KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Dasar Malika


__ADS_3

"Waktu datang ke rumah Kak Safa, Kak Irwan enggak ngomong apa-apa?" Lika menatap dengan membulatkan matanya pada Syafa yang duduk disampingnya.


Shaffa pun berpikir sejenak tentang kejadian sepanjang pagi. Dari awal dia berjumpa dengan Irwan di jalanan yang menuju desanya. Seperti tak ada yang istimewa. Tak ada sesuatu pun yang diomongkan. Sampai akhirnya dirinya memilih menenangkan diri di sini, di rumah majikannya. Yang ternyata milik Irwan.


"Aku kira Kak Irwan sudah mengatakan. Tak taunya belum nembak-nembak juga," gumamnya lirih tapi cukup terdengar oleh Shaffa maupun Irwan yang sedang menikmati makan malam bersama. Sontak keduanya meletakkan sendok masing-masing, balik menatapnya. Tapi yang ditatap nggak ngerasa apa-apa. Tetap melanjutkan makannya dengan tenang.


Tak sangka adiknya akan asal berbicara. Bisa-bisa gagal rencananya kalau begini. Tak jadi survive dong ....


"Lika selesaikan dulu makanmu." Irwan mencoba mengalihkan pembicaraan Lika. Agar bisa segera menghentikan omongannya yang mungkin tak perlu. Tapi dasar Lika, ditatap, ditegur seperti itu malah tertawa tanpa dosa. Membuat sedikit kesal. Ingin memarahinya, tapi dia sudah besar, ada orang lain juga bersama mereka. Kasihan kalau jatuh mentalnya.


"Jadi nggak ada gunanya dong parcel itu," celetuknya lagi. Masih dengan melanjutkan makannya.


Lika ... Lika.


Bisanya membuat kakakmu makin keki. Tak tahu harus ngomong apa dalam situasi seperti ini. Benar-benar ini anak minta diberi pelajaran, gumam lirih hati Irwan yang tak perlu Shaffa dan yang lainnya tahu, apalagi krucil-krucil itu.


"Maksudnya apa ya, aku jadi penasaran!" Kata-kata yang dilontarkan Lika berhasil membuat Shaffa tergelitik rasa ingin tahunya.


"Tak ada apa-apa. Sudah jangan dipikirkan,Kita makan dulu, yuk. Lika emang begitu." Irwan mencoba mengembalikan keadaan agar dapat menikmati makan malam ini dengan tenang. Bisa-bisa tak akan selesai, kalau terus digoda seperti ini.


"Itu lho Kak Shaffa ... tapi masak Kak Shaffa nggak ngerasa ada udang di balik batu."


Astaghfirullah al adzim ....


Anak ini kalau sudah ngomong nggak ada remnya alias blong. Membuat Irwan senewen. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau masalah seperti ini, dia pasti kalah dari adiknya.


"Oh ...." ucap Shaffa sambil tersenyum. Lalu melanjutkan makannya kembali sambil senyum-senyum. Ada-ada saja, batinnya berbisik.


"Jadi Kak Shaffa menerima. Alhamdulillah akhirnya aku punya kakak ipar." Wajah Lika tampak gembira. Dia menghentikan makannya dan mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


"Maksudnya?" Kembali Shaffa dibuat tak mengerti.


"Ya, Kak Shaffa calon kakak ipar ku. Masak tak ngerti-ngerti juga."


Allahu Akbar, Lika apa yang kamu katakan. Kali ini Irwan benar-benar bingung dengan aksi adik satu-satunya ini. Bicaranya sudah ngalor-ngidul tak tentu arah. Yang jelas semakin membuat senewen Irwan.


"Sudah-sudah jangan kamu pikirkan. Adanya kamu makin bingung."


"Kalian lucu. Bagaimana mungkin aku akan jadi kakak ipar kalian, kalau 5 hari lagi, aku akan menikah dengan orang lain." Shaffa bergumam lirih dengan wajah tertunduk sedih. Terlintas dalam angannya pikiran yang tidak tidak akan pernikahannya.


"Sudahlah, jangan bersedih. Badai pasti akan berlalu," hibur Irwan.


"Maafkan aku, Kak Shaffa. Aku nggak ada maksud seperti itu."


Kembali mereka melanjutkan makannya. Hingga semua menghabiskan apa yang telah diambilnya, tanpa sisa.


Timbul iseng dalam diri Irwan untuk menggoda Lika.


" Kamu nih."Irwan mengetuk kepalanya.


"Ih, Kakak. Sakit tahu."


Shaffa tertawa kecil melihat adik dan kakak bercanda.


"Baiklah sekarang aku terangkan semua. Agar kamu tahu Lika. Dan kak Shaffa mu nggak sedih lagi karena mendengar ocehanmu."


"Nach gitu dong, Kak."


Untuk beberapa saat Irwan diam karena tak tahu apa yang diomongkan. Sebenarnya dia enggan untuk mengungkapkan perasaannya saat ini karena masih banyak yang dipikirkan, terutama tentang keselamatan Ayah Shaffa juga tentang kesedihan Shaffa.

__ADS_1


"Parcel itu sebagai permintaan maaf ku pada Bapak. Kamu kan juga sudah mendengarnya." Akhirnya Irwan memulainya juga, meski tak tahu harus dari mana.


"Ya. Makasih, Kak. Kakak tak ada salah kenapa minta maaf?"


Sejenak Lika mendengarkan kata-kata dari Irwan, tapi terus terang dia gemaaaas sekali, kenapa juga masih berputar-putar. Tangannya menyenggol kakaknya, supaya segera mengungkapkan isi hatinya.


Sayang, Irwan tak mengerti akan isyarat Lika. Dia tetap melanjutkan cerita yang nggak perlu itu. Sabar ... sabar ... mungkin belum saatnya. Tapi makin lama makin gemes juga, apalagi mendengar bla bla bla dari bibir Irwan. Hm ... perlu di beri sentuhan kekerasan ini. Lika segera bertindak cepat, dengan menginjak kaki Irwan.


"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un." Irwan berteriak kecil. Agak kesal juga, ia dibuatnya. Dasar Malika Hapsari, gerutu Irwan dalam hati.


Dengan tanpa dosa Lika tersenyum lebar, menatap Irwan. Memberikan isyarat supaya mengatakan isi hatinya. Daripada terlambat, dan akhirnya gigit jari.


Sebenarnya Irwan ingin juga menembaknya saat ini juga, tapi sekarang krucil-krucil ini di kemanakan. Tak baik bukan?Ini urusan orang dewasa. Takut mengotori penglihatan dan pendengaran mereka.


"Baiklah. Tapi tak di sini. Oke! dan kamu tak perlu tahu."


Irwan tersenyum lebar dan mengacungkan jempol pada Lika. Meski adiknya ini terlalu usil dengan urusan orang, tapi cukup membantu Irwan untuk berani mengatakan apa yang di simpan dalam dadanya. Kalau enggak gitu siapa yang ngompori-ngompori, biar semangat gitu loh. Ambil baiknya saja lah daripada mikir yang macam-macam.


Hanya saja, jalannya tak selancar tol. Selesai shalat isya mereka diganggu oleh krucil-krucil yang ingin ditemani belajar. Tak baik mengecewakan mereka, nanti semangat belajarnya turun. Jadilah Shaffa terlebih dahulu menemani mereka sampai selesai. Sedangkan Kak Lika melenggang tenang ke kamarnya. Mau menemani belajar, mereka yang tak suka. Karena Lika tak sabaran kalau mengajari. Paham tidak, tambah bingung iya. Suka bentak-bentak sih. Jadi mereka memilih Kak Shaffa, mumpung ada di sini. Biasanya kak Shaffa juga yang mengajari mereka, ketika mampir ke pabrik sepulang sekolah. Sekarang tak sungkan lagi kalau mengganggunya kali ini. Tanpa perduli Kak Irwan yang lama menanti.


Beberapa kali Irwan mengamati mereka. Dilihatnya Shaffa kok belum kelar-kelar juga menemani belajar. Mau tak mau, ia pun ikut nimbrung untuk mengajari Tia dan Aldo dalam menyelesaikan pr-nya. Jam 9 baru kelar belajarnya plus nonton tv-nya. Krucil-krucil itu menuju kamar masing-masing. Mereka membereskan peralatan sekolahnya dalam keadaan mata agak memerah menahan kantuk serta beberapa kali menguap.


"Tia tidur dulu ya. Kakak nanti nyusul."


"Baik Kak.Tapi janji loh."


"Janji." Jari-jari Shaffa membentuk huruf O.


Shaffa tak tega juga membiarkan Tia tidur sendirian. Lalu ia ikuti Tia, menemani nya sejenak untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2