu. Dia sudah mapan."
"Bapak, aku tak mau."
Plak !..
Plak!..
"Kamu itu, tak mau diuntung."
Irwan yang mendengar tamparan itu benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin Pria itu mampu melakukan pada anak gadisnya. Segera dia kembali ke depan pintu. Ingin mengetuk dan menghentikan. Tapi ....
Tak mungkin dia ikut campur urusan antara bapak dengan anak. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Melangkah menuju mobilnya.
Sejenak dia termenung di depan kemudi. Tak hendak menghidupkannya. Ah ....
__ADS_1
Irwan seolah-olah marah terhadap dirinya sendiri. Mengapa dia tak mampu menolong Shaffa. Yang dapat dilakukannya, hanya berdoa. Semoga Shaffa tidak apa-apa.