
Sepanjang jalan Herman meruntuki luka yang kini mendera hatinya. Hingga membuat dadanya sesak. Entahlah, bayangan bersama Zulfa kini tak mau lepas dari angannya. Kelembutan, kehangatan, kesabaran yang melekat pada diri Zulfa. Semua tampak jelas kini. Dan sayangnya, dia telah benar-benar meninggalkannya. Jika boleh dirinya berteriak, "Jangan tinggalkan aku." maka akan dilakukannya.
Sulit memang mengakui kalau kini Zulfa bukan lagi miliknya. Meski telah lama berpisah. Karena kepeduliannya pada putra-putrinya, membuat dirinya berharap lebih. Tapi ternyata tidak ...
Zulfa melakukan itu semua dengan tulus, tanpa menginginkan imbalan apapun, apalagi kembali padanya.
Saat ini, Herman ingin mengurai keterpurukan dirinya, dengan mendatangi seseorang yang lama menantikan. Bahkan telah menawarkan dirinya, dulu. Yang karena ketidaktahuannya, keegoisannya untuk memiliki Zulfa kembali,dia telah menceraikannya. Tapi di sana lebih mempunyai harapan. Dari pada pada Zulfa yang kini telah dilamar orang.
Herman segera membelokkan arah motornya ke kawasan perumahan, tempat Maria tinggal.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Untuk sesaat tak ada jawaban. Membuat dirinya bimbang, antara menunggunya ataukah meninggalkannya. Beruntung tak lama terdengar suara Maria.
"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh, mas Herman."
Sekarang Maria sudah berbeda. Terlihat wajahnya lebih bercahaya. Apalagi dengan adanya kerudung di kepalanya. Untuk sesaat, Herman terpesona. Sayang bayangan Zulfa tak mampu menghilang dari pelupuk matanya, hingga tanpa sadar Herman berucap, "Zulfa, kamu?"
Maria hanya tersenyum mendengar ucapan Herman.
"Maaf Mas, aku Maria."
"Aku pangling, kamu sudah banyak berubah."
"Aku masih belajar, Mas."
Siapa yang tak bahagia melihat perubahan Maria yang luar biasa.
"Tumben Mas ke sini."
"Mas, jalan-jalan. Pingin mampir."
"Benarkah. Nggak ada maksud lainnya, kan?"
Herman tertawa kecil.
"Benar. Aku hanya pingin jenguk kamu. di LP dulu, mas sering jenguk kamu, tapi setelah kamu keluar, mas malah nggak sempat."
"Mas, Maria hanyalah yang kedua. Dan selamanya tetap menjadi yang kedua. Karena di hati mas hanya ada mbak Zulfa. Aku tak mungkin bisa menggeser mbak Zulfa, apalagi menggantikannya. Makanya kalau mas nggak ke sini. Aku maklumi."
"Tapi kamu tetap istri mas."
"Itu dulu, Bukankah sejak lama mas sudah melepaskanku."
"Maafkan Mas."
"Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku pun juga telah rela kalau mas kembali pada mbak Zulfa. Karena dia pantas untuk dicintai. Dia tak pernah menyimpan dendam. Baik pada mas maupun padaku juga."
"Mengapa kamu berkata seperti itu. Apakah diriku sudah tak berarti lagi bagimu."
Maria tersenyum kecil mendengar kata-kata Herman.
"Aku ingin bahagia tanpa menyakiti saudariku."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Mungkin lebih baik aku sendiri daripada harus menyakiti mbak Zulfa. Kejarlah mas, kalau itu memang cinta mas Herman. Maria ikhlas."
Herman diam, tak bisa berkata-kata lagi. Malam ini benar-benar kacau. Datang ke Zulfa, Zulfa telah dipilih seseorang untuk menuju pelaminan. Datang ke Maria. Sepertinya Maria melepaskan dirinya. Jangan katakan kalau kalian semua akan meninggalkanku.
Tapi anehnya, sekian lama berbincang-bincang, tak juga Maria mempersilahkan dirinya masuk ke dalam. Bahkan sesekali Maria melirik ke jalanan. Sepertinya ada seseorang yang ditunggu-tunggu.
Dan benar. Tak berselang lama, ada sebuah motor berhenti di depan rumah Maria, parkir di dekat motor Herman.
Seorang lelaki yang berpenampilan berwibawa dan bersahaja. Dengan langkah mantap, mendekati mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh." jawab Maria dengan mata berbinar dan senyum mengembang.
"Mas, ini ustadz Faqih."
Ustadz Faqih mengulurkan tangannya, yang disambut Herman.
"Faqih."
"Herman."
"Maaf ustadz, Papa sedang keluar. Sebentar lagi kembali."
"Tak apa." Ustadz Faqih mengangguk.
"Sebentar, Ustadz."
"Bagaimana mungkin kita bertemu di saat yang sama."
"Maksud, ustadz."
"Kedatanganku ke sini mungkin juga bermaksud sama dengan mas Herman."
"Aku benar-benar tak mengerti maksud ustadz."
"Ah, nanti mas Herman akan tahu sendiri. Aku ingin mengungkapkan. Tapi takut mendahului kehendak Yang di Atas. Biarlah kita sama-sama mengungkapkannya pada papa dan juga dik Maria. Apapun yang diputuskannya, aku akan ikhlas. Aku atau Mas itulah yang terbaik."
Herman mencoba meraba arti dari kata-kata ustadz Faqih. Tapi dirinya tak bisa berfikir terlalu jauh saat ini.
"Apakah itu berhubungan dengan saya, Ustadz."
"Aku tak tahu. Mungkin ya ..."
"Saya benar-benar tak mengerti.
Ustadz bisa saja membuat teka-teki buat saya."
Ingin kukatakan, tapi takut itu akan membuat dirimu terluka. Karena yang terlihat, kamu masih berharap, padahal dia telah lama kamu lepas. Tapi semua keputusan ada di tangan Maria.
Tak berapa lama, Alfa mendatangi mereka berdua.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Ustadz. Maaf membuat ustadz menunggu."
"Kenapa papa memanggil diriku ustadz."
"Baiklah, Nak Faqih."
Keduanya berpelukan hangat sambil berjabat tangan.
"Kamu Herman, sudah lama datang."
"Iya, Pa."
Herman mendekati Alfa dan mencium tangannya dengan ta'dzim.
"Perkenalkan, ini ustadz Faqih."
"Iya Pa. Kami sudah berkenalan."
"Kami sudah menanti kedatanganmu, Nak Faqih." ucap Alfa.
"Sesuai janji saya, saya akan datang sebulan lagi. Memberi kesempatan pada dik Maria untuk berfikir dulu, Maafkan aku, Pa."
"Tak apa-apa nak Faqih."
Untuk saat ini, Herman masih belum memahami apa yang ada di depannya. Meski dalam dirinya menyimpan banyak pertanyaan atas keakraban Faqih dan Alfa. Tapi dirinya tak mau berfikir terlalu jauh.
"Ayo ke dalam!" ajak Alfa pada keduanya. Bersamaan Maria keluar membawa nampan dan isinya, minuman dan makanan kecil.
"Ya ... ya sudah. aku bawa ke dalam saja." ucap Maria
Sementara Alfa mempersilahkan Faqih dan Herman duduk, Maria meletakkan semua hidangan yang dibawanya di hadapan mereka. Lalu kembali ke dalam. Tapi diam-diam dirinya mengambil kursi. Meletakkan dekat ruang tamu. Agar dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Papa agak bingung dengan datangnya kalian yang barengan. Janjian apa?"
"Saya juga kaget. Saat tiba di sini sudah ada mas Herman. Kami tak pernah janjian, Pa."
"Lama nggak berkunjung ke Papa. Herman jadi kangen. Mumpung ada waktu, Herman mampir juga."
"Lalu?"tanya Alfa sambil menyeruput kopi panas yang ada di depannya.
"Ayo dinikmati saja, jangan tegang gitu." ajak Alfa.
Kedua minum teh yang ada di depan mereka. Lalu menikmati makanan kecilnya juga.
"Pa. bolehkah aku mendengar jawaban dik Maria. Bila ya, keluarga Faqih akan datang untuk melamarnya, kalau tidak Faqih tak apa-apa. Setidaknya dengan itu Faqih tak berharap lagi."
Rangkaian kalimat yang diucapkan dengan penuh keyakinan, membuat Herman sadar dari teka-teki yang Faqih berikan sesaat lalu, saat berada di beranda.
"Iya, itu memang hak Maria, putri papa. Semoga waktu sebulan yang kamu berikan membuat dirinya bisa memutuskan yang terbaik bagi kehidupannya sendiri. Apapun yang Maria putuskan, papa harap kamu bisa menerimanya dengan ikhlas."
"Ya, Pa."
"Papa, aku juga berharap pada Maria." Herman tiba-tiba punya keberanian untuk menyatakan keinginannya. Padahal selama ini selalu menomorduakan.
__ADS_1
"Papa mengerti. Baik Maria papa panggil dulu."