
Ayah Shaffa sangat terkejut saat mendapatkan Heru ada di ruang tamu. Terlihat kalau sedang marah. Wajahnya mengeras, giginya menekan kuat antara atas dan bawah, tangannya mengepal. Sorot matanya tajam. Hingga membuat Ayah Shaffa ketakutan. Ingin berlari, tapi terlambat. Heru telah melihatnya.
Dengan keras, memanggil Ayah Shaffa. Seorang yang tak bisa dikatakan muda lagi, beberapa waktu lalu masih calon mertuanya, tapi tak tahu sekarang ini.
Tanpa basa-basi lagi, ia berkata,"Hai kamu, Orang Tua!"
Alangkah marah dirinya mendapatkan panggilan seperti itu. Apalagi sekarang ini di rumahnya. Seenaknya saja memanggilnya dengan sebutan yang tak ada sopannya sama sekali. Jangankan menyahut, menoleh pun enggan. Membuat Heru memerah mukanya, menahan amarah yang semakin memuncak. Dia pun menghampiri Ayah Shaffa dengan geram. Membisikkan kata-kata ancaman di telinganya.
"Aku takkan melepaskan putrimu begitu saja," Ancaman Heru membuat Ayah Shaffa tersentak, tak sangka laki-laki yang selama ini dibelanya bisa seperti ini. Ia semakin merasa bersalah, mengapa tak mempercayai putrinya sejak awal, bahkan memaksanya untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi dia beruntung mengetahui semua itu sebelum semua terjadi. Tak ayal membuat tubuhnya bergetar, membayangkan sesuatu yang menimpa putrinya.
"Maksudmu apa, Heru?" Ia berkata sambil melangkah ke ruang tamu. Agar segera dapat mengusirnya keluar atau dirinya dapat segera berlari bila Heru mengamuk. Tapi sayang gerakan itu membuat amarah Heru makin tak terkendali.
"Oh, jadi kamu lari." Heru menarik kerah Ayah Shaffa hingga wajahnya sangat dekat dengan dirinya. Ayah Shaffa semakin bergidik dan takut. begitu tarikan Heru mengendur Ayah Shaffa mundur perlahan-lahan ingin lari. Sayang Heru menangkapnya kembali. Bahkan mengunci gerakannya. Lalu mendorong nya dengan kasar, membuat ayah Shaffa hampir hilang keseimbangan. Untung Irwan datang tepat waktu. Ia segera menahan tubuh Ayah Shaffa.
"Beraninya kamu sama orang tua!" Bentakannya membuat Heru tersadar.
"Siapa kamu?"
"Siapapun aku, kurasa tak penting. Pergilah, sebelum lebih banyak orang datang."Kata-kata Irwan bukan hanya gertak sambal. Dirinya memang sudah mempersiapkan diri, datang bersama 2 orang yang kampung yang ditemuinya saat kembali menuju ke rumah Shaffa.
Heru memperhatikan sekelilingnya, ada beberapa orang yang sedang berdiri di depan rumah. Melihat padanya dengan heran sekaligus marah. Bagaimana mungkin calon mantu bersikap begitu pada calon mertuanya. Maklumlah undangan sudah tersebar, mau tak mau wajahnya sudah dikenal di kampung itu. Apalagi beberapa kali dia pernah datang, meski tak sering-sering juga.
Heru mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran pada Ayah Shaffa. Dengan sikap angkuh, ia melangkah pergi.
"Tunggulah pembalasanku."ucap Heru sambil melangkah pergi, meninggalkan mereka berempat.
__ADS_1
Bisa-bisanya Heru mengancam Ishak, calon mertuanya. Tapi Irwan bersikap tenang, yang penting Heru pergi dan calon mertuanya selamat. Mau ngomong apa, terserah.
Tanpa bergeming dari tempat berdirinya, Irwan menatap kepergian Heru. Tindakan Heru benar-benar membuat Irwan marah. Bagaimana mungkin ada orang yang sedemikian tak sopan pada calon mertuanya.
Dengan tangan masih menyanggah tubuh Ayah Shaffa dengan kuat. Setelah Heru benar-benar menghilang, ayah Shaffa pun sadar. Ia segera menegakkan tubuhnya sendiri meski masih gemetar, mungkin rasa takut yang ditahannya.
"Terima kasih, Nak Irwan."
"Ya, Pak," jawab Irwan sambil mengangguk.
Tak berapa lama kedua orang yang bersama Irwan, mendekati mereka. Mereka juga ingin berpamitan. Keadaan sudah terkendali dan baik-baik saja.
"Pak Ishak, kami pergi dulu."
"Oh ya, Pak. Terima kasih, sudah datang," sahut Ishak.
Demikian juga yang terpikir oleh Irwan. Ia juga sangat khawatir tentang keselamatan calon mertuanya. Apalagi tinggal seorang diri.
"Bapak?"Irwan menuntun Pak Ishak ke tempat duduk. Tampak tubuhnya bergetar, wajah penuh kecemasan, meski Heru telah pergi. Irwan segera mengambil segelas air putih, memberikan nya pada Ishak. Setelah meminumnya beberapa teguk, Ishak sekarang lebih tenang.
"Kamu balik lagi, Nak?"
"Kebetulan Irwan berpapasan sama orang itu. Irwan merasa nggak enak akhirnya Irwan ikuti dia tak tahunya ke rumah Bapak."
"Ya, Bapak juga nggak menyangka. untung kamu cepat datang." Pak Ishak bernafas lega, meski masih terlihat kesedihan dan ketakutan di wajahnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Bapak ikut kami. Irwan takut terjadi apa-apa. Sepertinya Heru nggak main-main."
"Insya Allah nggak apa-apa, Nak. Biar Bapak di sini saja. Tetangga-tetangga itu adalah saudara saudara bapak juga. Nak Irwan nggak perlu khawatir."
"Tapi, Pak!"
"Sudahlah. Tak apa-apa kok. biar nanti ponakan Bapak, temenin Bapak." Rasanya sungkan sekali pada Irwan. Putrinya sudah sudah berada di sana, kok sekarang dia ikut-ikutan ke keluarga Irwan juga. Lebih baik tinggal di rumah sendiri daripada menjadi beban orang lain.
"Baiklah Pak. Kalau begitu Irwan pulang dulu." Irwan berpamitan lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan. Diantar oleh Pak Ishak sampai pintu. Irwan tetap melangkah menuju mobil yang terparkir di halamannya. Ia masuk dan menghidupkan mesinnya. Berlahan-lahan meninggalkan Ishak sendirian.
"Assalamualaikum," sapa terakhir sebelum keluar dari halamannya.
"Wa alaikum salam."
Pak Ishak menatap kepergian Irwan sampai tidak terlihat dari pandangan. Dia pun kembali ke dalam rumah, mengunci pintunya kemudian dia beristirahat di dalam kamar. Sambil menunggu seruan Sang Kholik berkumandang.
💎
Hari ini memang sangat melelahkan bagi Irwan. Sejak pagi sudah ke luar rumah. Dengan satu niatan yang tersimpan. Beberapa peristiwa terjadi, yang cukup membuat energinya terkuras. Yang patut disyukuri, niat melamar Shaffa terlaksana. Untung diterima, meski masuk waktu injury time. . Hati siapa yang tak bahagia mendapatkan itu semua. Sungguh Tuhan maha kasih padaku. Akan nikmat yang tak disangka-sangka. Seakan-akan mendapatkan lailatul qadar, bisik kalbunya.
Sambil bersiul dan bernyanyi nyanyi kecil, Irwan melajukan mobilnya, melewati jalan yang membelah persawahan. Yang sudah mulai sunyi. Tak ada seorangpun yang tertinggal. Semua telah kembali ke rumah. Setelah seharian bekerja menggarap sawah dan ladang yang mereka punya.
Meski alam sudah beranjak petang, dan warna alam sudah mulai memudar, tak menghalangi pandangannya untuk menatap ke depan. Semburat warna saga di ufuk barat menggambarkan keindahan matahari yang akan tenggelam. Tapi gambaran pesona cinta telah mengubah suasana, seakan-akan mentari baru akan menyapa, bagaikan fajar di ufuk timur, yang akan memberikan memberikan warna alam dengan segala kesempurnaannya. Kesejukan, kedamaian, kenyamanan, keindahan.
Aneh bukan?
__ADS_1
Tapi demikianlah apa yang dirasakan saat ini. Sinar cinta yang baru tumbuh, memberi warna pelangi dalam jiwa yang lama menanti. akan cinta sejati bila telah halal dengan janji suci di dalam persaksian penghulu dan banyak insan yang rela. Menyatakan dalam kalimat sakral, ijab sebagai peminta, agar terkabul dengan apa yang jadi angannya dalam kata. Tentu dengan ucap persetujuan dari ayah mertua.