KETABAHAN ZULFA

KETABAHAN ZULFA
Dugaan Hasan


__ADS_3

"Ya aku akan segera ke sana." Hasan menutup teleponnya dengan wajah sedih. Raut wajah Hasan agak tegang, dahinya pun berkerut. Ia mencoba menutupinya semua itu dari Zulfa. Tak tega rasanya untuk menyampaikan berita yang baru saja diterima.


"Ada apa, Mas?" Zulfa benar-benar dibuat penasaran dengan sikap suaminya. Seperti ia menyimpan sesuatu rahasia darinya.  


“Tak ada apa-apa.” Jawabnya setenang mungkin.


“Mas jangan sembunyikan sesuatu dariku. Aku ini istrimu.” 


Untuk sesaat Hasan terdiam. Tak tahu apa akan berkata apa. Hasan tahu kalau dia ibunya. Pasti merasakan apa yang terjadi pada putranya. Bagaimana pun dirinya menutupi.


Dengan berat,  akhirnya Hasan berkata,"Irwan kecelakaan .... " 


Sontak Zulfa terkejut, tak mampu berkata-kata. Dia pun bangkit dari tempat tidur, mendekati suaminya dengan rasa tak percaya.


"Benarkah apa yang Mas katakan?"


"Ya." Dia mengangguk dengan lemah, tak tega melihat kesedihan yang mulai terlukis di wajah istrinya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia insya Allah selamat," jawabnya singkat sambil mengambil baju yang baru saja digantungnya.


"Mas mau kemana?"


Pikirkan Zulfa benar-benar menjadi kosong, hingga tak faham dengan kebiasaan suaminya, ketika akan keluar rumah.


"Mengurusi kecelakaan ini ... Bunda mau melihat Irwan? Bersiaplah!"


Zulfa masih belum bisa berfikir sempurna, hingga Hasan harus menepuk pundaknya untuk menyadarkannya.


"Iy ...iya, Mas," jawabnya gugup.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Semoga tak apa-apa,” jawab Hasan sambil meletakkan 2 tangannya ke atas bahu Zulfa, menatap Zulfa dengan keteduhan, agar Zulfa lebih  tenang.


Dalam perjalanan, keduanya terdiam, tak tahu harus bicara apa. Zulfa  terhanyut dalam pikirannya sendiri.  Terbayang hal yang tidak-tidak tentang kecelakaan yang menimpa putranya. Ketegangan masih terlihat di raut wajahnya. Sesekali dia melirik ke pada Hasan yang sedang menyetir mobilnya. Ingin  bertanya, tapi tak tega juga. Karena Hasan sepertinya tak ingin diganggu. Dia menatap lurus ke jalan, sekali-kali bibirnya bergumam lirih. Entah apa yang ada di pikirannya.


Sudah ada 3 korban meninggal. Semua  berhubungan dengan Herman. Apakah mungkin dia orang masa lalunya? Kurasa aku memerlukan keterangannya. 


“Sepertinya ini berhubungan.” Kata-kata itu yang sempat terdengar oleh Zulfa.


“Sebenarnya ada apa Mas. apa yang berhubungan.”


“ Jangan Bunda pikirkan. Ini urusan kepolisian,” kata Hasan tanpa menoleh sedikitpun. Kembali suasana sunyi. Hingga mereka sampai di depan rumah sakit.


“Bunda, maaf ya ... Nggak aku temani ke dalam.”


“Nggak pa-pa. Assalamualaikum,” Zulfa segera keluar begitu pintu mobil terbuka dengan bantuan Hasan. Ia  menuju UGD tanpa lagi mempedulikan Hasan yang menghubungi seseorang.  


“Assalamu’alakum, Herman?”

__ADS_1


“Wa alaikum salam, kebetulan pak polisi. Aku baru mau menghubungimu. Benarkah yang kecelakaan itu putraku Irwan?” 


“Benar. Tapi .... Bisakah kamu membantuku?”


“Apa yang bisa aku bantu?”


“Apa kamu punya musuh?” Itulah Hasan. Langsung pokok persoalan, tanpa ada basa-basi sama sekali.


“Aku nggak tahu.”


“Kita bisa ketemuan?” 


“Bisa, apalagi ini soal Irwan, anakku ... tapi bolehkah aku ketemu dia.”


"Boleh ... Tapi jangan sekarang. Sudah ada istriku yang menunggunya.”


Mereka sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa. Tapi sepertinya Aku belum rela kalau Zulfa bertemu dengan Herman saat ini. Bagaimanapun mereka pernah punya hubungan dekat.


Biarlah aku dikatakan cemburu. Yang penting keluargaku yang baru aku bangun ini tidak terganggu.


Ini yang membuat Herman jengkel. Bagaimana mungkin di saat-saat seperti ini, Polisi itu mendahulukan rasa cemburu pada dirinya, dengan tak meluluskan permintaannya. Bukankah Irwan itu putranya. Herman benar-benar senewen menghadapi Hasan kali ini.


Orang tua mana yang tak khawatir mendengar putranya  kecelakaan. Apalagi baru sesaat yang lalu mereka bertemu. Mengabarkan berita yang menggembirakan bagi dirinya. Tega nian kau Pak polisi ....


Tapi apa hendak dikata, keputusan ada di tangannya. Sudahlah ... mungkin ada baiknya juga.


“Di kantorku saja. Bagaimana?” 


“ Oke. Tak masalah.”


“Aku tunggu. Assalamualaikum.”


“Wa alaikum salam.”


Kini Hasan pun kembali melanjutkan perjalanannya ke ke kantor. Setelah sampai, ia memeriksa kembali berkas-berkas tentang kejadian  menimpa Maria.


Sayangnya, sampai saat ini  belum menemukan titik terang. Karena bukti-bukti belum cukup, saksi juga minim. Sehingga belum bisa menarik kesimpulan  tentang siapa yang menabrak Maria. 


Sekarang Irwan yang mengalami kecelakaan. Apa mungkin ini dilakukan oleh orang yang sama. Menurut keterangan laki-laki yang menolong Irwan, bahwa yang menabrak Irwan adalah mobil yang berwarna hitam. Sepertinya mobil yang sama dengan yang menabrak Maria.


Sesaat kemudian Herman datang dengan wajah teramat kusut. Seakan-akan dia ingin memarahi Pak Polisi yang ada di depannya. Siapa lagi kalau bukan Hasan.


Tanpa salam, tanpa dipersilahkan, langsung duduk di depan Hasan. Menatap dan menunggu, diam mengamati dan menunggu sampai Hasan menyadarinya sendiri, kalau orang yang ditunggunya telah ada di depannya.


“Alhamdulillah. Sudah lama?”


“Ya,” jawabnya singkat. Padahal belum begitu lama.


Hasan yang menyadari tentang kehadiran Herman dengan menyimpan sedikit amarah hanya menatapnya dengan senyum senyum saja. Untuk apa dibahas kalau ada yang lebih penting.

__ADS_1


“Sebenarnya sejak kematian  Mama kamu Halimah, aku sudah  curiga. Hanya sayang, kenapa orang-orang yang tahu tentang kejadian itu nggak mau memberikan keterangan ya ....” Hasan berhenti sejenak, menatap Herman dengan tajam, ingin melihat reaksi Herman. Apalagi  kasus ini menimpa keluarganya. Karena selama ini dia terlihat tenang-tenang saja. Bahkan acuh tak acuh. Tak mau mengetahui perkembangan kasus yang menimpa keluarganya.


Deg ....


Herman langsung tertunduk. Ini mengingatkan kembali pada peristiwa kematian Halimah setelah mendapatkan penganiayaan di rumahnya. Lalu kematian Maria yang tertabrak mobil yang tak di kenal. Sekarang Irwan ....


Apakah ini berhubungan dengan orang yang pernah Irwan ceritakan setelah pulang umroh dulu. Ah, mungkin saja .....


Kalau itu memang ya ...


“Maafkan, diriku kurang peka soal itu. Dulu Irwan mengatakan, bahwa dia pernah bertemu dengan Maria bersama seorang pria bernama Bobby. Mereka merencanakan sesuatu yang mengancam keluargaku.”


“Kenapa itu tak kamu tak pernah laporkan.”


“Aku tak sampai berfikir ke sana.”


“Kamu mengenalnya?”


“Sepertinya aku mengenalnya sebelum aku menikah dengan Maria.”


Sesaat Herman memejamkan mata, dirinya benar-benar sedih. Mengapa baru kali ini dia menyadari bahwa dirinya punya musuh. Dan satu per satu orang yang dicintai meninggal. Astaghfirullah al adzim .....


Hanya kata itu yang dapat menghiburnya.


“Maafkan aku.”


“Nggak apa-apa. Yang penting sekarang, aku minta ke kamu untuk bekerja sama. Agar semua cepat terungkap.” Hasan merenung sejenak . Masih ada dugaan yang lain, selain Bobby. Mungkin saja yang mencelakai Irwan, yaitu Heru. Karena motif cemburu karena Irwan akan menikahi wanita yang akan menjadi istrinya ....


Tak tahulah ....


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2