KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Tidurlah Dengan Tenang


__ADS_3

Tak banyak pembicaraan di antara mereka, sampai Tia datang.


"Saya bawa mereka dulu, Bu Guru."


"Silahkan."


Kini Aldo sudah lebih tenang. Dia mengikuti Zulfa melangkah menuju mobil. Sedangkan Tia agak gelisah. Tak biasanya bunda Zulfa menjemput di tengah-tengah dirinya sedang belajar. Meski demikian, dia tak berani bertanya.


"Aldo. Apa kita nggak pulang dulu?" tanya Zulfa.


"Tak usah, Bunda. Aku pingin lihat Bunda Maria."


Setelah berfikir sejenak, Zulfa mengangguk. Mungkin itu lebih baik. Karena dirinya juga ingin segera mengetahui keadaan Maria. Hanya dia mengkhawatirkan Tia.


"Tia, kita ke bunda Maria ya ..."ucap Zulfa sambil berbisik di telinga Mutia


"Bunda Maria kenapa?"


"Bunda Maria ditabrak mobil, Dik," jawab Aldo.


Mutia tampak pucat. Zulfa segera memeluknya erat. Dia membelai rambut Mutia dengan lembut. Sesekali meniup dan mencium pucuk kepalanya.


"Bunda Maria itu baik, Nak. Tiap hari selalu jenguk kalian."


"Ya, Bunda. Tia lihat, bunda selalu ada di balik pagar."


"Itu tandanya sayang ke kalian. Sekarang bunda Maria sakit. Kita jenguk ya ...."


Tia mengangguk. Meski wajahnya tampak sedih.


Syukur ya Allah, Engkau telah bukakan hati anak-anak untuk menerima bundanya kembali, bisik Zulfa dalam hati.


Tiba di sana, dia disambut Hasan.


"Mas, di sini?"


"Tugasku, Bunda."


"Bagaimana keadaan mereka?"


Hasan seperti enggan menjawab. Dia melihat anak-anak dengan sedih. Satu per satu, dia usap kepalanya. Lalu meraih Aldo dan menggendongnya. Sementara Mutia sudah ada dalam gendongan Zulfa sejak turun dari mobil.


"Ayo kita lihat keadaan kakek dulu," ajak Hasan. Zulfa mengangguk.


Hasan mengajak mereka menyusuri koridor rumah sakit. Tiba di paviliun mawar, mereka berbelok ke salah satu kamar. Tampak di dalam, kakek Alfa sedang berbaring di atas ranjang. Dia dalam keadaan baik, meski tangan dan sebagian kepala berbalut kain kasa.


"Assalamualaikum, Kek," ucap Tia.


"Wa alaikum salam,"jawabnya, "Senang sekali kalian di sini. Mau jenguk Bunda?"


Aldo mengangguk dengan wajah yang teramat sedih.Terakhir melihat, keadaan bunda Maria sangat buruk.


"Baiklah, kakek juga ingin menjenguknya."

__ADS_1


Aldo yang tak bisa di gendong minta diturunkan. Demikian juga dengan Mutia. Sehingga mereka dengan bebas melangkah menuju ruang pemeriksaan di UGD. Terakhir Alfa melihat masih berada di sana. Entah sekarang.


"Ya, benar. Maria masih di sana." Hasan mengetahui karena dia yang menangani kasus kecelakaan ini.


Tapi sayang, mereka tidak diperbolehkan masuk. Karena Maria sedang menjalani pemeriksaan intensif. Mereka hanya diperkenankan melihat melalui jendela kaca.


Keadaannya sangat memprihatikan. Hampir seluruh badannya terluka. Sebenarnya Hasan tak tega membawa mereka semua ke tempat Maria. Tapi sejak awal Aldo menunjukkan keinginannya untuk melihat bundanya. Dia tak lepas memandang Maria.


"Nanti kalau sudah dipindahkan ke ruang perawat. Kalian bisa jenguk."


Rupanya Aldo masih belum puas, kalau hanya melihatnya saja. Tapi dia juga tak berani mengatakan. Dia hanya diam dan tak mau beranjak dari tempatnya.


"Aldo ..." panggil Zulfa. Aldo diam dan tetap di tempatnya, tak mau beranjak sedikit pun. Zulfa tak lagi memanggilnya. Karena dia juga merasakan kesedihan yang sama dengan apa yang dirasakan Aldo.


Alhamdulillah, tak lama terlihat beberapa perawat masuk ke ruangannya. Infus di letakkan ke dadanya. Demikian juga dengan peralatan yang lain. Dua orang perawat membawanya keluar dari ruangan. Mereka membawa ke ruang perawatan yang sama dengan Alfa.


Karena kamar itu memiliki dua ranjang pasien, kamar kelas 2.


"Alhamdulillah, bisa satu kamar." ujar Alfa.


Terlihat Maria tertidur, saat perawat merapikan peralatan kesehatan yang ada di tubuh Maria. Mereka menghubungkan dengan peralatan yang ada di ruangan itu. Baik tabung oksigen maupun komputer.


Berlahan-lahan, mata Maria terbuka. Samar-samar terlihat olehnya adalah papanya.


"Papa, aku pingin lihat Aldo Tia."


Mendengar permintaan Maria, Hasan dan Zulfa segera menggendong keduanya. Duduk disampingnya, agar terlihat oleh Maria.


"Aldo Tia, Bunda sayang kalian,"ucapnya terbata-bata.


"Aldo juga sayang Bunda," jawabnya. Sesekali tangannya menyentuh tangan Maria.


Sedangkan Mutia diam, belum mau menjawab. Dia memandang ke wajah Zulfa.


"Katakan, Sayang. Tia juga sayang Bunda," bisiknya lembut di telinga Tia. Tia menganggukkan kepala.


"Tia juga sayang Bunda. Cepat sembuh, Bunda, "ucapnya dengan mata sendu. Tia mendekatkan kepalanya ke wajah Maria. Mencium pelan pipinya.


Tetesan bening terlihat di sudut mata Maria. Tak mengira putra-putrinya akan bisa menerimanya. Ini yang selama ini dirindukannya.


"Jangan tinggalkan Bunda ...."


"Tidak Bunda. Aldo akan menunggu bunda sampai Bunda sembuh. Bunda cepat sembuh ya."


Sedangkan Tia tak berkata-kata. Hanya anggukan kepala untuk memenuhi permintaan Bundanya.


"Mbak Zulfa, makasih."


"Sudah. Jangan pikir macam-macam. Yang penting sekarang kamu cepat sembuh dan bisa bawa anak-anak. Mereka juga merindukanmu."


Tak lama kemudian, Maria tertidur kembali. Mungkin efek obat. Nafasnya masih teratur. infusnya berjalan normal. Baik infus untuk transfusi darah maupun infus nutrisi.


Zulfa mengajak anak-anak keluar. Memberi kesempatan pada Alfa dan Maria untuk beristirahat. Tapi Aldo seolah-olah enggan. Dia duduk di samping bunda Maria dan juga kakek Alfa.

__ADS_1


"Bunda aku di saja. Nunggu Bunda."


Demikian juga dengan Mutiara. Dia duduk tenang di samping Alfa.


"Baiklah. Bunda mau telpon mbak Dinda dulu. Sekalian mau pesan makan siang."


Keduanya mengangguk. Lalu duduk dikedua sisi Maria dengan meletakkan kepalanya di samping tubuhnya. Hingga tak lama keduanya tertidur dalam keadaan duduk. Alfa menuju ranjangnya, hanya dapat memandang mereka antara sedih dan senang. Lalu Alfa mengikuti Zulfa dan Hasan keluar.


Tanpa mereka sadari, Maria membuka mata. Tangannya menyentuh lembut kepala putra-putrinya. Namun tak berapa lama diri batuk-batuk. Terlihat cairan merah keluar dari hidung dan bibirnya.


Aldo yang terbangun mendengar Bunda batuk terkejut. Demikian juga dengan Mutia. Spontan ke duanya berteriak, bingung dan menangis.


"Kakek Alfa, Bunda Zulfa ...." teriak mereka.


Spontan Zulfa masuk ke kamar itu dengan cepat. Yang diikuti Alfa. Mereka terkejut dengan keadaan Maria, wajah dan dadanya telah penuh dengan darah. Segera Zulfa menekan bel darurat untuk mohon pertolongan.


Tak berapa lama, 2 orang perawat mendatanginya. Memberikan pertolongan. Sedangkan Maria tidak berhenti untuk batuk, sehingga makin banyak darah yang keluar. Terlihat salah seorang memangil perawat yang lain melalui intercome. Tak lama datang seorang perawat dengan membawa ember yang berisi air hangat dan kain.


Zulfa segera menarik anak-anak keluar, agar kedua perawat itu dapat bekerja lebih cepat. Sedangkan Aldo dan Tia menangis di samping Zulfa. Tangannya memegang baju Zulfa.


"Bunda, kenapa Bunda Maria?"


"Tak apa-apa, Sayang. Kita doakan yang terbaik buat Bunda."


Tak berapa lama ketiga perawat itu keluar, dengan membawa peralatan dan kain yang kotor yang terkena darah.


"Tolong jangan ditinggalkan, Bu."


"Terima kasih, Sus."


Zulfa dan anak-anak masuk. Kini terlihat Maria tenang dengan baju yang sudah bersih pula. Wajahnya tampak putih bersih dan tenang. Matanya terpejam. Tapi saat Mutia dan Aldo sudah ada di sampingnya, dia membuka.


"Aldo Tia, Bunda sayang kalian."


"Aku juga sayang Bunda." kata Aldo dan Tia.


"Mbak, seperti nya aku nggak punya banyak waktu. Aku titip ... pada ayahnya juga."


"Insyaallah aku sampaikan, Maria."


"Mbak, tuntun aku."


"Tia Aldo, ikut om Hasan dulu ya ...."


Hasan segera mengajak keduanya ke luar. Sementara hanya Alfa dan Zulfa yang menemani Maria.


Zulfa membisikkan sesuatu di telinga Maria."


LA ILAHA ILLALLAH


Berlahan-lahan Maria mengikutinya dengan sempurna hingga nafas terakhir dia hembuskan. Dan matanya terpejam, tidur dengan tenang.


Dengan terisak, Zulfa mensedekapkan kedua tangannya dengan sempurna.

__ADS_1


Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un....


__ADS_2