KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Kegelisahan


__ADS_3

Alhamdulillah ... akhirnya papa Hasan menjemputnya. Batin Irwan bersorak gembira, saat dilihat sebuah mobil memasuki pelataran rumah. Jadi penyiksaan terhadapku segera berakhir.


Mana bisa kenyang kalau perutku hanya diisi menu seperti itu. Tak ada nasi, seperti belum makan saja. Ah ... nanti pesan ke ayah Herman saja. Supaya kenyang perut ini.


"Bunda, aku berangkat dulu." sambil mencium tangan bunda Zulfa.


"Ya, Wan. Doa bunda selalu menyertaimu." Zulfa menepuk pundaknya.


Irwan berangkat terlebih dahulu. Karena hari ini sudah ada meeting pagi sekali.


Sedangkan mobil Zulfa juga sudah siap dengan sopir pribadinya.


"Aldo Tia, bekalnya jangan ketinggalan."


"Sudah, Bunda." Jawab Aldo Tia dengan wajah sendu.


"Ada apa?"


"Hari ini bunda nggak ikut ke sekolah, kami berangkat sama mbak Dinda saja?"


Sejenak Zulfa terenyuh. Memang hari ini dirinya akan mengantarkan Jamilah bersama Hasan ke pondok nya. Biarlah Aldo dan Tia diantar mbak Dinda, sebelum mengantarkan Lika setelah itu.


Zulfa tersenyum, lalu menatap Hasan yang akan masuk ke mobilnya.


"Mas Hasan, bisa kita mengantarkan Tia Aldo dulu?"


"Bisa, sejalan juga."


"Ayo, kita berangkat sama mobilnya papa Hasan. Sama kak Ayu juga." kata Hasan sambil membukakan pintu untuk mereka.


"Kalau gitu, aku berangkat sekarang saja, Bunda." Lika berpamitan.


"Ya sudah. Sama mbak Dinda, sudah kosong."


Lika mengambil tas kecil ke dalam rumah, sebentar kemudian sudah kembali.


"Bunda, aku berangkat dulu." sambil mencium tangan bunda Zulfa.


"Belajar yang pinter ya ... jangan macem-macem dulu."


"Ya illa, Bunda. Nggak percaya banget sama Lika."


Zulfa hanya membulatkan mata menatap Lika dan menghilangkan senyum dari wajahnya. Itu sebagai bentuk intimidasi-nya bila anak-anak tak menurut padanya


"Ya ... ya, Bunda. Lika ngerti." sambil melepaskan tautan tangannya.


"Pergi dulu semua. Assalamualaikum ..."


"Wa alaikum salam ...."


Kini tinggal mereka berlima.


"Ayo, Bunda." ajak Hasan.


Ehem ... ehem ... ehem. Suara deheman Jamilah. Baru kali ini dirinya mendengar papanya memanggil bunda pada Zulfa.


Hasan dan Zulfa saling melirik melihat tingkah putri mereka. Kelewat demokratis. Sampai berani-beraninya Jamilah meledek Papanya. Tapi tak apalah. Namanya juga anak-anak yang sedang berbahagia. Kalau ini itu tak boleh, bisa-bisa perkembangan emosinya nggak bisa optimal.


"Sudah semua. Kita berangkat." kata papa Hasan sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Ayo berdoa."


" سبحان الذي سخر لنا هذا و ما كنا له مقرنين و انا الى ربنا لمنقبون"


ucap mereka serentak.

__ADS_1


Bmw ....


Tak berapa lama, mereka telah sampai di sekolah Tia Aldo. Mereka pun turun bersama, diikuti Zulfa. Dia mengantarkan hingga gerbang.


Sebelum masuk, keduanya cium tangan dulu. Tapi hari Tia terlihat berbeda sekali dari hari biasanya. Tia terlihat malas dan sedih.


"Tia sakit, Nak?"


Dia menggelengkan kepalanya.


"Ada apa, Nak?"


"Kalau bunda sudah sama om Hasan dan kak Ayu, Tia sama siapa?"


Mengapa anak-anak hari ini sangat sensitif sekali.


"Sini, Nak. Peluk bunda." Dia merentangkan tangannya. Lalu meraih Tia dalam dekapannya. Mencium pucuk kepalanya berulang kali.


"Tia tetap putri Bunda, kemanapun bunda pergi, Tia boleh ikut."


"Tia sayang Bunda."


"Sama, bunda juga sayang Tia."


"Sudah. Nanti terlambat." Zulfa mengatakan itu sambil melepaskannya pelukannya. Tampak senyum kecil tersungging di bibir Tia. Meski agak dipaksakan.


"Tia belajar dulu, da ...da ..." Tia berlari sambil melambaikan tangan. Demikian juga dengan Aldo.


Kemudian Zulfa kembali ke mobil Hasan, yang telah menunggunya agak begitu lama. Dia segera masuk, duduk di sisi Hasan.


"Maaf, agak lama."


"Ada apa dengan mereka?"


"Oh ...."


Hanya itu yang terucap dari Hasan. Bikin Zulfa sedikit bingung dengan jawaban Hasan.


"Mas keberatan kalau mereka ikut kita."


"Tidak."


"Mengapa mas kelihatannya tak suka."


"Bukan itu masalahnya. Aku bingung juga." Hasan mengusap kepalanya.


"Tentang apa?"


"Aku diangkat untuk mimpin kapolda, dan sekarang harus pindah tugas ke Propinsi."


Zulfa juga akhirnya berfikir.


"Bagaimana ... apa kamu sudah siap ikut."


"Kalau sekarang tak siap." jawab Zulfa tenang. Bikin kepala Hasan berkerut.


"Sekarang kita belum menikah. Kalau sudah, pasti siaplah Mas. Takut nanti mas disambar orang."


"Cemburu ni ye ..."


"Kalau sudah sah, apa salahnya cemburu."


Akhirnya Zulfa memberikan Jawaban sempurna.Tak tega memberikan jawaban menggantung.


Senyum Hasan segera mengembang.

__ADS_1


"Terima kasih. Aku jadi tenang. Lalu bagaimana dengan Tia dan Aldo. Karena tak selamanya mereka bisa mengikuti kamu. Ada mas Herman yang pasti akan mencarinya. Begitu juga opanya dan Maria."


Zulfa terdiam. Belum selesai memikirkan Tia dan Aldo yang hari ini yang terlihat sedih, kini mas Herman juga menanyakan hal yang sama.


"Kok diam?"


"Aku tak tahu. Tia juga menanyakan itu pagi ini. Aku harus bagaimana?"


Zulfa tak lagi bisa mengucapkan kata-kata lagi. Sebenarnya dia berat untuk berpisah dengan mereka. Dan mereka belum bisa menerima Maria.


Beberapa hari yang lalu, Maria datang ke rumah. Kangen dengan Putra-putrinya. Tapi harus kembali dengan tangan hampa. Keduanya bersembunyi dalam kamar masing-masing. Tak ada satupun yang mau keluar menemuinya.


Dan sekarang ....


Haruskah dia memaksanya untuk kembali pada bunda kandungnya. Kurasa itu tak adil bagi mereka.


"Seandainya aku bisa membawanya, apa mas mau menerima di mereka."


"Apa yang menurutmu baik, mas ngikut aja."


"Makasih, Mas. Aku hanya berharap yang terbaik bagi mereka."


Tak berapa lama, mereka sudah tiba di pondok Jamilah. Hasan segera turun yang diikuti Jamilah.


"Kamu nggak ikut turun?"


"Nggak Mas. Malu aku sama Bu Nyai. Kita belum resmi."


"Baiklah."


Tapi Zulfa ikut keluar juga. Memeluk Jamilah sambil berbisik.


"Baik-baiklah di sini. Biar ilmunya berkah."


"Ya, Bunda. Tapi bunda tunggu dulu. Aku mau ganti seragam."


"Segeralah. Sudah ketinggalan hampir satu jam pelajaran kamu."


"Ya, Bunda."


Jamilah dan Hasan ke dalam pondok. sebentar. Tak kurang dari seperempat jam, mereka sudah keluar. Dan Jamilah sudah cantik dengan seragam sekolahnya.


"Bunda kita ke sekolah Harapan dulu ya ..."


"Ya. Memang niatnya ngantar kamu ke sekolah. Dan bunda juga pingin tahu sekolahmu."


"Makasih, Bunda."


Jaraknya tak begitu jauh. Hanya sekitar 1 km dari pondoknya.


"Kamu tiap hari jalan kaki ke sekolah?"


"Seringnya. Kalau tak ada tebengan."


"Mas Herman ..." hampir saja Zulfa berteriak, "Ini gimana mas kok nggak peka sama Jamilah. Disuruh jalan kaki sejauh 1 km tiap hari ..."


"Jangan salah sangka. Ini kemauannya. Harus tahu konsekuensi-nya." jawab Hasan santai.


"Tapi nggak segitunya, Mas. Belikan sepeda kenapa?"


Dari belakang Jamilah tersenyum lebar, mendengar bunda Zulfa memarahi papanya.


"Ya ... baiklah. Habis ngantar Setyawati, kita ke toko sepeda. Beli untuk putrimu." jawab Hasan mendung. Baru kali ini dia dimarahi. Biasanya dirinya yang memarahi, terutama sama anak buah.


Sedangkan Jamilah meliriknya senang. Gini rasanya punya bunda yang perhatian. Siiip ....

__ADS_1


__ADS_2