
Tanpa memperdulikan Lika, Irwan pun berjalan menuju mobilnya diiringi oleh Aldo dan Tia.
"Let's go." kata Aldo.
Sambil tertawa kecil Irwan menjalankan mobilnya, menyusuri jalanan yang sepi. Tak banyak orang yang mereka temui di kompleks ini. Mungkin masih asyik dengan selimut mimpi mereka.
Entahlah, mungkin karena terlahir dari ketulusan hati Irwan, suasana pagi terasa hangat. Meskipun matahari masih bersinar remang-remang. Masih malu-malu menampakan diri, mengusir kabut embun pagi yang dingin.
Setelah melewati jalanan di komplek, mobil memasuki jalanan kota. Biasanya ramai tapi tidak untuk hari ini.
Mengapa ya....
Astaghfirullah al adzim. Sekarang hari Ahad tho?
mengapa aku sampai lupa, kalau ini hari libur. Irwan pun mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Kalau begini, harus pakai alasan apa untuk dapat menemui Shaffa dan mengajaknya keluar.
Bismillah saja semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk niatku ini.
Sampai memasuki jalanan di tengah persawahan, Irwan belum menemukan satu alasan pun untuk dapat menjumpai Shaffa. Dia pun melajukan mobilnya dengan sangat pelan, sambil menikmati pemandangan yang terhampar. Padi yang menguning pohon-pohonan yang tinggi menjulang, kemudian di sisi yang lain ada sungai-sungai kecil sebagai irigasi.
Untuk sesaat Irwan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu turun, diikuti oleh Tia dan Aldo. Mereka senang sekali. Jarang sekali mereka mendapatkan pemandangan indah seperti ini. Tanpa dapat dicegah keduanya turun ke sungai kecil yang ada di sisi jalan tersebut. Bermain dengan riang tanpa memperdulikan Kakak Irwan yang sedang merenung sendiri.
Ada keraguan dalam hatinya untuk dapat menemui Ayah Syafa. apalagi mengingat kejadian tadi Malam. Apa diurungkan saja ya ...
Kini terbayang lagi kejadian-kejadian masa kecil ketika dia masih bersama dengan ayah Herman. Itu membuatnya trauma. Tak ingin dia mendengar apalagi melihat kejadian seperti itu. Tapi bisakah?
Sepertinya impossible. Dunia tanpa itu semuanya tak ada cerita.
Seandainya dunia itu baik-baik saja Apa gunanya impian surga. Hei, mengapa diriku menjadi sok filosofis begini ....
Dari jauh dia melihat seorang gadis yang berjalan menuju ke arahnya. Terlihat dari jalannya dia menanggung beban. semakin semakin dekat, semakin jelas siapa dia.
Oh, masya Allah. Benarkah dia.....
Kini Irwan dapat melihat dengan jelas bahwa yang datang Shaffa. Irwan pun memanggilnya dengan melambaikan tangan ke arahnya.
__ADS_1
"Hai Shaffa,"
Dia nampak ceria meskipun terlihat di sudut matanya ada bekas-bekas tetesan air mata. Mungkin bekas tangisan tadi malam yang dia sembunyikan, tanpa ingin diketahui seorang pun.
"Kak Irwan?" Shaffa begitu terkejut ketika melihat laki-laki yang memanggilnya. Dia adalah Irwan. Dia pun berjalan menghampirinya. Sebenarnya dia pun akan melangkah di mana Irwan berada.
"Kenapa Kakak di sini?"
"Aku hanya ingin jalan-jalan saja kok."
"Ke sini?" tanya Shaffa dengan nada tinggi. Sebab dia tak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh Irwan.Dia mencium adanya maksud yang tersembunyi.
"Tak tahulah. aku hanya merasa bersalah sama kamu. Gara-gara aku, kamu dimarahi sama ayahmu."
Shaffa tertunduk sedih. Bukan itu yang ada dalam pikirannya.
Meskipun saat ini dirinya kuat menahan beban. Tapi seandainya ada tempat untuk berbagi, tentu lebih ringan. Dengan melihat Irwan, harapan itu ada. Dia ingin menumpahkan segalanya, kegalauan, kesedihan, dan rasa sakit. Apalagi hari pernikahannya sudah semakin dekat. Andai bisa berlari maka dia akan berlari.
"Kak kenapa kakak tadi malam mengantarkan aku, ayahku menjadi sangat marah. Hari ini tak diperbolehkan keluar rumah."
"Memangnya ada apa?"
"Mengapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
Untuk sesaat Shaffa terdiam. Beberapa kali dia mengambil nafas panjang. Pandangannya menerawang, menatap jauh ke depan. Terbayang lagi kejadian 1 minggu yang lalu. tepatnya di sudut persawahan yang tak jauh dari mereka kini berada.
flashback.
Bagaimanapun dia seorang wanita biasa. Dan baru mengenal laki-laki. Ada kebanggaan tersendiri saat dirinya dilamar. Meskipun belum mengetahui calon suaminya. Shaffa amat percaya kepada orang tuanya.
Baru sekali, laki-laki itu datang. Itu pun tak bertemu dengannya. Satu minggu kemudian dia sudah melamarnya. Tanpa banyak pertimbangan, orang tuanya menerima, demikian juga dirinya.Toh, cinta bisa terbentuk saat kita sudah bersama. Ala bisa karena biasa, begitu kata pepatah.
Setelah peristiwa lamaran itu, mereka tidak lagi bertemu, karena kesibukan Mas Heru yang sekarang sudah pindah tugas entah kemana. Tapi komunikasi tetap jalan. Syafa tak curiga. Hingga peristiwa itu terjadi.
Sore itu Shaffa pulang lebih cepat, karena diminta oleh orang tuanya. Mereka mengatakan bahwa Heru yaitu calon suaminya akan datang. Demi menghormati kedua orang tuanya, dia meluluskan permintaan itu. Tak ada prasangka sedikitpun dalam benaknya bahwa itu awal dari dia menyesali akan dirinya. Dan juga pertunangannya.
"Tunggu sebentar aku mau ganti baju dulu."
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya."
Hati Shaffa berbunga-bunga saat diajak Heru jalan-jalan. Tak ada kecurigaan sedikitpun pada calon suaminya itu.
"Kamu cantik sekali," puji Heru.
Syafa menanggapinya dengan tersenyum dan wajar-wajar saja.
"Bapak ibu, saya bawa Shaffa dulu." Heru berpamitan kepada kedua orang tua Shaffa.
"Jangan malam-malam pulangnya. Shaffa itu nggak pernah keluar rumah."
"Baik, Pak."Lalu begitu saja dia keluar tanpa mengucapkan salam. Padahal itu sudah menjadi kebiasaan di rumah Syafa. Shaffa hanya menatap Heru heran. Dan membiarkannya keluar begitu saja.
"Assalamualaikum ...." Shaffa berpamitan. Dia pun mengikuti langkah Heru dengan tergesa-gesa.
Sementara Heru sudah menunggunya di samping mobil yang akan mereka kendarai. Heru menyempatkan diri untuk membukakan pintu bagi Syafa agar bisa masuk kedalam mobilnya. Kemudian Heru duduk di belakang kemudi. Berlahan-lahan mereka meninggalkan rumah Syafa pada saat matahari sudah mulai tenggelam.
Tiba di kota, adzan Magrib berkumandang.
"Mas kita mampir ke masjid dulu ya."
Raut muka Heru menunjukkan ketidaksukaannya. Tapi dia mencoba mengalah, menuruti permintaan Syafa. Lalu dia membelokkan mobilnya ke sebuah masjid yang ada di tepi jalan. Dia pun memarkirkan kendaraannya di depan masjid tersebut.
"Mas, ayo kita shalat!" ajak Shaffa.
"Sudah kamu aja. Mas tunggu di sini." jawabnya ringan.
Ada rasa sedih yang menggelitik hati Shaffa. Kok Mas Heru nggak mau shalat sih ....
Tapi Shaffa tak bisa berbuat apa-apa. Hanya dia berharap suatu saat nanti Heru akan mendapatkan hidayah.
Setelah melakukan shalat, Heru mengajaknya makan malam di sebuah angkringan. Ah, romantis sekali, pikir Shaffa. Tapi setelah itu Syafa menjadi bingung, karena Heru membawa dirinya ke tempat yang asing.
Lelaki dan wanita tertawa bersama sambil minum minuman yang sangat menyengat baunya. Asap rokok mengepul di mana-mana. Bahkan banyak diantara mereka yang berkata-kata melantur, sepertinya mereka mabuk.
Belum selesai keterkejutannya, mereka disapa seseorang yang sepertinya sudah sangat akrab dengan Heru.
__ADS_1
"Baru ya Her."
Apa maksudnya.