KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Di Kantor Polisi


__ADS_3

Sekilas Mutia melihat ke arah mobil yang satunya, tangannya menjadi dingin, wajahnya memucat.


"Sayang, ada apa."


"Bunda itu yang tusuk ayah dan nenek. Dia jahat. Tia takut."


Sebegitu traumanya dia dengan bunda kandungnya. Sehingga dengan melihatnya saja, dia sudah takut, hingga badannya bergetar hebat seperti ini.


"Tia anak baik, tak usah takut. Kenapa mesti takut. Orang itu sudah di borgol sama pak polisi Nggak bisa lagi melukai kita lagi." Zulfa terus membelai rambutnya. Hingga wajahnya kembali bersemu.


"Orang jahat itu dimusuhi orang ya, Bunda ..."


"Iya,"


Zulfa terus mengajak ngobrol Mutiara, hingga dia tak terasa kalau sudah masuk mobil polisi.


Peristiwa ini benar-benar membuat Tia lelah. Tak terasa, dia pun tertidur begitu mobil itu baru saja di jalankan.


Tiba di kantor kepolisian, Maria digelandang langsung ke ruang tahanan. Sedangkan Zulfa menuju meja pemeriksaan.


Baru juga mulai pemeriksaan, sudah ada suara bariton, merdu namun cukup keras dan berwibawa, menyapa mereka.


"Irwan!" seorang yang berperawakan tegap dan cukup berumur, menyapa dengan wajah terkejut.


"Kenapa juga kamu ke sini?" tanyanya sambil melepas topi dan menggantinya dengan kopiah. Mungkin mau sholat maghrib. Hari memang sudah gelap. Sepertinya waktunya sudah hampir tiba.


"Pak Hasan." ucap Irwan yang tak bisa menghilangkan kegugupan dan kegelisahannya.


"Ada masalah apa, Nak?" tanyanya sambil bersalaman dengan Irwan. Irwan pun menyambutnya dengan mencium tangannya.


"Tak tahu, Pak. Tahu-tahu, bunda dibawa ke sini atas tuduhan penculikan anak."


Terlihat wajah Hasan berkerut, dan mengangkat alisnya. Dia segera menengok ke arah wanita yang duduk di hadapan anak buahnya, sedang menggendong gadis kecil. Yang sepertinya dia kenal.


"Zulfa ...." ucapnya pelan. Tapi pada dasarnya jenis suaranya yang menggelegar, membuat Zulfa pun menengok padanya.


"Hasan?!" Zulfa tampak terkejut juga.


"Bentar-bentar, jadi Zulfa itu bundamu, Wan."


"Begitulah, Pak. Tapi tak tahu, kok bunda dituduh menculik anak."


" ..... menculik anak. Bukankah itu anak yang di panti asuhan Kasih Bunda?"


"Ya ...'


"Ada-ada saja." ucapnya, sambil geleng-geleng kepala.


"Kalian berdua, habis maghrib ke ruangan saya!" perintahnya pada dua orang polisi yang memeriksa Zulfa.


Mendapatkan perintah seperti itu, kedua polisi itu terbengong-bengong. Wah ... alamat.


"Dah yuk ... kita sholat magrib dulu. Kalian nggak usah pikirkan ini."


Alfa yang mendengar itu, langsung menyela.


"Nggak bisa. Bukan anaknya kok dibawa."


"Maaf bapak ini siapa?"

__ADS_1


"Aku kakeknya. Dia itu cucuku."


Hasan menatap Alfa tenang. Oh jadi orang ini yang melaporkan Zulfa.


"Maaf, Bapak yang melaporkan Zulfa. Bisa saya tuntut balik anda kalau begitu.


Seharusnya Bapak berterima kasih pada Zulfa yang mau merawat cucu bapak dengan baik. Dan saya tahu, cucu bapak itu telah dibuang begitu saja ke panti asuhan sama putri bapak sendiri. Saya tahu betul peristiwa itu karena pengasuhnya sepupu saya."


Alfa seketika diam, tak bisa berkata apa-apa. Selain keterangan dari Maria, tak ada lagi Yang bisa dia jadikan pegangan. Dengan lesu dia duduk di tempat itu.


Dia menatap Zulfa lama, ingin dia memeluk cucunya itu. Tapi tak bisa. Karena sejak awal, Mutia masih ketakutan dengannya. Dan dia melihat dengan jelas, bagaimana ketakutannya Mutia pada putrinya.


"Bolehkah aku memeluk cucuku?" mohon Alfa sangat. Membuat Zulfa merasa iba. Apalagi terlihat wajahnya yang menampakkan kesedihan.


Tapi Zulfa tak ingin memberikan Mutia pada Alfa، karena saat ini, Mutia belum siap untuk itu. Dan khawatir kalau-kalau, Mutia akan dibawa lari oleh Alfa. Tentu tak ingin hal ini menimpa putrinya itu. Meski Mutia bukan putri kandungnya. Tetapi dia amat menyayanginya. Sebagaimana dirinya menyayangi Lika, putri kandungnya.


Dengan terpaksa Zulfa pun menjawab,


"Tunggulah sampai dia bangun. Bapak sendiri tahu, kalau saat ini Mutia masih trauma."


"Zulfa, aku tinggal dulu. Mau sholat maghrib." kata Hasan menyela pembicaraan mereka.


"E ... ya, Hasan. Aku juga." jawab Zulfa, hendak mengikuti Hasan dan putranya ke Masjid yang ada di kompleks kantor kepolisian. Bersama pria-pria yang lain, yang ada di ruangan itu


Baru akan melangkah, sudah dihalang-halangi Alfa.


"Tak bolehkah saya membawanya sejenak?"


Zulfa menarik nafas dalam-dalam. Lalu mengeluarkan berlahan-lahan.


"Bapak yang sabar ya ... Insya Allah jenengan akan saya perkenalkan berlahan-lahan. Bagaimana pun juga, Jenengan adalah kakeknya."


Ada seulas senyuman di bibir Alfa, setelah mengalami hari-hari yang melelahkan, Maria ditangkap, cucunya tak mau bersamanya. Mendengar cucunya ditelantarkan. Membuat hatinya terusik. Sungguh masa tua yang tak punya lagi arti. Kini harapan itu ada. Harapan yang diberikan oleh Zulfa.


"Boleh aku mencium cucuku."


Sejenak Zulfa ragu, tapi melihat kesungguhan Alfa, Zulfa pun akhirnya meluluskan.


"Tapi jangan dibawa pergi." kata Zulfa sambil menyerahkan Mutia pada kakeknya.


Cerewet juga ini perempuan, bisik kalbu Alfa. Dia menerima Mutia dengan senyum bahagia.


Belum puas dia memeluk Mutiara, mata anak itu terbuka.


"Kakek siapa. Oh ... Kakek yang mau nyakiti bunda Zulfa ya. Aku nggak mau sama Kakek."


Dia memberontak, ingin lepas dari pelukan Alfa.


Tak ingin menyakiti cucunya, segera dia kembalikan Mutia pada Zulfa.


"Maafkan Kakek, Sayang." Alfa segera mengembalikan pada Zulfa.


"Kita sholat, Sayang." kata Zulfa. Dia pun menurunkan Mutia dari gendongannya. Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, meninggalkan Alfa seorang diri di ruangan itu.


Lapat-lapat, dia mendengar kata-kata yang keluar dari bibir cucunya. Membuatnya sadar apa yang diperbuat Maria pada cucunya itu.


"Bunda, benarkah dia kakek Tia. Apakah dia baik ... apakah dia tidak jahat seperti bunda Maria .... apakah .... Tia sudah punya kakek, Tia masih boleh tinggal sama bunda."


"Kita doakan saja bunda Tia menjadi baik. Lalu kakek juga. Agar makin banyak yang sayang sama kita ... Meskipun Tia sudah punya bunda Maria, Kakek ... siapa ya namanya ... Bunda lupa nanya. Tia boleh tinggal sama bunda."

__ADS_1


"Tapi Tia takut ...."


"Ada bunda, kak Lika, kak Irwan, nenek Halimah, ayah juga, yang sayang sama Tia. Sudah ayo wudhu, nanti ketinggalan sholat kita."


"Ya, Bunda."


Percakapan yang membuat Alfa terenyuh. Tak terasa bulir-bulir air mata keluar dari persembunyiannya. Segera dia menghapusnya, agar tak diketahui orang. Jarang sekali dirinya menangis, tapi saat dia benar-benar ingin.


Dia meninggalkan tempat itu, menjalankan mobilnya menuju sebuah toko yang berada tak jauh dari dirinya kini berada.


Dibelinya sebuah boneka beruang besar berwarna pink dan juga sebuah mobil-mobilan, untuk dihadiahkan pada kedua cucunya. Lalu dia kembali ke kantor polisi. Duduk di depan masjid, menunggu mereka keluar.


Tak berapa lama, semua sudah turun dari persembahyangannya. Dia segera menghampiri Zulfa.


Menampakkan boneka yang baru dibelinya, disertai senyum bahagia pada cucunya.


"Tia, kakek ada hadiah untuk kamu."


Tia berjalan mundur ke belakang Zulfa. Terus terang itu membuatnya sedih, tapi Alfa tak patah arang.


"Ini!"


Dia berjongkok menghampiri Tia.


Tia yang masih takut dan ragu, menatap Zulfa.


"Nggak apa-apa, Sayang. Terima saja."


Tia menampakkan diri dari persembunyiannya. Menerima hadiah itu dengan ragu. Lalu menengok Zulfa kembali.


"Bilang apa ...." kata Zulfa.


"Terima kasih, Kek."


Tak terkira bahagia hati Alfa mendengar kata-kata dari cucunya. Dia segera memeluknya dengan bahagia. Sementara Tia hanya menatap Zulfa masih dengan kecemasan.


Zulfa mengedipkan mata, supaya Tia tenang. Untunglah Alfa segera melepaskan Tia yang segera berlari ke pelukan bunda Zulfa.


Dia teramat senang dengan boneka itu. Dia pun mengucapkan terima kasih sekali lagi.


"Terima kasih, Kek. Kakek namanya siapa?


"Oh cucuku. Kakek senang sekali, kamu manis sekali. Panggil Kakek atau Kakek Alfa."


"Baik kakek ...." jawab Tia gembira.


"Maaf titip ini untuk Aldo."


"Maaf, ada ayahnya. Dia sama ayahnya."


"Kalian ...?" Alfa menunjuk Zulfa dan Herman bergantian. Lalu mengangguk-anggukkan kepala.


"Ya."jawab Zulfa singkat.


Baru dia sadar kalau antara Zulfa dan Herman sudah tak ada hubungan.


Dia pun meninggalkan Zulfa menuju ke Herman, untuk menitipkan hadiah Aldo pada Herman.


Sementara itu, Hasan yang sudah selesai melaksanakan sholat Sunnah, memperhatikan Zulfa dari jauh.

__ADS_1


"Apakah dia yang ingin kak Ridho perkenalkan padaku. Ah ... kalau memang iya ...


__ADS_2