
💎
Sementara itu, Zulfa yang malam itu sedang asyik bercengkrama dengan putra-putrinya, setelah menikmati sholat isya' berjamaah. Terkejut tiba-tiba ada panggilan dari tetangga mereka di kampung, Dewi.
"Assalamu'alaikum, Wi. Ada apa?"
"Wa'alaikum salam .... Mama Halimah, mbak ...."
"Ada apa dengan mama, Wi ..."
"Aku tak tahu persisnya. Saat ini sedang dibawa ke rumah sakit."
"Sakit?"
"Tak tahu ..."
"Suamimu juga terluka parah."
"Memangnya Ada apa, Wi?"
"Sepertinya Maria mengamuk."
"Maksudnya?"
"Tak tahu, mbak."
"Anak-anak gimana?"
"Tak tahu mbak. Mutia dibawa Maria. Aldo ditinggal."
"Makasih infonya, Wi. Assalamu'alaikum ...."
"Wa alaikum salam ...."
Zulfa menutup handpone nya. Wajahnya memperlihatkan kecemasan.
"Wan, tolong antarkan bunda ke rumah sakit." kata Zulfa sambil melipat mukena yang dia kenakan.
"Ada apa, Bunda."
"Nenekmu .... Ayahmu." agak sulit dia menjelaskan. Karena saat ini dia benar-benar cemas dan panik mendengar keadaan Halimah dan suaminya.
"Bunda tenang dulu, nggak usah panik ..."
"Irwan ... Lika. Ayo ke rumah sakit."
Lika bengong melihat Bundanya, namun tetap tenang tidak terbawa suasana. Dengan cepat merapikan mukenanya juga.
"Baik ... baik. Tapi bunda tenang dulu. Irwan keluarkan dulu mobilnya." jawab Irwan. Berkali-kali Irwan meminta Zulfa untuk tenang, namun tetap saja gelisah dan panik.
"Ayo Lika, segera."
__ADS_1
"Ya. Bun." meski masih bingung, tapi Lika menuruti apa yang dikatakan bundanya. Orang lagi panik. Dinselapun tak ada gunanya.
Terdengar mobil dihidupkan. Zulfa dan Lika segera keluar. Di depan pintu mobil, Zulfa mengambil nafas panjang sambil beristighfar, untuk menenangkan pikirannya yang memang amat gelisah.
"Bunda, ayo masuk." ajak Lika yang membukakan pintu untuknya. Zulfa pun masuk ke dalam mobil Irwan dengan tenang.
Irwan menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian menjalankannya secara berlahan, meninggalkan rumahnya.
"Bunda, sebenarnya apa yang terjadi pada nenek sama ayah."
Zulfa menarik nafas panjang. Berita itu sungguh membuatnya terkejut. Selama hidup bersama, tak pernah sekalipun msuk rumah sakit. Belum sehari dirinya meninggalkannya, sekarang sudah masuk rumah sakit. Siapa yang tak panik.
"Istri ayah sepertinya bermasalah, membuat nenek dan ayahmu terluka. Bunda tak tahu keadaan adik-adikmu sekarang."
"Astaghfirullah al adzim ..., Lika tak percaya kalau wanita itu bisa melukai nenek."
"Semoga nggak terjadi apa-apa sama nenek .... ayah juga." kata Irwan dari belakang kemudi. Membuat Zulfa tersenyum.
Pada saat menyebut kata 'ayah', Irwan mengucapkannya dengan lirih. Perlu membiasakan lagi untuk menyebut ayah untuk Herman. Karena Zulfa sudah mewanti-wanti, apapun yang terjadi antara dirinya dan Herman, tetaplah dia ayah bagi mereka.
Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Setelah bertanya di bagian information, mereka munuju kamar Halimah dan Herman. Letak kamar keduanya berbeda. Mereka menuju kamar Halimah dulu.
"Assalamu'alaikum .... Tante." tampak Rahmi terjaga di samping ranjang Halimah dengan memangku Aldo yang sedang tidur.
"Wa alaikum salam .... Mbak Zulfa."
"Bagaimana mama ....?"
"Kepalanya terbentur membuatnya tak sadarkan diri. Sudah diperiksa, kata dokter tak berberbahaya."
"Di mana ini?"
"Ini di rumah sakit, Ma. Alhamdulillah mama sudah sadar."
"Aku haus, ambilkan minum!"
Dengn telaten Zulfa mengambilkan minum untuk Halimah. Setelah meminum air dari gelas, tampak wajah Halimah gelisah.
"Mutia di mana?"
Rahmi maupun Zulfa tak tahu harus menjawab apa. Karena memang mereka sama seki tak tahu keberadaan Mutia maupun Maria. Sampai saat ini tak ada kabar tentang mereka. Baik dari kepolisian atau yang lainnya.
"Jadi Mutia bersama Maria."
Rahmi mengangguk. Sementara hanya itu yang di tahu dari para tetangganya.
"Mana Herman. Apa dia tak bisa merebut Mutia?"
"Kak Herman terluka parah, Ma." jawab Rahmi.
"Semoga tak terjadi apa-apa dengan Mutia." ucap Halimah lirih.
__ADS_1
"Ah ...." tangan Halimah tiba-tiba memegang bagian belakang kepalanya. Sepertinya ada yang dirasakannya.
"Ada apa, Ma?" kata Zulfa mencoba menggantikan tangan Halimah dalam memegang kepalanya.
"Iya, Fa ... rasanya kepala belakang mama sakit sekali."
"Istirahat dulu, Ma. Nanti biar diperiksa dokter."
"Fa, aku nggak bisa istirahat kalau di sini. Apalagi kalau ingat Maria. Mama kesal sekali."
Zulfa hanya tersenyum sambil membelai kepala Halimah yang masih berasa sakit.
"Ya, nanti Zulfa ngomong sama dokternya. Sementara ini mama sabar dulu ... Mama jangan berfikir macam-macam dulu. Biar nggak bertambah sakit, Ma."
Tapi bagaimanapun Zulfa menenangkan, tetap saja dia kepikiran Mutia. Bagaimana nasib Mutia. Dimanakah dia. Apakah masih dibawa Maria. Maria begitu kejm, jangan-jangan ....
"Kenapa kalian membawa wanita itu ke dalam keluarga kita. Aku tak habis berfikir, sejak kapan dia merencanakan ini semua. Masak surat rumah dibawanya juga."
Rahmi dan Zulfa terkejut dengan apa yang dikatakan Halimah. Tak terlintas dalam pikiran mereka kalau Maria juga membawa surat-surat penting yang Halimah punya. Sebenarnya Maria itu siapa? ....
Ini yang jadi pertanyaan mereka.
"Maafkan Rahmi, Ma. Rahmi tak tahu apa-apa tentang Maria. Waktu dia memohon sangat, Rahmi nggak tega. Apalagi kak Herman sedang sakit parah. Padahal kak Herman sudah mengingatkan Rahmi. Mungkin lebih baik dia mati tinggal nama, daripada harus kembali."
"Selama bersama kita, terlihat baik-baik saja. Tak ada yang aneh dengannya. Hanya kadang-kadang cemburu. Dan itu masih tahap wajar. Tapi tak mungkin hanya karena cemburu dia bertindak seperti itu."
"Mama salah juga sich. Kenapa juga mama menyuruh Herman keluar rumah. Marahlah dia ..."
"Mama nggak usah menyalahkan diri sendiri. Itu hanya alasan dia saja untuk berbuat begitu." kata Zulfa.
"Kalau hanya itu, kenapa surat-surat penting dibawa?" kata Zulfa selanjutnya.
"Iya .... Aaauuuu." teriak Halimah lirih.
"Sudah Ma, biar Zulfa sama Indah Rahmi yang memikirkan ini. Mama jangan banyak berfikir."
Halimah menurut dengan Zulfa. Dia merebahkan tubuhnya senyaman mungkin, untuk bisa istirahat. Tapi memang tak biasa tidur di tempat selain rumahnya sendiri, Halimah berulangb kali membolak-balikkan badannya sendiri. Kalau sudah begini, tangan Zulfa dengan telten memijitnya. Sekedar membuatnya lebih nyaman.
"Assalamu'alaikum .... Nek?" ucap Lika dan Irwan yang baru saja dari menjenguk ayah mereka. Memang saat mereka datang, mereka menjenguk Halimah lebih dahulu. Tapi saat itu Halimah sedang tidur, mereka pun meninggalkannya.
"Kalian ... sini, nenek kangen."
"Nenek kolokan, ah. Belum sehari juga Lika pergi, sudah kangen." Lika segera mendatangi Halimah, lalu memeluknya lama. Setelah puas, baru Lika melepaskannya. Berganti Irwan yang menyambut tangannya dengan menciumnya ta'dzim.
"Nenek sudah baikkan?"
"Wan, nenek mau pulang, nggak bisa tidur." Halimah sedikit merajuk, yang bikin Irwan tertawa.
"Ya. Nanti Irwan bilang ke dokter Fadly. Tapi Irwan mau istirahat dulu Nek. Habis diambil nich darah Irwan .....
....
__ADS_1
....
jangan lupa votenya...🙎🙎💟